
"Kau tau kedatangan kami, Jeng." Gavin yakin, Ajeng tidak pura-pura bodoh.
"Ya, aku pun mau dihakimi." Ia benar-benar merasa salah.
Givan hanya menyimak, ia ingin tahu bagaimana cara adiknya menyelesaikan masalah. Ia akan campuri, jika ia merasa bahwa tindakan Gavin tidak sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.
"Aku tak mau hakimi kau, tapi aku tanya keberadaan otak kau. Itu anak kau bukan? Kau beruntung, bisa lahirkan bayi normal. Bukan aku pengen membedakan. Kak Canda kemarin bersalin begitu sulit perjuangannya, dia harus sebulan lebih di rumah sakit, bayinya pun meninggal satu di dalam kandungannya, bayi yang satu lagi harus berjuang dengan penyakitnya, bayi itu pun dilahirkan prematur, beda sekali pertumbuhannya dengan pertumbuhan anak yang kau buang." Gavin membuat kakaknya menoleh, karena membawa-bawa cerita tentang istrinya.
"Ya, aku memang beruntung. Aku bersyukur bayi aku sehat, normal, sempurna meski mental aku waktu ngandung dia itu Abang buat kacau. Aku udah minta, untuk Abang resmikan. Sampai anak itu jadi, Abang tak kunjung kasih pergerakan. Aku ingin anak yang lahir dengan dokumen, aku ingin anak yang lahir dengan nama ayah kandungnya di dokumennya. Ini bukan menyangkut tentang warisan dan anak aku harus dapat. Tapi, aku merasakan sendiri malunya di masa sekolah sedangkan dokumen aku tak ada. Yang tertera di dokumen aku itu paman aku, bukan orang tua kandung aku yang sebenarnya. Aku mau nikah siri, untuk menghindari kelahiran anak tanpa nasab yang jelas. Tapi, aku pun mau ada pengakuan yang jelas atas anak aku. Aku cukup sekali minta, aku yakin Abang ngerti. Sampai kondisi aku hamil, apa ada ngertinya untuk wujudkan peresmian pernikahan kita? Tak ada kan? Aku bilang juga, aku ke Gorontalo, setidaknya orang tua dalam dokumen aku harus tau, kalau Abang ayah dari anak aku nanti dan Abang kau suami aku. Abang gimana? Tak pernah mau datang ke sana, karena akan direpotkan dengan kondisi bahwa aku masih istri orang dan ini itu. Aku tau orang tua Abang berpengaruh, makanya aku pengen Abang bilang ke mereka, untuk bantu aku loloskan dari status istri orang ini dan aku bisa cepat resmi sama Abang. Aku tak akan banyak minta, aku cukup sekali minta tapi bukan berarti Abang bisa remehkan permintaan aku. Aku udah usahakan, aku capek usaha sendiri tapi gak ada hasil. Abang tak berdaya untuk bantu, ya tolong minta orang tuanya yang berpengaruh itu untuk jandakan aku dan resmikan dengan Abang. Aku kasih tau aku hamil pun, apa ada pertimbangan Abang untuk tak talak aku? Tak ada dipertimbangkannya kan? Katanya paham agama? Tapi talak begitu mudahnya melayang, padahal aku dalam kondisi hamil. Kenapa harus hal yang serupa, yang diberikan? Kenapa harus cerita yang sama, yang diberikan? Kenapa harus luka yang sama, yang Abang berikan?" Ajeng tak kuasa menahan air matanya.
"Kau jangan cari pembenaran. Kau tau, siapa tadi yang bukakan pintu." Gavin menunjuk arah dirinya masuk.
"Sebentar." Ajeng beranjak, kemudian mencari sesuatu di tumpukan dokumen yang tersimpan di lemari kaca yang menjadi hiasan ruangan tersebut.
__ADS_1
Elang memerhatikan ibunya, ia khawatir ditinggal oleh ibunya. Mulutnya tetap beraktivitas untuk menghabiskan isi botol tersebut, dengan tangannya yang bergerak menyangga botol susu tersebut.
"Sayangnya, kondisinya seolah seperti yang Abang sangkakan. Padahal, dia hanya berkunjung. Itu ayahnya Elang, ayah kandung Elang. Dia memang aku bawa dari Gorontalo, tapi aku tak rujuk sama dia dan kami tak serumah. Ini bukti bahwa dia adalah penghuni mes di kamar satu kosong lima, ini dokumen masuknya." Ajeng menjejerkan dokumen yang ia ambil tadi.
Gavin mengambil secarik surat tersebut. Kemudian, ia membacanya sekilas.
"Tak butuh waktu lama, untuk melakukan," tuduh Gavin dengan suara rendah nan dingin.
"Betul. Tapi kalau sekarang keadaannya, ya aku udah bebas juga. Mau aku berbuat dosa, itu udah bukan tanggungan abang lagi. Aku tak akan minta Abang percaya sama aku, aku pun tak ingin dicap baik sama Abang, tapi harusnya pun Abang berkaca bagaimana diri Abang sendiri." Ajeng tidak menepis tuduhan Gavin, karena pikirnya akan begitu mudah diselesaikan jika ia tidak banyak mengelak.
"Adanya ayah kandungnya Elang di sini, dia datang karena pagi tadi ia gajian. Tuh, keperluan Elang yang dia bawakan bahkan belum aku sempat tengok atau beresin." Ajeng menunjuk di bagian belakang pintu, terdapat dua kantong plastik putih berukuran besar berisi susu formula dan diapers berukuran besar.
"Kau ada balikan sama dia?" tanya Givan kembali, ia mencoba percaya dengan pengakuan Ajeng.
__ADS_1
Ajeng menggeleng. "Sekalipun suatu saat Bang Gavin minta balik, aku tak akan mau. Tapi hubungan kami, pasti tak seburuk yang dipikirkan. Aku tetap bisa berbuat baik, sopan dan bisa menjaga statusnya untuk anaknya. Aku malah malu, kalau ajak aku tak punya figur ayah dan tak kenal ayahnya. Jangan sampai kek aku."
"Memang kau kenapa? Kenapa dari tadi, kau jadikan diri kau patokan?" tanya Givan perlahan.
"Aku lahir tanpa ayah, tapi dengan adanya pernikahan siri antara ibu aku dan ayah aku. Pernikahan mereka dalam waktu singkat, aku pun tak pernah tau rupa asli ayah kandung aku. Aku tak mau keturunan aku ngerasain hal yang sama. Biar mereka kenal figur ayahnya, panutan yang paling pantas," ungkap Ajeng dengan lugas dan jelas.
"Oke. Jadi kau tak merasa bahwa diri kau ini tak milih balik ke orang lama, untuk meninggalkan orang baru kemarin?" Givan yakin Ajeng cerdas dan memahami susunan katanya.
"Aku tak balik ke ayah kandungnya Elang, tapi hubungan kami memang membaik. Dari awal pun tak ada permusuhan, tapi memang hubungannya tak baik karena terhalang kesalahpahaman," aku Ajeng yang diangguki Givan.
"Nah, kenapa anak dari orang lama kau asuh. Sedangkan, anak dari orang baru kau buang? Kalau kau berniat bangun hubungan lebih baik dengan orang lama, dengan alasan agar anak kenal dengan figur ayah kandungnya. Kenapa, kau tak lakukan hal serupa untuk anak dari orang baru itu?"
Ajeng merasa, bahwa jam terbang kakak dari ayah anaknya memiliki pemahaman tentang permasalahan yang begitu luas. "Karena Elang lahir dalam pernikahan, dokumennya ada dan dia pun jelas dalam pernikahan meski mengalami keretakan. Sedangkan, bayi perempuan aku hampir sama dengan nasib aku. Aku ikut paman, karena ibu tak bisa cari jalan keluarnya. Dia malah kerja di Taiwan, dia hanya pikirkan kebutuhan hidup aku. Sedangkan aku udah masa masuk sekolah, aku harus punya dokumen untuk daftar sekolah. Tak ada jalan keluar, selain aku masuk kartu keluarga paman aku dan buat dokumen kelahiran dengan paman aku jadi orang tua aku. Karena masa itu nenek aku single parent, suaminya meninggal karena udah tua. Logikanya juga, udah nenek-nenek tak mungkin punya anak lagi. Memang kalau jaman sekarang sih, bisa buat akte kelahiran tanpa nama ayah juga. Tapi aku kau anak perempuan aku tau ayahnya, tau figur ayahnya dan ada nama kandung ayahnya untuk mempermudah perwaliannya dalam pernikahan karena ia anak dalam nasab pernikahan. Untuk ibu kandungnya, kalian cukup katakan bahwa ibu kandungnya meninggal masa melahirkannya."
__ADS_1
Mata Gavin langsung mencilak, ia memandang tak percaya pada Ajeng.
...****************...