
"Ngapain di pikirkan, Canda?" Givan menurunkan wajahnya, kemudian mencium pelipis istrinya.
Givan merebahkan kembali tubuhnya di samping istrinya. Namun, sekarang lengannya digunakan sebagai bantal tidur istrinya.
"Tak tau, Mas." Canda masih enggan bercerita akan panggilan telepon aneh tersebut, ia khawatir disangka gila. Tapi, ia pun takut suaminya menanganinya telat.
"Stress itu." Givan sengaja meniupkan suaranya ke telinga istrinya.
Canda sampai bergidikan, ia menutupi telinga sendiri yang sempat ditiup oleh suaminya. Sekian lama, ia baru merasakan respon tubuhnya ketika mendapat serangan ringan dari suaminya.
Benarkah ia stress? Ia pernah membaca jurnal, tentang s*k* yang bisa menghilangkan stress.
Ia memandang wajah suaminya yang setengah mengantuk tersebut. Cukup lama ia mengagumi rupa suaminya yang tetap terlihat berwibawa, meski tengah mengantuk.
"Apa?" Givan merasa malu sendiri diperhatikan begitu intens oleh istrinya.
Ia terkekeh kecil, kemudian menutupi wajahnya sendiri. Givan seperti baru mengenal rasa kasmaran. Karena sebelumnya, Canda tidak pernah memperhatikan wajahnya begitu dalam seperti itu.
"Terus, aku harus gimana?" tanya Canda kemudian.
"Eummm.... Ini sih mana tau ya? Karena aku bukan ahlinya. Tapi biasanya, kalau laki-laki sulit tidur tuh ya pengen begituan. Stress, mumet, uring-uringan, ya pengen begituan juga."
"Memang tadi aku ngomong tentang begituan ya?" Givan lupa, jika istrinya lugu.
"Tak sih, tak mau pun tak apa." Givan tidak mau berharap lagi, karena yang ada malah dirinya yang akan insomnia setelah ini.
"Hmm...." Dengungan Canda menimbulkan kebingungan untuk Givan.
Sedikit banyaknya, ia berharap atas secuil pembahasan tadi.
"Ya udah." Givan memilih untuk merapatkan matanya, dengan menghadap pada plafon kamar mereka.
"Mas...." Canda malah merengek kembali dengan memeluk leher suaminya.
"Tinggal merem aja, Canda. Jangan mas-mas aja. Aku tak tau aku harus gimana, biar kau ngantuk. Kalau tak mau aku buat kau capek, ya udah tinggal langsung tidur aja." Suara tegas itu membuat Canda langsung memejamkan matanya.
Namun, ketika Givan mulai mendengkur kembali. Canda malah menepuk-nepuk pipi suaminya, ia membangunkan suaminya yang sebelumnya tak pernah ia lakukan.
"Mas...," rengekan Canda masuk ke telinga Givan lagi.
"Hmm." Dengan tepukan ringan di pipinya saja, tidurnya langsung terganggu. Apalagi, ditambah Canda memanggilnya juga.
__ADS_1
"Mas, aku belum tidur juga. Ini udah setengah tiga pagi, aku masih belum merem juga." Canda malah melepaskan tangis manjanya.
"Ya udah, tak usah tidur kalau tak ngantuk. Nanti ngantuk juga tidur sendiri. Udah dipuk-puk, tak tidur juga. Udah diusap-usap, tak tidur juga. Padahal, tidurnya aku temani. Terus aku harus gimana?" Givan bukanlah orang yang senang jika dengkurannya disadarkan seperti ini.
"Ya Mas katanya pengen bikin aku capek. Ya udah, bikin aku capek. Aku udah ngantuk, tapi tak tidur-tidur." Sebelumnya, Canda tidak pernah kesulitan tidur sampai hari menjelang pagi seperti ini.
Mata Givan langsung terbelalak, ia melirik istrinya dengan mata yang cukup merah. Ketika kantuk dipaksa untuk terjaga, maka semburat merah seperti orang mabuk dalam mata tersebut cukup terlihat jelas.
"Aku pipis dulu." Givan melepaskan tangan istrinya dari lehernya.
Kemudian, ia bergegas ke kamar mandi. Bujuk rayu, bahkan ia sampai keluar modal yang tidak sedikit. Nyatanya, tak mampu untuk membujuk istrinya agar memenuhi kebutuhannya.
Namun, permintaan istrinya datang di dini hari seperti ini. Keterpaksaan itu hilang karena semangatnya. Ia langsung menerjang Canda dari segala macam arah. Ia benar-benar mengusahakan, agar istrinya bisa kelelahan dan tertidur.
Terlihat sekali bahwa Givan begitu menggebu-gebu. Kantuknya hilang sudah, digantikan dengan namanya yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
Ia merasa cukup gagah, kuat, perkasa dan bangga, dengan raungan Canda yang begitu lepas dengan urat-urat yang menegang. Canda akhirnya mendapatkan pelepasan, setelah sekian lama rasa ingin itu terkubur dengan bayangan buruknya.
"Mas, mata aku udah payah." Canda benar-benar mendapatkan obat tidurnya.
Givan membagi keringatnya, dengan menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher istrinya. Ia masih bergerak mengatur lajunya, agar tidak sering menghantam pintu wadah anaknya tumbuh. Karena miliknya yang cenderung panjang, hal itu sering tidak sengaja ia lakukan dan membuat ibu hamil tersebut meringis.
Canda benar-benar sudah payah.
"Aku gerak cepat nih, Canda. Tahan bentar." Givan menegakkan punggungnya, kemudian menempatkan kaki istrinya pada pundaknya.
"Jangan terlalu mentok, Mas." Canda mulai bersiap merasakan gerakan yang membuatnya selalu tersentak itu.
Givan hanya mengangguk, kemudian ia bekerja lebih keras untuk fokus pada dirinya sendiri. Ia tidak mau dirinya ditinggal tidur oleh istrinya. Ia berharap dirinya benar-benar bisa terselesaikan, meski dengan waktu yang relatif cepat ini. Ia paham, bahwa tugasnya hanya membuat istrinya puas saja untuk sekarang. Karena dengan hal itu, kantuk Canda bisa langsung datang.
Terbukti dengan selesainya sesi olahraga dadakan ini, Canda langsung mendengkur halus setelah suaminya berguling ke sampingnya.
"Lah, betul-betul ini si Cendol. Belum cuci, belum apa. Udah langsung ngorok aja." Givan terkekeh kecil, dengan melirik istrinya.
Setelah mengatur napasnya sampai stabil kembali. Givan langsung mengambil air hangat dan handuk lembut, untuk membersihkan sarangnya yang masih penuh dengan benih-benihnya yang tidak cukup beruntung tersebut.
Givan sibuk menyeka pun, Canda tidak terusik sama sekali. Sampai Givan memakaikan segitiga khusus ibu hamil pada istrinya pun, istrinya tetap terlelap dalam tidurnya.
Barulah setelah itu, Givan menyelimuti tubuh istrinya bersama dirinya di sisi istrinya. Givan melanjutkan tidur, dengan senyum puas yang terukir karena kali ini kebutuhannya terpenuhi.
Siang harinya, Givan mengantarkan Canda untuk cek up kandungannya di rumah sakit yang berbeda dari tempat Ai di rawat inap.
__ADS_1
"Wah, selamat Bang Givan, Kak Canda. Baby twin nih." Kabar gembira tersebut, membuat Givan dan Canda saling melempar pandangan dengan pikiran yang tidak sampai.
"Alhamdulillah." Givan segera memanjatkan rasa syukurnya.
Keturunan dari mana, yang membuatnya bisa memberi benih kembar? Benak Givan bertanya seorang diri dengan ekspresi bodoh.
Penyakit apa ini baby twin? Benak Canda, yang lebih mengerti terjemahan bahasa Arab ketimbang bahasa Inggris tersebut. Ia mengira, penyebutan dalam bahasa Inggris tersebut adalah kondisi medis yang menyangkut kesehatan yang tidak baik pada janinnya.
"Apa itu?" Canda menunjuk layar yang menampilkan isi USG 4D itu.
"Janin Kak Canda ini. Tuh, ada dua." Dokter yang sudah akrab dengan mereka tersebut, ia memberikan tanda pada dua bentuk yang belum sempurna tersebut.
"Masya Allah...." Barulah senyum Canda terukir bahagia, setelah mendengar kabar dua titipan sekaligus dalam rahimnya itu.
Canda baru mengerti, kenapa suaminya langsung memanjatkan rasa syukurnya. Sebelumnya, ia sempat kebingungan dengan pertanyaan baby twin dan syukur yang suaminya lafalkan.
"Mereka sehat-sehat kan, Dok?" Givan memiliki kekhawatiran sendiri, mendengar kuasa Yang Kuasa dalam rahim istrinya tersebut.
Dokter tersebut mengangguk dengan tersenyum lebar. "Alhamdulillah, sehat, pertumbuhannya normal, ukurannya normal. Kalau masih ASI ke anak yang paling kecil, baiknya dihentikan saja ya, Bang." Dokter tersebut masih memperhatikan dengan seksama, bentuk bayi yang terlihat tidak jelas dalam layar tersebut.
"Masih ASIA gimana, Dok?" Canda membantu asisten dokter yang mengusap gel di atas permukaan perut bawahnya itu.
"Apa itu ASIA?" tanya Givan dengan membantu Canda menutup kembali pakaiannya.
"Air susu ibu untuk ayah." Penjabaran dari Canda, membuat Givan dibuat malu seketika.
"Masih boleh ASIA kok, asal jangan terlalu saja, soalnya bisa menimbulkan kontraksi perut. Kalau kolostrum udah berproduksi juga, sekitar usia kandungan lima bulan, sebaiknya ASIA dihentikan ya, Kak? Nanti malah bayinya pas keluar tak kebagian kolostrum lagi." Mereka berbaur dalam tawa ringan.
Yang dimaksud kolostrum adalah ASI yang keluar pertama, yang memiliki warna sedikit kuning dan kental. Kolostrum baik untuk pencernaan bayi yang baru lahir, meningkatkan imunitas bayi yang baru lahir, dan sebagai pemenuhan gizi bayi.
"Apa yang harus lakukan, untuk lebih menjaga ibu hamil kembar ini, Dok?" tanya Givan, setelah mereka duduk di depan meja dokter.
"Waduh, suami yang begitu mencintai istrinya. Begini, Bang Givan......"
Canda memicingkan matanya pada suaminya yang tengah mendengarkan nasehat dari dokter kandungan tersebut.
Suami yang begitu mencintai istrinya? Rasanya Canda ingin mengajak dokter tersebut ke rumah dan mendengarkan semua ceritanya tentang suaminya. Karena menurutnya, sangat tidak benar pernyataan tersebut.
"Sejak kapan mas Givan cinta sama aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
...****************...
__ADS_1