Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM273. Perubahan untuk siapa?


__ADS_3

"Canda, kau pikir aku kena gangguan jiwa kah? Semakin ke sini, kok kau semakin ke sana? Otak kau kek mana sebetulnya? Riska utuh, tak bonyok tak sobek juga. Kau cakap, macam aku ini betul-betul tak waras. Kasar di ranjang itu gimana maksud kau? Duh, rasanya aku pengen ngomong sombong gimana panasnya adik kau di ranjang. Kalau ngomong kau kek ngeludah, gampang betul kau lepeh." Kenandra seperti ingin mencubiti Canda karena gemas.


"Yaaa, orang aku dengarnya begitu." Canda mengedikan bahunya.


"Tak! Kau itu ngembangin cerita sendiri! Tak pernah ada orang cerita aku tukang pukul segala macam. Suami kau, adik ipar kau. Pernah mereka pukul-pukul aku, apa ada aku balas mereka? Tak pernah, tak pernah aku balas. Pengen kujitak kepala kau rasanya, Dek." Kenandra menggeleng berulang dengan menghela napasnya.


"Kan mana tau, memang Abang aslinya kasar ke perempuan." Canda masih kekeh menuduh Kenandra.


"Iya, kasarnya kek mana? S**s kasar? Yang kek mana? Gerakan cepat? Gaplokin part belakang? Hei, itu kan normal? Perempuan bisa cepat sampai karena hal itu, laki-laki pun puas karena dengar suara perempuan yang kita kuasai. Jangan kek tak berpengalaman ya, Canda? Aku tau jam terbang kau lebih berat dari aku, terbukti dari anak-anak kau yang banyak macam rupanya itu. Terus KDRT kek mana? Riska khulu aku aja bukan tentang KDRT, tapi orang ketiga. Kau ngarang aja! Riska aja tak pernah ada bilang kalau dia aku pukuli segala macam. Dia orang cerdas, kalau dia merasa teraniaya, mungkin sekarang aku ada di jeruji besi. Aku tak mungkin bebas berkeliaran begini, pasti aku mendekam karena kasus yang bakal dia bawa kalau dia merasa aku pukuli." Kenandra tidak habis pikir dengan ucapan yang Canda sampaikan.


"Ya mungkin Abang ancam." Canda mengemukakan sesuai pendapatnya.


"Kalau aku ancam, aku ancam jangan ceraikan aku atau aku tebas leher kau sekalian. Daripada ngancam jangan lapor polisi kalau KDRT. Pakai logika dong, Canda. Keras-keras sedikit, wajar, namanya juga laki-laki. Semuanya pun pasti punya kekerasan di tengah-tengah tubuhnya, apalagi sifatnya. Ayah mertua kau, suami kau, apa tak keras mereka? Nah, mungkin pendapat keras tentang aku pun di bidang kek gitu. Bukan kekerasan dalam rumah tangga!" jelas Kenandra dengan emosi. Ia tidak habis pikir tentang ucapan Canda, ia pun baru berpikir apa beberapa orang benar-benar menyangkanya seperti itu? Sampai Ria sengaja dijauhkan darinya.


"Kalau kau mau punya ipar yang lemah lembut, suruh aja Ria nikah sama bencong. Nada bicaranya bencong pun, kalah tegasnya sama nada bicara mamah Dinda. Dipikir lah, Canda. Apa tak mencurigakan kalau laki-laki begitu lembut kalau ngomong, begitu lemah dalam bertindak. Dajjal muncul aja, kita laki-laki diminta ikat anak-anak, istri, ibu dan saudara perempuan di tiang tengah-tengah rumah. Sebagai tindakan untuk melindungi, kita diizinkan untuk bertindak yang kata kau kasar itu. Kau ngerti agama, pasti pernah dengar juga kan cerita begitu-begitu?" lanjut Kenandra dengan nada cepat dan tegas.

__ADS_1


"Memang kasarnya Abang itu gimana?"


Kenandra menghela napasnya. Untungnya, ia tidak benar-benar diberi pasangan yang seperti Canda. Ia iri dengan Givan, karena mendapat Canda yang penurut dan pasrah. Tapi, ia tidak jadi iri karena rupanya Canda begitu menguras kesabaran.


"Aku pelaku yang kau tuduh kasar, harusnya kau tau aku kasar di mananya! Aku bahkan tak tau, kalau aku ini kasar. Bunga tak pernah aku cubit, tak pernah aku banting. Riska seumur-umur rumah tangga sama dia, tak pernah aku buat dia bonyok-bonyok, apalagi sampai sobek-sobek. Tapi sobek karena disesar, ya iya. Selain itu, tak pernah aku buat luka bekas di badannya kek gitu. Aku malah kaget dengar aku dituduh kasar." Kenandra masih mencoba menyurutkan emosinya.


Beberapa menit mengobrol dengan Canda, Kenandra sudah merasa ingin gantung diri saja. Apalagi, jika seumur hidup ia disandingkan teman mengobrol seperti Canda, Kenandra merasa bahwa nantinya ia tak akan panjang umur.


"Aku kan dengar cerita aja, aku mana tau yang sebenarnya." Canda tidak bisa memberikan penjabaran pasti tentang tuduhan yang ia berikan pada Kenandra.


Canda tidak berminat untuk memberitahukan, ia tidak mau suaminya ditegur oleh Kenandra. "Ya dari banyak mulut, Bang. Maksudnya tuh, kenapa mereka berpikir sampai Abang ini kasar? Kan tak mungkin dibilang kasar, kalau Abang tak kasar. Ibaratnya, tak mungkin ada asap kalau tak ada api."


Kenandra memikirkan. Apa yang dimaksud kasarnya dirinya adalah karena menghancurkan barang-barang? Tapi ia melakukan hal itu, agar emosinya terselesaikan dengan sendirinya, tanpa banyak masalah yang muncul karena ocehannya. Ia pun tidak menjadikan manusia sebagai objek, dari hempasan barang-barang yang ia terbangkan.


"Entahlah, Canda. Aku marah kek papah, cuma aku tak banyak bicara. Kasar kah kalau lempar-lempar barang? Tapi menurut aku, lebih kasar ngatain deh. Aku sih berpikirnya, kalau aku marah dan banyak omong. Kan muncul permasalahan baru, karena orang tersebut tak terima dengan makian aku. Pasti aja dia jawab terus, terus akhirnya aku lebih marah dan sulit kontrol." Kenandra berbicara perlahan, dengan mengingat-ingat tentang dirinya.

__ADS_1


"Papah kan pingsan kalau marah betul." Canda melirik ke arah pintu, dengan menurunkan nada bicaranya.


"Papah lempar-lempar barang dulunya. Pingsan itu kalau udah begitu marahnya dan dia coba nahan biar tak meledak-ledak," ungkap Kenandra kemudian.


"Betulkah? Jadi bagusan mana?"


Kenandra tepuk jidat. "Itu bukan pilihan, Canda! Kita tak bisa milih, tergantung arah emosi kita aja ke mana. Ya masa biasa aku marah begitu, terus aku berpikir untuk berubah nangis sambil meluk bantal aja lah. Ya sulit dong, Canda. Tak bisa di-request, kecuali masakan untuk makan nanti." Kenandra mulai bisa mengendalikan dirinya dari kekesalannya karena Canda.


Kenandra mulai berpikir, siapa yang tahu dan mengatakan pada Canda tentang dirinya yang kerap kali melempar barang ketika marah. Lalu, untuk apa tujuannya mengatakan pada Canda? Kenandra pun berpikir, apakah Ria yang membocorkan tentang amukannya? Karena Ria adalah adik kandung Canda, obrolan dan cerita pasti mengertai kehangatan mereka.


"Ya berubah lah, Bang." Canda berkata begitu mudah.


Kenandra mendelik sekilas. "Tergantung siapa yang bisa buat Abang berubah kalau kek gitu. Kek Givan, kek papah Hendra. Kalau jodohnya bukan kau, Givan mungkin masih bajingan aja. Kalau jodohnya bukan ibu Syura, mungkin papah Hendra masih ganti-ganti perempuan aja. Tergantung jodoh keknya, Canda. Mamah Dinda banyak cerita untuk nyadarin pun, ya memang sadar, tapi berat kalau tak ada tujuan untuk perubahannya. Maksudnya, berubah untuk apa gitu kan? Bunga? Bunga pasti cuma tau sisi baik ayahnya aja kok, kecuali ada yang membocorkan tentang keburukan Abang."


"The next anak-anak Abang. Karena ketika Abang jadi ayah dari banyak anak, Abang bakal jadi panutan yang dicontoh dari segala sisi. Aku tau, Abang pasti tak mau anak-anak Abang mencontoh hal yang jelek." Canda berkata santai dengan tersenyum manis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2