
"Tak tau, Mah. Mamah ke sini aja dulu." Kenandra takut disalahkan, jika berani membuka isi ponsel orang lain.
"Ya udah, Mamah ke sana cepat. Papah lagi sibuk, nanti mamah sama Gavin aja," putus Adinda dengan berbenah.
"Ya, Mah. Assalamualaikum." Kenandra memilih untuk mematikan panggilan teleponnya lebih dulu.
"Wa'alaikum salam." Adinda memperhatikan menit dalam panggilan teleponnya yang sudah berhenti.
Tanpa mempermasalahkan hal tersebut. Kini, ia langsung berbenah dengan menantu tertuanya yang sejak tadi memperhatikannya.
"Mau ke mana, Mah?" tanya Canda kemudian.
"Ke Ai, Canda. Dia disesar katanya, karena kejang dua kali. Kau ke ibu aj gih, Mamah mau pergi." Adinda mengusir Canda halus.
"Aku boleh ikut, Mah?" Tentu Adinda langsung menolak permintaan Canda.
Ia tidak ingin membuat menantunya yang tengah mengandung bayi kembar itu kelelahan di rumah sakit.
"Kau di rumah aja, Canda. Tengok pengasuh Bunga yang masih di rumah ibu kau tuh, antar dia ke Bunga." Adinda mencoba memberi Canda tugas, agar Canda tidak memikirkan tentang Ai.
Ia tidak mau Canda dan kedua cucu kembarnya kenapa-kenapa.
"Tapi, Mah. Aku pengen tau." Sifat penasaran Canda semakin menjadi.
Adinda menghela napasnya dan melirik tajam menantunya. "Dengar tak Mamah ngomong apa?!" Ada ketegasan dalam ucapan ibu mertua Canda tersebut.
"Iya deh, iya deh. Nanti cerita ya, Mah?" Canda beranjak pergi dari tempatnya.
Adinda menaikan sebelah alisnya. Apa yang harus ia ceritakan? Malah ia ingin menyembunyikan kabar Ai dari Canda. Adinda tidak mau Canda menjadi negatif thinking, karena kejadian yang Ai alami. Adinda tidak mau, jika sampai Canda berpikiran buruk tentang bayi kembar yang dikandungnya juga.
Apalagi jelas, Adinda tidak bisa menceritakan tentang pengalaman baiknya mengandung bayi kembar. Bahkan, nyawanya hampir melayang ketika melahirkan bayi kembarnya. Ia tidak bisa membuat Canda tenang, dengan cerita seputar kehamilan kembar yang pernah ia rasakan.
Adinda tidak berniat merepotkan suaminya yang tengah melakukan penyuluhan di ladangnya sendiri itu. Adinda lebih memilih menelpon anak laki-laki, yang ternyata melakukan pernikahan rahasia di usia yang masih begitu muda. Ketenangan Gavin dalam tidurnya terusik, karena ibunya mengguncangkan tubuhnya beberapa kali.
"Apa, Mah?" Ia menggeliat setelah mengucek matanya.
__ADS_1
"Antar Mamah." Adinda tidak menerangkan, bahwa tujuannya adalah rumah sakit.
Dengan beberapa perlengkapan yang ia bawa, Adinda sampai di hadapan Kenandra yang tengah bingung di depan ruangan operasi tersebut. Ia ingin menimbrungi, tapi sadar ia tidak bekerja di sini. Ia ingin masuk, tapi sadar bahwa dirinya pasti akan menjadi perhatian mereka yang tengah sibuk di meja operasi.
Untungnya, Kenandra tidak telat menyerahkan secarik kertas yang berisikan surat permohonan sampel darah tersebut. Sehingga, pengecekan tes DNA tetap bisa dilahirkan dengan dokumen yang sudah lengkap.
"Barang-barang Ai mana, Ken? Mana HP dia? Mamah telpon Givan dulu, buat nanyain siapa nama keluarga Ai." Adinda duduk di kursi yang tersedia, karena lututnya tidak kuat berdiri lama.
"Ya, Mah. Aku ambil dulu." Kenandra meninggalkan Adinda dan Gavin, yang berada di depan ruangan operasi tersebut.
Tanpa menyia-nyiakan waktu, Adinda langsung menghubungi anak sulungnya. Karena pesan chat yang dikirimkan oleh Adinda untuk anaknya, tidak kunjung dibaca, karena Givan tengah mengemudikan mobil berwarna pink tersebut.
"Hallo, Mah. Aku lagi di jalan mau ke Pintu Rime Gayo. Gimana, Mah?" tanya Givan yang sudah menyentuh ikon pengeras suara.
"Ai dioperasi. Eh, nama keluarganya siapa aja? Mamah mau cari langsung di kontak HP Ai." Adinda melirik ke arah lampu yang menyala di atas kusen pintu ruang operasi tersebut.
"Loh? Tadi aku dari sana, dia masih baik-baik aja." Sedikit keterkejutan untuk Givan, karena baru saja ia melihat sendiri bagaimana keadaan Ai.
"Tak percaya ya udahlah!" Adinda menghela napasnya.
"Tak usah, sebutkan aja nama-nama keluarga Ai. Kau masih ingat tak, siapa nama orang tuanya dan saudaranya."
"Eummm.... Nama kakaknya itu Awang, adiknya Deden sama Deden. Nama orang tuanya Eki sama Nyi. Orang tuanya gaptek, dulu dia nelpon orang tuanya lewat nomor telepon Awang." Givan masih ingat secuil kisah mereka saat di Kalimantan dulu.
"Oke, makasih."
Tut....
Givan memperhatikan detik dalam panggilan teleponnya yang sudah berhenti. Ibunya memutuskan panggilan telepon, sebelum salam diucapkan.
"Apa keadaan di sana gawat kah? Terus, Canda sama siapa ya di rumah?" Givan bertanya seorang diri.
Namun, ia mencoba tidak peduli. Ia melanjutkan perjalanannya, setelah mengirimkan satu pesan chat pada Canda. Yang berisikan perhatian kecil, tentang apa yang ingin Canda inginkan setelah dirinya kembali dari Pintu Rime Gayo.
Setelah sampai di tempat tujuan, Givan langsung sibuk dengan pekerjaannya. Berharap pekerjaannya cepat selesai, jika ia bergerak cepat. Ia pun langsung menyalin beberapa dokumen, yang ia perlu untuk menyimaknya di rumah. Karena jika di sini, itu akan memerlukan waktu yang cukup lama.
__ADS_1
[Donat mini aja, Mas. Beli di tempat biasa, dengan topping yang berbeda. Acak semuanya, Mas. Hitung kepala anak-anak.] Balasan Canda yang Givan hiraukan beberapa saat.
Givan sudah masuk kembali ke dalam mobilnya, ia menghubungi istrinya terlebih dahulu sebelum menjalankan mesin mobilnya. Panggilan video dilakukannya, untuk bisa melihat aktivitas istrinya di sana.
"Hallo, Mas Givan. Assalamualaikum." Canda langsung tersenyum lebar, begitu melihat wajah suaminya dalam panggilan video yang sedang berlangsung.
"Wa'alaikum salam. Lagi di mana?" Givan pun ikut tersenyum juga.
Ia merasa tenang, melihat background yang berada di belakang tubuh Canda. Givan langsung paham dari background tersebut, bahwa istrinya berada di ruko mertuanya. Namun, ia tetap memastikannya dengan pertanyaan.
"Di rumah ibu, Mas. Mas di mana? Orang rumah pada ke RS, ada apa sih Mas?"
Givan langsung mengerutkan keningnya. Ia hanya tahu sedikit informasi, tidak dengan informasi lengkap perkara keluarganya yang ada di rumah sakit semua.
"Di depan rumah Pintu Rime Gayo." Givan memutar kamera ponselnya, untuk memperlihatkan rumah peninggalan Nalendra yang masih terawat dengan beberapa bangunan yang dibangun ulang karena rapuh termakan rayap.
"Aku mau balik ke Kenawat Redelong lagi. Ya udah, kau di ibu dulu sampai aku balik." Givan yakin, pengasuh anak-anaknya menjaga anak-anaknya dengan baik. Tidak dengan menjaga Canda, karena menjaga Canda yang lebih banyak teledornya adalah tugasnya.
"Aku kepo, tapi Gavin pun tak balas, Mas."
Givan hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak diragukan lagi, istrinya yang selalu penasaran dan ingin tahu cerita di dalam keluarganya.
"Udah jajan aja, jangan mikirin aneh-aneh. Tunggu ya, aku mau jalan pulang." Givan menyalakan mesin mobilnya.
"Ya, Mas. Ati-ati ya? Jangan mampir-mampir dulu, kecuali ke toko donat. Aku tunggu, mas ati-ati." Canda tersenyum lebar menyalurkan semangat untuk Canda.
"Oke, Canda. Aku langsung pulang kok. Udah dulu ya? Assalamualaikum." Givan berniat menginjak pedal gas kendaraannya.
"Wa'alaikum salam," sahut Canda, setelah itu panggilan video selesai.
[Bang, sini dulu di rumah sakit tempat Ai di rawat.]
Givan tidak sengaja langsung membaca pesan masuk dari adiknya yang memiliki nama mirip dengannya tersebut.
Givan geleng-geleng kepala, dengan hembusan napas panjangnya. Ia akan mampir, atau langsung pulang ke Canda terlebih dahulu?
__ADS_1
...****************...