Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM172. Rengekan Chandra


__ADS_3

Awang kebingungan melihat bangunan yang ada di rumah Givan. Mana rumah yang Givan tempati? Karena, ada tujuh rumah ketika ia membuka pagar rumah Givan.


"Sini," seru Givan dengan melambaikan tangannya.


Awang melihat keberadaan Givan. Ia bergerak untuk menutup kembali pagar rumah tersebut, lalu melangkah ke bangunan besar yang berada di paling ujung.


Jika beberapa anak Givan, jelas ia sudah kenali karena banyak dari mereka yang berkunjung ke rumah neneknya. Ia tidak begitu paling melihat remaja tanggung yang duduk di teras rumah besar tersebut, yang tengah menemani Canda menikmati makanan.


Menurutnya, secara fisik Chandra begitu perpaduan antara Canda dan Givan.


"Di dalam aja, Bang," ucap Canda ramah, mempersilahkan Awang untuk melewatinya.


Canda sudah berdiskusi dengan suaminya, ia menyerahkan keputusannya pada suaminya. Ia yakin, suaminya pasti menyampaikan keputusan sesuai dengan apa yang mereka musyawarahkan tadi.


"Iya." Awang tersenyum ramah dan melewati teras rumah Givan.


Chandra melirik pada tamu yang datang, kemudian ia memperhatikan ibunya lagi. "Biyung...," rengeknya manja.


"Nanti, hari Minggu aja. Mau Biyung temani kah?"


Chandra meminta izin untuk berkunjung ke rumah Izza. Ia tidak berangkat sekolah selama tiga hari, karena kelelahan dan demam setelah mengikuti pelatihan ekskul yang memakan waktu hampir sehari penuh. Ia tengah meminta izin untuk berkunjung ke rumah Izza, dengan alasan ingin menyalin beberapa pelajaran yang ketinggalan.


"Tak mau, Biyung. Aku berani datang sendiri kok. Udah kek lamaran aja, datang sama orang tua," gerutu Chandra kemudian.


"Lebay! Tanggung, besok Minggu. Masa malam Minggu main ke Izza, udah kek mau ngapel aja. Nanti besok Izza yang suruh ke sini aja, bilang aja boleh gitu, karena kau masih sakit." Canda merasa anaknya belum pulih. Ia tidak berpikir jauh, tentang anaknya yang menginginkan menikmati malam Minggu bersama Izza. Canda yakin, anaknya terlalu kecil untuk percintaan.


Givan mendengar perdebatan ibu dan anak sedari tadi. Ia merasa Chandra akan terus merengek pada Canda, jika tidak diberi ketegasan darinya.


Ia muncul dan berdiri di ambang pintu, meninggalkan Awang dan obrolan serius mereka. "Chandra, dengerin Biyung ngomong. Turutin Biyung kau!" Suara datar dan penuh ketegasan menjadi momok menakutkan untuk Chandra.


Anak bujang Givan langsung mengangguk, ia tertunduk dan diam. Ia takut dimarahi oleh ayahnya, jika kembali merengek.


"Baju kau cepat ngatung sih, Bang? Ke toko kah? Pilih baju." Canda menarik ujung kaos anaknya.


Chandra menghela napasnya. Ia dipaksa sejak dini untuk memahami wanita absurd seperti ibunya. "Katanya aku masih sakit, tak boleh main. Sekarang, malah ngajakin ke toko beli baju."

__ADS_1


Canda tertawa lepas dengan menutupi mulutnya sendiri. Givan hanya bisa geleng-geleng kepala, kemudian kembali duduk di sofa tamu bersama Awang. Ia kembali memulai obrolan serius dengan Awang.


"Online aja kah?" Canda selalu menawarkan opsi itu.


"Hmm." Chandra sudah tahu akhir obrolan mereka selalu seperti ini.


"Baju-baju kau kasih ke Zio, atau panggil Kaf sama Hadi suruh milih." Pakaian antar mereka, selalu berputar ke saudara-saudara mereka. Tidak hanya untuk baru, pakaian bekas layak pakai pun kerap berpindah kepemilikan.


"Nanti gampang biar ke Zio dulu, nanti dia ngambek kalau dilewati." Chandra paham tabiat adik laki-lakinya yang selalu tersinggung dan berpikiran jelek, ketika ia melewatinya dengan barang-barang yang ia berikan untuk sepupunya lebih dulu.


"Yah, maklum." Canda teringat tabiat Nadya yang mudah marah-marah.


"Adik aku sehat kah, Biyung?" Chandra melirik perut ibunya yang mulai membesar.


Canda mengusap perutnya. "Sehat, terakhir Biyung cek up sih. Kenapa memang?" Canda mulai was-was, karena ia tahu tentang insting anaknya yang begitu tajam.


"Hm, tak apa. Nanya aja, Biyung. Karena kemarin ada mimpi tak enak, entah karena aku lagi demam jadi mimpi buruk, atau karena apa." Chandra mengedikan bahunya.


"Memang ada mimpi apa?" Canda semakin penasaran untuk mendengar cerita anaknya.


"Kok begitu? Bayi Biyung dua kok." Canda begitu yakin, karena ia merasa tidak memiliki keluhan pada kehamilannya.


"Iya dua, Biyung. Kan itu cuma di mimpi aku, aku kebanyakan tidur soalnya." Chandra menenangkan ibunya dengan memamerkan gigi putih dan rapi.


"Kau doakan lah, semoga Biyung dan adik-adik kau selamat semuanya." Canda langsung murung.


"Aamiin, pasti dong, Biyung." Chandra mengusap pundak ibunya.


"Biyung mau jajan apa? Mau ke minimarket atau beli bakso semacamnya? Aku jajanin deh." Chandra mulai membujuk ibunya, karena ia paham ibunya gampang stress.


Canda memperhatikan wajah anaknya sejenak. Chandra sudah begitu tinggi, ia tumbuh tinggi dengan cepat menandakan bahwa anak itu sudah mendapatkan mimpi basah pertanda ia baligh.


Semua pakaian pun, menyusut dalam waktu satu minggu saja. Bahkan, bagian lengan baju anaknya sudah begitu tinggi. Ia teringat akan pesan gurunya, jika mimpi baligh yang didapatkan anak laki-laki, akan disusul dengan pertumbuhan fisik yang begitu cepat meninggi.


"Ayo ke minimarket, jalan kaki aja. Minimarket yang dekat penginapan itu loh." Canda menunjuk arah tempat yang dimaksud. Ia tidak mengerti, kenapa minimarket bisa sampai masuk dalam gang seperti itu. Karena sebelumnya, ia melihat minimarket ada di dekat jalan besar saja.

__ADS_1


"Yuk, aku ambil uang dulu. Biyung izin ke ayah dulu." Chandra bergerak untuk masuk ke rumahnya.


Ia kini hidup sendiri di rumahnya, ia pun sudah mandiri dan mengurus pakaian kotornya sendiri. Hanya makanan, yang selalu ia bawa keluar masuk dari rumah ibunya. Sedangkan Devi, pengasuh Chandra sudah diizinkan pulang. Namun, ia tetap ingin bekerja bersama mereka. Membuat Givan kini mengalihkan tugas Devi di rumah Adinda, untuk menjadi asisten rumah Adinda.


"Mas Givan." Canda bangkit dan menghampiri suaminya.


"Maaf, ganggu." Canda tersenyum lebar pada Awang.


"Apa, Canda?" Givan memperhatikan wajah istrinya.


"Mau ke minimarket sama Chandra. Boleh ya?" Canda mendekati suaminya.


Givan mengangguk dan meraba kantong celananya. "Ambil uangnya di dalam. Ada pegang uang tak kau?" Givan merasa ia tidak mengantongi dompetnya.


"Tak tau, ada keknya. Tapi aku ambil lagi ya?"


Givan hanya merespon dengan anggukan, membiarkan istrinya masuk ke dalam rumah dan mengambil apa yang Canda butuhkan dari dompetnya.


"Aku pergi dulu ya, Mas?" Meski anaknya mengatakan ingin membayar jajanan ibunya nanti, tapi Canda tetap sedia uang karena sadar diri bahwa dirinya sering lepas kontrol ketika berbelanja.


"Ya, Canda. Ati-ati." Givan memperhatikan punggung istrinya yang semakin menjauh.


"Nah, jadi gimana?" Givan fokus pada Awang kembali. Setelah saling memaafkan, hubungan mereka kian membaik seperti pada saudara sendiri.


"Ya ampun, Chandra." Candi sampai mendongak, untuk melihat seberapa tinggi anak remajanya itu.


"Apa, Biyung? Ayah kan tinggi, jadi wajar aku tumbuh ke atas. Tapi susu tinggi kalsium yang ayah kasih, tak buat otot aku jadi." Chandra memijat lengannya sendiri.


"Work out dong. Itu di rumah nenek kan ada alat-alat gym, sana olahraga di sana." Canda menggandeng tangan anaknya, seperti yang selalu ia lakukan pada suaminya. Chandra pun tidak keberatan untuk itu, ia sedari kecil sudah beradaptasi dengan sifat ibunya.


"Aku tak bisa caranya, Biyung." Chandra berkata jujur, karena ia pernah mencobanya tapi malah nyeri otot yang ia dapatkan.


"Ayah udah malas nge-gym sih ya? Nanti Biyung suruh ayah temani kau." Canda mendongak kembali melihat wajah anaknya.


"Ngomong-ngomong, kau baligh belum? Kau pernah mimpi aneh? Terus pas bangun, CD kau kotor?" Rasa ingin tahu Canda tidak mengecualikan anaknya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2