Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM27. Poker


__ADS_3

"Ngapain kau ngusap-ngusap pahaku?!" ketus Ria, sampai membuat Kenandra tersentak.


"Jangan kurang ajar ya kau, Bang!" Ria memberi peringatan dengan mengacungkan jarinya ke arah Kenandra.


"Hei, aku mau negur kau jangan mainan tisu aja. Orang ditepuk ringan gitu, bukan ngeraba-raba." Kenandra menjelaskan maksud dari tindakannya.


"Huh!!!" Ria bersedekap tangan dengan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Moodnya hancur sudah, karena tangan nakal itu hinggap di atas pahanya yang terlapisi celana formal tersebut.


"Abang ipar kau hamili mantannya, ibu kau mau balik kampung bawa kakak kau. Kau mau ikut tak? Apa sama Abang aja di sini?" Kenandra menepuk pangkuannya sendiri.


Mulut Ria membentuk huruf O, ia menganga lebar karena terkejut dengan cerita singkat tersebut. Ia tidak menyangka, ternyata panutannya mengkhianati kakaknya sendiri.


"Aku sama Gavin ada pikiran untuk gantiin nama ayah di akte kelahiran anak dari mantannya itu, karena kasian sama Canda. Tapi, coba apa jawaban mantannya itu?" Kenandra menceritakan sedikit tentang kejadian yang keluarga itu tidak ketahui.


Gavin dan Kenandra pernah mencoba membujuk Ai, untuk menikah dengan salah satu dari mereka. Untuk sebatas menutupi aib Ai, agar anaknya memiliki ayah. Jika jaminan hidup, itu urusan Givan menurut Kenandra dan Gavin.


"Apa memang, Bang?" Ria menoleh ke arah Kenandra.


"Aku pengen ayah kandungnya sendiri yang bertanggung jawab, biar anak aku tau kalau itu ayahnya." Kenandra menirukan suara perempuan.


"Dih, kocak. Harus datengin kak Fira tuh, biar tau aja gimana sikapnya bang Givan ke Fira. Harus datangi kak Nadya juga tuh, biar mantannya itu bisa membayangkan cerita masa nifas tanpa dibantu suami. Kalau kak Canda tak pandai wirid, iblis rupa tampan itu keknya tak kunjung jinak juga."


Kenandra melongo saja, mendengar Ria menyebut kakak iparnya dengan iblis. Namun, ada sedikit kalimat mengocok perut Kenandra tentang Canda yang pandai wirid atau semacam dzikir tersebut.


"Kau ini, Dek." Kenandra geleng-geleng kepala.


"Bodoh betul ya dia? Sama Gavin dia nolak, sama Abang dia nolak." Ria memandang lurus ke depan.


Kenandra melirik sekilas dengan garis bibirnya yang tertarik. "Memang kau kalau sama Abang tak nolak, Dek?" Ia berniat mengisengi Ria kembali.

__ADS_1


Ria langsung menoleh cepat, dengan menyatukan alisnya. "Apa alasannya aku harus mau sama Abang?"


Kenandra langsung tertantang. "Ikuti alur Abang, Dek. Tak mabuk duda, bila perlu tak perlu kenal nama Abang." Kenandra berani untuk mengusap lengan Ria.


Ria tidak suka tubuhnya disentuh. Dengan demikian, ia langsung memukuli Kenandra secara acak dan cepat. Kenandra langsung mencoba menghalau pukulan Ria, dengan ia menepikan kendaraannya untuk keamanan mereka sendiri.


"Aku tak suka sama Abang! Rese!" Ria bersedekap tangan dengan napas yang ngos-ngosan. Ia lelah sendiri memukul Kenandra tiada hasil.


"Boleh, Dek. Tak apa tak suka, tapi kelak nanti jangan mend***h juga ya?" Kenandra memamerkan keindahan senyumnya.


"Awas aja ya kau, Bang. Aku laporkan ke bang Givan." Ria pandai mengadu ke kakak iparnya.


"Sok, abang ipar kau pun entah-entah masih mau mikirin urusan kau tak." Kenandra mulai menaikkan kendaraannya ke jalanan aspal lagi.


"Aku jadi pengen tau sendiri gimana masalah bang Givan. Aku harus tau pasti, biar aku bisa nolongin kakak aku. Aku tak mau kalau mbak Canda sampai jualan seblak lagi, aku capek bolak-balik ke pasar." Ria membayangkan hidup mereka kembali sulit.


Kenandra tertawa geli dengan pemikiran Ria tersebut. "Ya udah, kau tanyakan nanti ke abang ipar kau. Abang siap bantu ongkos, tenaga, waktu bahkan nama untuk bantu juga. Bukan apa-apa, kasian sama mbak kau itu. Bila perlu, Abang siap jadi kepala keluarga di KK mbakmu itu, Ria."


Pukulan random itu, kini seperti pijatan pada lengan duda anak satu tersebut. Kenandra tertawa lepas, dengan pandangan fokus ke jalanan.


Apa, Ria menyebutnya dokter saiko? Kenandra hanya bisa geleng-geleng kepala, tanpa merespon ucapan Ria karena mereka sudah dekat dengan tempat tujuan.


Hingga pemandangan Givan yang terus menggenggam tangan Canda, membuat Ria dan Kenandra tak kuasa untuk mengganggunya. Kenandra yakin, bukan cuma Canda yang hancur. Tapi pikiran Givan pun begitu rumit.


"Mbak, tidur kah?" Ria berjalan menghampiri sisi kanan brankar tersebut.


"Tak, Ria." Canda mengukir senyumnya pada adiknya.


Givan bingung sendiri, karena Canda tidak membuka obrolan apapun dengannya. Ia heran, karena istrinya berubah menjadi pendiam sekarang.


Givan lebih baik dicecar pertanyaan perihal kesalahannya, daripada Canda berbicara seperlunya saja begini. Bahkan, Canda hanya buka suara ketika ditanya olehnya saja. Dalam sekejap, Canda berubah menjadi pribadi lain.

__ADS_1


Diam Canda bukan tanpa alasan. Ia tengah memikirkan, apa yang terjadi di belakangnya dan kapan waktu terjadinya. Karena ia merasa, suaminya selalu berada di jangkauannya.


Kota Jepara, hanya kata kunci itu yang terlintas di benak Canda. Tapi ia pun mendapat kelaraan sendiri, jika ia memaksa ingin tahu akan cerita sebenarnya. Canda tidak siap untuk ini semua. Ia pun tengah kebingungan seorang diri, untuk mencari start penyelidikan dalam diamnya.


Canda tak ingin bertanya langsung pada Givan. Namun, ia ingin mendengarkan Givan buka suara untuk bercerita juga. Hanya saja, ia begitu sungkan untuk meminta Givan bercerita.


"Makan, Dek. Mamah bawakan bekal, biar kau lekas sembuh." Kenandra mengambil tempat di sebelah Ria.


"Udah makan makanan dari rumah sakit, Bang. Untuk nanti aja." Canda pun tersenyum samar pada Kenandra.


Givan tidak mengerti, kenapa senyum Canda tidak pernah terarah ke arahnya.


"Apa kata dokter, Van?" Kenandra beralih memandang suami Canda yang senantiasa menggenggam tangan Canda.


"Tensi rendah, tunggu sampai stabil. Karena kalau shock kan, biasanya stabil dengan sendirinya lagi," terang Givan dengan memperhatikan laki-laki yang sejak kecil sudah ia anggap sebagai kakak tersebut.


"Bangkitin moodnya dong. Ayo kita main ludo aja." Kenandra duduk di tepian brankar tersebut.


Sedangkan Ria, duduk di depan kepala kakaknya. Sampai akhirnya Canda meninggikan kepalanya, karena khawatir mendapat limbah gas dari Ria.


"Main poker aja dong, Bang. Main uang aja, biar semangat kan gitu." Ria menumpuk salah satu kakinya ke kakinya yang lain.


"Gimana, Ria? Ajarin Mbak dong." Ria menepuk pundak adiknya, lalu mengusap lengan adiknya tersebut.


Ria menoleh ke arah kakaknya. "Oke, Mbak. Nih kebetulan, aku ada salah satu aplikasinya." Ria semakin condong ke arah kakaknya, dengan menunjukkan layar ponselnya.


"Hei, janganlah! Kau apa-apaan sih, Ria!" Givan menghalangi ponsel Ria yang ditunjukkan pada istrinya tersebut.


"Tengah lah, Bang. Cuma buat hiburan aja." Ria tetap melanjutkan mengajari kakaknya tersebut.


Hingga gelak tawa Canda lepas bersama adiknya. Dengan keadaan permasalahan rumit seperti ini, Givan terheran-heran karena istrinya tertawa lepas tanpa beban bersama adiknya tersebut.

__ADS_1


Givan berkomunikasi dengan Kenandra dari sorot matanya. Namun, Kenandra langsung mengedikan bahunya karena ia tidak mengerti juga dengan keadaan Canda saat ini.


...****************...


__ADS_2