
"Mas, di rumah mamah ramai sih?" Canda berjalan ke arah suaminya, dengan tentengan yang ia dapat dari rumah ibunya.
"Iya, sini." Givan menepuk tempat di sebelahnya.
Ia tengah duduk manis di meja ruang tamu, dengan bekerja menggunakan laptopnya. Banyak yang harus ia cek keluar kota, tapi sadar bahwa keadaan rumah tangga dan istrinya belum baik-baik saja. Kehamilan kembar pada Canda, membuat Givan was-was sendiri.
"Mas tak ke toko kah? Di rumah terus, rasa pengangguran." Canda menghempaskan alas duduknya perlahan di sofa.
Givan menoleh sekilas, kemudian ia fokus kembali pada email yang ada di laptopnya. "Aku pengangguran pun, kau tetap makan, Canda. Buatkan teh tubruk dong, jangan manis-manis." Givan mencuri kecupan di pipi kanan istrinya.
"Ke mamah yuk, Mas. Masa kita sendiri yang tak datang?" Canda tidak tahu ada acara apa, tapi rumah ibu mertuanya begitu ramai dengan tiga mobil terparkir di halaman rumah yang begitu besar itu.
"Abis nguburin anaknya Ai, Canda. Di sini aja udah, nanti pun mamah ke sini antar makanan buat kau sama Ces. Nanti, aku mau keluar kota untuk cek sekolah Ceysa ya? Aku udah cerita kan, tentang Ceysa yang merujuk ke genius?" Mau tidak mau, Givan membocorkan sedikit tentang keramaian di rumah ibunya. Rasa penasaran Canda sudah seperti anak kecil yang baru tahu segalanya, tidak bisa dicegah jika tidak diberi tahu yang sebenarnya terjadi.
"Di mana? Aku tak mau dipisahkan dari Anak Daeng." Canda menoleh cepat, ia memasang wajah mengiba.
"Dia normal kok, tak usah dipindahkan ke sekolah khusus. Dia mampu memahami pelajaran di sini juga," lanjutnya murung.
"Kasarnya, Ces sama gurunya ini bakal lebih pintar Ces misal dia di sini. Dia memahami isi buku pelajarannya itu, cuma satu kedipan, Canda. Nanti aku libatkan Putri kali ya? Biar kau ada percayanya gitu kan? Soalnya aku geram sama kau, sulit betul percaya mulut suaminya. Mulut orang, meskipun salah, malah dipercaya. Aku ngomong jujur, berbusa berbuih, tetap masih diragukan." Givan teramat ingin mencubit pipi istrinya berlainan arah dengan kekuatan penuh.
"Mas tuh tak meyakinkan kalau ngomong." Canda melirik sinis pada suaminya.
__ADS_1
"Hah, dasar kaunya aja! Udah sana buatin teh tuh, bikin emosi aja istri satu-satunya ini." Satu jengkal lagi, Givan sudah berhasil mencubit pipi Canda. Namun, ia mengurungkan niatnya karena khawatir istrinya menangis karena rasa gemasnya itu.
"Memang Mas punya istri berapa coba?!" Canda bangkit dengan membawa kembali tentengannya.
"Ya satu! Makanya aku bilang istri satu-satunya. Gih, nurut. Buatin teh manis tapi jangan manis-manis ya?" Berujung tangan Givan yang gemas, akhirnya menuntaskan kegemarannya pada part belakang istrinya.
"Huh! Anaknya mamah Dinda, cabul!!!" ledek Canda sebelum berlalu pergi.
Givan melongo saja mendengar makian istrinya. Namun, setelah Canda hilang dari pandangannya. Ia malah terkekeh geli seorang diri.
Ia fokus kembali pada laporannya, sembari menantikan seseorang yang datang tiap tahunnya untuk menunjukkan laporan tahunan dari beberapa perusahaan milik mendiang Nalendra di Singapore. Meski Givan sering ke sana, ia tentu teramat sibuk jika di penghujung tahun. Karena semua usahanya, pasti akan mengeluarkan laporan akhir tahun yang harus ia cek semuanya.
"Eh, tapi Mas tak ke pemakaman sih?" Canda muncul kembali dengan segelas teh manis hangat.
"Oh, iya." Canda menyadari dan mengiyakan.
Givan melirik sekilas, kemudian terkekeh kecil. "Iyanya aja. Dasar, Cendol."
"Jadi, Keith sama siapa yang datang?" Canda teringat tentang tamu suaminya yang akan datang hari ini.
"Keith, Nando, pak Syukur, terus anaknya operator yang kecelakaan itu, yang dari Rembang. Siapa tuh namanya?" Givan tidak menemukan seuntai nama anak yang ia percayakan untuk mengurus usahanya di Jepara.
__ADS_1
"Reza bukan sih?" Canda pun samar dengan nama anak yang baru diwisuda satu tahun silam.
Mereka bahkan datang ke wisuda anak pertama dari empat bersaudara tersebut. Istri mendiang operator yang diledakkan oleh Putri pun, sampai begitu berterima kasih karena Canda dan Givan mau memberikan pendidikan anak-anaknya setinggi mungkin. Tidak ada balasan terbaik menurutnya, selain kembali mengabdi pada jalan rezeki suaminya. Mengenai kecelakaan yang merenggut nyawa suaminya, seorang istri yang dititipkan empat orang anak itu sudah ikhlas dan memahami bahwa itu sudah menjadi garis takdir.
Ada rasa tidak enak hati Suci, pada pemilik perusahaan tempat suaminya mencari nafkah dulu. Karena begitu merepotkan, sejak tiadanya suaminya. Kiriman dana tidak kunjung habisnya, sampai ia mampu menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi terbaik di kota mereka.
"Iya itu. Udah pesan penginapan buat mereka tadi aku. Ria dijaga-jaga nanti, ada Keith itu dia nemplok aja." Givan teringat adik iparnya yang memiliki ketertarikan duda tanpa anak, yang berasal dari Singapore dan berdarah Sulawesi itu.
"Kawinkan ajalah, Ria udah dua puluh lima tahun ini. Masa iya resepsi lima puluh juta, Mas tak mau kasih," sindir Canda enteng.
"Di mana resepsi lima puluh juta dapat tuh? Dekorasinya aja paling itu tuh, sama sewa gedung balai desa." Givan sering sekali dibuat gemas dan ingin mencubiti istrinya.
"Ya Ria kan kerja, Keith kerja juga. Suruh mereka biayai sendiri lah, Mas. Kita kasih lima puluh juta aja, udah banyak itu tuh. Lagian, ngapain sih nikah mahal-mahal? Sederhana kek waktu pernikahan kita yang pertama aja tuh tak apa kali." Canda bersandar pada sofa, dengan memainkan ponsel suaminya yang tergeletak.
"Pernikahan kita yang sederhana aja tuh, Canda. Aku habis tiga ratus jutaan sama mahar kau, belum untuk akomodasi semua keluarga. Aku sampai di angka lima ratus juta. Terus, dengan seenak itu kau ceraikan aku lewat pak pos yang antar. Rasanya aku pengen cekik kau aja, Canda. Dari muda berkelana, giliran udah matang dapat perempuan yang tiap hari bikin kepala mau pecah rasanya. Cuma kau satu-satunya perempuan, yang sering buat aku minum obat migrain. Cuma kau satu-satunya perempuan, yang bisa buat telor dadar matang di atas ulu hati aku. Cuma kau satu-satunya perempuan, yang buat asam lambung aku berubah jadi tak asam lagi. Kesal betul sama kau aku ini, rasanya pengen aku aniaya aja."
Canda malah tertawa renyah mendengar kekesalan suaminya. Suaminya seperti tengah melawak menurutnya. Berbeda saat mereka baru menikah untuk pertama kalinya, Canda pasti akan melamun dan menangis jika mendengar perkataan suaminya yang sering kali menusuk seperti ini.
"Aku tak izinkan, kalau seleranya duda. Kau aja, apa kau dulu tak panas hati pas tau aku bujang tapi bukan perjaka? Kesal kan? Pengen marah kan? Kecewa kan? Ya aku tak mau Ria merasakan apa yang kau rasa dulu."
Canda mengerutkan keningnya, ia cukup heran mendengar ucapan suaminya. Jadi, selama itu suaminya memahami apa yang ia rasakan? Kenapa suaminya terus menerus membuatnya bertanya-tanya, jika sebenarnya suaminya banyak memahami akan dirinya? Satu permasalahan yang mungkin lambat ia sadari, yaitu ia tidak bisa mengerti maksud segala ucapan dan tindakan yang Givan berikan.
__ADS_1
...****************...