Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM237. Mencari papah


__ADS_3

"Apa, Mah?" Givan bergegas keluar dari kamarnya.


"Heh, siapa yang kena DBD? Mana papah kau? Ditanya tak jelas betul dia." Adinda bersuara lantang dan sewot.


"Lah, tak tau aku ke mana papah. Ke jandanya kali." Givan membuat wajah ibunya berubah menjadi monster. Dengan cepat, Adinda langsung menendang tulang kering anaknya.


Givan menghindar, ia terkekeh dan menarik ibunya untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Cani kena DBD, kalau papah sih entah ke mana. Tadi siang aku ada telpon, minta papah cari orang fogging. Sekarang ya aku tak tau di mana beliau, aku bukan bestie-nya," jelas Givan kemudian.


"Duh, buat khawatir aja. Ke mana itu pak tua keluyuran terus." Adinda keluar lagi dari rumah anaknya.


Givan mengikuti ibunya, ia berniat untuk datang ke rumah ibunya dan membawa pakaian milik adik-adik. Ia ingin mengatakan juga, tentang Gavin yang tengah dalam perawatan medis.


"Mah, jangan buru-buru sih. Nanti dulu." Givan mencoba menyetarakan langkahnya.


Adinda berhenti sejenak, kemudian ia menoleh ke belakang. "Eh, Cani gimana? Kenapa-napa tak dia?" Adinda baru ngeh, kalau cucunya yang masuk rumah sakit.


Koneksivitas otaknya berkurang karena usianya.


"Udah ditangani medis, aku minta segalanya yang terbaik. Doain Cani ya, Mah?" Givan merangkul ibunya, ia membawa ibunya berjalan ke rumah ibunya.


"Pasti, nanti Mamah pun ke sana." Adinda cukup paham jika nyawa Cani akan tertolong bila cepat ditangani.


"Oh, iya. Jangan kaget ya, Mah?" Givan menjeda sejenak perkataannya.


"Kaget? Ada apa memang?" Adinda menoleh sekilas di tengah langkahnya.


"Gavin pun di RS, dia aku pindahkan di sebelah ranjang Cani. HB dia rendah, jadi dia lemas betul. Di bawah lima, Mah."


Langkah kaki Adinda langsung berhenti. Banyak pertanyaan yang menguasai Adinda, tapi begitu sulit ia keluarkan.


"Kok tak ada kabar?" Hanya itu yang mampu keluar dari bibir Adinda.


"Dia tidur aja, Mah. Dia stabil kok, tapi lemes betul. Pemberian makanan untuk naikin HB diusahakan, aku udah bilang ke Ghifar untuk usahakan buat. Entah dia juga di mana, karena tak ada respon."


Adinda merasa ketidakberadaan suaminya berhubungan dengan Ghifar. "Coba ke rumah Ghifar dulu yuk?" Adinda mengajak Givan berbelok arah.


"Iya, Mah." Givan menurut saja.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Ghifar, suara orang yang muntah-muntah terdengar jelas. Adinda langsung masuk, untuk mencari keberadaan orang-orang.


"Yayah...." Ra berlari ke arah ayahnya, ketika melihat panutannya ada di dekatnya.


"Hei, cantiknya Yayah. Lagi ngapain?" Givan langsung menggendong anak perempuannya itu.


"Lagi main Barbie, Yah. Mama sakit, hok-hok terus." Ra menunjuk lantai dua.


"Di atas keknya, Mah," ucap Givan pada ibunya.


"Ra main dulu gih, Yayah mau ke mama dulu ya?" Givan terkadang menjemput anaknya untuk bermain bersama, karena rumah Ghifar sering kali rapat saja sehingga Ra tidak bisa main sendiri.


"Ya, Yah. Nanti hari Minggu jalan-jalan ya, Yah?" Ra begitu ingin harapannya terwujud.


Namun, ia tidak tahu bahwa adiknya tengah sakit. Ia belum bisa memahami kondisi saat ini, sekalipun Givan menjelaskan banyak.


"Insha Allah. Kalau tak jalan-jalan pun, kita tengok adek Cani aja ya?" Givan menurunkan anaknya, kemudian mengusap rambut anaknya.


"Cani memang kenapa, Yah?" Ra begitu polosnya bertanya.


"Adek Cani sakit, Cantik. Nanti kita tengokin biar adek Cani cepat sembuh ya?" Givan tersenyum pada anaknya.


Givan merasa terpanggil untuk melihat keadaan di atas, karena suara ibunya sampai terdengar jelas.


"Yayah ke atas dulu, Dek." Givan langsung meninggalkan anaknya.


Givan melihat keberadaan ayah sambungnya yang tengah mengayun anak satu tahun tersebut. Ia pun melihat Ghifar yang terus mengusap keringat di wajah istrinya, Aca pun terlihat begitu pucat dengan sebuah ember di depannya.


"Kenapa, Pah?" Givan memilih bertanya pada ayahnya saja.


"Aca tak keluar-keluar tuh lagi ngidam coba, Van. Adik kau lagi, tak ada kabar-kabarnya. Sengaja betul nyembunyiin kehamilan istrinya," jelas Adi kemudian.


"Udah, cepat dibawa ke klinik." Adinda marah, karena Ghifar diam saja melihat Aca yang sudah lemah.


"Baru sore tadi, Mah. Pas Papah mau pulang itu, aku panggil Papah karena Hifzah mintanya gendong terus. Pengasuh lagi repot urus anak-anak," aku Ghifar kemudian, ia hanya memiliki seorang pengasuh yang membantu Aca mengurus anak-anak.


"Kenapa kau hamil tak bilang-bilang?" Adinda maju untuk merapikan rambut menantunya.


Ia menyisir rambut Aca, kemudian mengikatnya seperti ekor kuda.

__ADS_1


"Nanti dimarahin Mamah Papah. Aku udah janji tak akan hamil dulu, karena aku belum bisa konsisten lepas rokok." Aca menghapus air matanya yang keluar sendiri. "Tapi Ghifarnya oon betul, Mah. Berceceran terus, ya gimana aku tak hamil?"


Mereka semua merasa geli mendengar pengakuan Aca. Namun, setelahnya Adinda kembali dibuat menghela napas. Ia merasa begitu sulit membuat menantunya meninggalkan kebiasaan jeleknya.


"Jangan dibilang di sini juga," sewot Ghifar lirih.


Ia merasa malu, karena ia tidak ahli untuk menerapkan KB alami tersebut. Namun, ia tidak nyaman ketika istrinya menggunakan KB. Ia merasa, istrinya seperti bukan istrinya. Karena, Ghifar terbiasa dengan Aca yang selalu minta lebih dulu. Tetapi, saat ikut KB Aca begitu malas untuk melakukan hubungan ranjang mereka.


"Biarin! Papa tuh buat kesal aja! Sulit betul dikasih pahamnya." Aca merengek mengeluarkan air matanya.


Mood hamilnya, sudah membuatnya begitu sensitif.


"Udah berapa bulan sekarang?" Adinda tidak bisa memarahi Aca, karena terlanjur mengandung cucunya kembali. Meski ia kecewa, karena Aca mengaku dirinya belum bisa konsisten melepaskan kebiasaan buruknya. Namun, ia pun merasa bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya lagi.


"Dua bulan, Mah. Kami tau pas Aca udah hamil enam Minggu, kami tau baru dua Minggu yang lalu," aku Ghifar kemudian.


"Abang tuh ke mana aja?! Nomor HP tak aktif." Adinda berjalan ke arah suaminya untuk menggendong cucunya.


"HP Abang ngedrop, Dek. Kenapa sih, kangen kah?" Adi mengusili istrinya, yang membuat semburat merah nampak di wajah cerah istrinya.


"Aku tak ada teman di rumah, aku kesepian," ujar Adinda dengan malu-malu.


Ia memeluk suaminya, kemudian menciumi cucunya yang tengah terlelap tersebut.


"Abang udah bilang, Far sana telpon Mamah dulu. Kata Ghifar, dekat ini Pah, biar nanti. Abang takutnya Adek nyarinya jauh-jauh nanti." Adi mengamati wajah istrinya.


"Gavin di rumah sakit katanya, Bang. HB-nya rendah. Abang capek tak? Ayo, kita ke sana kah? Sekalian nengok Cani." Adinda menyadari bahwa suaminya memperhatikannya.


"Tak sih, Dek. Tapi besok Abang harus ke kantor desa, untuk urus Ai tuh."


Kehangatan mereka masih terasa terjalin. Bahkan, membuat iri anak-anaknya karena mereka merasa hubungan rumah tangganya, tidak sehangat hubungan orang tuanya.


"Ya udah sebentar aja, kita tak nginep. Nanti kita minta Dendi supirin." Adinda mengusap-usap lengan suaminya yang berotot kendur termakan usia tersebut.


Adi mendekati telinga istrinya, ia membisikkan sesuatu. Namun, kegiatan itu membuat malu anak-anaknya. Mereka berpikir, ayahnya tengah request untuk permainan mereka nanti malam.


"Aduh, ngapain coba?!" Givan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia merasa risih melihat ayah sambungnya berbisik begitu lama pada ibunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2