Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM187. Kopi kakek


__ADS_3

"Jam berapa cucu-cucu Papah berangkat ke Singapore?"


Givan memperhatikan dengan seksama laki-laki tua yang tengah bertolak pinggang di depannya dan anaknya. "Jam dua dini hari nanti, Pah. Mau antar kah?" Givan menahan tawanya mendengar pertanyaannya sendiri.


Ditambah lagi, Adi menoleh dengan mata mekarnya. Kentara sekali, jika Adi cukup tersinggung dengan pertanyaan anak tirinya.


"Masih bersyukur Papah jalan tak pakai tongkat, Van! Kau ini." Adi geleng-geleng kepala dan duduk berbaur dengan anak dan cucunya.


"Mana kopinya, Iyo?" Adi menepuk pundak cucunya.


Zio kecil yang selalu disebut dengan Iyo, menjadi kebiasaan beberapa orang tua untuk tetap memanggil anak tersebut dengan panggilan kecilnya.


Zio melirik kakeknya, kemudian ia tertunduk kembali. Ia selalu dikerubungi rasa tidak nyaman dan takut, jika didekati oleh kakeknya. Beberapa amarah kakeknya pernah ia dapatkan, membuatnya memiliki kecanggungan tersendiri.


"Kakek mau kopi apa?" Ia bertanya dengan pandangan yang tertuju pada tanah.


Anak usia tiga tahun lebih mengenal suara orang tertua di lingkungannya tersebut. Ia segera keluar dari rumahnya, yang tepat berada di hadapan rumahnya. Hanya terpisahkan halaman yang cukup luas, yang biasa digunakan untuk tempat mereka berlarian mengumbar kegembiraan mereka bersama.


"Kakek.... I lope yuuuu...." Cani berseru keras dari teras rumahnya.


Givan tertawa lepas, melihat anaknya yang selalu tergila-gila dengan ayah sambungnya tersebut. Givan mendapat cerita, jika Cani selalu berpaling ke kakeknya sejak Ghifar selalu membuatnya menangis dan kakeknya yang selalu menyelamatkan diri Cani yang tak berdaya karena ulah pamannya yang iseng.


"Lope yuuuu too, Cantik. Mana kerudungnya coba?" Adi menyahuti dengan terkekeh geli.

__ADS_1


Anak perempuan yang dibiasakan bertudung sejak bayi tersebut, langsung berlari masuk dengan memegangi kepalanya. Ia selalu seperti itu, ketika lupa untuk menutupi kepalanya. Hanya Cani, satu-satunya anak Givan yang betah berlama-lama memakai tudung.


Tak lama kemudian, Cani sudah memakan kerudung instan berwarna biru muda. Ia menghampiri kakeknya dengan tersenyum lebar.


"Kakek, main yuk?" Cani langsung bermanja-manja di pangkuan kakeknya.


"Ini Kakek main. Kok belum bobo sih, Dek? Buat susu belum?" Adi membenahi anak rambut yang keluar dari hijab cucunya.


"Belum, Kek. Kita ny*s* bareng yuk?" Ajakan Cani membuat dua orang dewasa tertawa lepas.


"Boleh. Ke biyung gih, bilang kalau Kakek minta buatkan kopi. Adek minta tolong juga untuk buatkan susu sama biyung." Adi mencium pipi cucunya.


"Ya, Kek." Cani memandang kakaknya yang selalu menurutinya tersebut. "Abang, temani aku," rengeknya manja dengan menarik tangan Zio.


Meski ia segan pada kakeknya, tapi ia tetap bisa menghormati kakeknya. Perhatian Adi dan kasih sayang yang Adi salurkan, dirasa cukup besar untuk anak itu. Sayangnya, Zio amat berhati-hati pada kakeknya sendiri karena takut mendapat bentakannya lagi.


"Tapi aku yang disuruh Kakek, Bang." Cani menarik hoodie yang kakaknya kenakan.


"Pencitraan betul anak Cendol." Givan meraup wajah mungil anak perempuannya.


"Ayah, jangan," rengek Cani dengan membenahi hijabnya.


Setelah beberapa Zio dan Cani berada di depannya. Adi menyenggol lengan Givan dengan sikunya. "Kalau diperhatikan, Iyo mirip postur Nadya ya? Tinggi kurus, kulit jenis kering kek opa Korea gitu, mana putihnya pucat tuh." Adi masih memperhatikan kedua cucunya yang berjalan bergandengan tangan.

__ADS_1


"Ya anaknya. Kalau kulit kek aku gini kan masuknya kuning, Canda juga kuning bersih. Kalau Nadya ya putih pucat begitu, dari dulunya memang putih pucat." Givan pun mengalihkan pandangannya ke arah perhatian ayah tirinya.


"Udah telpon Nadya?" Adi mendengar ceritanya saja dari istrinya.


"Belum, tadi ngobrol sama Zio. Aku bingung pas Zio tanya asal-usulnya, aku takut ketahuan kalau dulu aku bukan laki-laki baik." Givan kembali memikirkan hal ini.


"Tak tau dari kau, dia bakal tau dari mulut saudara kau atau orang lain. Papah pun dulu gitu, umpet-umpetin tentang mamah dan Papah. Eh, almarhum om Safar buka semua. Ya udah, percuma juga diumpetin. Yang penting kau bisa nyusun kalimatnya aja, biar anak kau jadikan itu pelajaran. Bukan malah bangga, pas mereka tanya tentang kenakalan kau dulu. Hal kek Papah campuri mamah di masa nifas, terus bisa mamah hamil kembar karena itu. Itu pun sampai didengar semua anak Papah, terus diketawain kek tak sama laki-lakinya aja." Adi mengusap tengkuknya yang sering kaku.


Givan terkekeh. "Memang sebetulnya harus berapa lama sih nunggu nifas? Jujur, baru pas Canda disesar ini aku nunggu dia sampai ada dua bulannya. Pas dia bersalin pertama, tiga mingguan aku campuri. Orang udah bersih, Canda pun udah fit, berarti tandanya aman." Givan masih kurang menahan tentang waktu nifas seorang perempuan. Karena ia mendapat pemahaman dari agamanya dan pemahaman dari dokter sangat berbeda.


"Katanya sih empat puluh hari, ada yang mengharuskan sampai dua bulan. Tapi Papah nemani mamah kau bersalin, cuma pas lahiran kembar Papah tahan-tahan sampai empat puluh hari lebih." Adi pun bingung ingin mengikuti aturan yang mana, karena terasa berbenturan dengan daya tahannya sebagai seorang laki-laki.


"Ya udah lah, mau bagaimana pun kebenarannya. Kurang lebihnya, tetap dosa-dosa juga kita yang nanggung." Givan geleng-geleng kepala, membuat ayah tirinya tertawa geli.


Percakapan mereka berbaur hingga Givan pergi untuk mengantarkan rombongan anaknya yang pergi ke Malaysia untuk berlibur dan mengurus perpindahan sekolah Ceysa. Mendapat beberapa saran dan informasi yang memadai, akhirnya Givan memutuskan untuk menyekolahkan Ceysa di sekolah yang direkomendasikan salah satu psikolog yang pernah menangani Ceysa untuk tes IQ.


Beberapa orang kepercayaan, ia tempatkan di lingkungan Ceysa dan pengasuhnya tinggal. Ia pun sudah menyusun rencana, agar nanti Chandra mengenyam pendidikan perguruan tinggi di sana. Harapannya, supaya Chandra bisa menjaga adik perempuannya. Bertambah lagi, Chandra harus mengelola salah satu perusahaan distributor yang almarhum Nalendra amanatkan untuk Chandra.


Givan akan mengajari anaknya dengan perlahan, sebelum ia menyerahkan separuh asetnya pada Chandra. Ia akan mengajari anak laki-lakinya sebaik mungkin, agar tumbuh dan bisa menjadi penggantinya untuk orang-orang terdekat mereka.


Bahkan, pengenalan dunia bisnis sudah dilakukan Chandra saat ini. Givan sengaja mengirim Chandra ke sana dengan alibi liburan dan menjaga Ceysa awal pindah ke Singapore, padahal ia sengaja ingin mengenalkan usaha kecil yang akan ditangani anaknya untuk pertama kalinya. Hanya pengenalan kecil, Givan berharap Chandra tak kaget saat benar-benar terjun di dunia bisnis dengan bahasa asing tersebut.


Meski ia sadar anak laki-lakinya berjumlah dua. Tapi, dalam agamanya hanya Chandra yang berhak memiliki separuh asetnya. Sisanya, akan dibagikan untuk anak perempuan yang bernasab dirinya. Givan belum membuat surat wasiat dan warisan untuk itu, karena ia merasa ia masih mampu mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Namun, ia sudah meminta seorang notaris yang ditujukan untuk menghitung dan mendata semua yang ia miliki. Agar nanti waktunya tiba untuk dibagi, Givan tidak perlu lagi memberitahukan apa saja yang dimilikinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2