Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM111. Obrolan siang yang panas


__ADS_3

"Bukan orang lain, aku dipacarinya empat tahun. Ditinggalin, Woy." Fira memasang ekspresi gemasnya.


Ia seperti ingin mengacak-acak wajah Givan.


Ai melongo saja. Empat tahun, ditinggalkan? Dengan seorang anak, dari benih Givan? Apa ini adalah anak yang Givan katakan, bahwa hadirnya anak itu tanpa pernikahan? Pertanyaan-pertanyaannya mengepung pikirannya sendiri.


"Aku setahun, hasil anak juga," tambah Putri yang tidaklah benar.


Ia terkekeh seorang diri, ketika semua mata tertuju padanya.


"Iya udah, anak aku semua deh." Givan hanya menerima tanpa mengelak.


"Kau dipacarinya berapa tahun, Ai?" tanya Adinda kemudian.


Ai langsung beradu pandang dengan Adinda, kemudian ia lebih dulu menundukkan kepalanya. Pertanyaan baru kembali muncul, rasanya tidak bisa dibenarkan jika berpacaran lama itu karena besarnya rasa cinta Givan. Buktinya, Givan sampai mengejarnya ke rumah.


Ia besar kepala lagi. Ia merasa cukup beruntung, karena Givan tentu berlalu lain padanya. Hanya saja ia tidak mengerti, tindakan Givan padanya, tidak lebih baik dari perjuangan Givan untuk mampu bertahan dengan kebahagiaan bersama Canda sampai detik ini.


"Gak sampai satu tahun," jawabnya kemudian.


"Kal.... Kita ke Aniq yuk?"


Key membuyarkan obrolan, karena ia berseru dengan berjalan ke arah pintu. Ia melihat sepupunya berjalan ke arah rumah neneknya.


"Aku belum bawa uang. Bentar ya?" Kal berbalik dan bersiap untuk berlari.


"Uang Mamah aku aja, Mamah Fir'aun ada di sini," pekik Key berharap sepupunya mengurungkan niatnya untuk berlari kembali ke rumah.


Kal mendengar jelas ucapan Key. Ia berbalik arah kembali, kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju ke rumah neneknya. Satu persatu manusia yang berada di sini, disapa dengan cium tangan yang Kal lakukan.


"Mamah kapan datang?" Kal hanya menanyakan kabar satu orang tersebut, karena ia hanya mengenal Fira saja.


"Pagi tadi, duduk sendirian. Kalian car free day lama sekali." Fira berakting murung.


"Oh ya? Terus bawakan apa untuk aku?"

__ADS_1


Adinda langsung menekan bibir cucunya dengan satu jemarinya. Fira membiasakan diri membawa barang, membuat anak-anak malah terbiasa menyambut kedatangan Fira dengan barang-barangnya.


"Aku udah simpan kok, plastiknya beda, ada tulisan sepupunya." Key berjalan mendekati saudaranya.


Kal menoleh ke arah saudaranya. "Ra dipisahkan belum? Nanti dia bisa rebut punya aku."


"Udah, tenang aja," sahut Fira lebih dulu.


Fira mengeluarkan isi dompetnya. "Key ada temannya sih, beli chicken sama Kal aja ya? Nih uangnya, belikan saudaranya juga. Buat Mamah belikan nasinya juga ya? Dua, yang porsi besar." Fira memberikan beberapa lembar uang berwarna biru.


"Ada nasi juga, Fir. Tak payah beli lah!" Adinda mencubit pelan perempuan yang memberinya seorang cucu itu.


"Tak lah, tak enak." Lancangnya mulut Fira, langsung mendapat lemparan bantal dari Givan.


Fira memeluk bantal yang menghantam wajahnya itu. "Ngambil nasinya tak enak, bukan nasinya tak enak," jelasnya dengan cengengesan.


"Aku pergi dulu ya, Mah? Assalamualaikum." Key bergandengan tangan dengan Kal, mereka berdua keluar dari dalam ruang tamu tersebut. Kini, ruang tamu yang cukup luas itu aman dari anak-anak.


"Jadi, Van. Perempuan ini, yang tadi sempat kau bahas sama Giska itu?" Putri mengembalikan topik pembicaraan mereka.


"Iya, Put." Givan hanya mengiyakan, tanpa berniat bercerita dengan jelas.


"Boleh, ambil sekalian yang banyak. Cemilan juga, Fir." Adinda sekalian memerintahkan Fira.


Wajah masam wanita matang berusia tiga puluh sembilan tahun itu, membuat geli siapa saja yang melihatnya. Membuat Canda berinisiatif untuk ikut ke dapur bersama Fira.


"Ati-ati, Cendol. Jangan bawa yang beling." Givan tidak bisa percaya dengan kecerobohan istrinya.


"Iya, Mas." Canda melewati sedikit jalan yang Givan berikan.


"Ini mantannya Givan yang terakhir, sebelum Givan rujuk sama Canda. Yang ke dapur tadi, itu mantannya Givan sebelum ada hubungan sama kau keknya. Ada lagi yang bersejarah, Nadya namanya asli Medan." Adinda memperkenalkan sedikit tentang kedua tamunya yang datang hampir bersamaan itu.


"Mantan pacarnya semua, Mah? Ngasih anak semua?" tanya Ai dengan raut kekagetannya.


Adinda mengangguk. "Key itu, anak mereka tanpa pernikahan. Givan ninggalin Fira gitu aja, setelah Fira mengandung. Dari mengandung sampai anaknya usia dua tahun tuh, bareng-bareng diurus sama Ghifar di Bali. Anak Putri pun, diambil alih Givan." Adinda menunjuk Putri dengan dagunya.

__ADS_1


"Anak Nadya pun sama aku. Aku nerima anak mereka, karena aku merasa. Kalau anak Putri, dia anak bawaannya mantan suami Canda. Ayahnya anaknya Putri, suaminya Canda setelah cerai sama aku dulu." Givan memperjelas semuanya, berharap Ai bisa berkaca diri untuk tidak meminta agar anaknya diasuh Givan.


Ai mengedikan bahunya. "Aku sih terserah aja." Dalam lontaran penasaran Ai tadi, Givan memahami bahwa Ai masih ingin mengusik ketenangannya. Jika tidak penasaran, benar-benar masa bodoh dan terserah, harusnya Ai tidak lagi penasaran.


"Aku buat es, biar tak panas." Fira muncul dengan satu teko es sirup berwarna hijau dan beberapa gelas, yang ia bawa menggunakan nampan.


Sedangkan, Canda muncul dengan beberapa buah yang berada di dalam keranjang buah berukuran 20×20 sentimeter.


"Kupasin, Mah." Canda menaruh keranjang tersebut di hadapan ibu mertuanya. Kemudian, ia menyerobot tempat duduk Fira.


Kini Canda yang berada di dekat ibu mertuanya, dengan Fira yang berada di sisi paling dekat dari sofa single yang Givan duduki.


"Minta tolong dong, Cendol!" Tidak habis-habisnya Givan mengajari Canda bertata krama.


"Iya, Mah. Aku mau belimbing." Canda mengambil satu buah belimbing dari dalam keranjang buah tersebut.


"Ambil lah piring plastiknya, buat wadahnya," pinta Adinda, yang mulai memotong ujung belimbing tersebut.


Ai memerhatikan interaksi Canda dan Adinda. Bagaikan, anak kandung dan ibu kandung. Canda dan Adinda seperti tidak memiliki batasan.


Canda kembali, dengan menyerahkan piring tersebut dan menerima beberapa buah yang sudah Adinda potongkan. Ibu hamil tersebut, asyik makan tanpa peduli dengan obrolan sensitif tersebut.


"Nadya tak pernah ada kabar lagi kah, Van?" Adinda melontarkan kembali pertanyaan.


Misi sederhana mereka, yaitu ingin benar-benar harapan Ai untuk bisa hidup berdampingan dengan Givan itu seketika sirna.


"Tak, Mah. Posting foto sih sering, tapi tak pernah aku tunjukkan ke Zio. Karena busananya kurang sopan, nanti dibilang kafir lagi kek Fira. Tapi pernah aku tunjukkan foto Nadya setelah nikah sama aku. Foto Nadya pasca operasi sesar dan bayi Zio di dekapan Nadya." Hanya saja, Givan tidak menyebutkan dengan gamblang bahwa Zio bukanlah anak Canda.


Anak kecil tidak akan mengerti, bahwa ibunya yang Givan maksudkan saat bercerita itu adalah ibu kandung Zio. Bukan klise Canda, yang berubah bentuk.


"Tak pernah inbox gitu?" tanya Fira dengan menikmati es sirup buatannya sendiri.


"Inboxnya ke akun sosial media punya Ria, soalnya setau dia itu anaknya diasuh sama ibu aku. Dia tak tau kalau kami rujuk, terus anaknya sekarang sama aku," jawab Canda dengan menikmati buah yang memiliki kadar air cukup tinggi tersebut.


"Apa katanya?" Putri ikut penasarannya saja.

__ADS_1


"Katanya......


...****************...


__ADS_2