Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM233. Menjemput di rumah sakit


__ADS_3

"Yah, ada apa di masjid?" tanya Chandra, yang baru pulang dari sekolahnya.


Givan terkejut, ia menyangka acara itu sudah selesai. Rupanya, acara tersebut belum selesai sampai anak-anaknya baru pulang dari sekolah.


"Masuk! Masuk!" Givan menggiring anak-anaknya untuk masuk ke dalam pagar rumah mereka.


Setelah meyakinkan anak-anaknya tidak ada yang kurang dari rombongan tersebut, Givan langsung mengunci pintu pagar tersebut. Ia tidak mau anak-anaknya lolos, kemudian melihat acara yang tidak seharusnya dilihat tersebut.


Ia pun mendapat undangan untuk menghadiri acara tersebut, tapi Cani tengah demam. Givan langsung menghubungi ayahnya, karena ia berhalangan hadir. Ia tidak bisa membiarkan anaknya terus menangis, karena ingin dipeluk oleh dirinya.


Cani terkenal suka menangis dan lama menangis. Ia akan terus menangis, sampai tujuannya dicapai. Kehadiran Givan di sana hanya sebagai saksi saja, bukan diundang khusus untuk acara yang sudah melewati beberapa sidang tersebut.


"Biyung kau bukan ahli obat, Nak. Kasih sirup tak boleh. Sabar ya? Dokter praktek bukanya sore. Apa mau ke rumah sakit aja?" Givan mengajak anaknya berdialog.


Suhu tubuh anak itu tidak terlalu tinggi, tapi anak itu membutuhkan penurun panas. Wajah berkulit cerahnya langsung memerah, Cani terlihat benar-benar tengah sakit.


"Yayah Bunga, Yah," jawab anak itu, dengan terus mengeluarkan air matanya tanpa menangis.


"Jauh, Sayang. Ayah telpon nenek aja ya? Minta obat untuk Adek." Givan membawa anaknya masuk ke dalam rumahnya.


Ia terus bolak-balik keluar rumah, ia khawatir anak-anaknya yang lain lolos dalam pengawasannya. Ia tidak mau juga, jika salah satu anaknya sampai pernah mendengar jika ayah mereka pernah dihukum cambuk.


Givan terus mendekap anaknya, ia berharap suhu tubuh anaknya turun karena dekapannya yang sengaja tidak menggunakan baju tersebut. Ia pernah mendengar cara seperti ini, jika anaknya tengah demam.


"Mas, Gavin nelpon barusan. Katanya, tolong jemput di rumah sakit. Dodol dia ini, ikut pengobatan tak ada ceritanya. Udah di rumah sakit, dia lemas, tak bisa pulang bawa mobil katanya." Canda mengomel menghampiri suaminya.


Givan menyatukan alisnya. "Pengobatan? Pengobatan apa?" Ia tidak mendengar informasi apapun yang disampaikan adiknya.


"Psikolog kah apa begitu. Minta jemput dua orang untuk bawa mobilnya juga katanya." Canda mencoba mengambil alih anaknya yang didekap suaminya.


"Ma Ayah." Cani terisak, ketika ia beralih ke dekapan ibunya.


"Pakai baju yang rapi Adeknya, sekalian periksa Adek aja deh. Ayah ambil baju dulu." Givan meninggalkan mereka sejenak, untuk mengambil beberapa barang yang ia perlukan.


"Duh, Kak Cani nih. Begadang aja ya?" Canda membawa anaknya untuk cuci muka.


"Tak, Biyung." Rengekan manjanya terus terdengar.

__ADS_1


"Sih bisa sakit? Kalau begadang, di kamar adek-adek bayi aja. Kak Cani begadang sama adek-adek, Biyung yang bobo." Canda mulai mengusap wajah anaknya dengan air.


"Sakit tenggorokan, Biyung. Terus Adek sakit," aku Cani.


"Adek Cani udah jadi kakak loh, Kak Cani dipanggilnya." Canda mengeringkan wajah anaknya dengan tisu.


"Adek, Biyung!" Cani masih tidak menerima sematan untuknya diganti.


"Ya Adek, dipanggil bang Chandra dan yang lain kan adek. Nanti dipanggil adek Cala sama Cali ya kakak." Canda memakaikan pakaian anaknya kembali. Tak lupa, ia membalurkan minyak aromaterapi ke perut, dada dan punggung anaknya.


"Ya udah deh." Cani terlihat sewot dengan bibir yang mengerucut.


"Ayah cari pak cek Gibran dulu ya?" Givan keluar dari rumah lebih dulu.


Setahunya, adiknya itu bisa membawa kendaraan. Tapi, ia akan memastikannya lagi dengan bertanya langsung pada adiknya.


"Heran sama kau ini, kenapa kau ngintilin papah terus? Papah ke masjid, kau dilarang datang, malah kau rebahan terus." Givan mengetahui adiknya ada di rumah sejak pagi tadi.


Ia langsung mendatangi adiknya dan masuk ke kamar adiknya.


"Nikah!" Givan terkekeh dengan meraup wajah adiknya.


"Aduh, aku kasih makan apa dia nanti?" Gibran mematikan layar ponselnya, kemudian ia duduk dengan tersenyum malu pada kakaknya.


Ia tidak mengunci pintu kamarnya. Sedangkan, kakaknya langsung masuk tanpa mengetuk pintu atau panggilan suara lebih dulu.


"Nasi lah! Makanya, kau mau usaha apa? Ladang tak mau, perusahaan di Brazil tak mau. Mau kau apa?" Givan memperhatikan wajah adiknya yang terlihat suntuk itu.


"Tak tau, Bang. Ngantuk terus aku kalau papah lagi jelaskan tentang ladang di ladang. Malas sekali aku ini buka usaha, karena tak nemu yang cocok di hati." Gibran menggosok wajahnya.


"Ya karuan sih, anak orang kaya. Tapi, kalau dimakan kau tanpa ada tambahan penghasilan setiap bulannya. Ya habis juga jatah warisan kau. Sore nanti Abang mau ke rumah furniture, mau ikut kah?" Givan akan membawa adiknya paham dengan usaha yang lain, karena aset milik orang tuanya tidak ada yang bergerak di bidang bisnis furniture dan mebel.


"Boleh deh." Gibran mengangguk cepat. Ia pun ingin merasakan rekeningnya gendut di usia muda.


"Ya udah, sekarang cuci muka. Apa abis c***? Mandi besar kalau kau habis c***." Givan bangkit dari tepian ranjang adiknya.


"Aku tak pernah c***, Bang. Apa kali aku ini, masa harus mainan sendiri."

__ADS_1


Givan tertawa renyah, mendengar pengakuan adiknya.


"Ya udah, cuci muka, ganti baju. Ikut Abang ke rumah sakit, abang kau tak bisa pulang katanya."


Mata Gibran langsung melebar. Ia adalah laki-laki yang mudah panik. "Siapa, Bang? Kecelakaan kah?" Ia langsung bangkit dari ranjang tersebut.


"Gavin. Tak kok. Kau bisa bawa mobil kan? Kita jemput dia di sana." Givan berjalan ke arah pintu kamar adiknya.


"Ohh, bisa kok. Ya udah, aku siap-siap dulu, Bang." Gibran keluar dari kamarnya. Kamar yang ia tempati sejak kecil tersebut, tidak memiliki kamar mandi dalam. Karena, kamar itu dulunya adalah ruang bermain yang disulap dan dijadikan sebagai kamarnya dan kakaknya.


"Jangan sambil mainan sabun dulu tuh," serunya dengan terkekeh.


"APA, VAN???" Adinda yang mendengar dan menanggapi gurauan anaknya itu.


"Ehh.... Tak, Mah." Givan menahan tawa, dengan menghampiri suara ibunya berada.


"Mah, aku mau ajak Gibran keluar." Ia tidak berterus terang tentang keadaan Gavin. Namun, ia berniat menceritakan kondisi adiknya setelah adiknya sudah berada di rumah saja.


"Iya." Adinda fokus pada ponselnya. Ia tengah mencari menu masakan yang belum pernah ia masak sebelumnya, ia bosan dengan menu yang itu-itu saja.


"Minta sangu, Mah. Mana tau Gibran minta jajan di luar." Givan menahan tawa saat mengatakannya.


Adinda langsung melirik sinis. "Dikira adik kau nganggur itu, tak berpenghasilan kah? Setiap kali dia ikut papah itu dibayar tau!"


"Eh, iya kah?" Givan terkekeh karena ia tidak tahu kebenaran akan hal itu.


"Ya makanya rajin ikut. Mamah belum kasih hak-hak usahanya, karena dia pun nolak dengan alasan tak paham urusnya. Sedangkan kata papah kau, coba distop uang jajannya, biar dia ada mikir untuk terjun ke usaha. Eh, anak itu malah anteng aja di rumah tak dikasih uang tuh. Barulah kalau kakaknya beli baju baru, celana baru, ngeces dia. Ngerengek sama Mamah papah, ya tak dikasih. Jadi kata papahnya, ayo ikut papah ke ladang, nanti diupah tujuh puluh lima ribu sehari. Kan sama tuh kek pekerja harian di sana. Eh, adik kau mau. Jadi rajin dia ke ladang untuk beli baju dia sendiri. Sebenarnya Mamah bisa aja kasih, cuma untuk mancing adik kau biar dia mau berusaha." Adinda pun tidak mau anaknya tumbuh dengan hanya menikmati hasil tanpa tahu prosesnya.


"Dia cuma belum nemu bidang usaha yang pas aja, Mah. Tapi nanti aku kenalkan dia ke usaha aku di bidang lain, mana tau dia tertarik." Givan yakin adiknya hanya butuh uluran tangan untuk memulainya saja.


Ia tahu adiknya adalah orang yang tekun dan ulet. Hanya saja, Gibran belum mendapat usaha yang cocok untuk dirinya saja.


"Ayo, Bang. Katanya ke rumah sakit." Gibran menghampiri kakaknya yang tengah mengobrol dengan ibunya.


"Rumah sakit?" Adinda memicingkan matanya pada Givan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2