
"Bukan, dia mengkonsumsi alkohol masa hamil. Ataupun, sumber benihnya yang pecandu berat minuman keras. Diduga, bayinya mengidap FAS. Atau biasa disebut, fetal alcohol syndrome. Ada kelainan bentuk pada sendi, tungkai dan jari.
Terus, pertumbuhan fisik yang lambat. Lingkar kepala dan ukuran otak yang kecil. Cacat jantung dan masalah pada organ ginjal dan tulang. Karena bayi belum lahir, ya baru itu aja gejala yang terbacanya." Penjelasan Kenandra kembali, membuat Ai semakin melamun.
"Kemarin dokter tak ada bilang begini, Bang. Kan kemarin, dia dirawat di rumah sakit juga." Givan berdiri di ambang pintu kamar Ai, dengan menunjuk Ai dengan dagunya.
"Ya karena tak dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Tadi kan, aku rekomendasikan untuk ikut beberapa tes."
Givan manggut-manggut mengerti, ruang lingkup Kenandra adalah di bagian medis. Jelas, Kenandra lebih memahami hal-hal apa saja yang harus diperhatikan.
"Gejala dalam kehamilannya apa, Bang? Aku jadi takut." Canda mengusap-usap perutnya sendiri.
Ada kecemasan tersendiri, jika ibu hamil mendengarkan cerita tentang masalah kehamilan. Mereka takut, hal itu pun dialami oleh mereka.
"Tak ada keknya, Dek. Abang kurang mendalami ilmu itu, cuma feeling aja keknya harus pemeriksaan lebih dalam untuk bayi Ai." Kenandra memberikan obat milik Ai, dari dalam saku jaketnya.
"Apa perlu untuk bayi aku juga?" Canda malah tidak tenang.
Givan menarik istrinya untuk setara dengan tempatnya berdiri. Kemudian, ia merangkul istrinya dan memijat lengan istrinya. Ia mencoba memberikan ketenangan untuk Canda.
"Tak perlu, Canda. USG aja, rutin cek kandungan tiap bulan minimal ke bidan atau puskesmas lah. Jangan stress, jangan lapar, jangan sampai kena benturan. Dalam artian benturan, jatuh, terpeleset atau terpentok. Ati-ati ya pokoknya?" Kenandra tersenyum lebar, dengan melangkah keluar dari kamar tersebut.
"Gavin minta ganti uangnya," bisiknya pelan, ketika Kenandra melewati Canda dan Givan.
"Ganti? Uang? Berapa?" Givan menarik istrinya, untuk keluar dari area kamar tersebut.
"Anak itu tuh sering betul minta ganti," gerutu Canda yang didengar Givan.
"Jadi, sekarang tak mau kasih lagi kah?" Givan tidak bermaksud memaksa istrinya untuk membayar, tapi Canda merasa demikian.
"Ya udah." Canda mendongak menatap tegas suaminya. "Kasih aja lima juta, untuk hitungan satu bulan sampai datang bulan depan." Ia melepaskan rangkulan tangan suaminya, kemudian berjalan meninggalkan rumah mertuanya.
Moodnya memburuk.
"Hei, mau ke mana?" seru Givan memperhatikan istrinya yang berjalan menjauh.
__ADS_1
"Ngambek dia," celetuk Ken yang tengah membakar ujung rokoknya, dengan bersandar pada tiang beton teras rumah tersebut.
Givan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebelum hamilnya aja tuh, orangnya memang cepat ngambek. Ditambah lagi hamil, udah dia berubah jadi kaktus. Senggol dikit, langsung buat sakit di badan aku sendiri." Givan teringat pengusiran yang Canda lakukan padanya.
"Ya udah, biar Abang cover biayanya. Nanti biar Abang yang ganti ke Gavin." Ia fokus pada abu di ujung rokoknya, kemudian ia baru menggulirkan pandangannya ke arah Givan. "Tapi tolong jemput Bunga di rumah umi, dia sama Ahya. Dia mau ayah angkatnya dan biyung angkatnya yang jemput, biar dia merasa kalian membutuhkan dirinya."
Givan tertawa renyah. "Drama e pollll, generasi Cendol. Lagian siapa lagi, yang mau angkat anak. Anak sendiri aja kadang salah sebut nama." Givan mentertawakan dirinya sendiri yang mulai pelupa, padahal usianya baru tiga puluh sembilan tahun.
"Ya pura-pura aja kenapa sih?! Tinggal iyain aja, aku alasannya begitu soalnya," terangnya dengan mengubah posisinya menjadi duduk di lantai.
"Iya deh, iya. Nanti aku ajak Canda keluar, untuk jemput Bunga." Givan berjalan untuk mengenakan sandalnya.
"Eh, Ria mana?" Givan baru ingat dengan satu-satunya adik iparnya itu. Sejak pagi dalam persidangan pun, ia tidak melihat Ria hadir di aula.
"Di Ahya juga, sama Bunga." Kenandra menjadi teringat dengan gadis dewasa, tapi merepotkannya bagai seperti anaknya sendiri.
"Dia aman kan?" Givan menahan kakinya untuk melangkah.
Kenandra mengangguk. "Aman, cuma ada mabuk kendaraan aja pas perjalanan dari Jepara ke Cirebon. Udah sembuh sih, cuma nampak lemes gitu. Keknya ada kurang darah, atau gangguan tidur deh itu anak." Kenandra tidak sempat untuk memeriksa keadaan Ria lebih dulu.
Bertambah satu penghuni pondoknya. Meski sebelumnya sudah ada pembicaraan bahwa nanti pun akan ada baby sitter untuk Bunga, tapi jelas tanggung jawabnya akan bertambah. Arti anak angkat, membuatnya teringat bahwa saat dirinya kecil begitu merepotkan ayah kandung Kenandra.
Givan masih teringat, jika ibunya sering menghilang, dengan dirinya dititipkan di rumah Kenandra dengan dua baby sitter di rumah tersebut. Givan kecil tidak mengerti, bahwa ibunya tengah berusaha memenuhi biaya hidup untuk mereka berdua.
Anak perempuan yang sangat pendiam tersebut, memperhatikan dua orang yang mengaku menjadi orang tua angkatnya tersebut. Terlihat begitu datar, seolah tidak peduli, tapi nyatanya Bunga tengah mencari keyakinannya sendiri untuk ikut dengan Givan dan Canda.
"Ayah...." Panggilan tersebut keluar dari mulutnya, saat ia akan memastikan tentang sesuatu.
"Ya, Sayang." Givan tersenyum lebar, dengan mencolek pipi Bunga.
"Apa Ayah punya anak?" Bunga pernah melihat tontonan, di mana seorang anak diadopsi karena mereka tidak memiliki keturunan.
"Punya dong, nanti kenalan ya?" Givan masih mempertahankan senyumnya, agar anak itu tidak takut padanya.
"Terus kenapa Ayah ambil anak lagi? Kan aku punya orang tua juga." Pertanyaan yang terus bergulir di otak kecilnya, karena ia diadopsi dalam keadaan memiliki orang tua.
__ADS_1
"Untuk tumbal dong." Givan hanya bergurau, tapi langsung mendapat delikan tajam dari ibu Sukma.
Ibu Sukma adalah ibu kandung Kenandra, yang berarti adalah nenek dari Bunga.
"Apa itu?" Bunga merasa asing dengan kata tumbang.
"Tak ada, Dek. Ayah cuma gurau aja." Canda mengusap-usap punggung Bunga.
"Biyung...." Bunga memperhatikan wajah Canda dari dekat.
"Ya, ini Biyung." Canda tersenyum ramah dan begitu teduh. Siapapun yang melihatnya, pasti akan percaya sepenuhnya pada Canda.
"Biyung punya anak juga?" Bunga memberikan pertanyaan yang sama.
"Punya juga, Biyung dan Ayah punya anak. Banyak anak, nanti kenalan ya?" ucapannya langsung diangguki Bunga.
Canda begitu meyakinkan seorang anak yang minim kepercayaan pada orang lain tersebut.
"Ayo kita pamit dulu sama Umi dan Tante." Canda menggandeng tangan Bunga, untuk berpamitan pada orang-orang yang berada di rumah tersebut.
"Ayo...." Bunga tersenyum manis mengikuti langkah Canda.
Tidak banyak kata yang Canda lontarkan, bahkan ia meniru dari jawaban suaminya. Tapi cahaya orang baik, begitu mencuat dari diri Canda. Tanpa kata-kata banyak, seorang anak yang penuh dengan kerumitan di otaknya tersebut langsung begitu amat percaya pada Canda.
"Umi, Tante, aku pamit pulang ke rumah orang tua aku ya?" Begitu sopan tutur kata anak tersebut.
"Iya, Sayang. Jadi anak yang patuh ya?" Ibu Sukma mendekap anak tersebut.
Ibu Sukma baru saja menikmati rindunya yang terpenuhi pada cucunya yang menjadi sengketa tersebut, tapi anak tersebut sudah harus pergi lagi dari kediamannya.
"Tante Ahya, Tante Ria mana?" Bunga mencari teman karibnya selama di perjalanannya.
"Tuh.....
...****************...
__ADS_1