Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM227. Ikhlaskan


__ADS_3

"Mas Givan...."


Givan menghela napasnya, kemudian ia mundur beberapa langkah. Gavin mendahului untuk sampai ke tempat wudhu, mereka akan sholat di mushola khusus di rumah itu. Cukup luas dan menarik, karena mushola tersebut bersebelahan dengan halaman samping yang hanya bertembokan kaca yang bisa digeser.


"Apa, Sayang?" Givan langsung memasang senyum sumringahnya.


"Jangan malam-malam pulangnya." Canda mengira suaminya akan pamit untuk mengecek usahanya.


"Nanti dong. Aku mau sholat sama Gavin, paling nanti perginya, agak malaman keknya." Givan menggaruk pelipisnya dengan satu jarinya.


"Oke, nitip doa." Canda duduk di tepian ranjang, yang ditiduri oleh dua bayinya.

__ADS_1


"Siap." Givan segera beranjak pergi untuk mengambil wudhu.


Ibadah mereka sudah ditunaikan, dengan Givan sebagai imamnya. Kini, ruang kerja Givan yang menjadi tujuan mereka berdua dan dua gelas kopi tersebut. Givan hanya berharap, aroma kerinduannya dengan Canda sudah berganti dengan aroma pengharum ruangan yang menyemprot setiap lima belas menit sekali.


Ia cukup lega, karena aroma percintaannya tadi sudah hilang. Givan hanya menyalakan exhaust, karena tahu adiknya masih merokok.


"Abang, kalau istrinya kemungkinan besar Abang curigai selingkuh, Abang bakal bertindak apa?" Gavin membuka obrolan tanpa basa-basi.


"Tak tau, tak pernah punya istri selingkuh. Tapi, punya istri mantanan sama adik sendiri ya merasakan. Asal perempuannya nurut, sekalipun dia akhlaknya ada yang kurang baik, pasti bisa diperbaiki kok. Kita ini laki-laki, kita yang mengendalikan perempuan. Sama Nadya dulu, mudah betul Abang bilang, udah cerai aja, sana pulang ke orang tua kau. Begitu Abang. Karena apa? Karena dia tak patuh. Udah akhlak minusnya banyak, dibetulkan tak nurut. Ya jadi mulut ini lancar sendiri ngeluarin talak kifayah. Sama kakak ipar kau, Abang tak ada pernah kasih talak atau nyuruh dia pulang. Nuduh dia selingkuh sama Ghifar, pernah. Tapi tak pernah ada bukti perselingkuhannya, cuma memang Abang panas hati aja dulu mereka suka curi-curi pandang. Jadi pikiran jelek itu membentuk keyakinan, bahwa mereka ini berselingkuh. Padahal tak demikian kok, aman aja." Givan bersandar santai di sofa yang menjadi tempat aktivitas dewasa dirinya dan istrinya tadi.


Dengan singkat, ia menceritakan ulang kejadian yang ia alami bersama Ajeng. Ia menceritakan hal yang sama, seperti yang ia ceritakan pada kakak iparnya. Givan menyimak dengan seksama, ia mencoba memahami apa yang adiknya rasakan.

__ADS_1


"Kan udah ditalak kan? Nikah siri kan?" tanya Givan kemudian.


Gavin mengangguk dua kali, atas pertanyaan dari kakaknya. Ia membenarkan atas apa yang kakaknya katakan.


"Ya udah, tak usah diperumit. Kau bebas sekarang, Vin. Tapi, kau punya kewajiban sebagai ayah dari anak kau. Biarkan Ajeng bertindak demikian, yang penting kau fokus ke anak kau. Jangan sampai, Ajengnya gila. Kau pun sama gilanya kek Ajeng. Kan kasian anak kau, dia malu sebagai anak, dia minder sebagai anak kalian. Nah, tadi kau bilang ayahnya Elang kerja di perusahaan distributor punya mamah yang dialihkan untuk kau dan Gibran itu?" Givan menunjuk ke arah Gavin.


Gavin kembali mengangguk. Ia tidak banyak merespon, karena tidak memikirkan itu adalah hal yang sulit.


"Ya dia perlu diingatkan, kalau dia cari makan itu ke keluarga kita. Kau boleh turunkan posisinya, sebelum akhirnya kau PHK. PHK normal aja, kasih pesangon, kasih surat keterangannya, biar dia tak terlalu curiga. Kau bujang lagi, bebas lagi, tapi ingat ada anak. Jangan sampai, anak kau besar, dia dengar cerita kalau ayahnya itu penipu perempuan, tukang main perempuan, penjudi atau semacamnya. Kau gatal lagi, mintalah restu orang tua kau sebelum kau nikah lagi. Kegagalan kemarin kau pelajari. Apa kesalahan kau? Apa kekeliruan kau? Apa penyebabnya juga? Biar tak terulang lagi, di pernikahan kedua kau. Serumitnya hubungan kau, tolong jangan sampai serumit susunan ibu kandung dari anak-anak Abang. Minimal, dua anak beda rahim lah. Kek Abang sama Ghifar, atau sama kalian. Jangan kek Abang, yang dapat dari rahim Fira, rahim Nadya, rahim Canda. Itu rumit, Vin. Sulit kita jelaskan ke anak-anak." Givan geleng-geleng kepala, ia belum menemukan jalan keluar dari cerita akhir jika terungkap bahwa ialah penjahat untuk ibu kandung dari anak-anaknya.


"Abang tau aku paling takut dengan dosa zina." Gavin mulai membakar rokoknya.

__ADS_1


"Abang percaya, makanya kau nikah siri. Anak-anaknya papah Adi, Abang percaya kalian orang baik. Keinginan kalian untuk halal, dibarengi dengan kebiasaan beberapa keluarga yang ambil siri dulu untuk keamanan anak-anak. Jadi beginilah kalian, kek udah turun temurun dan lumrah aja ambil siri ini. Dipikirnya, mungkin untuk menghindari zina. Tapi kalian tak sadar, kalau di dalam pernikahan meski siri itu ada ketentuan dan hukumnya. Kau menikah untuk menghindari zina, bolehlah dipahami hati nurani. Nah, Ghavi karena apa? Menyalahgunakan ketentuan agama, hanya untuk menghindari hal yang terlarang. Tapi dia tak sadar, kalau dia sedang mempermainkan pernikahan yang sakral. Ghava ambil siri, karena kebiasaan keluarga. Ghifar bukan lain, itu tekanan dari istrinya. Abang tau gimana Ghifar dan gimana istrinya. Ghifar cepat ambil keputusan, tapi keputusan mudah berubah kalau dia dapat desakan. Meski abang kau itu tak ada cerita aku begini-begitu, terus ambil siri. Tapi Abang paham, apa sebab dan alasannya. Abang pun dulu sama Nadya ambil siri, karena tekanan juga. Jadi, udah gitu. Jangan main-main dengan pernikahan, meski siri. Pikiran laki-laki memang mudah, udahlah jajan perempuan aja, tapi nyatanya zina itu sulit dilakukan oleh orang-orang beriman. Apa yang orang beriman ini ambil? Ya pernikahan, bisa jadi tanpa pikir panjang kek kau. Kau udah ngerasain problemnya, kau udah ngerasain rumitnya siri, ya udah gitu jangan sampai kau ulangi lagi. Jangan kau ambil pusing, karena Ajeng selingkuh dan macam lainya. Kan udah terlewat kan? Anak udah di kau juga kan? Udah gitu, yang ikhlas aja. Kau buat rumit sendiri, ya yang rusak pikiran dan badan kau sendiri. Waktu Abang sama kakak ipar kau, si Cendol. Dia khulu Abang, Abang terima dan Abang tak buat apa-apa. Abang tak cari masalah, atau begitu memburu keberadaannya. Tau informasi keberadaannya dan keadaannya, ya udah gitu, syukur alhamdulilah masih hidup dan sehat. Apa yang Abang fokuskan setelah lepas dari kakak ipar kau? Ya memperbaiki ekonomi Abang sendiri. Karena, hancurnya pun bukan karena Nadya aja. Tapi kakak ipar kau bisa jadi tak mau bertahan, karena ekonomi yang morat-marit. Tak nuduh tentang ego perempuan gila harta. Tapi, perempuan bisa bertahan di tengah kegilaan suaminya itu dengan fasilitas dan kebutuhan yang terpenuhi. Kau tanya contoh? Banyak kok contohnya, beberapa artis pun ada kok yang bertahan di tengah kegilaan suaminya bermain perempuan. Alasan anak, anak, anak. Memang, anak pun jadi alasan laki-lakinya untuk tidak menceraikan istrinya. Tapi, ada kenyamanan lain yang tak bisa dia lepas di samping hubungannya dengan suaminya. Pasti ada aja tuh, kekhawatiran mereka tentang laki-laki baru, yang tak mungkin mencukupi kebutuhannya dan anak-anaknya, kek suaminya sekarang. Abang tak merujuk ke satu atau dua perempuan, Abang merujuk ke logika dan hasil lapangan aja. Jadi, Abang benahi dulu ekonomi Abang masa itu. Barulah, Abang pikirkan untuk fasilitas, usaha masa depan. Datang lagi kakak ipar kau, ya pendekatan awal lagi. Karena memang, Abang kan orangnya mudah move on. Cuma, Abang sadarnya karena dia ini yang selalu bertahan di tengah kesulitan ekonomi. Cuma Canda ini yang patuhnya tiada tara. Seleksi dari awal lagi, itu butuh waktu dan kuasa jodoh. Sedangkan, Abang lebih yakin dengan seleksi tuhan yang mengharuskan Abang nikahi Canda meski accident awalnya memang salah. Abang yakin Canda pun perempuan baik-baik, karena perceraian sama Abang masa itu pun, karena puncak dari kesalahan Abang." Givan berkata dengan perlahan, dengan gerakan tangan yang seiring dengan ceritanya.


...****************...


__ADS_2