
"Katanya, pengen nengok tapi malu. Yang penting Zio sehat-sehat aja katanya. Pikiran aku sih, si Nadya datang tuh takut diminta untuk biaya hidupnya Zio." Canda mengulurkan piring berisi potongan buah belimbing yang cukup banyak ke suaminya.
Givan hanya mengambil satu potong, kemudian piring tersebut ditaruh di tengah meja. Putri melirik minat ke buang potongan tersebut, bermaksud untuk mengganjal rasa laparnya. Karena es sirup saja, tidak cukup untuknya. Ia masih terlalu sungkan, tidak seperti Fira yang sudah seperti berada di rumah sendiri.
"Dimakan, Put." Adinda sejak tadi memperhatikan gerak-gerik tamunya. Diamnya dalam misi agar tidak kecolongan.
"Ah, iya." Putri tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk mengambil potongan buah tersebut. Sejak tadi, Putri menunggu dirinya diperintahkan untuk mencicipi makanan seperti ini.
"Kau tak berniat minta biaya hidup Zio ke Nadya?" Tiba-tiba Adinda melontarkan ucapan tersebut pada menantu tertuanya.
"Tak lah, ngapain? Udah jadi kotoran, masa mau diungkit-ungkit?" jawaban Canda membuat Givan mengulum senyumnya.
"Sedekah ya, Cendol?"
Ujaran Givan itu, membuat Ai tersinggung. Apalagi, selama ini keluarga tersebut selalu mengatakan jika barang-barang dan kebutuhan yang ia dapat adalah dari Canda, bukan dari Givan. Ai begitu merasa direndahkan, karena selalu mendapat sedekahan dari Canda.
Sedekah memang suatu hal yang baik. Tapi jika dipamerkan, maka orang yang diberi bisa merasakan malu. Sebaiknya, sedekah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan rahasia.
"Iyes. Mas sedekah ke aku dan anak-anak, aku sedekah ke paku yang menghalangi jalan orang lain, aku kerikil yang melukai kakiku. Dipinggirkan kan begitu, dihalau dari jalan suami dan anak-anak aku. Sederhana bukan konsepnya?" Canda memangku wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia seperti hiasan bunga rose dengan dua tangkai daunnya.
__ADS_1
"Memang begitu?" tanya Putri yang merasa fakir ilmu.
"Ada hadistnya begini. Tapi sebelumnya, aku tak jual hadist ya?" Beberapa dari mereka merespon mengangguk ucapan Canda.
"Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah. Hadist riwayat Bukhari, lima ribu tiga ratus lima puluh satu. Muslim, seribu dua. Makanya, jangan bersedih misal awal bulan dapat gaji dan langsung abis untuk keperluan anak, istri dan keluarga. Karena itulah sedekah yang paling besar pahalanya. Aku selalu pakai hadist ini, waktu dulu misal terlanjur habiskan uang Mas Givan. Sebenarnya sih tak dimarahin, tapi aku takut aja," aku Canda dengan malu-malu.
Givan tertawa paling keras, mendengar kejujuran istrinya. Inilah yang ia suka dari Canda, Canda berbelit yang akhirnya jujur juga. Canda tidak pernah bermaksud membohongi dirinya, hanya saja Canda ingin menyelamatkan dirinya dari emosi suaminya.
"Kau percaya tak, Put? Seminggu kerja, gaji aku nih empat ratus dua puluh ribu. Itu aku bawa bekal dari rumah, bawa sangu air satu liter pakai bekas air mineral. Sakit leher aku tiap hari, apalagi kalau udah ngecat plafon ruko. Dadakan kurang darah, mata kliengan. Lama aku begitu, sejak dari rehabilitasi terus pulang ke Canda, dua bulan kemudian aku langsung kerja kasaran. Sekali ke swalayan ini, habis uang segitu. Kasbon aku, Minggu depan tak full gaji. Tak dilakuin, anak orang kelaparan, nangis aja lagi kalau pengen jajan tapi tak ada uang. Dilakukan, badan ini capeknya full. Ya meski sembuh lagi, setelah sampai di rumah. Mana aku berobat rutin, air aku kosong katanya. Mobil, motor, aset-aset bergerak udah aku jualin semua. Ekonomi naik sedikit, karena dikasih hutang toko material sama orang tua. Tinggal ujian orang ketiga, istri orang hamil, istri sendiri kabur. Balik-balik, dia hamil sama orang lagi." Di akhir cerita, Putri tertawa lepas melihat ekspresi Givan yang geleng-geleng kepala dengan ekspresi wajah pasrah.
Keadaan mereka seperti awal, saat belum ada cinta dan kegilaan yang menyelimuti mereka. Niat untuk berubah menjadi lebih baik, membuat Putri pun disambut baik meski dengan penjagaan ketat.
"Tapi dulu itu, aku tak begini nih. Aku tak bisa kontrol, mana Cendol doyan nangis betul. Dibilang sedikit, nangis. Dibentak sedikit, nangis. Kalau dinasehati, selalu dibilang dimarahin terus. Meskipun ngelakuin sesuatu yang kita perintahkan itu nurut, tapi ada tak teganya karena bertindaknya sambil nangis. Setelah sekarang, aku biarkan aja gitu. Ya memang orangnya ngegelo, malah beneran harus diperintahkan aja baru gerak. Kalau tidur pun gitu, meluk, ya udah berjam-jam begitu. Kalau aku geser, makin erat pelukan. Barulah ngerti misal dibilang, tangan aku kebas, pegel leher aku. Baru dia ganti posisi." Givan menghibahkan istrinya yang anteng tengah makan buah-buahan tersebut.
"Hebat ya Lendra tahan?" ujar Putri, dengan tawa gelinya.
"Bang Lendra yang almarhum itu kah?" Fira selalu merespon obrolan mereka dengan membauri tawa mereka.
"Iya, kau pernah lihat?" Perdana, Putri mulai melempar pertanyaan dengan Fira.
__ADS_1
Fira mengangguk mantap. "Aku pernah ngobrol malah. Dia bilang begini, pas Canda ngasih anaknya gitu aja ke bu Ummu. Kan posisinya lagi hamil tuh si Canda. Kata bang Lendra gini, ya Allah pantas pernah cerita mantan suaminya dulu tukang ngamuk, orang baru megang anak lima menit, udah dikasih ke ibu lagi." Fira menirukan suara Nalendra menggerutu.
"Hey, hey, hey. Matahari dan bulan akan bersinar saat waktunya tiba." Canda memandangi orang-orang yang membicarakannya dengan tersenyum miring.
"Entah-entah bersinar sih, Canda. Tapi yang selalu bilang, mas pegangan, mas bantu jagain anak-anak, aku ngantuk sebentar. Ya itu pasti kau tuh, Canda. Tak ada orang lain yang berani nyuruh-nyuruh aku, apalagi megangin aku tiap menit," sindir Givan mengarah pada istrinya langsung.
Mereka berbaur tawa, berbeda dengan Ai yang hanya diam dan memikirkan segala obrolan tersebut.
Bukannya beranggapan bahwa Givan begitu memperjuangkan Canda, meski di masa tersulitnya. Namun, ia malah berpikir Canda datang di kehidupan Givan dan membuat Givan melarat.
Ai tidak tahu saja, bahwa Canda keturunan orang berada. Ibunya pelawan devisa yang selalu rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan hidup Canda.
Begitu jelas Givan berbicara, nyatanya pola pikirnya tetap terarah ke arah lain. Ia yakin, Givan melakukan pekerjaan yang sulit tersebut dengan keterpaksaan. Mau tidak mau, Givan melakukannya seorang diri agar imagenya yang bertanggung jawab tersebut tidak hilang.
Ingin sekali Ai menanyakan siapa Canda untuk kehidupan Givan. Karena begitu tidak percaya, jika Givan benar-benar mengusahakan kehidupan Canda.
"Apa kau pernah berpikir, bahwa kau sendiri laki-laki yang paling sabar di dunia ini, Van?" ucap Fira dengan menuangkan kembali es sirup ke gelas Putri dan Givan.
"Eummm....
__ADS_1
...****************...