Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM21. Givan Gavin


__ADS_3

"Astaghfirullah...." Givan mendengus sebal dengan mengepalkan tangannya.


"Aku percaya itu bukan anak aku, karena aku tak nanam benih di rahim kau. Aku butuh bukti itu, agar kau pun paham dan percaya kalau itu bukan anak aku." Givan tidak mengerti, kenapa Ai bisa menjadi perempuan yang begitu percaya diri sekali. Karena begitu kentara, bahwa Ai yakin dengan pernyataannya sendiri. Bahkan, sampai sekarang Ai masih menganggap bahwa itu adalah anaknya. Ai seolah menulikan dirinya sendiri, dari cerita sebenarnya yang Givan ceritakan.


Givan pun sengaja tidak mengatakan bahwa ia butuh bukti tersebut untuk Canda, agar Ai tidak mengacaukan segalanya. Jika Ai tahu akan hal itu, Givan khawatir Ai malah memalsukan hasilnya untuk mengelabui Canda.


"Aku percaya kalau ini anak Aa, cuma Aa ragu aja karena profesi aku yang begini. Aa ragu, kalau ini bener-bener benih Aa yang tumbuh di rahim aku. Aa pasti berpikirnya, kalau aku jual diri bukan sama Aa aja, jadi Aa berpikir mungkin anak ini adalah benih orang lain." Kronologi ini yang Ai percaya, meski dirinya tidak memiliki kekuatan akan kepercayaannya.


Givan merasa lelah sendiri meladeni perempuan seperti ini. Pendiriannya begitu keras, meski jelas begitu keliru.


"Intinya, nanti pas kandungan kau berusia lima bulan. Aku bakal bawa kau ke rumah sakit penyedia layanan tes DNA." Setelah mengatakan itu, Givan memilih untuk berbalik badan dan pergi.


Tidak akan ada habisnya jika menjelaskan hal yang tidak mau didengar. Meski sudah diberitahu bahwa itu bukan anaknya, tapi rasanya begitu buang-buang untuk menceritakannya. Ai seolah tidak pernah menganggap cerita Givan itu benar, ia percaya Givan hanya mengada-ada akan pemikirannya terkecoh.


Awalnya ia berpikir, bahwa Givan mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia teringat kembali akan sifat Givan. Ia memikirkan semalaman semua cerita dan setiap kata yang terlontar saat di ruang keluarga rumah ibunda Givan. Menimbulkan kecurigaannya yang lebih kuat, bahwa Givan hanya beralibi saja untuk mengamankan posisinya sendiri. Lebih bodohnya lagi, Ai percaya dengan sangkaannya sendiri daripada kebenaran yang ada.


"Mah, udah tidur kah?" seru Givan saat memasuki rumah. Ia ingin menceritakan akan rencana membawa Ai untuk tes DNA.


"Belum," sahut Adinda yang tengah fokus pada layar ponselnya.


"Mah, siri aja dulu." Adik yang memiliki nama kembar dengannya itu muncul dari balik pintu kamar paling depan tersebut.


Gavin memandang kakaknya yang memperlihatkannya dengan lekat tersebut. Sedangkan, Givan semakin kebingungan dengan kehadiran adiknya yang dua tahun lalu lulus dari pesantren tersebut. Ditambah lagi, ia teringat akan adiknya yang dikirim ke Brasilia untuk melanjutkan usaha milik orang tuannya itu.


"Kau ada di sini?" tanya Givan dengan menerima jabatan tangan dari adiknya.


Gavin langsung mencium tangan kakaknya. Pemuda dua puluh tahun tersebut, tidak ada kemiripan sedikitpun dengannya.


"He'em." Gavin menjawab dengan deheman saja.


"Balik-balik minta kawin dia sama istri orang," terang Adinda dengan melirik anak nomor tujuhnya tersebut.


"Mah, dia bukan istri orang. Cuma memang surat jandanya belum siap, tapi udah habis masa iddah secara agama." Gavin duduk di sandaran tangan sofa yang diduduki ibunya. Ia memijat kedua bahu ibunya, berharap ibunya cepat memberikan restu padanya.

__ADS_1


"Kasih kita waktu dulu, Vin. Jangan terburu-buru, kau masih muda. Sekalinya kenal perempuan, langsung minta disirikan aja. Pusing Papah." Adi muncul dengan membawa segelas teh buatannya.


"Nih, Dek. Biar Abang tiupin." Adi mengambil tempat di sebelah istrinya.


"Perempuan kau orang mana?" tanya Givan dengan memperhatikan Gavin yang letak duduknya lebih tinggi tersebut.


"Gorontalo, Bang. Asistennya kak Huna." jawab Gavin dengan masih memijat bahu ibunya.


"Sekarang dibawa ke sini?" Givan yang tidak tahu apa-apa, merasa kaget mendengar keinginan adiknya untuk segera menikah itu.


Gavin mengangguk. "Ada di penginapannya Mamah sama anaknya."


"Aishhh.... Beranak pula itu janda." Adi geleng-geleng kepala, ia teringat kisahnya dengan istrinya yang dulunya adalah janda anak satu.


"Kita itu, rasanya kek flashback ke kisah lama kita. Masalah-masalah kita, keknya diulangi lagi dari awal." Adinda bersandar pada lengan suaminya.


Pikirannya merumit. Di satu sisi, ia tengah membantu anak sulungnya mencari jalan keluar. Lalu di sisi yang lain, ia ditarik untuk mendadak memberi restu pada calon menantu yang rupanya saja ia belum tahu.


Gavin baru sampai di rumah sekitar dua jam yang lalu, ia tidak langsung mengenalkan perempuannya karena hari sudah beranjak tengah malam. Ia lebih memilih meminta kamar untuk perempuannya dan calon anak sambungnya, lalu dirinya kembali ke rumah orang tuanya dengan cerita asmaranya.


Sedangkan Gavin memilih beranjak, lalu duduk di samping kakaknya tersebut.


"Entah-entah, Bang. Semoga Gibran lulus MA nanti, tak tiba-tiba langsung minta poligami. Bakal kepikiran kita nanti gimana malam pertamanya dengan dua perempuan sekaligus." Sifat absurd Adinda membuat mereka berbaur tawa.


"Ts**e dong, bahaya," timpal Adi dengan tawa membahana.


"Anak sambung kau umur berapa?" Givan menyerongkan tubuhnya untuk menghadap adiknya.


"Delapan bulan, baru bisa duduk. Ajeng anak bungsu, tulang punggung sekarang, kerja bawa anak. Ya memang sih pakai jasa baby sitter, tapi baby sitternya tak bisa full time, tak bisa diajak pergi juga. Kalau siang Ajeng kerja, pulang kerja ya megang anak, karena baby sitter Elang jam lima sore pamit balik tuh," terang Gavin sekilas menggambarkan betapa mandirinya wanitanya.


"Nama lengkapnya siapa?" tanya Adi, ya tertarik mendengar cerita Gavin.


"Ajeng Prameswari, usianya dua puluh tahun juga. Dia adik dari mantan suaminya kak Huna. Anaknya Ajeng namanya, Elang Nismara. Cerai pisah, tapi aku tak tau alasannya apa," jawab Gavin cukup mengalihkan pikiran rumit Givan.

__ADS_1


"Eh, Huna jadi janda memang?" Givan lama tidak bertukar kabar dengan anak dari ayah angkatnya, Jefri Maruli. Ayah Jefri adalah sahabat Adinda dan Adi.


"Janda mati, empat bulan yang lalu. Ajeng dua bersaudara, bang Abas wafat, ya dia sekarang yang menuhin kebutuhan orang tuanya," jelas Gavin kemudian.


"Entahlah. Abang pening, Vin." Givan memijat pelipisnya sendiri.


Ia tidak bisa membantu apa-apa, karena dirinya sendiri tengah dirundung frustasi.


"Ajengnya mau tak dibawa siri tuh?" Adinda mulai memikirkan keinginan anaknya.


"Tak mau, tapi akunya mau. Takut-takut aku, Mah. Mana orangnya tak ada takut-takutnya berduaan sama aku, aku yang khawatir mendadak lupa ilmu-ilmuku di pesantren dulu." Intinya, Gavin khawatir dirinya khilaf karena tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya.


"Hei, perempuannya aja tak mau. Bisa-bisanya kau tetap ngajak dia siri, otak kau di mana?" Givan menepuk pundak adiknya.


Sedikit peregangan otak untuk Givan, ia cukup terhibur mendengar pengakuan adiknya yang ingin menikah siri tersebut.


"Ya tak apalah, yang penting sah aja dulu. Masalah penolakan kan ada paksaan juga."


Tiga pasang mata tersebut bagaikan tidak berfungsi, saat mendengar penuturan Gavin tersebut.


"Assalamualaikum.... Mah," .


Givan langsung panik, ia tergesa-gesa untuk melihat tamu malam ini.


"Ya kenapa?" Adinda bangkit dan berjalan ke arah pintu.


Pintu tidak dikunci, membuat tamu tersebut langsung terlihat.


"Mah, perut aku....."


Gavin menatap perempuan yang familiar di pandangan matanya. Sebelumnya, ia merasa pernah melihat rupa tersebut.


...****************...

__ADS_1


Masa sama kakak ipar ducky lupa ya 😅 eh, kakak iparnya bukan yang datang?


__ADS_2