Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM142. Tentang istri


__ADS_3

"Kami banyak ngobrol, Izza suka puzzle."


Givan manggut-manggut, ternyata wanita yang anaknya sukai memiliki hobi yang mirip dengan anaknya.


"Iya, besok-besok kalau mau main, Abang pulang dulu ya? Makan dulu, ganti baju dulu, terus izin ke Ayah apa ke biyung. Kan nanti dikasih uang lagi, biar pas main Abang tak cuma datang orangnya aja."


Chandra mengangguk, ia tersenyum lebar dan memahami maksud ayahnya. Chandra mengklaim, bahwa dengan membawa buah tangan, harga dirinya sebagai seorang tamu akan lebih dihormati nantinya.


"Terus ada cerita apalagi?" Givan masih menunggu anaknya buka suara akan banyak hal.


"Merah-merah. Aldi pernah nunjukin itu di leher bagian bawahnya, merah betul katanya namanya c******n."


Tidak jauh seperti di zamannya sekolah dulu, pasti ada saja anak-anak yang sudah mulai nakal dan sialnya Givan penasaran.


"Itu termasuknya zina loh, Bang. Bisa kena hukum khalwat, bisa kena hukum zina juga. Kegiatan itu, boleh dilakukan sama suami istri. Kalau belum menikah, tak boleh dilakukan." Givan menggoyangkan telunjuknya di depan wajah anaknya.


"Rasanya gimana, Yah? Apa Ayah dan biyung pun pernah?"


Givan khawatir keseleo saat menjelaskan.


"Ya rasanya gitu-gitu aja, Bang. Mungkin, kek kegigit gitu. Lagian, untuk apa sih begitu-begitu? Kita sabar nunggu kita dewasa dan menikah, kan pasti merasakan juga. Tak perlu melakukan hal yang dilarang agama, karena Abang tau sendiri kan pedihnya hukumannya?" Givan merasa seperti menasehat dirinya sendiri. Nyatanya pun, dulu ia serusak itu dan sepenasaran itu.


"Iya, Yah. Izza juga bilang, kalau Aldi itu bisa kena jinayah di sini. Nanti katanya dihukum cambuk, ditonton di teras masjid."

__ADS_1


Givan malah teringat dengan hukumannya kemarin.


"Nah, itu. Makanya jangan melakukan hal yang dilarang. Masih kecil juga Abang ini kan? Udah bisa kerja belum? Udah bisa hasilin uang belum?" Givan mencoba membuka pikiran logis anaknya. "Kalau mau beristri itu, laki-laki harus punya penghasilan sendiri. Kau tak boleh makan uang orang tua, untuk keperluan perut kau dan istri kau. Intinya, hasil jerih payah Abang yang dimakan bersama istri itu. Pasti nantinya berkah, orang tua pun tak ngomongin di belakang. Abang mau, biyung gosipin Abang sama mama. Nanti begini biyung cerita, itu Chandra udah punya istri masih nganggur aja, tiap hari makan minum dari aku." Givan berpura-pura menirukan suara istrinya.


"Oh, tak boleh ya? Aku harus ngasih makan Izza ya, Yah? Bukan Izza yang ikut tinggal di sini, terus sama aku di rumah aku gitu."


Givan sedikit bingung dengan maksud pertanyaan anaknya.


"Izza bakal ikut Abang, tapi dengan catatan Abang mampu penuhi perutnya, pakaiannya, kasih hunian yang layak. Makanya, Ayah bawa biyung ke rumah Ayah sendiri. Papa, abu, bapa, panda pun sama. Bahkan, kakek pun tetap tinggal sama nenek kan meski jadi suami istrinya udah lama. Jadi tuh, nanti kita ini bertanggung jawab untuk menuhi segala kebutuhan istri. Kan besar nanti Izza nikah nih sama Abang kan? Terus, Izza dibawa Abang pulang ke rumah. Otomatis, Izza ini udah tak dapat uang jajan dari orang tuanya. Gimana caranya coba Izza punya kuota, punya baju bagus, bisa jajan dan makan tiga kali sehari kalau bukan Abang yang menuhi? Abang kan bawa Izza keluar dari rumah orang tuanya, otomatis Abang bertanggung jawab untuk menuhi hal itu. Nah, sedangkan Abang ini udah besar. Udah waktunya berbakti ke orang tua, jadi Abang tak boleh tuh minta jatah jajan Abang dan Izza ke Ayah sama biyung. Abang harus bisa hasilin sendiri."


Otak cerdas Chandra langsung berjalan. "Apa aku bakal mampu, Yah? Kan nanti aku biayai Izza juga."


"Mampu, Abang usahakan. Ayah ngasih makan biyung, sama anak-anak Ayah yang banyak ini. Tuh, Ayah mampu kan? Nanti Ayah bantu kasih cara, biar kau mampu nafkahi keluarga kau sendiri. Untuk sekarang, tugasnya adalah.....?" Givan menggantungkan kalimatnya.


"Tak begitu, masih panjang perjuangannya. Bang Chandra harus kuliah juga, biar taraf hidup dan kemampuan Abang lebih tinggi. Nanti kuliah sambil belajar kerja sama Ayah. Kalau di masa kuliah, kau udah bisa cari uang sendiri dan mampu kasih makan Izza. Nanti Ayah bantu lamarkan Izza, nanti kau boleh nikah sama Izza." Akhir kalimat Givan, seperti penyemangat untuk Chandra.


Anak remaja itu langsung mengangguk dan tersenyum merekah. Otaknya kini sudah mulai memikirkan, agar dirinya cepat besar dan memiliki kemampuan untuk bekerja.


"Ayah hebat betul berarti, Ayah mampu kasih biyung banyak makanan, banyak barang. Ayah juga bisa kasih makan anak-anaknya, baju baru kami juga, uang saku kami juga." Chandra merasa bahwa ayahnya adalah panutan yang sempurna.


"Itu harus, Bang. Mampu tak mampu, kewajiban laki-laki yang menuhi kebutuhan anak istrinya. Ayah pun pernah susah, sulit sekali ngasih makan biyung dan pakaian untuk biyung. Terus dibantu deh sama kakek dan nenek, diajarkan untuk bisa tangguh nafkahi anak istri, karena anak Ayah udah mulai banyak. Nah, belum lagi Abang punya adik perempuan. Kalau umur Ayah tak panjang, adik perempuan itu bakal jadi kewajiban Abang loh."


Chandra sedikit terkejut. Ia pun baru memahami, jika anak yang tidak memiliki orang tua, akan dipenuhi oleh kakaknya. Ia baru mengetahui hari ini, karena ia berpikir anak yatim piatu sama saja dengan anak umumnya.

__ADS_1


"Berarti, aku harus usaha lebih keras dong? Terus, jatah anak aku berapa nanti?"


Givan mulai bertanya-tanya dengan kebingungannya. Memangnya siapa yang akan memberi jatah jumlah anak? Karena secara logika, anak ada karena perbuatan mereka sendiri.


"Iya, harus lebih cerdas cari uang. Biasanya, kalau turunan dari orang tuanya banyak tuh ya jatah anaknya banyak lagi. Kakek sama nenek kan, banyak anaknya. Nah, bapa, Ayah dan papa menyusul juga tuh jumlah anaknya. Iya tak coba? Coba Abang ingat-ingat lagi." Givan membereskan makanan yang tidak ia makan.


Chandra mengangguk, ia membenarkan ucapan ayahnya. Ia yakin, keturunannya pun pasti akan memiliki banyak anak. Ia bertekad untuk pandai belajar, agar kemampuannya berguna untuknya mencari nafkah nanti. Belum lagi jumlah adiknya yang banyak. Sekarang saja, adik-adiknya sering meminta jajan dan makanan darinya. Pasti, besar nanti ia akan tetap dituntut untuk bisa memberikan hal yang serupa atau bahkan lebih untuk adik-adiknya.


"Belajar main gitar aja yuk? Ayah bisa kok, lupa-lupa ingat sih." Givan ingin menyudahi obrolan tentang pernikahan yang khawatirnya ia salah menjelaskan.


"Kata nenek, Ayah pun pandai main balok susun." Chandra turun dari ranjang tersebut.


Ia membantu ayahnya membenahi banyak makanan yang berada di atas ranjang tersebut. Ranjang Givan dan Chandra, sudah seperti basecamp mereka mengobrol.


"Iya, terus condong untuk ngerakit kendaraan tuh. Abis itu, hobi Ayah di otomotif. Tapi padam juga, pas punya istri dan uang Ayah tak banyak. Sampai sekarang tak pernah ngerakit kendaraan lagi, karena biyung nempel terus. Nah, makanya puas-puasan masa muda kau dengan hobi kau. Karena kalau udah punya istri nanti, bakal kek Ayah. Ayah tak nampak di mata biyung aja itu pasti ditelpon."


Kembali, Chandra merasa ucapan ayahnya pun ada benarnya. Ia tahu akan ibunya yang selalu mencari keberadaan ayahnya tersebut. Sempat ia berpikir, bahwa ayahnya adalah teman terbaik untuk ibunya. Makanya, ibunya selalu mencari keberadaan ayahnya. Seperti Ceysa dan Hadi, Chandra menyamakan interaksi ibu dan ayahnya seperti adiknya dan sepupunya.


"Ternyata punya istri itu rumit juga ya, Yah?"


...****************...


Rumit! Menikah itu ujian hidup yang sebenarnya 😭

__ADS_1


__ADS_2