Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM82. Bualan Ai


__ADS_3

"Tapi dia salah, Canda. Dia ngelakuin hal fatal, yang memang sengaja pengen hancurkan rumah tangga kalian sendiri. Dia udah tak pengen sama-sama kamu lagi. Kamu paham kan? Kalau dia punya cerita kehidupan sendiri, yang lebih nyaman dirin jalani. Bukan jadi laki-laki rumahan, hidup dia itu. Aku lebih tau, tentang dia yang lebih suka dibebaskan tanpa batas dan tanpa perintah apapun." Dengan sangat beraninya, Ai mengatakan hal tersebut di depan Givan juga.


Givan semakin memahami sepak terjang karakter Ai. Ia semakin bersiap, untuk tidak mentoleransi kegilaan Ai. Itu adalah bukan hal yang bisa dimaklumi, pendapatnya lebih tepat seperti tuduhan yang tidak mendasar. Siapa Ai, sampai terlihat begitu mengenal dirinya?


"Aku tau suami aku, Ai. Aku pernah muak dengan sifat dan sikapnya, aku pun pernah pergi dari kesalahannya. Tapi jujur, aku keberatan kau ngomong kek gitu. Kau siapa? Berapa lama kalian tinggal bersama? Sampai sok iya sekali mengenal karakter suami aku." Canda geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Canda, dia gak ngerasa bebas hidup sama kamu. Malam ketika di Jepara lah, kebebasan yang Givan anut."


Givan seperti tersadarkan dari masa lalunya. Tapi, bahkan setelah berumah tangga dengan Canda ia lebih suka berada di rumah. Entah karena tidak adanya uang, atau adanya uang dan kesempatan. Ia malah tetap ingin berada di rumahnya, memperhatikan aktivitas drama kolosal dari istrinya. Menunggu mobil kayu bongkar tengah malam pun, Givan usahakan pulang meski sampai dini hari dan masa Subuh. Canda adalah rumahnya, Canda adalah tempatnya pulang. Ia ingin selalu berada di rumahnya, dalam kenyamanan dan kehangatan yang Canda berikan.


Ia banyak berubah, setelah beristrikan Canda. Karena ia teringat, ketika ia beristrikan Nadya. Pos ronda atau gudang kayu, malah menjadi tempat ternyamannya. Meskipun Nadya adalah istrinya juga dulu, tapi Nadya bukanlah tempat ia pulang. Hal itu pun tidak ia kehendaki dan paksakan, hatinya menuntunnya untuk pulang sendiri pada Canda.


"Masa?" Satu kata tersebut, tersirat keraguan yang jelas untuk Canda. Givan pun mencoba tetap diam, untuk bisa mendengarkan soalnya keluar dari mulut Ai tersebut.


"Tanyakan ke orangnya sendiri, kalau kamu gak percaya." Ai tersenyum senang karena terlihat Canda termakan ucapannya. "Dunia malam, minuman keras, wanita penghibur dan lampu kelap-kelip itulah kesenangannya." Ai tidak mengerti, jika semua orang bisa berubah. Apalagi, jika hanya kesenangan belaka. Hal itu bisa berubah-ubah, jika sudah memiliki pendamping hidup yang tepat.

__ADS_1


"Aku rasa kau udah keliru, Ai. Kalau memang aku betah di tempat hiburan malam, dengan kau jadi perempuan penghiburnya. Rasanya, aku tidak melulu beralasan ingin kembali ke kamar. Aku punya kesempatan, aku punya uang dan aku punya banyak waktu untuk itu. Tapi aku tak bisa biarkan, istri aku di kamar sendirian sambil nungguin suaminya. Aku tau capeknya menunggu dan aku tau lelahnya berharap, aku tak pernah ingin Canda merasakan hal itu dari suaminya." Kalimat sederhana, yang secara tidak langsung menggambarkan tentang perasaan Givan untuk Canda.


Sayangnya, hal terlalu berbelit-belit untuk dimengerti seorang Canda. Perkataan lugas, sederhana dan mudah dipahami adalah keinginan Canda. Seperti Nalendra dulu, yang menyampaikan perkataannya begitu jelas 'kau cinta pertamaku dan baru denganmu aku jatuh cinta, aku mencintaimu' seperti itu lebih dipahami oleh Canda ketimbang hal yang Givan katakan.


"Aa cuma khawatir khilaf kan? Karena anak-anak Aa banyak dan Aa takut dilarang bertemu anak-anak sama Canda." Ai memahami pemikiran umum laki-laki, ketika menolak saat istri mereka meminta cerai. Ya karena anak-anak mereka, yang khawatir dilarang bertemu dengan mereka.


"Jangan merambat ke mana-mana, Ai. Kau tuduhkan aku yang bukan-bukan, berpendapat tapi udah macam menghakimi. Kau tak tau diri, harusnya kau paham kau ini siapa." Givan menghela napasnya dan tersenyum merendahkan.


"Begitukah? Aku yang memang lebih tau tentang kau, atau Aa yang memang gak mau Canda tau kebiasaan Aa dulu. Belum lagi Canda pasti tak akan tau, tentang...." Ai menggantung kalimatnya dengan memandang Givan penuh senyum. "Tentang penyimpangan s****** yang lebih suka memperbudak lawan mainnya dan menyakiti lawan mainnya." Ai memandang Canda dengan tersenyum lebar. "Kamu pasti gak tau tentang itu juga kan? Atau, kamu memang budaknya selama ini?"


Canda menaikan sebelah alisnya. "Terus kau mau ngakuin, kalau kau mantan budaknya begitu?" Canda menyikapi bualan Ai dengan kekehan.


"Kamu pun sama Canda. Aku salut sih sama kamu, yang sampai kuat dapat perlakuan kek gitu sampai dengan keadaan tengah mengandung juga." Ai mempertahankan senyum manisnya.


"Aku tak pernah dapat perlakuan itu, ada kau tau aja. Bahkan selama lima tahun awal, hanya dia yang bergerak untuk mu*sin aku." Canda sedikit ingin memamerkan keuntungannya mendapat perlakuan yang lain dari Givan.

__ADS_1


Ai ternganga dan menutup mulutnya segera. Ia melirik ke arah Givan yang bersandar nyaman, dengan menepuk-nepuk bantal sofa di pangkuannya tersebut. Givan terlihat tidak perduli dengan bualan Ai kali ini, karena dirinya yakin istrinya tidak pernah menganggap hal itu adalah benar meskipun mulutnya pernah mengatakan sendiri.


"Berarti kau bukan favoritnya." Ai tidak kehabisan kata-kata.


"Lah, kan kau bilang jika diperlakukan seperti itu tuh berarti budaknya. Kenapa sekarang malah bilang, kalau aku bukan favoritnya? Aku favoritnya, makanya ia tidak pernah menyamakan aku seperti para budaknya." Canda merasa menang di sini.


Givan merasa bahwa kadang-kadang istrinya menjadi pintar. Ia mengunci rahang Canda, kemudian mencium pipi istrinya dengan penuh senang.


"Berarti dia bukan menjadi dirinya sendiri selama hidup dengan kamu, Canda." Ia masih mencoba mengecoh pikiran Canda.


Nyalinya cukup berani, karena dibicarakan langsung di depan Givan. Givan pun sengaja diam saja, karena ingin tahu sejauh mana dan seahli apa mulut Ai berbual.


"Terus, kau mau bilang kalau selama hidup tanpa ikatan dengan kau itu dia menjadi dirinya sendiri? Terus, mau kau katakan juga kalau malam itu pun atas fantasi gila suami aku juga? Apa mau kau tambahkan, kalau kejiwaan suami aku tidak beres dengan penyimpangan s******nya itu? Asal kau tau aja, Ai. Bukan kau orang pertama yang cerita tentang hal itu, bukan kau aja yang bilang bahwa suami aku kasar. Aku mau percaya pun gimana, karena hal terkasar yang pernah dia lakukan itu menampar part belakang aku. Itu pun atas izin aku, karena aku bercerita bahwa mantan suami aku kek gitu cara mainnya."


Ai sering kali bingung, saat Canda mengatakan tentang mantan suaminya. Ia berpikir, bahwa Canda adalah janda yang dinikahi Givan.

__ADS_1


"Itu gak mungkin, Canda. Aku yakin, kamu cuma menyanjung suami kamu aja. Karena titik kegilaannya itu, bahkan dia pernah memaksa untuk melakukannya lewat jalur......" Aku menggantungkan kalimatnya dengan menggosok kedua telapak tangannya.


...****************...


__ADS_2