
"Motorhome?"
"Iya, camper van. Mobil rumah gitu, Canda. Bos travel temennya Ghifar ini, sewa lagi ke pemilik asli. Makanya butuh waktu tuh, katanya memang tak disewakan secara bebas. Jadi, kek cuma untuk koleksi pribadi aja. Tapi aku bilang nih, aku ada anak lahiran prematur. Jadi, ya diusahakan lah sama dia." Givan menceritakan sedikit hasil obrolannya di lobi hotel bersama teman Ghifar yang merupakan seorang pengusaha jasa travel.
"Berapa biayanya?"
Satu pertanyaan itu, yang kurang Givan suka. Bukan karena nilainya, tapi ia tahu istrinya pasti akhirnya akan merembet menghitung pengeluaran besar-besaran beberapa bulan belakangan.
"Udah ditransfer. Kata dokter, Cala aman aja kan dibawa perjalanan darat? Ya udah oke tuh, besok kita berangkat." Givan tidak memberitahukan biaya yang harus ia keluarkan.
"Apa udah penyebrangan?" Canda masih mengajukan pertanyaan sekitar biaya.
Givan mengangguk. "Udah semua, udah tol, udah bensin, udah isi stok makanan, udah uang makan sopir juga. Udah bayar dua sopir buat ganti-gantian, karena aku nanti minta perjalanan nonstop. Ya sesekali bolehlah singgah, mana tau kau mau beli oleh-oleh juga. Perkiraan, perjalanan katanya tujuh harian termasuk penyebrangan juga." Givan akan mengukir hal ini sebagai perjuangannya untuk bisa membawa anak bungsunya dan istrinya berkumpul kembali bersama anak-anaknya dan keluarga besarnya.
Ia yakin, meskipun kendaraan tersebut akan terasa nyaman. Tapi, tetap saja ia tidak bebas bergerak seperti pada rumah yang sebenarnya.
"Memang cukup untuk stok makan tujuh hari?"
Givan langsung mengedikan bahunya. "Kurang tinggal beli, kita tak di tengah laut. Kita cuma dalam perjalanan darat aja, kita bisa minta supir untuk berhenti sejenak. Tapi pasti ada berhentinya untuk isi bahan bakar, atau isi air."
"Yey, kumpul sama saudara-saudara Cala deh nantinya. Cala jangan rewel di jalan ya?" Canda mengusap-usap pipi anaknya yang terlihat sudah terlihat seperti bakpao.
Anak itu sering merespon dengan membentuk mulutnya seperti huruf O, atau memanyunkan bibirnya. Rambutnya yang semakin lebat, belum juga dicukur karena Canda mengikuti aturan empat puluh hari pembersihan rambu dan kuku.
"Sering melek ya jadinya? Tak tidur terus kek waktu baru-baru." Givan mencolek-colek pinggiran bibi anaknya.
Cala langsung bereaksi seperti naga yang tengah mengejar bola api. Cala mengira, itu adalah ASI untuknya.
"ASI bekunya nanti dipindahkan, Mas. Ada kulkas kan?"
__ADS_1
Givan lekas mengangguk, pernyataan teman Ghifar yang mengatakan kendaraan tersebut serupa dengan apartemen mini, membuat Givan yakin bahwa fasilitas seperti kulkas pasti ada di dalam sana.
"Calandra, Calandra.... Demi dirimu, Nak. Sehat-sehat ya?" Givan menciumi anaknya.
Cala tidak menyukai hal itu. Anak bungsu itu, langsung mengeluarkan suara khas tangisnya ketika tertusuk dengan kumis ayahnya. Cala selalu menangis, ketika diciumi oleh ayahnya. Padahal menurut Givan, ia menciumi Cala dengan pelan. Kumisnya pun, sudah tidak terasa menusuk lagi. Tapi beda yang dirasakan anak bayi itu, kulitnya yang masih sensitif merasa tidak nyaman ketika berbenturan dengan bekas cukuran ayahnya.
Givan tidak mempersalahkan ratusan jutanya dikeluarkan untuk perjalanan tujuh hari tersebut. Ia bukan pemilik kendaraan tersebut, wajar harganya mahal karena ia hanya menikmati dan memakai saja, tidak merawat atau membuatnya juga.
Ia pun tidak menghiraukan miliaran nilai, yang harus ia keluarkan untuk administrasi rumah sakit Canda selama empat puluh satu hari Canda berada di sana. Ditambah lagi, dengan biaya perawatannya dan biaya Cala selama sepuluh hari di ruangan bayi. Meski di awal, biaya administrasi Cala sudah dicover oleh Ghifar. Namun, tetap saja nilainya semakin bertambah karena Cala tak kunjung dijemput meski perawat mengatakan Cala sudah boleh diurus oleh keluarga.
Sepanjang hidupnya, Givan baru merasakan begitu cepatnya menghabiskan uang. Ia sering mengeluarkan nilai, bahkan sampai miliaran. Tetapi, nilai itu jelas akan kembali karena nilai yang ia keluarkan pun ditujukan untuk membangun sebuah perusahaan.
Ia tidak menginginkan uangnya kembali. Ia sudah bersyukur istrinya selamat dari kista yang mengancam nyawa istrinya itu, ia pun bersyukur karena anak bungsunya lahir ke dunia ini dengan selamat dan sempurna.
"Cala tuh udah bermasalah sama Mas dari kemarin, gara-gara Mas rebut ASI dia." Canda melirik suaminya dengan menahan tawanya.
"Tak tau Yayah, Nak." Givan mencubit pelan pipi anaknya.
"Kau udah kek kak Ra, Dek." Givan merundukkan lagi kepalanya untuk bisa mencium anaknya.
"Udah tuh!" Canda menahan suaminya. "Risih dia nanti! Rewel lagi nanti!" Canda tidak ingin anaknya sering menangis kesal.
Givan terkekeh. Ia menuntaskan kegemasannya pada istrinya, ia menciumi istrinya berulang kali dan bertubi-tubi.
"Gimana ya kabar di sana?" Canda masih teringat tentang kabar buruk ayah mertuanya dari ibunya.
Anehnya lagi, ibunya pun tidak membuka permasalahan yang ada di rumah. Ibu kandung Canda hanya mengatakan, bahwa di rumah sekarang sudah baik-baik saja dan ayah mertuanya sudah pergi ke ladang lagi seperti biasa.
"Kita lihat nanti deh, Canda. Orang rumah pada nutup-nutupin, Awang juga loh." Givan pun sampai menghubungi Awang, karena keluarganya bungkam untuk bercerita.
__ADS_1
"Jadi makin penasaran, Bang. Kalau kita tak pulang tuh, tak bakal sampai ke episode itu. Ini lagi kejar episode, biar sampai ke episode itu."
Givan hanya terkekeh merespon ucapan istrinya.
"Yuk, istirahat dulu." Givan mengajak istrinya untuk berbaring di ranjang hotel.
"Oke, aku mau tidur. Nih, Cala dari tadi melek aja. Dia tak mau bobo siang keknya." Canda memberikan anaknya pada suaminya.
Givan hanya menghela napasnya. Ia yang ingin istirahat, istrinya malah yang ingin tidur duluan.
"Harus sayang sama Ayah loh besar nanti, Dek. Tengok, begitu berjasanya Ayah di siang dan malam hatimu ketika Biyungmu ngebo," sindir Givan mengarah pada istrinya.
Canda tidak merespon, ia hanya tertawa lepas dengan menggulingkan tubuhnya di tempat tidur. Canda tidak merasa tidak enak hati, karena Givan adalah suaminya sendiri.
Kebiasaan seperti itu pun, berangsur selama tujuh hari dalam perjalanan. Bukannya ibu yang memiliki bayi yang memiliki kantung mata tebal, tapi ayah sang bayi yang memiliki kantung mata tebal dan hitam.
Pagi-pagi buta, Givan meminta supir kendaraan van tersebut untuk memarkirkan kendaraannya di halaman rumah orang tuanya. Sambutan hangat Adinda berikan, dengan Adi yang langsung meminta menantu kesayangannya untuk beristirahat saja di kamarnya.
Kenapa di kamar orang tuanya? Givan bertanya-tanya dalam hati, karena ia pun memiliki kamar khusus di rumah orang tuanya. Bahkan, beberapa barang dan pakaian mereka pun berada di sana. Bukan tanpa alasan, karena Canda sering main sampai larut sore dan memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian di situ.
"Pah, tadi Mas Givan biarin aku melek sendirian dari jam tigaan," adu Canda dengan bibir yang manyun.
"Dari jam sepuluh sampai jam tiga, memang anak kau sama siapa??!" Rasanya, Givan ingin memukuli part belakang istrinya sampai memerah.
Canda hanya terkekeh, kemudian ikut masuk ke kamar orang tuanya ketika bayinya diambil alih oleh Adinda. Givan kembali ke luar, ia meminta para sopir itu untuk beristirahat saja. Meski mereka mengatakan akan langsung putar kepala, tapi Givan merasa tidak enak hati karena tahu dua sopir itu pasti kelelahan.
"Istirahatlah dulu, Dek. Masa Subuh masih setengah jam lagi, kau pasti ngantuk." Adi meminta menantunya untuk menikmati ranjangnya.
"Makasih, Papah." Tanpa malu, Canda langsung berguling ke ranjang mertuanya.
__ADS_1
Adinda langsung geleng-geleng, dengan mengamati wajah cucunya yang sudah sangat berubah drastis. Kulit yang selalu merah itu, sudah terlihat cerah dan segar. Bagi itu benar-benar terlihat sehat, dengan ukuran yang sudah dua kali lipat dari sebelumnya. Cala tumbuh dengan cepat, karena ia begitu aktif menikmati ASI eksklusifnya.
...****************...