Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM178. Tamu yang tidak disangka


__ADS_3

"Udah mendingan, Canda?" tanya Nafisah dengan memasuki ruangan.


"Udah, alhamdulilah." Canda tersenyum pada dua tamu yang masuk.


"Ai udah dapat kamar?" tanya Ken dengan mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa dan kursi yang tersedia.


"Udah, udah lagi tidur." Awang merangkul istrinya agar tidak terlalu jauh dari jangkauannya.


"Nih buka mulutnya, Istri orang." Ghifar kembali menyuapi Canda dengan potongan buah apel.


"Makasih, Suami orang." Canda memegangi kedua pipinya sendiri dengan tersenyum manis.


"KUCEKIK dua-duanya. Hufttt...." Givan melipir untuk duduk di bed singel.


Canda dan Ghifar terkekeh geli, mereka melihat kekesalan Givan begitu senang.


"Canda, kami sekeluarga minta maaf atas nama Ai. Dia datang dan mengacaukan keadaan rumah tangga kalian berdua, padahal jelas dia hamil bukan hasil Givan. Mungkin masa itu pun, Ai gak tau kalau itu bukan anak Givan. Namanya pemandu lagu, kita semua tau gimana tabiat mereka. Semoga dengan hukuman syariat dari sini, buat Ai mau berubah dan gak pergi dari rumah untuk ambil pekerjaan itu lagi." Awang maju kembali untuk mewakilkan adiknya.


"Aku pasti maafin, Bang. Tapi, aku mau tangan Ai sendiri yang salaman sama aku. Biar dosa-dosanya sama aku, atau sebaliknya itu berguguran." Canda hanya menginginkan hal sederhana seperti itu.


"Nanti kita sampaikan ke Ai. Makasih, kamu udah mau berbaik hati, Canda." Awang tersenyum simpul.


"Sama-sama, Bang." Canda membalas senyum tersebut.


"Terus udah tuh, Far! Mentang-mentang istriku mangap terus, kau terus lanjut nyuapin dia." Givan sedari tadi memperhatikan aktivitas mereka berdua.


"Iri bilang dong, Bang." Ghifar berjalan ke arah Givan, kemudian menyuapkan sisa potongan buah yang tersisa.


Givan langsung merebut semua potongan buah yang tersisa, agar Ghifar tidak menyuapi istrinya lagi. Wajah cemberut dan tidak bersahabat, begitu Givan pasang dengan menyeramkan.


"Nih...." Givan mengambil alih tempat Ghifar tadi, ia kini menyuapi istrinya sendiri.

__ADS_1


Canda hanya bisa terkekeh, dengan membuka mulutnya kembali. Awang merasa geli, karena Givan begitu terlihat cemburu pada saudaranya sendiri.


Di rumah, Adinda mendapat tamu tak terduga. Di tengah kerumitan permasalahan yang belum benar-benar selesai, datang salah satu ibu dari cucunya yang ia bantu besarkan dari kecil. Meski kedatangannya penuh sopan santun, tapi waktunya tidak tepat sekali.


Adinda bingung untuk memberikan izin, ketika Canda dan Givan selaku orang tua anak laki-laki tersebut tidak ada di rumah. Ingin menyampaikan kabar tersebut pada mereka pun, Adinda khawatir menantunya semakin tertekan karena keadaan yang menimpanya bertubi-tubi.


"Eummm, tak boleh ya, Mah?" Nadya mengerti keraguan di wajah Adinda.


"Bukan tak boleh juga, tapi Givan sama Canda tak ada di rumah." Adinda tidak mengatakan bahwa menantunya tidak baik-baik saja, ia khawatir Nadya memanfaatkan kesempatan karena Zio lepas dari pengawasan orang tuanya.


"Ohh, dibawa kah Zionya? Memang Givan rujuk sama Canda ya, Mah?" Nadya membenahi barang bawaannya yang jatuh dan keluar dari kantong plastik besar berwarna putih.


Satu set seragam sekolah dan perlengkapan sekolah, berikut sepatunya menjadi buah tangan Nadya untuk anak bungsunya. Ziyan yang menemani ibunya, senantiasa duduk manis dan mengingat rupa Adinda. Ia ingat dengan rupa yang sering membantunya untuk makan tersebut, tapi Ziyan lupa dan tidak ingat pasti siapa Adinda dan apa hubungannya dengannya.


"Iya, rujuk sama Canda setelah setahun lebih cerai sama kau. Suami kau mana? Kenapa tak antar kau?" Adinda memandang jendela rumahnya dengan pemandangan sebuah mobil keluarga berwarna merah marun, yang terparkir di halaman rumahnya.


"Udah almarhum, Mah. Makanya aku bisa nengokin Zio ke sini. Aku tak pernah ke sini, karena dilarang sama dia, Mah. Katanya, Zio bukan anaknya. Jadi, dia tak mau terbebani dengan anak aku dan laki-laki lain." Nadya tertunduk, kala teringat ucapan kasar almarhum suaminya.


Ia mengetahui, perihal Nadya yang kembali rujuk dengan suami pertamanya. Tapi, Adinda hanya mengetahui kabar itu saja. Ia tidak mengantongi informasi lengkap, tentang Nadya dan kehidupan barunya.


"Serangan jantung, Mah. Pulang main ayam itu tuh, Mah. Tiba-tiba pulang tuh minum air putih, sesak napas terus hilang sadar. Aku bawa dia ke rumah sakit, tapi katanya udah tak tertolong." Nadya teringat kejadian beberapa bulan silam.


"Sabung ayam kah?" tanyanya singkat dan langsung diangguki oleh Nadya.


"Kau kerja atau usaha apa di rumah?" Adinda teringat akan Nadya yang pulang dengan badan saja, tidak memiliki banyak pakaian atau kendaraan seperti sekarang.


"Aku ikut agen ekspedisi di garasi rumah, Mah. Aku tak paham lanjutkan usaha suami, Mah. Dia makelar tanah soalnya, aku tak paham ruang lingkup cara kerjanya."


Adinda manggut-manggut mengerti. Wajar, seorang makelar tanah sampai bisa memiliki kendaraan menurutnya.


"Kenapa, kok merhatiin Nenek aja?" Adinda mengarahkan pandangannya pada Ziyan. Anak laki-laki yang cenderung tinggi itu langsung menunduk, begitu sorot Adinda terarah padanya.

__ADS_1


"Pemalu dia, Mah." Nadya merangkul anaknya yang sudah duduk di bangku menengah atas tersebut.


"Sama Chandra tua siapa ya?" Adinda lupa tentang rentang usia anak Nadya.


"Tua Ziyan, tapi Ziyan kurus terus jadi nampak kecil. Beda satu tahun lebih keknya, Mah. Chandra baru belajar jalan, Ziyan udah lari-lari." Nadya masih ingat kedatangan anak laki-laki dari mantan suaminya itu.


"Ohh, iya-iya." Adinda manggut-manggut.


Ia bingung ingin berlaku seperti apa, karena suaminya tidak berada di rumah. Ingin membawa Nadya menemui Zio pun, ia takut disalahkan karena barangkali Givan tidak mengizinkan hal tersebut. Bertambah lagi rumitnya pikirannya, karena Putri berada di salah satu kamar tamunya.


Musim liburan sekolah, Putri datang untuk mengajak anaknya berlibur di sekitar sini. Sayangnya, kembali terbentur dengan izin dari Givan yang belum didapatkan.


"Udah punya anak berapa Givan sekarang, Mah?" Nadya mencoba mencairkan kecanggungan yang melandanya.


"Anak dalam asuhannya, sekarang ada delapan. Dua anak cuma anak kerabat aja, yang kebetulan Givan dapat amanat untuk besarkan mereka." Yang Adinda maksud adalah Jasmine dan Bunga.


"Wow, anak sendirinya enam berarti, Mah?"


Adinda langsung mengangguk dan tersenyum manis. Ia pun tidak menyangka, ternyata Givan mewarisinya yang memiliki banyak keturunan.


"Ken belum datang juga kah, Mah?" Putri keluar dari pintu kamarnya, kemudian langsung mengeluarkan suaranya.


Adinda menepuk jidatnya. Ia paling tidak suka jika orang di masa lalunya anaknya dipertemukan secara tidak sengaja seperti ini.


"Udah, berangkat lagi nemenin Givan di rumah sakit. Pakai hoodie nutupin leher, panas-panas begini. Udah macam orang sakit aja. Apa memang lagi sakit? Karena sering betul bolak-balik ke Malaysia?" Adinda teringat dengan penampilan Ken yang berubah, tidak pagi ia menyuruh Ken untuk membeli beberapa barang bersama Ria.


"Givan lagi di rumah sakit, Mah? Siapa yang sakit?" Nadya menyerobot pertanyaan lebih dulu.


"Apa dingin kah? Di sini Ashar udah dingin soalnya, Mah." Putri ikut menimbrung dan duduk santai di sofa tamu tersebut di sore hari ini.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2