
"Mas.... Dengan kita masih sama-sama pun, percuma aja. Aku udah terlanjur kecewa sama Mas, aku udah terlanjur benci sama kesalahan Mas, aku udah terlanjur hilang percaya sama Mas."
Givan tidak berkedip sama sekali. Pantas saja, semua ucapannya tidak pernah dicerna dan dipertimbangkan istrinya. Rupanya, istrinya sudah benar-benar tak percaya lagi padanya.
Ia jadi memikirkan, bagaimana mereka kedepannya dengan keadaan Canda yang sudah seperti ini?
"Kau tunggu bukti-buktinya, kalau tak percaya sama ucapan aku. Aku pasrah, Canda. Kalau kau bilangnya udah tak percaya lagi. Kalau kau udah tak percaya sama aku lagi, gimana kita ngeraih mimpi kita? Gimana masa depan kita?" Givan pesimis sekarang, karena menurutnya kepercayaan adalah hal yang utama.
Ia menekan ujung matanya, hatinya seperti terhantam benda tumpul yang berat. Sesak dalam dadanya, menimbulkan rasa pedih di matanya.
Ia memikirkan keadaan Canda, kondisi, hati, kebahagiaan, kesehatan, kesedihan, keceriaan dan yang ada pada istrinya. Ia memikirkan semua resiko tentang Canda. Namun, satu kesalahan itu membuat kerja kerasnya selama ini sia-sia.
"Aku harus gimana lagi, Canda? Aku tak mau berjuang sendiri. Aku mau kau bahagia, tapi dengan aku. Aku pengen kau tetap sama aku, dengan Ai yang pergi dari hidup aku. Tolong bersabar, Canda. Aku tau, mungkin ini tak sebentar. Tapi tolong, bertahanlah dengan aku." Tangannya memeluk perut istrinya, dengan dagunya yang menempel di bahu Canda.
Givan ragu, jika istrinya masih bisa bahagia dengannya. Tapi, egonya tak pernah ingin Canda pergi meninggalkannya untuk mencari kebahagiaan. Ia ingin Canda tetap menjadi istrinya sampai maut memisahkan.
"Ai tak bakal pergi, Mas. Dia tetap ada di hati, Mas." Dengan mengatakan kalimat itu, Canda menyakiti hatinya sendiri.
Jika sudah merasa mencintai orang yang salah, Canda ingin memohon pada Sang Pencipta untuk mengembalikan ayahnya Ceysa padanya. Ia tahu, tidak lebih baik dari Givan. Tapi, ia tahu juga. Bahwa hanya dirinya lah cintanya, bahkan cinta pertama untuk Nalendra.
"Kau ngomong apa sih, Canda. Aku bakal nurut apa yang kau pengen, aku bakal ikut aturan kau. Asalkan, jangan tinggalin aku. Jangan lepasin pernikahan kita." Givan membisikkan kalimat itu, di telinga kiri Canda. Hanya kalimat seperti itu saja, amarah dan emosinya berangsur dingin. Apalagi, jika ungkapan cinta yang keluar dari mulut Givan.
Amarahnya sudah mulai mereda. Namun, ia masih belum bisa bersikap biasa saja pada Givan.
"Hmm, aku ke kamar dulu." Canda melepaskan pelukan suaminya, lalu ia melangkah pergi tanpa menoleh sedikitpun.
Moodnya, membuatnya seperti orang aneh. Andai saja, Canda saat ini tidak sedang dalam kondisi hamil. Pasti, ia mampu lebih cepat untuk menegaskan hatinya sendiri.
Givan mengucek matanya yang terlanjur basah. Ia memperhatikan rok istrinya yang bergoyang seiring dengan langkah istrinya.
__ADS_1
"Aku harus cepat, sebelum Canda kumat lagi." Givan mengirimkan pesan dalam format email pada Kenandra dan Mavendra. Ia meminta beberapa bukti, yang dikirimkan ke emailnya segera.
Meski Ai belum mengkonfirmasi tentang fitnah yang ia sebar. Givan mulai mempersiapkan semua bukti, agar dirinya tidak diberatkan dan tidak dihakimi begitu lama.
Di dalam kamar, Canda menerima panggilan telepon dari adik iparnya sekaligus menjadi mantannya itu.
"Ya, Far." Suara seraknya terdengar jelas.
"Kau tak apa, Canda? Apa perlu aku tengahi? Suara bentakan tadi, sampai ke rumah aku. Kandungan kau tak apa kah?" Seiring dengan terucapnya ucapan itu, Canda baru teringat akan dirinya yang tengah hamil. Selemah ini memorinya, ketika tubuhnya tengah mengandung buah cintanya tersebut.
"Aku tak apa, Far." Kadang Canda merasa risih, jika ada seseorang yang terlalu perhatian padanya. Hal itu, sedikit mengusik ketenangan hatinya dan pikirannya yang mulai dingin. Karena, jika diingat dan dibahas lagi. Ia akan teringat dengan emosinya yang terlepas dari rantai imannya.
"Kau lagi apa? Mama ngajakin pasar malam, kau mau ikut?"
Hiburan merakyat.
"Aku lagi kangen bang Daeng." Canda tetap menempatkan ponselnya, tapi pandangannya mulai kosong dan nyaman.
"Kenapa lagi, Dek? Suruh nunggu di kostan, Adek malah pulang ke Aceh. Nyesel kah, meski banyak yang sayang sama Adek di sini? Ehh, tapi kalau kita masih di Padang. Mungkin Adek bakal sebatang kara di sana."
Canda segera menajamkan telinganya, karena mendengar perubahan suara dalam panggilan telepon tersebut. Yang menelpon tadi adalah Ghifar, tapi kenapa berubah menjadi suara seseorang yang lama telah tiada?
"Bang Daeng?" Canda menyebutkan nama yang sudah memiliki gelar almarhum tersebut.
"Iya, Dek."
Canda yakin, dirinya mulai gila di sini.
"Transportasi kah?" Canda pernah mendengar kata itu, sayang saja pengucapannya salah.
__ADS_1
Tawa Nalendra terdengar lepas di telinga Canda. "Teleportasi, Dek." Canda langsung tertawa lepas, mentertawakan dirinya sendiri.
"Iya, mau jemput kah?" Canda berbicara dengan nada cerianya.
"Gak lah, nanti jadi sundel bolong." Nalendra melanjutkan dengan terkekeh kecil.
"Aku udah capek, Bang. Mas Givan gila lagi, aku udah nyerah. Dia keknya bener-bener mabuk orang ketiga itu, si mantannya." Canda langsung mengadu seperti pada orang terdekatnya sendiri.
"Givan itu suaminya siapa?"
Canda bereaksi dengan mengerutkan keningnya. "Kok pertanyaannya aneh? Ya mas Givan suami aku lah, Bang. Dia ayahnya anak-anak aku." Canda langsung menegaskan itu.
"Udah, gini aja. Dari pada mikirin kegilaan dan siapa yang gila. Adek pikirkan aja, Givan ini suaminya siapa? Terus, Adek masih pengen punya suami dia gak? Adek masih pengen miliki dia gak, meski pada hakekatnya Givan milik ibunya?"
Canda langsung menanyakan pada hatinya sendiri, setelah mendengar ucapan Nalendra. Ia menyimak dan mengulangi kembali, ucapan Nalendra yang masih berputar di pikirannya.
"Kalau jawabannya masih pengen miliki dia, masih pengen bersuamikan dia, ya pertahankan dan rebut kembali. Itu kan milik Adek, ikhlas tak kira-kira kalau dihibahkan untuk perempuan lain? Kalau ikhlas, ya udah tinggalkan. Tak ikhlas, ya pertahankan dan rebut dia. Jangan dibuat bingung dan rumit sendiri, Dek. Adek ini masih punya hak besar, kalau Givan masih suaminya Adek. Kalau terlampau pusing dan nyerah, udah aja ikuti ego sendiri. Lain cerita, kalau ada pihak lain yang desak Adek, kek kasus kita dulu. Kasus Givan ini, tak ada kan yang desak kalian untuk cerai?"
Canda menggeleng, meski ia tahu bahwa mereka berbicara dalam telepon.
"Tapi aku bingung, mana yang benar dan salah. Aku tak paham, karena keknya ada kebohongan di atas kebenaran gitu. Entah deh, aku tak paham. Intinya, aku tak percaya dengan ucapan mas Givan. Keknya, dia ini lagi ada yang ditutupi." Canda mengatakan tentang ketidakyakinannya pada suaminya.
"Gak usah bingung-bingung deh. Keknya, Adek gak bisa ikuti saran Abang yang kemarin karena terlalu cerdas untuk seorang Adek."
Mata Canda mekar sempurna, mendengar Nalendra secara tidak langsung tengah mengejeknya.
Nalendra tergelak kembali di seberang telepon. "Cerna satu persatu, pahami sudut.....
...****************...
__ADS_1