
"Ngaco gimana sih, Vin?" Adinda bangkit dan bergerak untuk masuk ke dalam ruangan.
"Wajar, Mah. Abis dioperasi kan ngaco karena pengaruh bius." Givan menyikapi dengan santai dan memijat pelipisnya sendiri.
"Van, baiknya kau sini dulu deh. Dia manggil-manggil kau terus." Adinda kembali ke luar, kemudian menyerukan pada anaknya di ambang pintu ruangan.
Langkah Givan diiringi dengan helaan napas panjang. Ia begitu berat, untuk meladeni Ai meskipun Ai dalam kondisi belum pulih tersebut.
"A Givan, A Givan, A Givan...." Ai terus merintih dengan tubuh menggigilnya.
"Udah diberi obat pereda nyeri dari selang infusnya. Kalau dia udah mendingan, diminta untuk makan dan minum obat ini." Seorang perawat menunjukan sebuah makanan yang terbungkus rapi bernampankan piringan besar berbahan stainless steel.
"Oh, iya." Adinda mengangguk dengan menggandeng anak sulungnya untuk mendekat ke arah brankar Ai.
Pikir Adinda, umur tidak ada yang tahu. Mungkin, Ai ingin menyampaikan permintaan maaf pada Givan.
"Gimana?" tanya Givan ringkas.
"A...." Ai melirik ke arah Givan.
"Apa?" Givan terlihat malas untuk meladeni Ai.
"A, bisa kan kita sama-sama?"
Givan muak dengan pertanyaan seperti itu. Namun, ia tidak ingin memperparah kondisi Ai. Ia hanya berbalik badan dan melangkah keluar dengan mengatakan, "Mah, aku pulang duluan."
Adinda tahu pasti jawaban anaknya. Ia yakin, Givan bukan ragu menjawab. Tapi, karena ia tidak ingin mengeluarkan kata-kata tajamnya.
"Ai, anak kau udah lahir. Dia ada di NICU." Adinda sama sekali tidak ingin memberitahukan tentang kakak kandung Ai yang akan datang ke sini. Ia ingin memberi sebuah kejutan kecil untuk Ai.
"Minta a Givan untuk adzani, Mah." Permintaan Ai cukup sederhana.
"Biar Ken yang urus dulu, Ai. Kau cepat pulih dulu." Adinda duduk di kursi yang Gavin ambilkan.
__ADS_1
Adinda hanya memperhatikan Ai yang masih menggigil, dengan keringat dinginnya udara begitu banjir. Ia tidak tahu ingin membantunya seperti apa, sedangkan dokter pun sudah memberikan obat pereda sakit untuk Ai.
"Ehh, Bangs*t! Belum balik juga kau?!" seru Ken, yang melihat Givan berlalu dari jauh.
Givan mundur beberapa langkah, lalu ia menoleh ke samping kiri. "Ini mau balik." Ia mendapati Kenandra di sana.
"Sampel darah bayi udah diambil, nanti ditransfer dari rumah sakit ini. Kau standby aja, nanti aku ada telpon dari pihak rumah sakit sana." Kenandra berjalan mendekati Givan.
"Nanti minta hasilnya jangan lama, Bang." Givan ingin cepat terungkap dan terselesaikan.
"Ya, nanti diusahakan. Yang kuat duitnya aja, aku pernah bilang ini tak sedikit dana." Kenandra sudah berada di hadapan Givan.
Givan mengangguk. "Aku balik dulu, Bang." Pikiran Givan sudah pada Canda saja. Ia khawatir Canda menantikan donat yang ia simpan di dalam mobilnya itu.
Ia tahu akan tabiat istrinya ketika ingin makanan, maka ia sudah tidak sabaran.
Tebakan Givan salah besar kali ini. Ketika ia sampai, malah Canda tidak berada di dalam rumah. Langkahnya berayun ke rumah ibu mertuanya, tidak ia dapati juga istrinya di sana. Bahkan, ibu mertuanya mengatakan tidak tahu ke mana Canda. Karena, ia baru bangun dari istirahat siangnya.
Givan sering melihat istrinya berada di dalam sana. Sayangnya, tebakannya salah lagi. Tidak ada Canda di sana, yang ada kini anak hasil rujuknya dengan Canda tengah minta ikut padanya.
"Kita harus panggil detektif U and I, Yah." Ra terus menggandeng tangan ayahnya yang bergerak menuju ke satu persatu rumah saudaranya, sampai satu persatu ke rumah anaknya.
Hingga lelah ia mencari, ia kembali masuk ke rumah dengan menunjukkan donat yang ia beli dalam jumlah banyak pada Ra. Canda tidak berada di mana-mana, begitupun di rumah orang tuanya. Memang ia tidak melihat ke dalam, tapi ia tidak melihat sandal istrinya berada di sana.
"Mana biyung kau, Ra?" Givan mencicipi salah satu donat berukuran kecil, yang memiliki toping kacang tersebut.
"Aku tak lihat, Yah." Ra bingung memilih topping donat yang ingin ia rasakan.
Givan menyimpan salah satu kotak donat itu ke dapur. Ia yakin, donat-donat itu akan habis diserbu anak-anaknya. Sepuluh kotak berisikan delapan buah donat, tentu tidak berarti karena ukurannya yang mini.
Givan mendengar suara laci nakas yang dibuka dan ditutup kembali. Ia kenal suara itu, karena laci nakas kamarnya sedikit macet karena memang usianya sudah cukup lama. Ia berniat untuk mengganti nakas baru, agar suara tidak nyaman dari laci itu tidak mengganggu tidur lagi, ketika dibuka. Karena beberapa perlengkapan elektronik milik Canda, seperti power bank, headset, headphone dan juga charger tersimpan di sana.
Namun, tiba-tiba ia berpikir siapa yang membuka laci itu? Di rumah ini tidak ada orang. Apa, itu pencuri yang sedang mencari harta benda? Karena jelas untuknya, asisten rumah tangganya tidak pernah diizinkan masuk ke dalam kamarnya. Kamarnya harus dibersihkan oleh Canda saja, tidak dengan orang asing. Kini, Givan mulai bertanya-tanya seorang diri dengan kakinya yang berjalan ke arah kamarnya.
__ADS_1
Harap-harap cemas, ia sedikit takut bahwa itu adalah hantu. Givan kecil, sering terkejut dengan rupa hantu.
"Astaghfirullah, Cendol!!!!! Aku kira siapa?! Aku cari kau ke mana-mana. Udah kek orang bodoh aku cari istri ke mana perginya." Givan melampiaskan kekesalannya dan bulir keringatnya yang terbuang sia-sia untuk mencari istrinya yang ternyata ada di kamarnya.
"Ke mana aja kau?" Givan membuka pintu kamarnya lebih lebar, lalu masuk ke dalam kamar.
"Abis BAB, tak dengar kalau Mas pulang. Tadi aku pakai ini sambil liiat Tiktok." Canda menunjukkan barang yang baru saja ia taruh. Sebuah headphone berwarna pink menyala, menjadi temannya di kamar mandi.
"Nih donatnya. Sini keluar." Givan hanya bisa istighfar melihat tingkah istrinya.
Givan mengambil kembali sekotak donat yang berada di dapur. Kemudian, ia melangkah ke depan untuk memanggil anak-anaknya untuk makan donat bersama.
Kerukunan dan gelak tawa terjadi. Sayangnya, lontaran pertanyaan Canda membuat mood Givan buruk kembali.
"Gimana keadaan Ai dan bayinya, Mas?" tanya Canda dengan menyentuh lengan suaminya.
Givan mendelik tajam. Dari sorot matanya, terlihat ia tidak suka dengan pertanyaan istrinya. Ia meninggalkan apapun yang berhubungan tentang Ai di rumah sakit, karena ia tidak suka terlibat dengan Ai. Bukan tanpa sebab, ia seperti itu pada Ai. Tapi karena ia muak, dengan Ai yang selalu tidak mau mengerti ketika diberi pengertian.
"Nanya lain aja." Givan mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku kepo."
Givan lupa dengan salah satu sifat bawaan lahir dari istrinya tersebut.
"Udah, Canda. Nanti pun akan dimusyawarahkan lagi. Apalagi sekarang Ai bersalin, hukuman dari desa pun bisa aja ada perubahan lagi." Suara ketus Givan ditekan serendah mungkin, agar tidak didengar oleh anak-anaknya. Ia tidak mau memberi ketegangan pada anak-anaknya yang tengah berbaur dengan keceriaan itu.
Canda terkejut dengan kabar tersebut. Bagaimana mungkin, Ai bersalin di usia kandungan enam bulan? Canda langsung berpikir bahwa Ai mengalami keguguran.
"Kok bisa sih, Mas?" tanya Canda cepat.
"Aku....
...****************...
__ADS_1