Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM248. Menyembunyikan dari Canda


__ADS_3

"Kenapa bang Kennya, Mas?" Canda menghampiri Givan yang berpindah tempat ke ruangan kerjanya ketika menelpon.


Givan menggeleng. "Tak apa, Canda." Ia tersenyum pada istrinya.


Givan tidak memberitahukan, bahwa adiknya Canda dan kakak angkatnya kembali menghubunginya untuk meminta izin untuk menikah. Givan tidak mau istrinya tahu lebih dulu, Givan tidak mau istrinya menjadi banyak beban pikiran karena hal itu.


"Aku mau keluar dulu ya?" Givan sebenarnya tahu, ia akan mendapat tangisan Canda jika pergi malam ini. Tapi ia tidak memiliki alasan untuk pergi dan menemui ibu mertuanya.


"Kangen kah sama Ai?" Canda tersenyum getir dengan duduk di dekat sofa kerja yang suaminya duduki.


"Kok Ai? Mau ada perlu sedikit di material gitu." Sebenarnya Givan bisa menunda hal itu esok pagi. Tapi, ia berniat sekalian berkunjung ke ibu mertuanya.


Canda berprasangka jika suaminya ingin menemui Ai yang tinggal sementara di rumah mertuanya. Ia berpikir suaminya ingin datang ke rumah orang tuanya, tapi akhirnya nanti bertemu Ai di sana.


"Berapa jam pergi? Lima jam? Tiga jam?" Canda tahu, jika menyangkut pekerjaan suaminya pasti akan pulang dini hari.


"Tak, Canda. Paling lama dua jam ya? Ini kan baru lepas Maghrib juga. Jam delapan atau paling telat jam sembilan aku pulang." Givan tersenyum lebar.


Canda mengangguk, ia tidak mau menghambat rezeki yang akan sampai ke tangan suaminya. "Ya, Mas. Jangan lama-lama, aku mau kangen-kangenan." Canda memainkan jemari suaminya.


"Oke, oke. Nanti aku singgah ke minimarket atau ke apotek, untuk beli sarung deh. Kasian, istriku udah gatal." Givan merangkul istrinya.


Canda terkekeh malu. "Kenapa Mas makin ke sini, makin kuat nahan? Pas itu, cuma aku yang minta, Mas kebawa suasana. Udah tak penasaran kah? Udah tak butuh kah?"


Bukannya tersinggung, Givan merasa pertanyaan istrinya begitu menyakitkan. "Aku takut kau kenapa-kenapa, Cendol!" Givan meraup wajah istrinya. "Bisa aja aku tekan langsung masuk. Tapi aku tak mau kau kenapa-kenapa, aku kapok buat kau kenapa-kenapa karena melahirkan." Berakhir Givan merangkul pundak istrinya.


Ia membawa Canda bangkit, kemudian berjalan ke luar ruangan kerjanya. "Tapi udah aman aku diapa-apakan kan?" tanya Canda di sela langkah mereka.


"Udah berapa hari memang?" Givan menutup kembali pintu ruang kerjanya.

__ADS_1


"Empat puluh empat hari, besok empat puluh lima hari," jawab Canda kemudian.


"Aman kan? Biasanya kan kita main pas di empat puluh harinya. Kau tidur aja dulu, tak apa. Nanti aku bangunkan kok." Givan melepaskan rangkulannya dan berbelok ke arah kamarnya untuk mengambil sesuatu.


Canda menghela napasnya. "Ya Masnya jangan lama-lama." Ia memasuki kamar mereka.


"Oke siap, Cantik." Givan memberi hormat dengan senyum lebarnya juga.


"Pakai jaket, Mas. Mau bawa teh hangat di termos kecil tak?" Canda selalu menyebut termos untuk botol stainless berukuran kecil. Karena menurutnya, fungsinya sama seperti termos.


"Tak usah deh, nanti malah aku lama lagi di luar." Givan tidak mau terlalu lama mengobrol, lantaran minumannya belum habis.


"Aduh, ganteng betul sih Mas tuh." Canda menahan tubuh suaminya dan mengaguminya dari dekat.


"Ya iyalah, makanya kau klepek-klepek." Givan dipuji malah semakin menyombongkan dirinya.


Canda tergelak renyah. "Tapi tetap kakek seorang cintanya Cani. Nampak lebih gagah papah dan berwibawa papah soalnya ketimbang, Mas."


"Mas juga begitu kok." Canda bersedekap tangan dan duduk di tepian ranjang sembari memperhatikan suaminya.


"Aku sistematis dari dulu juga. Dua hari sekali, ya dua hari sekali terus. Paling gencar-gencarnya, nagih siang atau Subuh kalau malam lama tak terwujud." Givan membela dirinya sendiri.


"Kan pernah juga malam ambil, Subuh ambil juga." Canda melirik suaminya sinis.


"Kan sesekali, mereka kan sering. Sok aja dengerin curcolnya Winda sama Tika, kalau Aca sih memang sama-sama kuatnya, masih turunan mamah. Sebanding lah mamah papah itu, papahnya begitu, mamah juga begitu. Dari dulu malu sendiri pas masih muda tuh, ini orang tua intens betul, rambut mamah basah terus." Givan mendekati istrinya.


"Jadi tak ada yang keberatan ya karena sama-sama sebanding. Kalau Mas disandingkan perempuan modelan Aca gimana?" Canda membingkai wajah suaminya ketika suaminya hendak mencuri ciuman di keningnya.


"Pasrah aja udah. Bangkit ya kerjain, tak bangkit ya pasti ngecewain." Ia terkekeh kecil kemudian mencuri kecupan ringan di bibir istrinya.

__ADS_1


Givan kembali menegakkan kepalanya, kemudian berjalan ke arah nakas untuk mengambil dompetnya dan jam tangan yang biasa ia gunakan.


"Pernah berpikir tak sih, Mas. Kalau mamah cerai sama papah Hendra, karena diperkuat masalah papah Hendra yang sistematis dan mamah kejar setoran."


Givan tergelak lepas mendengar ucapan istrinya. Begitu menggelikan menurutnya. "Malah pernah bilang papah Hendra pas di teras rumah keluarga kau yang di solo. Bilang langsung ke papah Adi, terus entah di rumah kejadian apa, karena pas itu aja uratnya udah beda." Givan mengenakan jam tangannya. "Aku pergi sebentar ya, Canda?" Givan sudah siap dengan penampilannya yang seadanya tapi terlihat pantas.


"Oke, jangan malam-malam pulangnya. Aku nungguin, Mas." Canda mengekori suaminya dan berniat mengantarkan suaminya sampai teras rumah.


"Oke, Istriku." Givan langsung berjalan ke arah motornya yang terparkir. Setelah pulang dari rumah sakit, ia sempat menuruti Ra untuk ke minimarket. Ra iri melihat bekas wadah telur kejutan adiknya yang berlimpah.


Anak itu pun, meminta untuk menginap bersama Cani malam ini. Givan sudah menyampaikan langsung pada Ghifar dan Aca, agar mereka tidak usah menjemput Ra.


Meski salah satu anaknya itu hidup dengan asuhan Ghifar dan Aca. Tetapi, ia tidak melepaskan anaknya begitu saja. Didikan dan ajarannya selalu diterapkan pada kehidupan Ra. Ia pun tidak segan menjemput Ra untuk mengikuti setiap hafalan dan mengaji bersama. Terkadang tidak hanya Ra yang ikut, tapi Nahda juga ikut dalam kegiatan yang baik tersebut.


"Assalamualaikum, Bu...." Givan langsung masuk dan menaiki tangga, karena tidak menemukan ibu mertuanya di lantai dasar tempat berjualan ini.


"Wa'alaikum salam. Eh, udah pulang?" Bu Ummu terlihat terkejut melihat keberadaan menantunya.


Ia tergesa-gesa mematikan setrika yang masih beroperasi tersebut. Namun, Givan telanjang melihat jika ibu mertuanya menyetrika seragam sekolah milik anak-anaknya.


"Kok Ibu yang nyetrika? Canda tak nyuruh orang kah?" Givan tahu, jika tugas setrika baju sekolah adalah tugas Canda. Namun, ia tidak menekan jika istrinya memilih untuk membayar orang.


"Capek katanya, cuma beberapa aja. Ibu Ummu menunjuk keranjang baju yang ia bawa. Ia tidak disuruh oleh anaknya, tetapi ia yang berkenan sendiri.


"Ya tetap aja, jangan mau." Givan melihat bahwa seragam itu hanya beberapa stel saja. Ia pun tahu, jika seragam itu akan digunakan anak-anaknya besok.


"Udah tak apa, Ibu juga tak keberatan, tak ada kegiatan juga. Pulang kapan, Van?" Bu Ummu mengalihkan pembicaraan.


Givan teringat tujuannya untuk datang ke sini.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2