Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM92. Email masuk


__ADS_3

Givan masih terbayang-bayang saja, dengan sepenggal pertanyaan yang Putri emailkan pada mangge Yusuf.


Ia tahu, bahwa Putri adalah jenis manusia yang tidak bisa ditebak. Putri akan sangat berbeda, dengan air mata buayanya.


"Mas.... Kram perut!" seru Canda terdengar lamat-lamat di telinganya, karena ia berada di ruang tamu.


Secepat kilat, Givan langsung berlari ke arah kamarnya. Ia tidak mau Canda merasakan rasa tidak nyaman itu dalam waktu yang lama.


"Jangan kelamaan duduk, Canda!" Givan mengambil sebuah kain dari dalam lemarinya.


Sayangnya, keadaan perut Canda yang belum cukup cembung. Membuat Givan bingung ingin seperti apa menolong Canda. Padahal, Canda masih dalam trimester pertama. Tapi, sudah merasakan kram perut.


Canda masih meringis, dengan mengusap-usap perut kecilnya.


"Gimana ini?" Givan sudah berada di hadapan Canda, sayangnya ia bingung untuk menolong Canda.


"Searching, Mas," usul Canda yang langsung disambut dengan tindakan Givan.


Ia meraih ponsel Canda, lalu mengetikan sesuatu apa yang ingin ia ketahui.


Givan mulai membaca. "Coba duduk, berbaring dan lebih sering berganti posisi. Berendam di air hangat. Coba lakukan gerakan-gerakan relaksasi. Kompres hangat di area kram, atau gunakan botol yang diisi air hangat yang dibungkus handuk bersih. Pastikan ibu hamil minum cairan yang cukup. Jika kram tidak juga hilang disertai sakit pada perut bawah, pendarahan, dan kram menyebar ke leher dan bahu, baiknya segera cek ke dokter untuk penanganan lebih lanjut." Ia bingung untuk memilih opsi yang mana.


"Bantu rebahan aja yuk, Mas." Canda mengganduli lengan suaminya, agar dirinya bisa bangkit dan berjalan menuju ranjang.


"Sini, Canda. Terus aku mau ambilkan kompres buat kau ya? Kau jangan stress coba! Main HP jangan lihat yang bukan-bukan." Givan mengeluarkan otot tenaganya, untuk menyangga Canda agar tidak terjatuh.


Ia langsung menyegerakan untuk mengambil air hangat, begitu Canda sudah nyaman dalam posisi berbaring. Dengan telaten, ia mengurus Canda tiada mengeluh.

__ADS_1


Ia memikirkan bagaimana jika hadir Putri, dengan kelemahan kondisi istrinya ini. Memberikan Jasmine untuk menyelesaikan masalahnya dengan Putri, jelas tak akan ia ambil. Jasmine sudah diamanatkan untuk tetap bersamanya, dengan pola asuh dan didikan darinya. Jadi, tidak mungkin jika ia harus mengembalikan Jasmine pada ibunya.


"Besok kita cek up lagi ya? Kau cerita, kalau kau ada kram perut." Givan menyeka keringat yang berada di pelipis istrinya.


Canda hanya mengangguk, karena ia masih menikmati serangan otot yang datang tiba-tiba tersebut. ia belum mendapatkan kenyamanan dari usaha yang Givan lakukan.


"Kau mau minum, Canda?" Givan memerhatikan kondisi istrinya dengan seksama.


"Tak, Mas." Pikirannya berkelana, teringat akan artikel yang suaminya bacakan sekilas tersebut.


"Aku kenapa-napa tak ya, Mas?" Sorot matanya langsung mengarah pada netra hitam pekat suaminya.


"Tak, Canda. Kau kan sering kram perut, karena lama duduk, atau lama dalam posisi tertentu." Givan mengusap-usap perut Canda.


"Takut, Mas." Canda langsung merengkuh leher suaminya dan menariknya untuk ia peluk.


Isakan lemahnya terdengar, Canda mengeluarkan rasa cengengnya dengan bulir kelemahannya. Ketakutan yang berlebihan, menghantarkan kegelisahan dalam wujud tak menentu. Canda butuh kalimat penenang, atau seseorang yang berubah menjadi pelawak.


"Jangan takut-takut lah. Kita berdoa, semoga anak-anak kita sempurna dan sehat wal'afiat." Givan melepaskan pelukan tangan istrinya dari lehernya. Kemudian, ia berbaring menyamping tepat di samping istrinya.


"Ayahnya kan ada jejak mabuk alkohol juga. Jadi, aku takut bayi kita kena FAS juga." Canda bersembunyi dalam ketiak suaminya.


"Maaf ya, Canda? Nanti kita ikut pemeriksaan juga, biar hati kau tak was-was terus." Usapan Givan menghantarkan sedikit ketenangan.


Canda mengangguk samar. "Mas harus berubah, demi aku dan demi anak-anak kita." Canda memiliki ketakutan, bahwa suaminya akan kembali balas dendam.


"Pasti, Canda. Aku tak bakal nyentuh alkohol lagi, aku janji dan aku usahakan itu. Aku tak mau nyesal lagi, aku tak ingin kerumitan dagang lagi." Givan setengah melamun, karena teringat akan Putri yang mengirimkan email pada mangge Yusuf.

__ADS_1


"Van.... Canda...."


"Ish.... Ke mana orang? Kok sepi betul rumah? Tapi pintunya buka."


Suara mangge Yusuf seperti menggema di rumah tersebut. Ia sudah masuk ke dalam rumah, dengan mencari pemilik rumah.


"Ya, Mangge. Aku di kamar, bentar." Givan mencoba bangkit dari posisinya.


"Aku ke mangge dulu, Canda."


Canda hanya mengangguk, membiarkan suaminya meninggalkannya di kamar. Lamunannya semakin menjadi, meski kram dalam perutnya sudah berangsur membaik.


"Gimana, Mangge?" Givan mengajak orang tua tersebut untuk menikmati empuknya sofa tamunya.


"Putri balas. Nih, baca sendiri." Mangge Yusuf memberikan ponselnya dengan layar menyala.


Givan segera melihat isi email tersebut. "Udah, Mangge. Satu Minggu yang lalu. Apa masih tinggal di Aceh? Aku pengen nengok Jasmine, kalau diizinkan." Givan membaca email teks tersebut dalam suara pelan.


"Duh, Mangge tak tenang. Mangge takut, Van. Lendra aja kalah otak sama Putri, kalah taktik. Mangge jadi ingat cerita Canda, tentang Putri ngaku Lendra alasan aja untuk mundurkan pernikahan mereka. Nyatanya kan, Lendra diminta pergi dan datang kembali dengan nilai panai yang udah ditentukan. Banyak lagi lah beberapa cerita dari Lendra juga, yang masih Mangge ingat sampai sekarang. Bukan tandingan kita dia ini. Dia kalah, dia akan membalas hal yang sama sampai mampu mengalahkan. Apalagi, jelas udah tak ada Lendra di sini. Mamah Dinda pun udah menua, lawan permainan anak muda, Mangge takut malah kita nanti kalah telak. Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa, penjara dibalas penjara. Jangan kira, dia bakal berubah. Tak ada sejarahnya, selesai permasalahan dan jadi impas. Bisa jadi, ini berlanjut sampai ke anak cucu." Mangge Yusuf memberikan sedikit gambaran tentang pola kejadian yang ia perhatikan dari beberapa sifat orang terdekatnya yang berasal dari daerah yang sama.


"Terus aku harus gimana, Mangge? Aku takut malah Canda atau anak-anak aku yang dijadikan mainan Putri." Givan pun mengerti, bagaimana Putri dalam bertindak.


"Kita harus pandai ngomong juga, Van. Kita harus bisa lebih matang, dari rencana-rencana yang Putri udah susun. Masalah Canda dan anak-anak kau, Mangge pasti jaga semampu Mangge. Khawatirnya, malah dirusak pemikirannya dan mentalnya. Liciknya Putri ini, tidak bisa ditebak. Mungkin dia kembali, dengan hukum-hukum yang bakal dia tarik. Atau, dia kembali dengan bawa cerita-cerita yang mungkin merusak mental kami semua. Banyak hal yang menjadi mungkin, banyak hal juga yang tidak bisa disangkakan."


Givan menambah gentar saja, mendengar cerita dari mangge. Ia harus tenang, agar mampu berpikir cerdas dan matang. Ia tidak boleh gegabah, apalagi ceroboh dalam hal ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2