
"Aku kurang ngerasa cocok ngobrol sama dia, aku kek diminta untuk jujur semuanya. Aku tak nyaman, aku tertekan," akunya dengan pandangan kosong ke depan.
"Keluarga kau ada, Vin. Sementara, kita cari psikolog yang cocok sama kau. Pulihkan dulu keadaan kau, jangan terlalu memaksakan kehendak. Kau mau makan apa sekarang?" Adinda mengusap keringat di pelipis anaknya dengan punggung tangannya.
"Aku mau dipeluk, Mah." Permintaan kecil, keluar dari mulutnya.
Namun, tidak disangka Givan langsung mendekap adiknya begitu erat. Perlawanan terjadi, kala Givan memberikan kecupan hangatnya di pipi kanan adiknya. Itu adalah hal yang tidak normal terjadi pada para laki-laki, tentu saja Gavin langsung marah besar.
Givan tetaplah Givan, ia malah tergelak lepas mendapat pelototan adiknya. Ia hanya memberikan kecupan ringan seperti kakak pada adik kecilnya, tapi adiknya sering kali menilai dengan salah.
"Najis kau, Bang!" Gavin menggosok pipinya yang kena sambar kakaknya.
Adinda hanya bisa geleng-geleng kepala, kala adu mulut kecil terjadi di antara anak-anaknya. Ia sudah terbiasa melihat keadaan seperti itu sejak dulu, hanya saja ketika mereka sudah besar, memang pemandangan seperti itu sudah jarang terlihat.
Sorot matanya terarah pada cucunya yang tengah mengagumi wajah suaminya dari bawah, Cani sampai mengusap-usap rahang kakeknya yang tengah membacakan surah pendek tersebut.
Ia berjalan mendekati suaminya dan cucunya yang duduk di sofa panjang. Ia langsung bersandar pada suaminya, dengan mengusap-usap punggung Cani yang berada di pangkuan suaminya.
"Sana lah kau, Bang!" Gavin mendorong kakaknya.
__ADS_1
"Abang kangen, Vin. Sini lah tiduran." Givan merebahkan tubuhnya di brankar adiknya yang berukuran cukup besar.
Ia sudah menguap lebar. Ia lelah hari ini, pekerjaannya pun tidak ada yang selesai sedikitpun.
"Tak mau! Kau jangan main cium-cium aja tuh, Bang. Geli loh aku ini, macam h*** aja!" Gavin melirik kakaknya sinis.
"Ck, mana ada. Abang sayang sama kau, jangan berlebihan kali." Givan mulai memejamkan matanya.
"Sayang apanya?! Kakak tiri, galaknya aja." Bukannya marah, Givan malah terkekeh mendengar ucapan Gavin.
"Tak sayang, anak kau Abang buang juga." Givan berkata dengan memejamkan matanya.
Ia merebahkan tubuhnya perlahan. Ia menarik selimut, kemudian menghadap pada kakaknya yang hampir mencapai titik nyamannya.
"Bang, aku pengen nemuin Ajeng." Gavin mengutarakan keinginannya yang begitu berat ia lakukan.
Mata Givan terbuka lebar, sorot merah menunjukkan betapa mengantuknya dirinya. Ia sedikit tenang dengan keadaan anaknya, karena orang tuanya berada di sini. Ia yakin orang tuanya mampu menjaga keadaan anaknya, sementara ia terlelap.
"Mau ngomong apa ke dia?" Givan mencoba tetap untuk membuka matanya.
__ADS_1
"Mau nanya, kenapa setega itu sama anak kita. Meski aku dulu tak pernah buang dalam, tapi dia tetap hamil, aku tak pernah berpikir bahwa dia ngandung anak orang. Aku yakin, istri aku tak mungkin sehina itu, Bang. Aku kalau udah percaya sama orang, dia ngomong bohong, aku tau, tapi aku tetap coba percaya sama dia. Karena aku berpikir, pasti ada alasannya di balik kebohongannya. Dia cinta pertama aku, Bang. Aku itu kasian terus sama dia, kasian sama Elang. Tanpa dia minta, aku selalu penuhi kebutuhan dia meski dalam wujud uang. Aku kurang peka, kalau dia minta barang. Aku pun tak paham, kenapa ia tak minta rujuk sama aku sama sekali. Aku tak ngerti, kenapa dia bisa-bisanya tarik bapaknya Elang di kehidupan barunya. Aku tak puas, karena tak pernah dengar jawaban langsung dari dirinya." Gavin mengakui dalam suara lirih.
Givan mencoba menahan kantuknya. "Dia pasti jawab ngada-ngada, karena lagi ada pengaruh bapaknya Elang. Kau tenangkan diri aja dulu, kau tak perlu banyak nanya ke Ajeng. Dia nyesel, dia pasti datang ke kau, Vin. Atau setidaknya, dia mengaku bersalah karena udah taruh anak kau di teras rumah. Tapi menurut Abang, anak kau tak lahir di Brasilia. Anak bayi belum diperbolehkan terbang sejauh itu, meski melahirkan normal. Keadaan Ajeng pun, pasti tak akan sanggup ikut penerbangan lama. Abang punya feeling, kalau beberapa hari sebelum dia naruh anaknya di teras, dia ini ada di provinsi ini. Tapi menurut Abang pun, itu bukanlah hal penting. Tak perlu banyak pengen tau tentang Ajeng, udah tak ada urusannya sama kau."
"Itu penting untuk aku, Bang. Aku pengen Abang temani aku untuk datang ke sana, temui Ajeng. Aku takut tak kontrol, kalau aku sendirian nemuin dia. Aku tak akan bisa tenang, kalau aku belum tau jawaban dari mulut dia langsung." Gavin takut dirinya tidak bisa menahan emosinya dan rasa rindunya pada Ajeng.
"Yang penting kau sehat dulu." Givan tidak bisa menjanjikan dirinya bisa menemani Gavin.
"Aku tak mau sehat, kalau Abang tak iyakan? Aku sama siapa coba, Bang? Abang-abang aku yang lain, dia nampak nanggapin santai kondisi aku. Mereka cuma nengokin anak aku kek biasa aja, mereka tak mau tau tentang rahasia yang terjadi sampai Cali ada di teras rumah." Gavin memeluk bantal guling.
Ia memejamkan mata, mencoba meredam kekalutan hatinya yang berujung ke matanya.
"Karena anak kau ada di kau, mereka bakal panik kalau anak kau tak ada di jangkauan mereka. Pahami juga, kalau urusan orang dewasa itu, tak melulu tentang adiknya atau kakaknya. Ada keluarga kecilnya, yang harus mereka utamakan." Givan mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan rasa kantuknya.
"Apa Abang maksud, kalau Abang pun tak bisa karena Abang sibuk dengan keluarga kecil Abang?" Gavin sesensitif itu sekarang.
"Tak, kakak ipar kau ngerti kalau ini tentang adik Abang yang lagi butuh bantuan. Tapi kau harus ngerti, kakak-kakak kau yang lain pun tak bisa bantu karena ada urusan yang tak bisa mereka tinggal. Ghifar, istrinya lagi ngidam lagi. Tadi muntah-muntah parah, Abang sebelum berangkat tuh anter mereka dulu ke klinik. Giska kan tau, anak bayinya divonis epilepsi. Kau tak bisa bayangin hancurnya hati mereka, lihat anaknya ketergantungan obat sampai waktu yang udah ditentukan. Harus bertahun-tahun loh Gwen minum obat. Ghava tau sendiri, Adib juga ada riwayat kejang. Anak udah hampir remaja, masih dijaga ketat aja. Adib tak bisa kelelahan sedikit aja. Ghavi apalagi? Ekonomi masih penuh perjuangan. Anak-anaknya banyak, pengeluaran banyak, bayar asisten rumah tangga dan pengasuh aja udah sampai sepuluh juta dia. Gimana mau ngurus urusan adiknya, dia pengen selesaikan masalahnya di rumah aja sulit sekali kan? Butuh waktu untuk semuanya, butuh perjuangan. Tak Abang, Ghifar, Giska, Ghava, Ghavi, semua orang lagi berjuang ngehadapin masalahnya sendiri. Anak Abang sakit, Vin. Istri Abang masih nifas, bayi Abang dua di rumah. Pikiran Abang terbagi, belum dengan usaha yang belum tertangani dengan baik. Kau doakan Cani sehat, kau sehat, barulah ayo kita temuin Ajeng, kalau hal itu buat kau bisa tenang." Givan tersenyum lebar mencoba untuk membuat adiknya bisa menerima semuanya.
...****************...
__ADS_1