
"Tak usah pamit ke mamah sama ke ibu, Canda. Nanti gampang dari telpon aja." Givan melarang istrinya itu untuk berjalan keluar dari halaman rumah mereka.
Pagi ini, Givan sudah siap dengan persiapannya untuk melakukan penerbangan ke pulau Kalimantan. Ia ingin mengamankan istrinya, dari Ai yang begitu ingin menghancurkan rumah tangganya.
Givan paham rencana Ai. Ai tidak perduli dengan siapa ayah dari anak itu, Ai hanya ingin mendapatkannya dan merusak kepercayaan Canda padanya. Perkiraannya benar-benar matang, karena Ai cukup licik berselimut dengan ambisi yang kuat. Bahkan kenyataan akan dirinya yang digilir beberapa laki-laki saja, nyatanya tak membuat Ai sempat memikirkan kerumitan itu. Ai hanya berfokus pada tujuannya, yaitu bisa menjadi nyonya Ananda Givan.
Givan mencekal tangan istrinya, kemudian menariknya masuk ke dalam mobil. Bersusah payah, selama empat hari ini Givan mengurung istrinya di rumah saja, agar tidak bertemu Ai. Givan tak ingin mengacaukan final dari tujuannya membawa Canda, dengan Canda berkunjung untuk berpamitan. Givan khawatir, malah nanti bertemu Ai di rumah orang tuanya. Karena Ai sudah berani keluyuran, dengan alasan yang mampu diterima akal Givan. Meski begitu, ia paham bahwa Ai mencari alasan saja.
"Duh, kok Mas buat aku jadi anak durhaka dan menantu tak sopan sih?" Canda mengikuti arahan suaminya untuk masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka pergi.
"Penerbangannya udah sebentar lagi, Canda. Kita tak ada waktu." Canda duduk di samping suaminya, di bangku kedua tersebut.
Sedangkan, yang mengantarkan mereka pagi ini ke bandara adalah Nando. Tangan kanan Givan dan sekaligus orang suruhan Givan. Nando hanya mengantar mereka sampai ke bandara, lalu membawa pulang kembali mobil milik Givan tersebut.
"Ya udah!" Canda tampak tidak suka dengan perintah dari suaminya.
Bibirnya langsung manyun lima senti, agar suaminya paham bahwa ia tengah marah. Sudah beberapa hari ini, ia merasa begitu terkekang. Ditambah lagi, kali ini suaminya melarangnya untuk pamit ke orang tua mereka. Lengkap sudah kedongkolan Canda pagi ini.
"Eh, berhenti dulu Bang Nando! Itu tuh mamah sama ibu lagi di depan pagar."
Givan langsung kalap, karena ia melihat sosok lain di antara dua perempuan yang sudah menua tersebut. "Jalan aja, Nando!" Givan sampai membentak Nando.
"Aku loncat nih, Mas." Canda mengancam suaminya, dengan membuka pintu mobil tersebut.
"Canda! Kau apa-apaan sih!" Givan langsung menahan Canda, agar tidak menurunkan kakinya.
__ADS_1
"Makanya berhenti dulu! Orang cuma pamit aja, dikiranya aku mau minta uang kah?" Canda melirik tajam suaminya.
"Berhenti sebentar, Nan!" Givan memasrahkan dirinya pada Yang Kuasa.
Canda tersenyum lebar, dengan menurunkan satu persatu kakinya. "Mah.... Bu.... Aku mau diboyong Mas Givan ke...," ucapan Canda terhenti karena melihat mata ibunya yang basah.
"Bu? Ibu kenapa?" Canda melangkah cepat ke sisi ibunya berdiri.
Ibu Ummu langsung memeluk anaknya. Hatinya hancur, saat ia tahu bahwa menantunya masih tidak waras saja. Ibu Ummu tidak mengerti, kenapa ujian hidup Canda terlalu berat. Yang ia sangka, bahwa putrinya amat bahagia, nyatanya penuh dengan trauma.
Kali ini, ia tak akan mendukung menantunya. Karena sebelumnya, ibu Ummu teringat pernah meminta anaknya bertahan saat mantan menantunya yang sudah almarhum bertunangan dengan perempuan lain. Kali ini, ibu Ummu bertekad untuk membawa anaknya pulang.
"Canda.... Ikut Ibu pulang ya?" Ibu Ummu membingkai wajah anaknya, yang pernah ia tinggalkan sejak anak itu berusia tujuh tahun. Mereka baru bertemu kembali, ketika dirinya tidak sengaja dipekerjakan oleh mertua Canda beberapa tahun silam. Mereka benar-benar putus hubungan tanpa komunikasi, bahkan Canda melupakan wajah ibunya.
"Kenapa memang? Biasanya pun aku main, cuma sekarang aku harus ke Kalimantan. Usaha Mas Givan butuh pimpinannya, lagi ada masalah katanya." Canda masih belum melihat wajah orang asing tersebut, ia menoleh ke arah suaminya yang berjalan cepat ke arahnya.
"Begini, Van? Begini niat sungguh-sungguh kamu sejak awal itu? Kamu gak punya alasan lagi, kali ini Ibu bawa anak Ibu pulang. Kasih tau anak-anakMu, kalau ibunya masih hidup, tapi memang tidak bisa bersama lagi sama kamu." Ibu Ummu sampai menunjuk-nunjuk dada Givan.
Suara bergetar dengan air mata berlinang, cukup menunjukkan bahwa keadaannya begitu hancur melihat ulah menantunya. Ibu Ummu berpikir, semakin kayanya diri Givan, membuat menantunya semakin mampu untuk memuliakan anaknya. Nyatanya, malah semakin semena-mena pada anaknya yang merupakan istri sah dari Givan.
"Bu.... Aku bisa jelaskan." Givan mencoba merangkul hangat ibu mertua, yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri itu.
"Jelaskan apa?! Bukti dari Ai hamil itu, apa masih butuh penjelasan?!" Ibu Ummu begitu murka dengan menunjuk ke arah perut Ai.
Barulah Canda menoleh ke arah yang ibunya tunjukan. Tanpa air mata, tanpa suara bergetar yang terdengar. Tubuh mungil dengan benih cinta berusia enam minggu tersebut mendadak ambruk lunglai, meski akhirnya Givan sanggup menyangga ketidakberdayaan istrinya tersebut.
__ADS_1
"Canda...." Givan menumpahkan ketakutannya hari ini, pada suara bergetar yang keluar dari kerongkongannya.
"Canda, Canda...." Adinda langsung menepuk-nepuk pipi menantunya yang sudah seperti anaknya tersebut.
"Ndhuk.... Sadar, Ndhuk." Ibu Ummu panik, lantaran ia teringat akan posisi Canda yang tengah hamil muda tersebut.
Dengan gerakan sigap, Givan langsung mengangkat tubuh istrinya. Ia tak mau terlambat untuk menolong keadaan istrinya, jika mengutamakan perasaannya dulu yang ingin menumpahkan rasa takutnya itu.
"BUKA PINTU MOBILNYA, NAN!" Givan berteriak, dengan menggendong istrinya tanpa bantuan orang lain.
"Van, mau dibawa ke mana?" Ibu Ummu berjalan cepat.
"Van, biar Mamah ikut." Adinda langsung masuk lebih dulu ke dalam mobil, bermaksud agar istri anaknya berbantal di pangkuannya.
"Ibu, aku mau bawa Canda ke rumah sakit dulu. Canda tak pernah pingsan soalnya, ini pasti keadaannya serius. Tolong awasi anak-anak aku, Bu. Aku minta maaf, belum bisa jelaskan sekarang. Canda lebih penting untuk aku." Givan lancar berbicara, dengan memposisikan istrinya agar nyaman di dalam mobil.
"Jarum hijabnya dilepas itu, Van! Biar napasnya lega." Nando ikut paniknya saja, karena melihat istri sahabat karibnya itu lunglai tak berdaya.
"Iya, Nan. Bawa mobil agak cepat." Givan pindah ke sebelah Nando yang tengah mengemudi.
"Kabarin Ibu, Van," seru ibu Ummu, saat mobil Rush tersebut mulai melaju.
Givan menoleh ke kaca jendela mobilnya yang setengah terbuka tersebut. "Iya, Bu. Doain Canda baik-baik aja, Bu," sahut Givan kemudian.
Mobil Rush tersebut melaju cepat melewati Ai, bahkan anginnya saja membuat roknya bergoyang. "Baru lihat aku padahal, gimana kalau aku ngomong?" Ai tersenyum puas.
__ADS_1
...****************...