Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM150. Drama Queen ibu hamil


__ADS_3

"Ya Allah, Canda.... Jadi, kau lagi nangis?" tanya Givan cepat, ketika ia baru memasuki kamar.


Givan tidak tahu, jika Canda menangis. Ia sampai baru menyelesaikan pekerjaannya tiga puluh menit kemudian, lalu baru memasuki kamar.


"Kau kenapa, Canda?" Givan melipir untuk menyimpan berkas dan laptopnya dulu.


Canda bungkam, ia tetap memeluk guling dan menumpahkan kelaraannya dalam air mata. Ia tidak berniat memberitahu suaminya, meski sejak lama hubungan mereka dihiasi dengan berterus-terang dan saling terbuka.


Givan mendekati ranjang, kemudian ia duduk di tepian ranjang istrinya. Paksaan menggunakan ototnya, membuat Canda tidak berkutik saat suaminya menahan tangannya agar ia tidak menutupi wajahnya.


"Kenapa? Ngomong. Aku mau ada tamu ini, kau jangan buat aku tak fokus nyimak laporan mereka gara-gara masalah kita belum selesai. Terus terang, ada apa? Jujur!" Givan merasa tadi mereka baik-baik saja, bahkan bergurau dan tertawa bersama. Givan tidak menyadari, jika ucapannya menyakiti hati istrinya.


"Canda...." Givan menjepit rahang Canda dengan jemarinya, kemudian ia mengusapi air mata istrinya.


Terkesan kasar, karena penuh dengan paksaan. Tapi Givan hanya ingin, tidak ada air mata lagi di sini.


"Apa?!" Air matanya meleleh kembali, saat memaksa suaranya untuk keluar.


"Kau kenapa?" tanya Givan ulang.


"Kau kenapa nangis? Aku punya salah kah? Kau mimpi buruk kah? Atau, kau punya keinginan yang belum tersampaikan? Gimana? Ada hal apa?" Givan sampai memberi pertanyaan bertubi-tubi, agar Canda bisa memilih jawabannya tanpa ia banyak berpikir.


Canda menggeleng. Ia menginginkan suaminya menyadari sendiri kesalahannya. Ia melupakan sesuatu, bahkan terkadang pasangan hidup tidak bisa mengerti akan dirinya secara penuh. Untuk hal berhubungan suami istri saja, Givan sering bertanya apa yang ingin Canda dapatkan darinya. Apalagi dalam hal lain, yang ruang lingkupnya lebih besar.


"Ya udah jangan nangis kalau tak ada apa-apa." Givan berpikir, itu hanyalah bawaan mood ibu hamil. Satu pemahaman Givan, yakni perempuan hamil yang sulit dimengerti.

__ADS_1


Ia menghapus air mata istrinya sampai habis. Kemudian, ia merunduk dan memeluk istrinya dengan hangat. Sayangnya, pelukan itu membuat Canda kembali cengeng. Canda merasa, tindakan Givan dan pengakuan Givan berbanding terbalik.


Givan mengatakan bahwa dirinya tidak mencintainya. Tapi juga ia teringat sikap Givan pada Nadya, yang cenderung kasar, tidak semanis seperti dengannya.


"Tuh, nangis lagi. Aku pergi kah? Biar kau cepat tenang?" Givan melepaskan pelukannya. Ia duduk tegak, dengan memperhatikan wajah istrinya yang sudah begitu merah itu.


Satu hal lagi yang Canda takutkan, yaitu ia takut kehilangan suaminya karena ia merasa sangat mencintai rupa tampan dan atletis itu. Ia pun tidak yakin akan mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab dan berilmu seperti suaminya, jika kelak nanti suaminya benar-benar meninggalkannya dalam artian luas.


"Jangan, Mas." Canda menahan tangan suaminya, dengan suara tangisnya yang terdengar sampai sesenggukan.


Givan menghela napasnya, lalu ia menempatkan dirinya untuk berbaring di samping istrinya. Ia berharap semoga dirinya tidak ketiduran, karena Keith yang datang dari Singapore sudah mengabari bahwa dirinya sudah berada di bandara terdekat. Meski ketika Keith datang, Givan tidak langsung mengajak Keith mengobrol. Tapi ia memiliki tugas untuk mengantar Keith ke kamar istirahatnya, sebelum duda tanpa anak itu mengejar-ngejar adik iparnya.


"Jangan nangis aja, Canda. Jangan stress, kasian anak kita. Dapat napasnya sedikit loh mereka, kalau kau sampai stress. Mana kan, mereka ada dua. Kau tak berpikir, bagaimana mereka rebutan suplai oksigen dari Biyungnya ini kalau Biyungnya sampai stress?" Givan mengusap-usap perut istrinya yang sudah mulai cembung. Kandungan yang menginjak tiga bulan tersebut, tumbuh dengan sehat diikuti dengan perut Canda yang mulai membesar. Hamil bayi tunggal saja, perut Canda bagaikan mengandung bayi kembar. Apalagi sekarang Canda mengandung bayi kembar.


Canda hanya mengangguk, ia masih menyusun kalimat untuk ia lontarkan ke suaminya. Namun, tidak menjurus ke arah masalah tadi.


Givan melirik istrinya, ia sudah menebak ada sikapnya yang membuat Canda mulai dengan dramanya lagi.


"Ada apa? Nanya mantan segala, di saat kau lagi mewek gini. Aku punya salah kah?" tanya Givan kemudian.


Canda menggeleng, meski sebenarnya ingin mengangguk. Ia paham, bahwa Givan tidak bersalah karena tidak mencintainya. Ia saja sebagai istri, yang terlalu menuntut suaminya agar cinta dengannya.


"Aku pengen dengar aja." Canda mengusap air matanya sendiri. Kemudian, ia melirik suaminya dan memperhatikan wajah suaminya sejenak. Ia amat bergantung pada laki-laki rupawan yang menjadi tulang punggungnya itu.


"Dengar apa? Asal janji kau tak nangis lagi?" Givan memiringkan posisinya untuk menghadap istrinya yang juga berposisi menghadap dirinya.

__ADS_1


Canda terpaksa mengangguk.


"Kau pengen kita ngobrolin mantan? Mantan yang mana?" tanya Givan kemudian.


Ia berpikir, mungkin karena ia terlalu lama mengecek laporan. Sehingga istrinya merasa kesepian, kemudian menumpahkan kekesalan karena hal itu dengan air mata.


"Semuanya," jawab Canda lirih.


"Ya nanti keburu habis episode, Canda. Masa, mau bahas semua mantan-mantan aku?" Givan mengerutkan keningnya.


"Ya satu-satu, Mas." Canda menempatkan tangannya di pinggang suaminya.


"Eummm...." Givan melirik ke samping. "Cerita waktu aku kecil aja ya? Cerita waktu aku disuruh milih pendidikan aja kah?" Givan masih memberikan negoisasi untuk tidak membahas mantan.


Ia paham, pembahasan itu cukup sensitif. Apalagi, orangnya adalah Canda.


"Aku pengen tau mantan Mas yang tak pernah Mas ajak untuk berhubungan se*s." Canda pernah mendengar secuil cerita ini.


"Siapa?" Givan menyatukan alisnya.


"Aku lupa, tapi Mas pernah cerita itu sedikit. Aku pengen dengar cerita itu mode lengkap." Canda ingin tahu, seberapa tulusnya suaminya pada salah satu mantan pacar suaminya yang tidak pernah diajak untuk berbuat dosa terlampau banyak.


"Pipit kah? Itu sih masa SMP, Canda. Dia nembak aku, pas baru kelas satu SMP. Biasalah, cinta monyet. Nah, aku bilang tuh ke dia. Aku bilang gini, kita pacaran nanti aja kelas tiga, aku masih kecil. Gitu, Canda. Tapi dia maksa, ya udah katanya jalani aja dulu. Duh, yang namanya pacaran anak SMP. Ya cuma ngobrol biasa aja. Ya udah sebatas itu aja keknya. Karena aku merasa Pipit cukup mengganggu ekskul aku di sekolah, ya aku bilang udahan aja. Dia pengen pulang bareng terus, karena jalan kita searah. Sedangkan, aku malah risih ditunggu tuh. Mana kan, tak enak aku diledekin temen-temen satu ekskul yang tau kalau aku ditungguin Pipit. Ya udah, jadi putus. Dia sih mintanya balik di kelas tiga nanti, tapi aku pikir pasti rasa tertarik aku ke perempuan itu udah bukan kek dia lagi. Ya maaf-maaf, namanya anak dalam masa pertumbuhan. Kulit pun masih berselimut kabut tebal, hasil pemanasan layang-layang yang dikejar. Jadi ya aku tak mau, aku bilang apa kata nanti aja. Terus ya aku tak pacaran tuh, cuma suka-sukaan aja sama perempuan. Sampai SMA, paham ciuman sama pacar, paham tangan merajalela ke pacar. Uji coba terbesarnya, ya ke Aca itu waktu balik kampung ke Cirebon. Lepas itu matang lah jadi laki-laki tak baiknya, udah tau enak soalnya." Givan sesekali memerhatikan wajah istrinya yang sudah berhenti menangis.


Givan memikirkan, antara Canda membutuhkan waktu dengannya. Atau, tengah membandingkan sikapnya ke mantan-mantannya dahulu dengan dirinya. Otaknya berjalan memahami, meski ia tidak yakin dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2