Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM180. Cicak jatuh


__ADS_3

"Mereka kan lagi di rumah sakit, lagi ada yang sakit. Pasti mereka shock, kalau dengar kabar ibunya Zio nengokin. Gimana kalau kau titipkan nomor telepon kau aja, biar nanti dihubungi kalau Canda dan Givan udah pulang. Besok lusa kan, mereka pasti pulang tuh. Jadi untuk sekarang, barangnya lebih baik dibawa pulang lagi aja dulu. Kalau memang jauh dari Medan, ya udah nginep di sekitar sini aja." Putri memberi saran yang menurutnya jalan tengahnya.


"Ya udah gitu aja, Bun. Kan kita mau liburan ke Takengon juga." Ziyan berbicara pelan pada ibunya.


"Tapi kan kita liburan mau sama Zio juga, bukan tanpa Zio gini." Suara Nadya sampai ke telinga Adinda.


Ada rasa tidak suka, saat mendengar salah satu cucunya akan dibawa liburan dengan orang yang belum ia percaya. Tapi, ia perlu menyusun kalimat itu agar Nadya tidak memaksa untuk bertemu dengan Zio.


"Nah, iya. Kan bisa tuh nanti ngobrol juga sama Givan, apa boleh ajak Zio liburan kan gitu?" Adinda hanya memberi kalimat penenang saja.


Putri melirik Adinda. Putri tahu tentang peraturan yang Givan terapkan untuk anak yang ia asuh, yaitu dilarang membawa mereka pergi. Selepas kepergian Nadya, Putri bermaksud untuk memberitahu akan hal itu pada Adinda.


"Ya udah, Mah. Aku nitip barangnya di sini dulu, nanti aku ke sini lagi. Ini kartu nama aku, nanti minta Givan hubungi aku. Kalau tiga hari ke depan tak ada kabar, aku ke sini lagi ya, Mah? Aku bawa Ziyan liburan dulu ke Takengon." Nadya memutuskan untuk pergi, karena ia merasa tidak memiliki harapan untuk bisa menemui dan memeluk Zio sebagai ibunya.


"Iya, oke." Adinda menerima kartu nama milik Nadya.


"Aku pamit dulu, Mah. Assalamualaikum." Nadya langsung undur diri dan keluar dari rumah.


"Wa'alaikum salam." Adinda mengantar Nadya sampai ke teras.


"Mah, kek tua ya?" bisik Putri setelah mobil Nadya keluar dari pekarangan rumah.


"Teman kuliah Givan, ya empat puluh tahunan keknya." Adinda duduk di teras rumah, sengaja menunggu suaminya datang.


"Ohh..." Putri manggut-manggut dan duduk di tempat yang tersedia.


"Nenek, bajunya kotor."


Adinda melupakan cucunya yang tengah makan es krim. Ia menepuk jidatnya dan kembali masuk ke dalam.


"Ya ampun, Cani." Adinda geleng-geleng kepala melihat cucunya begitu kotor karena es krim coklat.


Putri tersenyum lebar, ketika Jasmine berjalan ke arahnya dengan tersenyum lebar. "Ammak," panggil Jasmine dari jauh.

__ADS_1


Putri sudah merentangkan tangannya, ia menyambut pelukan anaknya yang lama tak ia temui. "Ammak kangen." Putri langsung mendekap anaknya dengan penuh kasih.


"Sama, ayo ke minimarket baru."


Putri melongo saja, kala anaknya langsung mengajaknya berbelanja. Padahal, ia ingin memiliki waktu untuk mengobrol dan bercerita.


"Ya udah yuk, bilang nenek dulu ya?" Putri paham dirinya harus mendapatkan izin.


Setelah mendapat izin dari Adinda, ia mengikuti arah anaknya membawanya pergi.


"Tukar shift sama Ghava ya, Bang? Bayi aku doyan begadang soalnya, kasian Aca capek udah seharian sama Hifzah, malamnya Hifzah sama aku." Ghifar izin pulang pada kakaknya.


"Iya, tak usah tukar shift segala. Udah tak apa kau pulang juga, aku tak apa sendiri di sini." Givan paham bahwa adiknya sudah berkeluarga dan memiliki tanggung jawab di rumah.


"Kau juga pulang aja, Bang. Katanya ada Putri di sana?" Givan paham Putri pasti menunggu kekasihnya kembali untuk menikmati waktu bersama.


"Tak, aku nginep di sini." Kenandra merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


"Oh, ya udah. Aku duluan nih." Ghifar pamit dan keluar dari ruangan Canda setelah dirinya menunaikan sholat Maghrib.


"Tak." Ada alasan di balik hoodie yang menutupi lehernya tersebut.


Givan hanya mengedikan bahunya, ia mencoba tidak terlalu ikut campur dengan urusan Ken. Ia tidak mau Ken tersinggung karena sikapnya.


"Anak ayah, lagi apa nih." Givan mengusap perut istrinya.


"Lagi bete, bosan," jawab Canda dengan mengesampingkan ponselnya.


"Kenapa sih? Kangen sentuhan Yayah kah?" Givan berkata lirih, dengan mencium pipi istrinya.


Canda terkekeh kecil dan mencubit pelan suaminya. "Yayah yang kangen itu sih." Canda sadar, hubungan ranjang mereka begitu jarang dilakukan sejak keadaannya memburuk. Sedangkan, bagaimana ceritanya juga suaminya adalah laki-laki normal yang membutuhkan hal tersebut.


"Biyung tak rindu kah rupanya?" Givan duduk di kursi yang tersedia, dengan menggenggam tangan istrinya.

__ADS_1


"Tak, Yayah kan ada terus depan mata." Canda berbaring menyamping menghadap suaminya.


"Jadi Yayah harus kabur dulu sama janda, baru Biyung kangen?" Givan manggut-manggut dan memutar bola matanya malas.


"Jangan! Nanti aku nangis guling-guling. Aku cinta betul sama Mas." Canda mengusap pipi suaminya.


"Ah masa? Pengen cek out keranjang ya? Curiga kalau Biyung bilang cinta tuh."


Canda tertawa terbahak, mendengar sahutan suaminya yang tidak disangka olehnya.


"Ish! Sialan!" Kenandra tersentak dari tempatnya, mengganggu suami istri yang tengah mengobrol mesra tersebut.


"Ada apa?" Givan berdiri cepat dan berjalan ke arah Kenandra berada.


"Ada cicak jatuh. Masuk ke jaket kah ya?" Kenandra cepat-cepat menarik ke atas hoodie yang cukup mengganggu sirkulasi udara tersebut.


Seekor cicak kecil terjatuh dari lantai, saat hoodie tersebut dilepaskan. Pandangan Givan tidak sengaja menangkap sebuah rona yang begitu menyala, yang berada di leher Kenandra. Pantas saja Kenandra menutupi lehernya dengan hoodie turtleneck, rupanya ada rona yang seharusnya tidak dimiliki seorang duda ataupun bujangan.


"Sialan kau!" Givan terkekeh geli dengan menendang part belakang kakak angkatnya. "Pantas kau pakai hoodie, rupanya ada sesuatu yang lebih baik tak dilihat mata umum," lanjut Givan dengan menunjuk leher Kenandra.


Ken meraba lehernya. Ia terlanjur malu, tapi ia tetap mengenakan hoodieny kembali karena khawatir ada keluarga yang tiba-tiba masuk.


"Nah itu, takut aku ketemu Putri. Mana dia ada di penginapan mamah lagi, harus gimana coba aku ini?" Kenandra menghempas alas duduknya di sofa panjang.


Givan menoleh pada istrinya yang bermain ponsel kembali. "Aku di sini ya, Canda?" Givan hanya mendapat dekheman saja dari Canda. Canda sudah asyik bermain ponselnya.


"Kau tak ngelakuin itu sama Putri? Kok kau jadi tak setia begitu sih, Bang? Dulu kau anteng sama satu cewek aja." Givan duduk di samping kakak angkatnya.


"Memang cuma satu-satunya perempuan aku, cuma Putri aja. Cuma, ada ketertarikan lain yang menurut aku harusnya tak sama dia." Kenandra sangat berhati-hati saat mengatakannya, ia khawatir Givan memahami siapa yang ia maksud.


"Kau jajan? Atau gimana? Atau kau ketemu sama mantan? Hawa kau kan kalau ketemu sama mantan, pengen mengulas rasa yang pernah ada. Waktu kemarin ke Cirebon ambil Bunga, ML sama kak Riska kan?" Givan tahu akan kebiasaan Ken karena ia tumbuh kembang bersama Kenandra sejak kecil. Meski terpisahkan jarak, tapi komunikasi di antara mereka tetap terjalin.


"Iya, main sama Riska. Ya terakhir begituan sama Riska itu, sampai hari tadi pun tak terlalu jauh dengan perempuan lain. Cuma ada rasa senang gitu, karena perempuannya aku rasa dia suka sama aku. Kau kan paham kalau perempuan suka sama kita itu, bagaimana pasrahnya dia. Malu-malu kucing bikin gemas, sayang harusnya orangnya bukan dia." Kenandra melirik Givan sekilas, ia berhati-hati sekali dalam bertukar cerita.

__ADS_1


"Kenapa harusnya orangnya bukan dia? Apa karena orangnya bukan Putri? Tapi Putri bisa pasrah juga kok, Bang. Dia tak melulu agresif. Aku tau selera kau perempuan yang pasrah." Givan memerhatikan Kenandra yang tengah berkelana dengan pikirannya sendiri.


...****************...


__ADS_2