
Givan berpikir bahwa ia akan diminta untuk diambil sampel darah dan rambutnya, guna keperluan tes DNA yang akan dicocokkan dengan anak Ai. Givan tidak mengerti, jika sampel darah dan rambutnya akan diambil di rumah sakit tempat tes DNA itu dilangsungkan. Bukan di rumah sakit tempat Ai bersalin secara sesar.
Kini, ia hanya diminta untuk membantu ibunya menjelaskan pada kakak kandung Ai yang tersambung lewat telepon. Jika tahu ia akan dilibatkan dengan keluarga Ai, ia akan langsung memilih pulang pada istrinya. Ia tidak ingin membuang waktunya, untuk berbicara dengan seseorang yang sudah membuatnya tersungkur itu. Hanya untuk hal ini saja, Givan merasa merugi karena ingkar dari perintah istrinya. Canda ingin suaminya langsung pulang, bukan mampir ke rumah sakit begini.
"Iya, betul. Apa ada nomor telepon WA? Barangkali tak percaya betul, Saya bisa menyambungkan panggilan video."
Givan hanya mendengarkan ibunya yang tengah berbicara dengan ponsel tersebut. Jika tangannya tidak dicekali ibunya, ia ingin segera pergi dari sini secepatnya.
"Ada, Bu. Punya anak Saya, nanti Saya telepon Ibu di nomor telepon Ibu yang ini kan?" balas Awang, kakak kandung Ai dari panggilan telepon biasa.
"Iya, betul. Baik, Saya tunggu." Adinda mematikan panggilan teleponnya.
Menunggu beberapa saat, dengan perhatian mereka yang tertuju ke arah lampu ruang operasi yang masih menyala. Kenandra tidak mengerti, kenapa operasi yang dilakukan Ai begitu lama? Meskipun ia seorang dokter profesional, tapi ia tidak memiliki kuasa untuk langsung membantu pekerjaan para medis di sini tanpa permintaan dari pihak mereka.
"Nih, nomornya ini kah ya?" Adinda memperhatikan layar ponselnya yang terdapat panggilan video masuk.
__ADS_1
"Iya kali, Mah." Gavin terlihat melongok ke arah layar, sedangkan Givan terlihat seperti tidak peduli.
Adinda langsung menerima panggilan video tersebut, kemudian mengarahkannya ke wajahnya sendiri. Sapaan sopan langsung terdengar, sayangnya Awang tidak mengenali seorang lansia yang masih terlihat muda tersebut.
"Mana Ainya, Bu? Saya kurang percaya dengan cerita Ibu, karena gak ada Ai di sana." Awang mengungkapkan akan keraguannya.
"Ainya masih di operasi. Mungkin Anda kenal putra Saya yang tadi Saya ceritakan." Adinda menghadapkan layar ponselnya ke wajah Givan.
Givan tidak tertarik sedikitpun untuk melihat wajah yang pernah menyepelekannya itu. Ia membuang pandangannya ke arah lain, ketika kakak kandung Ai tengah mengamatinya. Apalagi jelas, Givan tidak banyak berubah dari terakhir mereka bertemu dengan situasi yang kurang baik.
"Givan???" Awang masih tidak percaya, dirinya melihat jelas wajah mantan kekasih Ai yang memancing keributan di rumah orang tuanya dulu.
"Yap, betul. Saya sudah ceritakan secara jelas, baiknya Anda ke sini saja. Saya kirimkan alamat, bila perlu ongkosnya juga, jika memang tidak memiliki. Ada beberapa bukti yang akan menjelaskan secara rinci bagaimana permasalahan yang terjadi, jika cerita dari Saya, Anda kita masih kurang meyakinkan." Pembawaan Adinda yang cukup serius dan sopan, membuat Awang yang seumuran putra sulungnya itu sangat menghargai penjelasan Adinda.
"Maaf ya, Bu? Bukan Saya tidak percaya, hanya saja kenapa Ai bisa sampai di Aceh sana?" Awang tidak mengerti, kenapa adiknya sampai mencari Givan ke Aceh jika kondisi kehamilannya bukan dikarenakan karena Givan.
__ADS_1
Logika dan akal pikirannya sebagai seorang laki-laki bermain. Ia paham dan mengerti semua cerita versi lengkap yang Adinda ceritakan tersebut. Namun, kenapa Givan yang Ai cari. Itu menjadi pertanyaannya sekarang.
Ia pun sering mendapat kabar burung, bahkan bukti foto Ai yang berpakaian seksi sudah ia ketahui juga. Jadi, saat ia mendengar bahwa Ai adalah seorang LC dan menjajakan dirinya seperti pada cerita Adinda. Awang tidak begitu terkejut, karena sebelumnya ia samar mengetahui profesi adiknya yang nekat pergi dari rumah itu.
Apalagi, Adinda pun menceritakan cerita dengan lengkap. Tentang Ai yang menerima bayaran dari laki-laki selain Givan, untuk jasa yang Ai lakukan dalam keadaan tidak sadar itu. Ada beberapa pelaku lain, yang mungkin lebih kenyang menikmati Ai dan jarak tinggalnya tidak sejauh Givan. Ini yang membuat Awang bertanya-tanya sejak tadi.
"Biar dijelaskan di sini ya? Biar kalau ada yang kurang rasional, kita tanyakan juga ke yang bersangkutan. Baik Givan, maupun Ai. Sekarang, Anda bersedia tidak untuk datang? Kalau memang tidak bersedia atau punya kesibukan yang tak bisa ditinggal, Saya yang akan antar Ai ke sana setelah masa hukumannya." Tak lupa, Adinda pun menceritakan tentang Ai yang terkena hukum syariat di kampungnya.
"Saya ke sana sekarang, Bu. Saya minta alamat jelasnya aja, biar sampai di tujuan," jawab Awang dengan cepat.
"Oke, nanti Saya kirimkan alamat lengkapnya. Kalau bisa, naik pesawat aja untuk memangkas waktu tempuh. Transparan aja, kalau memang berat di ongkos. Saya akan bantu ongkos dari sini, dengan catatan tolong adiknya diurus dengan baik. Karena terang saja, Saya tidak mampu mengurus orang lain di usia Saya sekarang. Kalau Anda berniat dayang dengan istri pun, Saya tidak keberatan untuk menambahkan untuk ongkosnya. Sampai Saya berani menelpon dan menghubungi seperti ini, karena Saya berpikir agar masalah ini cepat diselesaikan dengan Ai pun selamat kembali pada keluarganya. Saya memikirkan Ai pasti balik lagi ke pekerjaannya, semisal ia lepas bersalin. Lalu, Saya mengkhawatirkan ia kembali mengacaukan rumah tangga anak dan menantu Saya. Jika sudah kembali ke tangan keluarganya, agak sedikit tenang karena Ai pun ada yang mengarahkan hidupnya. Sebenarnya kasian loh Saya ini sama dia, kalau tak kasian Saya tak mungkin datang ke rumah sakit dan menelpon Anda begini. Biar saja Ai kerepotan sendiri dan kesakitan sendiri, kalau memang Saya tak bisa memanusiakan Ai. Perempuan manapun pasti ingin dimuliakan, tanpa berpakaian terbuka." Adinda mengingat sendiri perlakuannya pada menantu sulungnya yang pernah berganti. Meskipun dirinya setiap kali berdebat dengan Nadya, tapi ia tetap membantu menguruskan anak Nadya dan diri Nadya. Rasa kemanusiaannya tidak tega, melihat Nadya merintih kesakitan karena luka bekas operasi sesarnya yang terbuka.
"Saya pun tak pernah mengizinkan kalau tau Ai pergi untuk bekerja seperti itu, Bu. Dia ini pergi dari rumah, tanpa izin dan tanpa pamit. Hanya cerita beberapa tetangga, yang memberitakan bahwa Ai menjadi perempuan nakal dengan bukti foto-fotonya di sosial media. Saya tidak tau apa-apa, jika tidak ada yang memberitahukan. Karena akses sosial media dan nomor telepon kami sekeluarga diblokir Ai, tanpa alasan yang jelas. Saya pun kurang mengerti salah apa yang kami perbuat, sampai Ai tiba-tiba pergi dari rumah. Padahal, sebelumnya kami hidup berdampingan dengan baik." Awang menceritakan sepenggal kisah tentang Ai, yang tidak mereka ketahui sama sekali.
"Baiknya kita obrolkan di sini saja ya? Saya kirimkan alamat rumah. Transparan aja, misalkan memang terpentok di dana ongkos. Saya bantu dari sini, kita sama-sama aja untuk kebaikan kita bersama." Adinda mencoba membuat Awang agar tidak sungkan padanya.
__ADS_1
Menurutnya, Awang tidak serupa dengan Ai. Namun, itu hanya penilaian awal saja. Adinda tidak tahu pasti, bagian tabiat keluarga Ai. Tapi, ia tetap waspada dan berhati-hati dalam menebar kebaikan dan mencari jalan keluar bersama.
...****************...