Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM152. Pubertas


__ADS_3

Author POV


Givan bergegas meninggalkan istrinya yang terlelap dalam pelukannya, karena mendengar bel rumah dan pintu rumahnya diketuk berulang kali. Ia teringat, bahwa ia memiliki beberapa tamu yang akan datang hari ini.


Tepat sekali, tangan kanannya yang bertugas di Singapore datang dengan ransel yang cukup besar. Keith tersenyum lebar dengan menunjukkan parcel buah yang dibentuk menarik pada Givan.


"Buat nyonya yang lagi hamil." Keith menyerahkan buah tangan tersebut.


Givan menerima tanpa mengucapkan terima kasih. "Istri aku lebih suka skincare. Lagi pun, bawakan jus bengkoang aja. Udah lama berburu, tak pernah dapat. Pernah buat sendiri, katanya tak enak. Bukan rasa itu yang dia pengen, karena rasanya hambar pas buat sendiri itu." Givan membuka pintu rumahnya lebih lebar, menyambut Keith untuk duduk.


"Aneh-aneh aja sih, Bang." Keith menaruh ranselnya di dekat sofa mewah tersebut, kemudian menghempaskan tubuhnya dengan nyaman.


"Udah ambil kamar, udah dibayar tiga harian. Nih, kuncinya. Kamar nomor sepuluh." Givan menjatuhkan kunci di atas pangkuan Keith.


"Bentar, Bang. Aku mau keluarin dulu beberapa dokumen penting, biar kau bisa nyimak dulu. Setelah aku istirahat, nanti aku ke sini lagi biar enak Abang nanya-nanyanya." Keith berjongkok dan membuka isi ranselnya. Tiga setel pakaiannya tidak cukup berarti, ketimbang dengan beberapa dokumen tebal yang mengisi space di ranselnya.


"Ya udah mana?" Givan duduk di sofa dekat Keith mengeluarkan isi ranselnya.


"Nih, Bang." Beberapa dokumen Keith letakan di atas meja, sisanya berada di pangkuan Givan.


"Nanti aku telpon aja, kalau aku punya waktu. Bukan cuma kau yang datang soalnya." Givan membuka-buka dokumen tersebut.


"Asyik, punya waktu sama Ria." Perasaan Keith sudah berbunga-bunga.


Givan melirik tajam pada Keith. "Tak ada! Tak ada! Ria bukan untuk kau," ketusnya dalam lirikan mematikan.


"Terus untuk siapa? Ria aja mau kok." Keith sudah rindu ingin bermesraan dengan adik ipar dari bosnya tersebut.

__ADS_1


Ia tidak sampai merusak Ria. Tapi, sentuhan dari Ria cukup memberi makan egonya. Ia ingin memiliki waktu yang berkualitas dengan Ria, untuk mengeluarkan rindunya yang terhalang waktu dan restu.


Ia tahu, adik ipar bosnya memiliki ketertarikan padanya. Ia paham, adik iparnya adalah wanita normal yang sudah mulai membutuhkan laki-laki sepertinya. Keith belum tahu, jika di antara mereka ada seorang laki-laki matang yang membuat Ria merasa nyaman.


"Kau yang gatal!" sinis Givan tidak ramah.


"Ya sama juga sebenarnya, Bang. Cuma kan Abang tak tau aja." Keith mengatakan, dengan mata yang tengah mengelilingi isi ruang tamu. Ia tidak tahu, jika netra tajam hitam pekat itu tengah memberi pelototan mematikan.


"Ehh...." Keith langsung memamerkan giginya begitu menyadari pelototan itu terarah padanya.


Keith memasukkan kunci kamar inap itu ke sakunya. "Kamar nomor sepuluh ya, Bang? Aku permisi dulu ya?" Keith buru-buru menyelamatkan dirinya.


Ia tidak mau pekerjaannya menjadi taruhannya, karena ia nekat ingin memiliki adik ipar Givan. Ia ingin hubungan mereka diterima dengan baik, tanpa dirinya memaksa. Toh, dengan Ria meladeninya saja. Itu sudah cukup untuk Keith, yang terpenting adalah Ria pun memiliki rasa tertarik sama seperti dirinya.


"Hmm...." Givan hanya berdekhem dengan memperhatikan Keith yang keluar dari rumahnya.


Memberi perhatian untuk anak-anaknya, Givan lakukan secara berkala. Banyak pertanyaan ia beri untuk masing-masing dari anak-anaknya yang mendatanginya dan meminta uang padanya. Pengalaman dan pemahamannya, mampu membaca gerak-gerik anak-anaknya yang sudah mengalami masa pubertas.


"Ayah...." Jasmine mendatangi ayah asuhnya dengan wajah murung.


"Kenapa, Cantik?" Givan menyahuti dengan ramah.


"Aku berdarah." Jasmine langsung memeluk ayahnya dengan ketakutannya.


Ia tidak mengerti akan dirinya sendiri, hal itu terjadi tanpa sebab dan membuatnya takut. Ingin bertanya pada seseorang yang selalu menemaninya setiap hari pun, ia merasa takut disudutkan dan dituduh bersalah.


"Apa yang luka? Coba Ayah lihat." Pikir Givan, anak asuhnya memiliki luka menganga pada tubuhnya.

__ADS_1


Jasmine melepaskan pelukan ayah asuhnya. Kemudian, ia duduk di teras di samping ayahnya. Ia melirik tengah-tengah tubuhnya, kemudian menutupnya dengan telapak tangannya.


"Aku pipis dan udah ada darahnya, Yah. Aku tak tau kenapa, aku tak buat kesalahan. Aku tak jatuh dan tak ada yang berani pegang-pegang ini, Yah. Aku udah sesuai dengan pesan dari Ayah." Jasmine mengusapi air matanya, ketika mengutamakan kekalutannya selama satu jam belakangan.


Givan melirik tengah-tengah tubuh anak asuhnya. Kemudian, ia memperhatikan wajah Jasmine. Ia mencoba memahami hal yang terjadi pada anak usia empat belas tahun tersebut. Jarak usia antara Key, Jasmine dan Chandra hanya berselisih satu tahunan. Key lebih tua satu tahun dari Jasmine, Jasmine lebih tua satu tahun dari Chandra.


"Apa kencingnya sakit?" Givan berpikir, bahwa anaknya memiliki masalah dengan kandung kemihnya.


Jasmine menggeleng, ia menyembunyikan wajahnya pada lengan ayahnya dan terisak kembali.


"Ayah, aku takut." Suaranya bergetar diiringi tangisnya.


"Ohh...." Givan memahami kondisi Jasmine. Anak sulungnya dari perempuan lain pun, mengalami hal ini tiga tahun silam. Setiap bulan ia menanyakan pada Jasmine, rupanya bulan baru datang hari ini setelah usia anak tersebut empat belas tahun. Sempat terlintas ketakutannya, karena anak asuhnya tidak kunjung mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya. Ternyata, hal yang dinantikan datang tanpa pemberitahuan, membuat hati pemilik tubuh tersebut takut dan tidak mengerti keadaannya.


"Itu tandanya Jasmine udah baligh, dosa Jasmine udah dihitung sama Allah. Jadi anak yang baik ya? Yang sholehah, yang nurut sama orang tua. Nenek kakek, dato dan ma Nilam pun orang tua juga, Jasmine harus nurut sama mereka. Jasmine berdarah itu, namanya menstruasi. Jasmine libur sholat, libur mengaji selama menstruasi." Givan merangkul dan mengusap-usap lengan mungil anak yang seputih ibu kandungnya tersebut.


"Ayo ke biyung, kita tanya cara ngurus darah itu. Jasmine pun tanya ya, apa aja larangan dan hal yang boleh dilakukan selama menstruasi." Givan mengajak anak asuhnya untuk masuk ke rumahnya.


"Aku tak mau libur ngaji, Ayah. Nanti bacaan aku disusul adik-adik yang masih kecil."


Givan terkekeh kecil. "Tenang aja, kan boleh hafalan juga setau Ayah. Makanya, ayo tanya ke biyung." Givan tahu istrinya tengah bersolek di sore hari ini. Tujuan mereka pergi adalah pasar malam, Givan menjanjikan hal tersebut pada istrinya.


Tangis ketakutan Jasmine pecah kembali, saat menceritakan kejadian di mana ia pusing memikirkan keadaannya sendiri. Ia tidak berani bercerita pada Hala, pengasuhnya. Ia khawatir diberi pertanyaan yang tidak bisa ia jawab, lalu ia disalahkan.


Beruntung, karena ia melihat ayah asuhnya duduk di teras dengan memperhatikan adik-adiknya yang tengah bermain. Meski ia malu dan segan untuk bertanya, tapi ia tahu ayah asuhnya tidak akan mungkin menyalahkannya jika moodnya sedang bagus. Ia tahu, bahwa ayah asuhnya emosional. Namun, ia pun sudah amat percaya pada cinta keduanya tersebut. Karena cinta pertamanya, adalah ayah kandungnya yang sudah nyaman di surga.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2