
"Belakang."
Givan membuang pandangannya ke arah lain. Ai sudah cukup keterlaluan membuka aibnya di depan istrinya, ia yakin Canda setelah ini akan takut dengan dirinya.
"Apa kamu tak pernah mau sebut dia ini menyimpang juga, Canda? Orang normal, malah jijik melakukan hal itu. Tapi dia menikmati, setiap penyiksaan yang dirinya lakukan pada lawan mainnya."
Napas Canda tercekat. Ia melirik suaminya yang tengah berpaling memandang teras rumah tersebut. Benarkah, ia hidup dengan monster? Benarkah, ia hidup dengan laki-laki yang fantasinya begitu tidak normal? Ataukah monster tersebut sudah berubah? Apa mungkin bisa kembali gila suatu saat nanti?
"Berarti kamu gak tau ya tentang fakta satu itu?" Ai merasa menjadi juara, karena mendapati wajah kaku Canda yang memandang suaminya tersebut.
"Aku paham caranya memperlakukan wanita baik-baik yang jadi istri aku, Ai." Givan memberi ketegasan dengan berat tubuhnya yang bertopang lewat siku yang menyentuh lututnya.
"Aku pun wanita baik-baik, yang Aa rusak sedemikian rupa. Perlu diingat kembali juga, kalau aku ini sebelumnya perawan yang tidak familiar dengan adegan s******. Aa paksa aku dan rusak diri aku." Ai tersenyum lebar penuh kemenangan.
Apalagi, ia mendapati Canda yang tengah shock di sini. Inilah yang dirinya inginkan, Canda shock dengan keadaan hamil mudanya. Ai yakin, itu tidak akan berakhir baik-baik saja untuk Canda dan dua janin kembarnya.
"Masih ingin dibahas kah, Ai? Pemaksaan itu tidak melewati proses persetujuan. Aku meminta izin terlebih dahulu, dengan kau yang mengiyakannya. Aku tak pernah memaksa untuk kau mau, aku tak pernah memaksa untuk kau menuruti. Kita melakukan dengan kesepakatan, bukan karena paksaan." Givan bangkit dari duduknya dan menoleh pada istrinya.
Tangannya terulur menyentuh lengan Canda. "Ayo, ikut aku. Kita pulang dulu."
Meski dalam ketakutan, Canda tetap memenuhi ajakan suaminya untuk pulang ke rumah. Ia yakin, kemenangan terbesar Ai adalah ketika ia dan Givan bertengkar di depan mata Ai.
"Ayo." Canda menggandeng tangan suaminya yang mengajaknya pergi dari hadapan Ai tersebut.
Namun, di tengah perjalanan kembali ke rumah. Canda segera melepaskan genggaman tangannya, lalu ia berjalan lebih dulu.
Ia tidak bisa membayangkan jijiknya bekas kotoran tersebut berpindah ke mulutnya. Ia kini seperti menyesal, karena sudah mau melakukan kegiatan o*** untuk suaminya.
"Hoekkkkk....." Canda langsung mual-mual hebat di depan pagar rumahnya yang sering dinaiki anak-anak tersebut.
__ADS_1
"Hoekkkkk....." Ia mulai membayangkan bau-bauan tidak sedap.
Givan sampai berlari kecil, agar segera sampai di depan rumahnya tersebut. Ia membantu Canda mengeluarkan isi perutnya, dengan cara menekan tengkuknya.
Canda menggelengkan kepalanya, mencoba melepaskan tangan suaminya dari tengkuknya. Tetapi, hal itu tidak digubris oleh Givan.
Sampai akhirnya, tangan kiri Canda menghempaskan sendiri tangan suaminya dari area leher belakangnya tersebut. Ia melirik tajam pada suaminya, dengan menyeka mulutnya dengan punggung tangannya.
"Aku jijik sama Mas." Setelah mengatakan hal itu, ia meninggalkan suaminya lebih dulu ke halaman rumah.
Givan mencari pasir di dekat jalan, lalu menimbun hasil ludahan Canda dengan pasir yang ia bawa dalam genggaman tangannya tersebut. Setelah itu, ia masuk ke halaman rumah dan mencuci tangannya lebih dulu sebelum masuk ke dalam rumah.
"Canda...." Givan menyerukan nama istrinya.
"Canda, kau harus dengar cerita versi aku dulu." Givan tidak ingin membela dirinya, tapi ia ingin Canda tahu bagaimana kejadiannya saat hal tidak baik itu terjadi.
"Canda...." Givan mencekal lengan Canda yang terus pergi ketika ia menghampirinya.
"Aku minta maaf, Canda. Aku tau, masa lalu aku begitu buruk untuk kau. Aku begitu menjijikkan, aku kotor dan hina. Tapi aku udah berubah, Canda. Terbukti dari perlakuan aku yang tak pernah berniat berbuat buruk ke kau, yang malah menjaga kau." Givan mendekap paksa istrinya yang terus berusaha melepaskan diri tersebut.
"Mas, hal itu dilarang agama." Canda memukul-mukul dada suaminya.
Lebih dari zina, ternyata yang suaminya konsumsi setiap hari saat dahulu. Ia tidak bisa membayangkan, bagaimana akhirnya ketika akhirat menghakimi suaminya.
"Aku tau, Canda. Maaf, masa lalu aku tak bisa dirubah." Givan duduk di sofa yang paling dekat dengannya, kemudian ia menarik Canda untuk duduk di pangkuannya.
"Mas, bang Daeng juga tak lebih baik dari Mas. Bahkan, dia kurir narkoba. Tapi orientasi s******nya tak bermasalah kek gitu. Mas butuh dokter yang sembuhin otak Mas." Istighfar dalam hatinya, setiap kali memandang wajah tampan dan rupawan dengan segala rahasia masa lalu kelamnya.
"Kalau kejiwaan aku sakit, aku tak mungkin mengecualikan kau. Kau harus paham, kalau hal itu cuma rasa penasaran aku aja. Aku tak munafik, aku pengonsumsi video dewasa barat. Hal kek gitu, terlihat lazim diperankan di adegan tersebut. Aku cuma penasaran dengan rasanya dan aku pakai cara aman dan bersih. Setelah tau rasanya, aku tak pernah ulangi lagi dan tak pernah berpikir untuk melakukan lagi. Kau paham kata penasaran, Canda? Aku cuma penasaran, bukan orientasi aku bermasalah. Lagian, aku kasar pun tak membunuh mereka juga. Aku merasa membeli dan aku cari kepuasan sendiri. Aku cuma tak bisa memperlakukan wanita yang aku beli, dengan semestinya. Mungkin, mereka berpikir bahwa aku kasar." Satu tangannya membelenggu pinggang Canda, satu tangannya lagi menahan rahang Canda untuk tetap menghadap padanya.
__ADS_1
"Mas, aku tak bisa bayangkan jijiknya." Canda bergidikan dan mulai mual kembali.
"Hoekkkkk...." Ia langsung menutup mulutnya sendiri.
"Laki-laki kalau udah n****, tau itu tempat jijik pun ya tetap gelap mata. Tetap bersih, karena memang secara otonomi itu jaraknya masih jauh dari tempat limbahnya. Jadi di bagian yang dipakai berhubungan itu, ya hanya di jalur menuju jalan keluarnya aja. Aku pun pakai sarung, dengan embel-embel ultra thin. Karena itu paling disarankan, soalnya paling tipis. Jadi tak lukain aku, tak lukain yang punya tempatnya juga. Gel pun harus main di sana, biar tak terjadi robekan kulit dalam." Givan bermaksud membagi wawasannya saja, tidak ingin mengajari istrinya juga.
"Kenapa Mas yang terluka?" Canda mulai teralihkan dengan pembahasan tabu tersebut.
"Soalnya begitu k***t, jadi ya bisa lukain kulit sekalipun pakai pengaman. Udah begitu kan, rasa sakitnya kek lepas perjaka lagi, sakit pas kencing, makanya aku kapok."
"Ya yang begitu, bukannya yang Mas cari? Mas kan pernah bilang ketagihan perawan." Canda malah seperti mendengar dongeng di pangkuan ayahnya. Perhatiannya penuh pada wajah suaminya, dengan kedua tangannya merangkul pundak suaminya.
Hanya untuk ilmu pengetahuan, bukan untuk dipraktekkan.
"Lain lah sensasinya. Itu tempat kering, bukan tempat basah. Aku lebih suka basah, bukan kering. Apalagi setelah kenal Putri, beuh......" Givan geleng-geleng kepala dengan memejamkan matanya. Ia menopang kepalanya dan bersandar pada sofa, dengan tersenyum mesum.
Plak.....
Matanya terbelalak, tangannya menyentuh pipinya yang mendapati hantaman tersebut. Ia tahu Canda tidak benar-benar menamparnya, itu adalah tamparan reflek karena kesal. Tapi ayunan dan pendaratannya begitu terasa, pipinya sedikit panas mendapat hantaman kecil tersebut.
Canda membenahi posisi duduknya, yang sedikit menurun ke bagian tengah tubuh suaminya. Tetapi, hal itu membuat Givan meringis karena geli bercampur nyeri.
"Ribut besar-besaran sama Putri, tapi tetap diakui dia yang terhebat." Canda menggerutu dengan bersedekap tangan.
Givan terkekeh dan memeluk tubuh istrinya. "Itu perempuan, tenaganya tenaga kuda. Tak ada capek, pas ngayunin sendiri tanpa bantuan. Terus basahnya juga cepat, tak butuh sentuhan ekstra. Terus...."
Canda segera membekap mulut suaminya. Ia paham suaminya hanya berbicara omong kosong belaka, tapi ia tidak bisa mendengar suaminya memuji perempuan lain.
Tawa tertahan Givan tidak bisa disamarkan. Ia gemas sendiri, melihat raut cemburu dari istrinya. Jika cemburunya Canda tidak berlebihan seperti ini, itu seperti candu untuknya. Ia bahagia, istrinya memiliki rasa cemburu akan dirinya tersebut.
__ADS_1
Canda yang sempat marah besar dengan rasa terkejutnya, kini mulai bisa menguasai emosinya dengan gurauan dari suaminya. Secara keseluruhan, Canda terlihat baik-baik saja begitupun dengan bayinya. Ia tidak dalam kondisi buruk, seperti yang Ai kehendaki.
...****************...