Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM188. Menunggu Nadya


__ADS_3

"Hallo." Givan melirik istrinya yang duduk di sampingnya.


"Ya hallo, dengan siapa?" Nadya lupa dengan suara laki-laki yang pernah satu ranjang dengannya tersebut.


"Ini Givan." Givan memilih untuk menspeaker panggilan teleponnya.


"Oh, ya? Gimana?" Nadya langsung siap mendengarkan Givan, bahkan ia di seberang telepon sana mencari tempat agar nyaman untuk mengobrol dengan Givan.


"Kau boleh ke sini hari ini, Nad." Givan langsung mengatakan keputusannya dengan Canda.


"Oke, oke. Aku langsung ke situ, Van. Aku lagi wisata di dekat kampung kau." Nadya berbicara cepat.


"Iya, di rumah aku aja langsung. Kau bisa langsung berhenti di pagar putih yang jarak satu rumah dari rumah mamah, Nad." Givan memberitahukan letak rumahnya.


Givan teringat dengan Ai yang baru pulang dari rumah sakit. Ia sempat melihat Ai dan keluarganya berkumpul di depan rumah orang tuanya, ia khawatir Ai belum kembali ke penginapan dan menimbrungi obrolannya dengan Nadya.


"Siap, Van. Aku langsung ke sana." Nadya langsung bergerak untuk bersiap.


"Oke." Givan mematikan sambungan teleponnya.


Givan mengutak-atik ponselnya, ia tidak menyadari jika Canda memperhatikannya sedari tadi.


"Jangan disimpan nomornya! Awas aja kalau Mas sampai mabuk jandanya Nadya!" ancam Canda dengan mencubit paha suaminya secara tiba-tiba.


"Aduh-aduh." Givan reflek mengusap-usap bekas cubitan istrinya.


"Ya barangkali nanti mau nengokin lagi, Canda. Tak mungkin dong, kalau aku tak simpan nomor? Apa aku pernah tertarik sama janda? Coba kau ingat." Givan menjawab santai.


"Kan Mas mabuk jandanya aku, ngamer aja sama aku."


Jawaban istrinya, membuatnya terkekeh lepas. Ia tidak menyangka mendengar jawaban di luar perkiraannya.


"Iya kecuali kau, tak gadis, tak istri orang, tak janda, tak istri sendiri, tetap gemesin. Pengen aku gaplok-gaplok p*****nya." Givan mengusap-usap paha istrinya yang tertutupi dress sehari-hari.


"Ihh!" Canda bergidikan mendengarkan suara genit suaminya.


Tawa Givan lepas, kemudian ia memeluk istrinya dengan gemas. "Gemuk lagi dong, gemoy lagi dong. Tak bahagia kah hidup sama aku?"

__ADS_1


"Mas tau apa masalah yang ada di diri aku. Aku bahagia, bahagia betul. Apalagi kalau hati Mas aku miliki juga, tak cuma fisiknya Mas aja." Canda meraba dada suaminya yang terlapisi kaos.


"Seutuhnya, tanpa pengecualian. Aku milik kau, Cendol." Givan menyambar bibir istrinya.


"Aduh!" Canda terlihat risih dengan serangan tiba-tiba yang ia dapatkan.


"Kek ikan dikasih umpan, nyerotol aja," lanjut Canda kemudian.


"Hmm, kan kau yang biasanya begitu. Semalam kau tidur duluan, kau tak penuhi janji kau. Aku udah gatal betul, Canda." Givan membawa tangan istrinya masuk ke dalam celananya.


"Tuh! Tuh! Tuh!" Canda terlihat pasrah ketika merasa ada kehidupan di sana.


"Ayolah, Canda. Sebentar aja, mumpung Nadya belum datang." Givan membawa tangan istrinya untuk memijat intinya.


"Malam ini deh, Mas. Aku tak bisa keluar kalau diburu-buru." Canda ingin melakukannya dengan fokus.


"Hmm, nanti sambil nunggu Ashar deh. Aku tak mau nunggu malam lagi, kau ngantuk biasanya." Givan membiarkan tangan istrinya yang keluar dari celananya.


"Eh, panas betul hawa di dalam celana Mas." Canda merasakan perubahan suhu saat tangannya masuk ke dalam celana suaminya tadi.


"Baru nyadar? Yayah kan selalu hot kali." Givan menyugar rambutnya.


Givan menyipitkan matanya. Padahal, Canda sering memasukkan tangannya ke dalam celananya. Apa baru kali ini Canda merasakan suhu panas di sana? Karena menurut Givan, memang umum dan ada penjelasan secara ilmiahnya jika pada milik laki-laki yang tengah tegang akan naik suhunya.


"Udah coba! Kek baru pertama punya suami aja. Yuk tunggu di luar?" Givan mengajak istrinya untuk keluar dari rumah mereka.


"Ayo." Canda langsung mengikuti tarikan tangan suaminya.


"Mas, anak-anak udah sampai di Singapore belum sih?" Canda mengisi kekosongan langkah mereka dengan obrolan kecil.


"Udah, barusan. Tapi pada jet lag, langsung pada tidur. Untungnya, Ces tak rewel. Nanti kita tengokin Ces ke sana, kalau kau udah lahiran, bayi kita pun udah cukup untuk bepergian tuh." Givan menggandeng tangan istrinya untuk duduk di teras rumah Zio.


Beberapa anak mereka tengah bermain di rumah Ghifar, separuhnya lagi ada yang diajak mangge Yusuf untuk ke toko membeli barang. Cukup sepi, tapi Zio berada di rumahnya dengan menyusun gelas plastik yang ia buat seperti sebuah piramid.


"Boleh, nanti aku belanja ya?"


Givan melirik istrinya. "Tanpa kau minta juga pasti aku belanjakan, Canda." Givan melepaskan tangan istrinya.

__ADS_1


Ia melongok ke dalam pintu rumah Zio yang terbuka lebar. Perhatiannya teralihkan pada pengasuh Zio, Aliyah yang tengah mencuci tembok.


"Hei, ngapain?" Givan mengerti bahwa cat tembok rumah anak-anaknya terlapisi minyak. Cat tembok yang tidak akan luntur, ketika dicuci. Namun, aktivitas Aliyah hampir tidak pernah dilakukan oleh pengasuh yang lain.


"Rumah aku kotor, Yah. Hadi coret-coret miss you Ceysa di rumah aku, aku risih sama tulisan di rumah. Nanti yang ada aku tak bisa merem, karena otak aku jalan terus baca tulisan yang di tembok." Zio menjelaskan tanpa mengalihkan fokusnya.


"Memang Zio tidur di mana?" Givan menyandarkan punggungnya di daun pintu rumah anaknya.


"Di sini, pakai kasur busa lipat itu. Zio katanya malu tidur ditemani, Bang. Dia udah berani tidur sendiri," aku Aliyah, dengan mengurangi kegiatannya.


Givan hanya diam, ia mulai berpikir apa anak-anaknya sudah ingin mandiri? Dalam artian, mereka sudah tidak ingin hidup dengan diawasi oleh pengasuh pribadi mereka. Givan berpikir akan membicarakan ini dengan Canda dan juga ibunya nanti. Karena ia sudah melempar pengasuh Chandra untuk mengurus rumah ibunya, ia bingung jika harus memberhentikan pengasuhnya yang tidak pernah mengeluh saat bekerja dengannya.


"Mas, itu tuh." Canda mengalihkan perhatian Givan, ia menunjuk pagar rumahnya.


"Ohh." Givan bergerak untuk membukakan pintu gerbang mereka.


Ia baru menyadari, jika sebuah mobil telah berhenti di sana. Nadya yang belum sempat keluar dari mobil, langsung membelokan mobilnya begitu pintu gerbang dibuka.


Rupa yang tidak berubah, membuat Nadya terkesima melihat mantan suaminya. Tapi, jika diingat bagaimana teganya Givan ketika sudah marah membuatnya hilang rasa untuk memuji tentang ketampanan Givan.


"Ayah...." Ziyan tersenyum lebar dan berjalan cepat ke arah Givan.


Pelukan tidak terduga dari anak tersebut, membuat Givan bingung. Karena Givan merasa lupa dengan wajah tersebut, karena jelas wajah Ziyan kecil dan Ziyan dewasa sangatlah berbeda.


"Ini Ziyan?" Givan menepuk pundak anak laki-laki yang memeluknya.


Ziyan mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Ayah lupa sama aku?" Terlihat dari matanya, ia begitu senang bisa dipertemukan oleh mantan suami ibunya tersebut.


"Tak dong, cuma pangling aja." Givan tersenyum lebar. Ia tidak ingin melukai hati anak itu, dengan jawaban jika ia memang benar lupa dengan wajah anak tersebut.


"Mana adik bayi aku yang dulu, Yah?" Ziyan celingukan mencari seseorang yang ia ingat wujud mungilnya.


"Itu." Givan menunjuk Zio yang fokus dengan susunan gelas plastik yang sudah cukup tinggi tersebut.


Ziyan memperhatikan anak laki-laki yang begitu mirip dengan dirinya. Hanya saja, kulit Zio lebih terlihat putih dan bersih karena ia benar-benar terurus dan tidak pernah main di kala matahari tengah panas-panasnya.


"Zio....," panggil Ziyan cukup lantang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2