
"Mas, jemput sih. Aku mau nengok Cani sama Mas." Canda berbicara dengan nada manjanya.
"Nanti Adek pulang, Biyung. Pak cek Apin udah pulang, tinggal aku nantinya."
Givan dan Canda terkekeh kecil, mendengar sebutan yang Cani berikan. Mereka bahkan baru tahu, jika anaknya memberi panggilan khusus untuk Gavin.
"Oke, deh. Oke, deh. Biyung nitip jajanan ya pas Adek pulang?" Canda hanya bergurau saja.
"Waduh, waduh. Aku sekolah, Biyung nitip jajanan. Aku dari rumah sakit, Biyung titip jajanan. Tak ada orang jajan deh, Biyung. Ada obat, Biyung mau?"
Setiap lontaran kalimat yang keluar dari mulut Cani. Menghibur hati kedua orang tuanya tersebut.
"Mau Adek Cani pulang aja deh. Biyung bingung siapa yang gantiin Biyung jaga adek-adek, kalau Biyung mau pipis." Canda mengatakan hal itu, karena anaknya suka menemani kedua bayinya dengan alasan ia akan buang air kecil.
Sebenarnya ada dua pengasuh di situ, tapi Canda tetap berkata untuk menitipkan bayinya pada Cani. Hal itu membuat anak perempuan itu, merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga adiknya di saat ibunya tak ada di sisinya.
"Aduh, kasian adek-adek bayi. Nanti Adek Cani pulang kok."
Givan dan Canda kembali tergelak, merasa merasa geli mendengar Cani menyebut dirinya sebagai adik.
"Kak Cani dong, Sayang?" Givan mencubit pelan pipi anaknya.
"Nanti aja deh kalau aku udah besar, aku udah jadi kakak-kakak, barulah dipanggil kak Cani. Aku kan masih adek-adek, masih kecil." Cani berbicara dengan menggerakkan kedua tangannya.
Givan menoleh ke arah pintu kamar, ada perawat masuk untuk menggantikan selang infus Cani yang hampir sekali habis. Givan hanya menebar senyum ramah, karena ia pun berada di atas brankar bersama anaknya.
"Udah tak ada panasnya, belum tentu dikatakan sembuh, Pak. Karena biasanya kalau DBD ini kan, naik turun terus panasnya," ujar perawat tersebut, ketika kembali meminta izin untuk menyuntikkan sesuatu ke selang infus Cani yang berada dekat dengan tangannya.
__ADS_1
"Iya, Sus." Givan pun mengerti akan hal itu.
"Sehat-sehat ya, Adek?" Perawat tersebut tersenyum lebar, kala Cani memperhatikannya secara terus menerus.
"Ya, Tante."
Canda yang berada di dalam sambungan telepon, tergelak mendengar Cani menyebut perawat sebagai tante. Menurutnya, tutur kata Cani begitu candu untuk didengar.
"Ada cerita apa di rumah, Canda?" Givan memperhatikan wajah istrinya yang terlihat begitu mulus.
"Apa ya?" Canda terlihat seperti tengah berpikir. "Izza ke sini sama ibunya, bawa buah, dikiranya Cani ada di rumah. Yaaa, gimana ya? Ibunya ada ngomong tentang dua anak tersebut, keknya bawa buah untuk Cani cuma alasan aja. Jadi bu Kamilah itu kepengen Chandra kedepannya jelas untuk anaknya, jadi kek ditetapkan dulu talinya tuh. Apa ya bahasanya? Tunangan kah? Sedangkan, aku pikir mereka ini masih cuma sekedar suka biasa aja. Terlalu dini, untuk kasih kejelasan untuk hubungan mereka kedepannya. Diusahakan setengah mati, namanya bukan jodoh ya pasti sulit juga. Nanti yang ada kita malu, kalau Chandra dan Izza mangkrak di tengah jalan. Aku sama Ghifar yang udah kek sumbu ketemu tutup, tak jadi nikah karena tak ada jodohnya. Masa aku menjanda pun, aku tetap tak minat pas ditawarkan jadi istri keduanya. Padahal, bisa aja aku jadi satu-satunya untuknya, karena Kin wafat. Memang dasarnya tak ada jodoh, sulit dapat kesempatan berjodoh dan memang tak bisa untuk bersama. Khawatirnya tuh, antara Chandra dan Izza begitu, Mas. Kalau jodoh, ya pasti sampai ke pelaminan. Kalau tak jodoh, ya memang harus ikhlas. Kalau dikasih tali antara mereka begitu, khawatirnya kala mereka udah tak punya kecocokan lagi, salah satunya bakal merasa tali itu mengekangnya. Pusing aku tuh, Mas. Ria minta sama bang Ken, ini Chandra begitu. Ujian kita tumpuk berapa rupanya?" Canda geleng-geleng kepala dan merasa ingin menyerah.
"Belum lagi, Ai pasti pamit pulang. Ditambah, aku janjikan ke Brasil untuk nemenin Gavin minta penjelasan ke Ajeng. Plus, aku harus lebih cepat ajarin Gibran bisnis. Karena dia mau nikah secepatnya. Ditambah lagi, Cani masih di rumah sakit." Givan merangkul bahu kecil anaknya, kemudian mencium pipi anaknya.
Pemahaman dan sopan santun yang ditanamkan mereka cukup banyak. Anak perempuan tersebut menyibukkan dirinya dengan mainan yang ia bawa dari rumah, sembari sesekali ia memakan cemilannya. Cani tidak menimbrungi obrolan orang tuanya, atau bahkan sekedar menyimak dan mendengarkan. Ia tahu, bahwa itu tidak sopan dan ia tidak mau disebut anak yang tidak sopan.
"Ya ampun. Mana kan, mau datang mereka ini, Mas." Raut pusing Canda amat terlihat.
"Ya, Ria ini. Dia WA, katanya udah ambil penerbangan untuk minggu-minggu ini." Canda menoleh ke arah lain, untuk memperhatikan bayi-bayinya yang tengah terlelap.
"Ohh, berdua mereka datang?" tanya Givan kemudian.
"He'em, Mas. Masa iya sendirian?" Canda kembali memerhatikan layar ponselnya yang menampilkan wajah suaminya.
"Kau ngerasa ada yang janggal tak di antara mereka ini, Canda? Apa mungkin cerita Ria ini, sama kek cerita kau dulu?" Givan berkata dengan hati-hati sekali, ia tak ingin istrinya menjadi teringat dengan kejadian mereka dulu.
"Memang aku kenapa dulu?" Canda mencoba mengingat dan memahami maksud ucapan suaminya.
__ADS_1
"Ish! Maksudnya tuh, kau nikah sama aku ini karena dip****** dulu," jelas Givan kemudian.
"Ohh...." Canda terkekeh sejenak. "Tak deh keknya, Mas. Ria tak ada ngadu atau cerita begitu. Kalau korban kan, pasti mereka amat terpuruk dan butuh orang untuk cerita. Ria tak ada cerita kek gitu ke aku," lanjutnya kemudian.
"Ya karena mau kakaknya. Kalau kakaknya bukan modelan kau, mungkin dia cerita." Secara tidak langsung, Givan tengah mengejek istrinya.
Sayangnya, ejekannya tidak tersampaikan. "Memang aku kenapa?" Canda terlihat bingung sendiri.
"Udahlah! Tak usah dibahas! Emosi nanti aku yang ada." Givan membuang napasnya kasar.
Canda malah tertawa lepas, membuat Cani penasaran ingin melongok apa yang sudah terjadi di layar ponsel ayahnya.
"Baaaa...." Canda mengagetkan Cani yang wajahnya terlihat di layar ponselnya.
Cani tersentak, kemudian ia langsung memegangi ayahnya dan ia hampir menangis. Givan dengan cepat memberikan pelukan penenang, kemudian memelototi istrinya dari panggilan video tersebut.
Canda tergelak lepas. Ia tahu anaknya begitu cengeng dengan hal-hal kecil saja. Setiap dikejutkan pun, Cani lebih memilih menangis daripada mentertawakan dirinya sendiri.
Givan melirik ke bagian atas layarnya, ada panggilan masuk dari seseorang yang ia kenal. "Udah dulu ya, Canda? Ada telpon masuk," ucapnya kemudian.
"Ya, Mas. Dadah, Adek..... Mmmmuach." Canda memberikan ciuman jarak jauh untuk anaknya.
Cani hanya melambaikan tangannya saja di depan layar. Ia masih mendekap ayahnya dengan manja.
Givan mencoba melepaskan pelukan anaknya, setelah panggilan video dari Canda telah selesai. "Ayah ada telpon. Adek mainan dulu, Ayah ambilkan juga kue yang lain." Givan bergerak cepat, mencoba turun dan mengambil kantong plastik berlogo minimarket yang ada di ranjang sebelah.
"Ya, Ayah. Siapa yang telpon? Nanti telpon kakek lagi sampai diangkat ya, Yah?" Cani menerima jajanan miliknya.
__ADS_1
"Oke. Pak wa, yayah Bunga yang telepon." Givan sudah menyentuh ikon terima dari panggilan telepon tersebut.
...****************...