
"Pengen mencocokkan dengan pengakuannya aja. Soalnya banyak yang bilang kalau dia ini kasar." Aku tak pernah percaya ucapan orang, tentang suamiku yang berlaku kasar dan sedikit lain.
Terlihat jidatnya berkerut. "Yang pertama, aku tak pernah pacaran sama dia. Yang kedua, kita cuma berhubungan sekali. Jadi tolong diingat kembali, kalau aku tak bisa nilai banyak tentang suami kau itu!" Di akhir kalimat ia menghela napasnya.
Benarkah pengakuannya ini? Suamiku ini sebenarnya bagaimana? Kenapa orang lain lebih banyak tahu tentang dia, ketimbang aku sendiri selaku istrinya? Aku merasa sedih, karena orang lain tahu lebih banyak. Aku pun merasa tak mampu mengenali suamiku sendiri, karena fakta lain tidak aku ketahui. Lebih menyakitkan lagi, aku tahu dari orang lain.
"Apa dia kasar? Tanpa pemanasan? Serobot? Pukul-pukul?"
Skandal yang begitu lengkap. Mas Givan bermain dengan kakak dari ibunya, sedangkan orang bersangkutan kini menikah dengan Ghifar.
Yang tidak aku mengerti lagi, mereka tidak berpacaran. Tapi, sampai bisa melakukan hubungan gila itu.
"Kau betul mau tau? Tapi janji tak perlu tanya-tanya ke perempuan bekas pakai suami kau lagi ya?"
__ADS_1
Oh, ada perjanjian juga. Sepertinya ia kubu mas Givan. Oke, tidak masalah. Aku pun sungkan, jika bertanya pada perempuan lain.
Aku mengangguk menyetujui dengan cepat.
"Bukan kasar, tapi dia egois. Aku memang tak tau banyak tentang dia, apalagi cuma dari satu kali permainan aja. Tapi aku mengingat ulang dan berpikir sebagai perempuan dewasa di sini. Givan itu terlihat egois, karena aku bilang sakit dan udah, dia tetap lanjutkan sampai dia kelojotan sendiri. Apa dia pikirkan aku kesakitan, atau aku dapat pelepasan pertama kalinya? Dari caranya berbuat, dia tak pikirkan itu. Ini pendapat aku, sebagai perempuan dewasa. Kalau ditilik dari pemahaman logika, dia ini lagi keenakan. Dia tak bisa ngontrol dirinya sendiri, apalagi untuk memikirkan lawan mainnya. Ditambah dengan alasan, itu adalah kegiatan pertamanya. Dia tak paham skill atau cara mainnya, tapi dia cuma paham basic bahwa airnya bisa membuat lawan mainnya hamil. Jadi, bisa disimpulkan kan? Ya, betul sekali. Ia terlihat kasar, karena egoisnya besar dan dia tak bisa ngontrol dirinya sendiri." Ia malah berbicara seperti guru.
"Yang penting, sama kau tak begitu kan? Dia tak egois kan?"
Jelas aku langsung menggeleng. Bahkan, sejak pertama menikah dengannya pun. Mas Givan selalu mengusahakan, agar aku selalu bisa mendapatkan pelepasan sebelum dirinya berkedut.
Ia adik iparku, tapi dia begitu dewasa.
"Kalau aku jadi kau ya, Canda. Meskipun, amit-amit juga. Aku cuma bakal menyimak omongan orang tentang masa lalunya, ya hanya sekedar tau saja gitu lah. Aku tak akan tanya ke dia, aku pun tak minta konfirmasi selanjutnya. Terlepas dari benar atau tidaknya, aku udah tau nih ternyata dulu dia buruk dan tak berhati. Untuk sekarang, patutnya kau ini bersyukur. Karena dia tidak memperlakukan kau sama dengan masa lalunya, karena dia udah tidak seperti dulu lagi. Coba kau bayangkan, kalau kau mesti sabarin aja gilanya Givan yang belum berubah. Kan, untungnya sekarang dia udah berubah. Terlepas dari siapa yang merubah, yang penting kau harus tetap mempertahankannya untuk tidak kembali buruk seperti masa lalunya. Itu aja sih masukan dari aku, daripada kau stress mikirin celotehan mantan pacar suami kau. Kau lagi mengandung, kau harus bisa manage pikiran kau sendiri. Waktunya makan, kau harus tetap makan. Waktunya tidur, kau harus tetap tidur. Kadang, memang buruknya psikis kita yang lawan kita harapkan. Jadi, jangan sampai kita lengah menjaga psikis kita sendiri. Ya salah satu caranya, tetap makan dan tetap istirahat." Ia memutar-mutar sebuah sendok, lalu menyendokan makananku ke mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Aku kenyang jadi pendengar Ghifar. Apa aku patut cemburu? Rasanya tidak juga, karena hal itu udah terlewat. Sangat wajar, kalau aku benci sama kau, karena kau adalah perempuan yang sering Ghifar ceritakan. Tapi, aku tak pernah benci sama kau. Karena kau pun, mungkin sekarang udah beda juga ke Ghifar, lain cerita kalau kau masih sama ke Ghifar. Terus, ada untungnya karena Ghifar cerita tentang kalian dulu. Aku jadi bisa membatasi Ghifar dan membentenginya, khususnya sama kau, tanpa mengekangnya, karena dia bakal nyuri-nyuri kesempatan untuk berdekatan sama kau, kalau dia terlalu dikekang."
Pemikiran dari mana?
"Kalau dia dibebaskan dan hanya dipantau aja, malah dia sering datang dong? Nah, ini yang aku takutkan kalau mas Givan di luar rumah dengan kebebasan longgar." Saat ini, aku memang merasa mengekang suamiku.
"Ya udah, nikmati aja bagaimana nanti. Aku pernah punya pacar, dia pemabuk. Aku larang, aku ancam dia. Eh, malah dia lebih memilih untuk bohongi aku. Biar apa? Biar aku tetap sama dia, tapi dengan dia tetap bisa mendapatkan kebebasan untuk mabuk juga. Makanya, dia milih jalur pintas untuk jadi pembohong aja biar posisinya aman. Kau bisa pahami, Canda? Apa perlu aku kasih contoh lain?"
Oh, iya-iya. Aku mulai mengerti konsepnya. Jadi, laki-laki itu seperti itu ya ketika dikekang?
"Tapi aku takut, kalau dia berbuat di luar dugaan aku. Aku takut, dengan kebebasannya dia malah lebih semena-mena sama aku." Keinginan untuk makan ini tiba-tiba hilang.
Ia manggut-manggut. "Aku paham, Canda. Tapi aku nerapin cara ini sama Ghifar tuh, aku ada pembicaraan seperti ini sebelumnya. Misal orangnya itu kau ya ini, Canda. Aku tanya ke dia, gimana dia sama kau sekarang, dalam hal luas, bukan hanya perasaan aja. Dia jelasin di situ, dia buka semuanya. Aku paham nih, aku pun percaya dia memang hanya sebatas ingin menjaga aja, bukan ingin tetap jadi orang yang memaku kebahagiaan kau. Ya udah, aku genggam ucapannya, aku kasih dia kepercayaan, selesai problem tersebut. Aku tengok dia main ke rumah kau, semobil sama aku, antar kau ke manapun. Ya aku yakin dan aku percaya, bahwa suami aku tak bakal melakukan di luar batasannya" Senyumnya begitu meyakinkan ucapannya, meski aslinya aku tidak yakin ia mempraktekkan dalam kehidupannya sendiri.
__ADS_1
"Kuncinya, yakin dan percaya sama pasangan kita. Tanpa keyakinan, tanpa kepercayaan, lambat laun hubungan bisa berakhir sia-sia. Ingat perjuangannya, ingat susahnya, ingat juga ketika dia mampu membahagiakan kita. Misal kita lepas dia, apa kita bisa dapat perlakuan baik yang sama dari orang yang berbeda? Pikirkan ke depannya, bukan hanya untuk keputusan hari ini aja."
...****************...