
"Bentar Bang, aku cuci tangan dulu." Gavin melewati kakaknya untuk masuk ke Riyana Studio.
"Memang abis ngobok-ngobok apa?" Givan menahan tawanya dan melirik adiknya yang bergerak masuk.
Gavin terkoneksi ke arah yang salah. Ia tertawa geli, dengan mengucek tangannya di wastafel keramik yang berada di sudut ruangan.
Tak lama, ia kembali dan mengambil alih anaknya. "Maksudnya tuh, Bang. Aku mau gendong anak. Kan kata kak Canda, harus cuci tangan dulu." Gavin menciumi anaknya.
"Ya percuma juga, kau ngerokok ini. Doakan aja lah yang penting sehat. Tangan kau cuci, mulut sama pakaian mau nyisain racun." Givan geleng-geleng tak memperhatikan arah lain.
Ia melihat ibu mertuanya menyapu teras ruko. Ia pun melihat Jasmine berjalan ke arah rumah mangge Yusuf, dengan membawa mainannya.
"Gimana, Bang?" Gavin membawa duduk anaknya.
"Dari tadi Abang berdiri aja tuh, dia tak mau duduk." Givan pun duduk di kursi yang tersedia di teras studio itu.
Benar ucapan Givan. Beberapa detik kemudian, tangis Cala terdengar. Ia merengek dan tidak mau yang menggendongnya dalam posisi duduk.
"Sakit badan kah dia, Bang?" Gavin langsung bangkit untuk berdiri lagi.
"Tak tau, nanti dibawa pijat. Apa bekas emasnya gatal kah? Tapi, Abang lepasin emas-emasnya dia. Tak iritasi juga, cuma Abang lihatnya kek kekecilan tuh. Udah bilang Canda, suruh beli baru. Tuh...." Givan menunjukkan pergelangan tangan anak tersebut.
"Itu kan bekas wajar, karena ketekan lama. Bukan bekas memerah juga, bukan bekas kekecilan juga." Gavin memperhatikan dengan jeli pergelangan tangan anaknya.
"Ya mungkin itu sih pikiran Abang sendiri. Nanti deh dipijat aja." Givan ragu tentang apa yang anak itu rasakan.
"Kok ngerengek terus ya? Tak mau kau dia gendong begini?" Givan kebingungan untuk menempatkan anaknya.
__ADS_1
"Coba disangga aja tubuhnya, tapi kepala kau pegangin. Bayi normal sih, mungkin lagi bisa tuh. Cuma Abang terbiasa gendong Cala, dia prematur, dua bulannya Cala, usia satu bulan bayi normal. Jadi pertumbuhan masa bayinya agak lain. Cala sih masih lemas, cuma nendang-nendang aja gitu." Givan membantu adiknya menempatkan posisi yang enak.
Tidak disangka juga, Cali mulai bisa menyeimbangkan kepalanya. Ia terlihat nyaman di posisi itu, ia pun terlihat girang.
"Hmm, cari posisi enak rupanya Adek nih?" Gavin mengayunkan pelan tubuhnya.
"Jadi gimana, Bang?" Gavin mulai bertanya.
"Iya, kau sehat belum? Mau kapan ke sana? Kalau tunggu mamah pulang ya tak apa, katanya sih semingguan. Tapi kalau terlalu lama tuh tak bisa, Keith mau nikah soalnya. Abang harus hadir, karena tak enak, sana-sini Shauwi dan Keith ini orang Abang. Jadi, biar ini selesai, itu selesai." Givan tengah memperhitungkan semuanya. Namun, ia khawatir perhitungannya kurang tepat.
"Bolehlah, Bang. Kan banyak abang-abang laki-laki juga di sini, jadi kita bisa nitupkan ke yang lain. Minta bang Ghava cek papah sama Gibran kan gitu, bisa juga. Atau bang Ghifar, yang jelas tiap hari keluar masuk ke rumah mamah." Gavin tetap mengayunkan tubuhnya, karena melihat anaknya menguap tadi.
Ia beru mengerti, anaknya rewel karena bosan dengan posisinya.
"Iya bisa. Panas-panas hati dikit, Abang tak masalah suruh Ghifar cek istri Abang dan anak abang. Dia yang paling dekat dan paling free soalnya. Meskipun kerja, tapi kesibukan lainnya di rumah aja. Kalau Ghava, dia ada motret di luar studio. Ghavi apalagi, lagi di jalan terus. Tapi, jangan lama gitu. Satu Minggu sama perjalanan juga. Nanti, Abang minta Ria juga ke Abang. Barangkali kangen kumpul keluarga atau gimana." Givan ingin, saat ibunya dan Kenandra pulang. Ia pun sudah kembali dari Brasil.
"Iya. Usaha apa sih? Masalah belum beres kau ini, nanti fokus kau terbagi. Abang siap modali, asal fokus kau di sana." Givan teringat runyamnya dirinya ketika ia baru membangun usaha baru, kemudian permasalahan silih berganti.
"Mau yang di sini aja lah, Bang. Sawit Ceysa masih di-ekspor, kenapa aku tak oleh itu aja?" Gavin merasa ada peluang di sana.
"Kau berani beli berapa perbijinya?" Pertanyaan Givan, membuat adiknya tertawa malu.
"Biarin Ceysa tetap ekspor. Kau ke hal yang lain, apa gitu?" Givan merasa, bahwa peluang untuk adiknya itu tidak lebih baik.
"Gimana kalau gula tebu?" Gavin mencoba duduk.
"Udah kek jaman Belanda. Di Cirebon ada pabrik gula tebu, bangunannya masih ada sampai sekarang. Kakek Abang pun, dulu pernah kerja di sana." Givan malah bercerita.
__ADS_1
"Ya kalau orang pribumi, tak boleh buka pabrik gula kah?" Gavin merasa bingung dengan jawaban kakaknya.
"Tak tau, Abang tak punya keyakinan untuk kau bangun pabrik gula. Kau bisa ngeladang tak sih? Mending ambil jadi petani jahe aja. Cepat masa panen, budidaya tak sulit. Ladang jahe papah yang di Lampung kan, laba terus tuh." Givan pun sebenarnya ingin mengarah ke usaha itu. Tapi, ia merasa tidak memiliki kecakapan khusus untuk budidaya tersebut.
"Aku sih bisa semua, Bang. Bisnis bisa, ngeladang bisa juga otodidak. Papah ajarin juga, pasti hasil tangan aku sama. Masalah aku kan, cuma sulit bangun pagi aja, bukan sulit bangun usaha." Gavin terkekeh kecil.
"Ya udah, itu aja. Setahun bisa tiga kali panen, kalau kau belinya udah tunas. Tapi macam-macam jahe sih, beda-beda waktu panennya. Ada jahe biasa, jahe emprit sama jahe merah. Gali aja infonya ke papah nanti." Jika untuk berladang, Givan menyerah.
Karena usahanya yang bergerak di ladang pun, sesekali dicampur tangan ayah sambungnya. Karena ia selain kurang keminatan, ia pun merasa kurang cakap karena ia jarang mau untuk turun langsung ke ladang. Bukan karena ia takut kotor, tapi menurutnya untuk mengolah tanahnya dulu pun memerlukan kesabaran ekstra. Sedangkan, ia bukanlah orang yang penyabar.
"Iya ya, Bang? Ilmu bisnisnya kan, aku bisa pakai untuk pasarkan hasil ladang aku sendiri. Atau, bahkan buat pabrik pengolahannya sendiri." Gavin teringat jika banyak produk minuman berbahan dasar jahe.
"Nah, tuh. Bisa juga kek gitu, Vin. Jadi, Brasilnya di mana Ajeng ini?" Givan merasa cukup untuk membahas tentang usaha.
"Di Brasilia, Bang. Di lingkungan tempat kita tinggal, di rumah mamah dulu. Masih di perumahan itu, aku kasih dia rumah sederhana di sana." Gavin mampu menidurkan anaknya dalam dekapannya.
Ia memposisikan wajah anaknya, agar bisa bernapas nyaman. Ia mengagumi wajah anaknya yang begitu mirip dengannya, ia mencari kemiripan wajah ibu dari anak tersebut di wajah anak tersebut. Seolah tidak terdeteksi, bahkan Gavin merasa bahwa anaknya begitu mirip dengan kakak perempuannya.
"Kau bucin gila betul, Vin." Gavin geleng-geleng kepala, mendengar bahwa adiknya memberikan sebuah rumah pada seorang wanita.
"Masalahnya dia istri aku kemarin, Bang. Aku dzolim, kalau mampu kasih dia hunian, tapi aku tak kasih dia hunian. Cocokologi aku ini, sama ilmu yang aku punya, Bang. Bucin! Bucin! Tak bucin tak apa, dia istri aku kemarin, kewajiban aku." Dengan ucapan adiknya, Givan teringat dzolimnya dirinya pada Nadya. Tapi, jika Nadya tidak seperti itu. Mungkin, ia pun bisa memperlakukan Nadya lebih baik.
"Coba cek tiketnya, Bang. Berapa juta harganya," lanjut Gavin kemudian.
"Eummmm....." Givan langsung melakukan pengecekan.
...****************...
__ADS_1