Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM117. Basa-basi Putri


__ADS_3

"Ini enak loh, Ai." Putri menoleh ke arah Fira, salah satu teman terbaiknya yang ia kenal hari ini. "Nama makanannya apa tadi?" tanyanya dengan wajah bingung.


"Batagor. Jangan kampungan, masa iya tak tau?" Fira memutar bola matanya malas.


"Justru karena kelas luar negeri, jadinya dia tak tau makanan itu," ujar Givan dengan kekehan kecil.


"Aku jarang jajan, udah makan ya udah," aku Putri, dengan memamerkan giginya.


"Kok ada ya orang begitu?" Canda terlihat terheran-heran dengan gelengan berulang.


"Ya ada! Aku pun begitu, udah makan ya udah, tak jajan lagi. Doyan jajan, setelah aku dinaikin sama kau. Dulu sih, kau tak pernah naik, tak pernah jajan aku. Di pasar malam juga, aku cuma nemenin kau. Sekarang, ikut request jajanan pasar malam." Givan penuh semangat saat mengatakannya.


Canda tergelak malu, dengan menutupi wajahnya sendiri.


"Kenyang apa gimana sih, Far? Put? Mulut aku tak bisa diam ngunyah, diam pas jaim baru dipacarin kau aja," tambah Fira, yang golongan manusia doyan jajan juga.


"Iya kenyang, kalau terlalu kenyang malah jadi ngantuk," jawab Putri, yang duduk di samping Ai.


"Kau tak apa, Ai? Apa masih pendarahan?" Sebenarnya, Putri dalam misi ingin mengulik pengakuan Ai. Hanya saja, ia ingin berbasa-basi dulu agar Ai merasa nyaman berbicara dengannya.


"Tak apa, udah dikasih obat pereda nyeri. Tapi masih pendarahan, sampai aku pakai pembalut." Wajah pucat Ai kentara sekali.


Givan merangkul istrinya pulang, ia ingin mengajak Canda beristirahat dulu. Ia memasrahkan bukti-buktinya pada Putri. Setelah ia memberikan waktu untuk Putri berbincang sejenak dengan Ai, ia akan meminta Putri datang kembali ke rumahnya atau ia yang kembali untuk menemui Putri.


"Hamil itu enak tak, Ai?" Putri bertanya, seolah ia tidak pernah merasakannya.

__ADS_1


"Mau kelonan itu pasti." Fira menatap kepergian Canda dengan Givan.


"Mana anak kau?" Putri menyenggol lengan Fira.


"Tadi aku antar pulang, kata pengasuhnya waktunya tidur siang soalnya. Kal juga ikut ke tempat Key, entah orang tuanya tau tak." Fira mengeluarkan ponselnya, ia mulai fokus memeriksa ponselnya.


Putri memandang Ai kembali. Ia merasa, untuk mengobrol banyak dengan Ai, harus memiliki waktu yang banyak. Sedangkan, Adi dan Ken tengah pergi ke desa untuk mengurus surat izin Ai yang akan dirujuk ke rumah sakit.


"Hamil itu enak tak, Ai?" Putri mengulangi pertanyaannya tersebut.


"Awal, aku gak ngeuh juga. Setelah kandungan tiga bulan, aku mulai mabuk parah. Aku gak doyan nasi, aku makan lontong tiap hari."


Obrolan tentang kehamilan, tentu menarik untuk ibu hamil. Tidak luput dengan Ai juga.


"Aku pun hamil tanpa suami. Aku malah pernah gunakan obat penggugur kandungan, alhasil jadi pertumbuhan jari anak aku itu berlebih. Karena dia kuat dalam perut, malah aku yang sekarat karena rasa sakitnya." Putri menarik ceritanya sendiri, untuk membuka pengakuan Ai.


Putri langsung menarik kesimpulan, bahwa Ai menginginkan kandungannya terus tumbuh.


"Tapi aku masih kerja, alkohol setiap malam pasti aku cicipi karena biar percaya diri. Aku gak paham, kalau alkohol itu bisa buat bayi cacat. Sepaham aku, alkohol cuma buat kandung panas, jadi bisa keguguran. Tapi sejauh itu, aku gak pernah merasakan tanda-tanda keguguran. Malah saat aku punya beban pikiran, gejala keguguran hampir setiap hari aku rasain," lanjut Ai kemudian.


"Kau tau, kalau kau bisa keguguran kalau konsumsi alkohol. Tapi, kau kenapa minum alkohol? Aku sih langsung minum jamu-jamuan penggugur kandungan, aku tak konsumsi alkohol. Aku perempuan modern, tapi aku kurang suka minum-minuman keras. Aku lebih suka hangout bareng temen, jalan-jalan, tidak dengan clubing." Putri memancing pengakuan Ai lagi.


"Yang pertama, karena tuntutan profesi. Yang kedua, aku gak punya pilihan lain. Yang ketiga, aku yakin kandungan itu punya daya tahan tentang alkohol. Setiap kali aku minum pun, aku gak pernah sampai mabuk."


Putri semakin yakin, bahwa Ai memang tetap ingin membesarkan kandungannya.

__ADS_1


"Aku nangis-nangis datang ke laki-laki yang hamili aku, aku percaya betul sama dia sampai percaya aja nginep di tempatnya. Tapi ternyata, aku malah dihamili. Aku nekat gugurin, karena awalnya dia pun tak harapkan bayi aku, dia bilang belum siap jadi orang tua. Jadi aku mantap, untuk gugurkan kandungan aku." Putri mencerminkan dirinya sendiri dalam ceritanya, agar Ai mau membuka semua tentang alasannya seperti halnya Putri bercerita.


"Aku yakin Givan bakal marah, kalau sampai aku gugurkan anaknya. Aku gak pernah berpikir, untuk gugurkan anak ini." Ai mengusap perutnya.


Dikatakan secara gamblang, bahwa Ai ingin mempertahankan kandungannya.


"Kau tau, kalau Givan beristri? Waktu aku maju pantang mundur untuk dapatkan Givan, karena status dia duda." Putri kembali membawa nama dirinya sendiri.


"Aku tau, Canda selalu gandeng-gandeng Givan di sana. Tapi aku tau, kalau sebenarnya Givan itu masih ada rasa ke aku. Waktu awal di nikahin Canda aja, dia datangin aku setelah selesai rehabilitasi."


Putri semakin tertarik untuk bercakap-cakap dengan Ai. Ia mengklaim, bahwa Ai bukan orang yang tertutup.


"Kau tau tak, kalau Givan itu orang yang gampang move on? Aku taunya, masa dari baru pisah dari istrinya setelah Canda. Dia ini mudah didekati aku, dia pun respon aku. Setelah hubungan semakin dekat, dia butuh aku ya sampai datangi aku. Dia mendatangi, seseorang yang dia butuhkan. Menurut kau gimana?"


Ai terdiam sejenak. "Givan gak mungkin begitu. Dia sampai mohon-mohon, biar aku mau lanjut tunangan sama dia."


Putri paham, Ai adalah jenis orang yang tidak akan percaya jika tidak merasakan resikonya sendiri. Namun, sekali lagi ia ingin membuka diri Ai tentang bagaimana seorang Givan.


"Givan pun mohon-mohon, biar aku mau servis dia. Dia tak sekali datangi aku, kalau dia butuh aku. Dia mampu jajan, tapi dia cari aku karena dia lebih nyaman bermain dengan aku. Nah, bisa jadi hal itu pun berlaku tentang tindakan Givan masa itu. Dia datang ke kau dan mohon-mohon ke kau, karena masa itu dia lebih nyaman nidurin kau. Biasanya, ditandai dengan berhentinya kebiasaannya jajan perempuan. Itu bukan hal baik, meski memang baik juga. Dalam kebiasaannya yang berhenti itu, berarti ada mainan baru yang jelas gratis dan lebih enak. Kalau kau tak percaya, aku panggilkan Fira biar kau jadi percaya. Kalau Canda, itu istrinya. Selain Givan bisa gratis, Canda berkahnya, pahalanya, kewajibannya. Jadi tak ada alasan Givan, untuk tak datang ke Canda. Kalau modelnya aku, kau, Fira, kasarnya kita ini cuma tempat pelepasannya aja. Kita beban akhirat untuknya nanti, bukan berkah dalam doa pernikahan."


Putri tidak bermaksud menjelek-jelekkan diri Givan. Hanya saja, ia ingin Ai membuka matanya. Namun, jika Ai tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Ya jalan keluar agar Ai pergi, hanya jika Ai merasakan sendiri rasanya benar-benar disia-siakan Givan. Hukuman desa, tidak mungkin membuatnya jera. Karena Ai adalah tipe orang yang akan kapok, jika mendapat hukuman dari orang bersangkutan sendiri.


Mungkin, saran hidup bersama adalah yang paling tepat untuk membuat Ai benar-benar meninggalkan Givan. Karena dari cerita saja, Ai terlihat hanya memandang enteng.


Hanya saja, Putri paham Givan memiliki pendamping sah. Ia masih menunggu jawaban Ai, untuk menyimpulkan saran terbaik untuk Givan.

__ADS_1


Karena kini, fokus Putri bukan hanya soal bukti itu. Pikirannya terbagi, tentang cara untuk membuat Ai pergi atas kemauannya sendiri. Beberapa pengakuan kronologi yang terkumpul dalam dokumen, malah membingungkannya. Ia ingin mengikis satu persatu, salah satunya dengan cara memahami sudut pandang Ai dan membuat Ai pergi sendiri tanpa perintah, agar opsi lainnya tidak perlu ia ambil.


...****************...


__ADS_2