Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM72. Bus AC patas


__ADS_3

"Ai masih lemah. Pusing Mamah juga, menantu bukan, kerabat bukan, orang yang berjasa pun bukan, tapi nangkring di sini. Bingung kalau cucu pada main, mereka nanya dan Mamah bingung jawab dia siapa." Adinda melamun pusing.


"Suruh balik lah, Mah. Dia kan udah dikasih tempat gratis." Givan menutup pintu samping, agar Ai tidak mendengar perbincangan mereka.


"Ya kau cepatlah selesaikan masalahnya! Mamah malah pengen dia cepet pergi dari kampung ini." Adinda kurang nyaman dengan seseorang tersebut. Karena pandangannya sekarang berbeda, pada wanita pilihan Givan dulu itu, dengan Ai yang sekarang.


Ia teringat akan Ai yang begitu pemalu, bahkan ketika ia menawari barang seperti tas dan pakaian baru, Ai menolak lembut. Tapi Ai yang sekarang, malah tidak tahu malu memintanya uang dengan berbagai alasan.


Berbeda dengan Canda, yang di awal mendapat kesan receh untuk Adinda. Karena anak tersebut tidak sungkan, belum lagi sering memperhatikannya yang membuatnya risih. Namun, kini Canda menjadi menantu yang ia anggap seperti anak sendiri. Canda sudah seperti humornya dan teman curhatnya.


"Harus gimana aku, Mah?" Givan menekan suaranya. "Canda sekarang tak mau aku dipenjara. Karena bahas itu, semalam kaki aku diikat ke kakinya, biar aku tak pergi." Ia menggeleng lesu.


Adinda terkekeh kecil. "Terus pipis malamnya gimana?" Ia membayangkan anak dan menantunya terbangun, ketika salah satunya bergerak.


"Ya sebelum tidur itu, gantian pipis. Dipaksa sama dianya, suruh pipis, biar malam tak pipis katanya. Terus naik ke ranjang, langsung ikat kaki aku ke kakinya pakai dasi." Givan masih teringat akan tingkah istrinya semalam.


Tawa Adinda mengeras kembali, karena membayangkan Canda tawa memaksa agar suaminya mau diikat kakinya. Dengan Givan yang berisik saja, karena ia tahu anaknya cukup bawel dan galak pada istrinya sendiri.


"Mamah aja ketawa aja, apalagi aku yang jadi korban semalam. Sampai aku tak tidur-tidur, nyimak email pun di atas ranjang sambil ngelonin dia. Kalau lagi hamil tuh, kek bukan Canda tuh. Makin aneh aja tingkahnya, pola pikirnya, manjanya beribu kali lipat." Givan sudah memahami istrinya yang selalu aneh ketika sedang hamil, tapi tetap ia tidak bisa menebak sifat aneh Canda selanjutnya.


"Oh, kau jadi ketawa juga?" Adinda melirik anaknya dengan mereda tawanya.


"Ya iyalah," jawab Givan cepat. Adinda tertawa lepas kembali, melihat wajah anaknya yang berubah-ubah tersebut.

__ADS_1


"Melongo aja aku, ketawa lagi. Sampai dibekap mulut aku, saking kesalnya dia." Givan membaurkan tawanya juga akhirnya.


Tawa mereka bersahutan, karena membahas tingkah Canda yang tidak ada habisnya bermain drama.


Jauh dari provinsi tersebut, Ria tengah mengerutkan bibirnya ketika Kenandra memaksa agar ia ikut pulang ke Cirebon.


"Bang! Kemarin aja aku dipandang sinis sama mantan istri Abang! Gimana nanti kalau kita jemput Bunga di rumahnya?!" Ria sudah membayangkan ketika dirinya diberi ucapan tidak mengenakan oleh mantan istri Kenandra. Kemarin saja, Riska begitu berani memperhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai kepala. Pasti ketika mereka bertemu kembali, akan lebih dari itu.


"Kan kau bisa di abi dulu." Kenandra menarik nama ayah kandungnya yang menetap di Cirebon bersama ibu sambungnya.


"Kan tetap aja, aku tak nyaman di lingkungan yang bukan saudara aku." Ria berpura-pura menangis lepas.


"Udah coba, Ria! Tinggal nurut!" Kenandra menarik kopernya dan koper milik Ria.


Kenandra cek out di hotel tersebut. Nilai yang tidak sedikit, tidak menjadi masalah untuk seorang laki-laki pemilik rumah sakit swasta tersebut. Mereka bergegas, karena jadwal kereta api sudah mepet dengan perjalanan mereka.


Naas, usaha mereka untuk cepat sampai ke stasiun kereta api sia-sia sudah. Kereta api yang akan membawa mereka pergi ke Cirebon, sudah berangkat sekitar tujuh menit yang lalu. Kini, Kenandra dan Ria hanya bisa saling memandang dan terduduk lesu di bangku stasiun kereta api daerah itu.


"Jangan ajak aku naik bus, Bang. Aku mabuk mobil umum." Ria meninggikan bibir bawahnya, dengan isakan palsunya.


Mau tidak mau, Kenandra harus mengambil jalan pintas tersebut. "Abang udah cek tiket kereta selanjut, tapi pasti Abang telat untuk sidang pengukuhan hak asuh Bunga." Kenandra melirik jam tangan mahalnya.


"Mau tak mau, Dek. Abang carikan yang full AC ya? Yang patas gitu, yang tak berhenti-henti sampai tempat tujuan." Kenandra mencoba mencarikan jalan keluar terbaik.

__ADS_1


"Aku tak mau, Bang." Ria menggeleng berulang dengan menutupi wajahnya.


"Udah, tak apa. Lain kok kalau bus AC yang patas itu, keknya tak bakal mabuk deh. Soalnya kalau pesan mobil bus yang bisa buat tiduran juga itu, ya pesannya harus jauh-jauh hari juga." Kenandra bangkit dan menarik tangan Ria.


Ria merengek mogok. "Aduh, Bang. Tak mau, Bang. Biar aku nunggu di stasiun aja, nunggu kereta api selanjutnya. Kan aku tak masalah tak ikut sidang Abang juga, yang penting sampai ke Cirebon kan?" Ria menahan part belakangnya agar tetap menempel di bangku tersebut.


"Aku tak bakal izinkan, Ria! Aku tak mau keluarga sendiri tak percaya lagi sama aku, karena aku tak amanat." Ia cukup trauma dengan kasus perceraian Ghifar dengan istrinya dulu, karena penyebabnya adalah dirinya.


"Duh, ya ampun." Ria begitu berat melangkah mengikuti tarikan tangan Kenandra.


Karena bau macam-macam keringat yang bercampur di bus AC tersebut. Baru juga mobil berjalan lima belas menit, Ria susah menumpahkan isi perutnya ke dalam plastik yang sengaja ia sediakan sendiri. Ia sudah memiliki feeling, bahwa dirinya akan selemah ini.


"Ya ampun, Dek." Kenandra langsung memijat tengkuk Ria. "Ada-ada aja sih."


Ia begitu telaten mengurus Ria yang mabuk kendaraan tersebut. Sampai-sampai, Ria menangis lirih dan memeluk tubuh gagah atletis tersebut. Ia merasa begitu tersiksa, berada di dalam kendaraan umum seperti ini.


Jika angkutan kota, Ria masih bisa toleransi dan harus duduk di dekat pintu. Rasa mualnya akan samar dengan terpaan angin. Jika dalam tempat yang tertutup seperti ini, Ria merasa benar-benar seperti akan dibunuh dengan perlahan.


"Masih lama tak, Bang?" Ria lebih suka menyesapi aroma khas tubuh Kenandra, daripada bau keringat yang bercampur dengan terpaan AC tersebut.


"Tidur aja sok, daripada mabuk." Kenandra begitu hangat memeluk Ria. Ia pun memberikan rasa nyaman, dengan mengusap-usap punggung Ria.


Dengan tidak sadar. Mulai hari ini, Ria begitu kecanduan dengan aroma tubuh Kenandra yang menenangkannya tersebut. Ia tidak menyadari, jika perasaannya mulai terhanyut oleh perlakuan Kenandra.

__ADS_1


Bagaimana kelanjutan cerita mereka?


...****************...


__ADS_2