
"Apa yang nanti aku lakuin ke Ria, itu semata-mata aku ingin yang terbaik untuk Ria, Bu. Ibu tak perlu berpikir, kalau aku bisa berlaku bejat ke Ria. Kalau aku memang ingin rusak dia, dari dulu pun pasti udah aku lakuin. Cuma, aku memang sayang sama dia. Ria itu udah kek Giska untuk aku. Sekarang Giska udah bersuami, udah tanggung jawab suaminya, udah manja ke suaminya. Aku selalu sedia, kalau dia butuh bantuan. Sekalipun Zuhdi selalu bilang, jangan terlalu manja ke Giska, ini itu. Dia boleh jadi suaminya, tapi aku tetap kakaknya. Biarpun aku bukan walinya karena tak seayah, tapi dia satu rahim dengan aku. Apa ya? Dari dulu itu, aku pengen adik perempuan yang banyak, Bu. Jujur aja, Bu. Aku tau dari mana asal-usulnya Icut, sekalipun aku sayang dia, aku anggap dia adik, tapi kurang klik kek rasa sayang aku ke Giska. Ya alhamdulilah, adik perempuan tak dapat banyak, dikasih anak perempuan yang banyak." Givan terkekeh kecil.
"Soalnya gen dari Ibu itu, kebanyakan anak perempuan, Van. Ibu empat bersaudara perempuan semua, anak-anak Ibu dan saudara Ibu pun perempuan semua." Bu Ummu tahu bagaimana sayangnya Givan ke saudara-saudaranya. Namun, hal itu tidak membuatnya iri hati. Karena Givan cukup adil pada adik Canda dan dirinya. Givan selalu teringat untuk membagi waktu dan kebahagiaannya dengan mereka juga.
"Tapi aku tak berniat ganti istri, meskipun anak-anak dari Canda banyak perempuan." Givan berkata dengan pandangan menerawang.
"Ya iya, bisa buat sekutu nanti anak-anak kau kalau kau nikah lagi," timpal ibu Ummu kemudian.
Givan tertawa lepas, kemudian menutupi mulutnya. "Pernah aku ganti perempuan, bukannya cocok dan tambah bahagia. Eh, malah tambah stress dan tekanan batin," ungkap Givan kemudian.
"Oh, iya-iya. Ibunya Zio sih ya?"
Givan dibuat mengangguk cepat karena pertanyaan itu.
"Aku permisi dulu ya, Bu? Aku ada kerjaan di luar, mau sampaikan kalau sekolah TK pesan meja kursi yang cukup banyak." Givan bangkit dari duduknya dan mengambil kunci motornya yang tergeletak.
"Iya, Van. Ati-ati, cuci tangan sama cuci muka dulu kalau baru pulang. Jangan langsung pegang bayi atau Canda, mana tau kau bawa sawan." Ibu Ummu bangkit dan berniat mengunci pintu.
"Ya, Bu. Assalamualaikum." Givan mulai menuruni tangga.
"Wa'alaikum salam." Ibu Ummu pun ikut turun, berniat mengunci pintu lantai bawah.
Givan melanjutkan perjalanannya untuk ke rumah furniture miliknya, kemudian ia berbelok ke minimarket sebelum pulang ke rumah. Ia sudah lama tidak membeli gel pelumas juga, ia berniat akan membuang yang lama karena khawatir sudah expired dan akan menggunakan yang baru.
Tawa tertahan terdengar dari seorang wanita yang mengantri di belakang Givan. Givan langsung menoleh, ia merasa tersinggung dengan tawa yang berbarengan saat ia meletakkan beberapa sarung yang Canda maksud dan juga beberapa gel pelumas untuk mereka.
"Ish! Tak sopan kau!" Givan mengenal siapa perempuan yang mengantri di belakangnya tersebut.
"Udah pro, masih aja pakai pelumas dan sarung. Basahi langsung dong." Faiza meledek Givan begitu enteng.
Faiza adalah mantan pacar Givan saat sekolah dulu. Mereka pernah melakukan hubungan s**s, setelah Givan mengenal s**s bersama Aca.
__ADS_1
"Tak diajari lagi kali. Malam-malam kau keluyuran aja!" Givan fokus memperhatikan belanjaannya yang tengah dihitung.
"Ya namanya juga single mom karena pelakor, baru pulang kerja aku jam segini."
Givan mencoba tidak peduli. Ia khawatir gurauannya pada istrinya, tentang ia tengah mencari janda akan terjadi.
"Oke, semangat." Givan langsung pergi, setelah membayar dan mengambil belanjaan miliknya.
Ia tidak mau terlalu akrab, dengan seorang wanita di masa lalunya. Apalagi, wanita tersebut tidak bersuami.
Dari jauh, Faiza memperhatikan Givan yang kembali ke motornya dan langsung berputar untuk keluar dari parkiran minimarket tersebut. Ia teringat gilanya Givan dulu. Ia yakin, jika ia bertahan bersama Givan dulu pun. Ia tak akan bisa bahagia, karena Givan sulit berubah. Ia paham, jodoh dan kebahagiaan seseorang sudah sesuai takaran.
Ia tidak pernah menyesali perbuatannya bersama Givan, karena malah dari suaminya ia tidak pernah merasakan rasa itu. Setidaknya, ia pernah merasakan sesuatu yang membahagiakan dalam hidupnya.
Ia pun bertekad untuk tidak pernah mengusik Givan, atau rumah tangga laki-laki manapun. Karena, dirinya pun merasakan sakitnya rumah tangganya diusik oleh orang ketiga.
"Cendol." Givan sudah bergerak mencari keberadaan istrinya setelah ia membasuh wajah dan mencuci tangan di kamar mandi kamarnya.
"Ya ampun, Cantikku. Malam-malam kok masak?" Givan tidak mengerti, kenapa istrinya ada di depan kompor.
"Lapar, Mas. Aku lagi buat otokowok." Canda menoleh sekilas pada suaminya, kemudian ia mengaduk kembali masakannya.
"Apa itu?" Givan menilik isi wajan istrinya.
Rupanya, Canda tengah memasak nasi goreng yang dicampur dengan mie goreng. Givan tahu makanan ini, makanan itu pun sering ia beli ketika pulang dini hari dalam keadaan lapar.
"Memang namanya otokowok kah?" Givan terkekeh mendengar nama makanan yang tidak ia kenal tersebut. Karena ia hanya tahu, jika nama makanan tersebut adalah mie mawut. Ia pun memesan pada pedagang nasi goreng, dengan sebutan itu.
"Kalau di Jawa namanya Magelangan. Di Cirebon, namanya otokowok," terang Canda, dengan mengaduk masakannya.
"Aku pun dari Cirebon, Canda. Cuma baru kudengar otokowok ini, betulkah kau bilang?" Givan memandangi hasil masakan istrinya itu.
__ADS_1
Ia tidak terlalu berekspektasi tinggi dengan rasa masakan Canda. Tapi ia yakin, rasanya pasti tidak begitu buruk.
"Ya keknya sih. Soalnya di pondokan itu disebutnya otokowok." Canda mematikan api kompornya. Kemudian ia meraih piring dan juga sendok.
Sayangnya, ia tidak sengaja menyenggol dada suaminya yang belum tertutup sempurna. Ia merasa malu sendiri, kemudian ia mencoba fokus pada makanannya lagi.
"Mau dong, Canda." Givan mengusap mulutnya, khawatir air liurnya berantakan karena ingin mencicipi makanan tersebut.
"Ayo barengan. Aku kira Mas agak malam pulangnya, jadi buat sesuai porsi aku." Canda meletakkan makanannya di meja bar. Lalu, ia mengambil sendok satu lagi untuk suaminya.
Givan segera menghampiri piring tersebut dan menarik kursi yang tersedia di dapurnya. Mereka duduk beriringan, dengan sudah memegangi sendok masing-masing.
"Kau ingat Faiza tak, Canda?" Givan mulai menikmati makanan buatan istrinya.
"Hmm, yang mantan Mas itu?" Canda masih mengingat nama tersebut.
"He'em, kau tau tak?" Givan memandang wajah istrinya sekilas.
"Tau, yang tetangga rumah Giska yang dulu itu kan?"
Givan yang awalnya ingin mengajak istrinya berghibah, malah ia dibuat kesal. "Kau jawab apa gitu, tak tau gitu." Ia menghela napasnya.
"Eh, iya-iya. Apa, Mas?" Canda terkekeh kecil.
"Dia janda tau, janda karena orang ketiga. Kerja apa ya dia? Malam-malam begitu baru pulang. Kau kan tau kan, kalau di tempat kita itu kerjaan untuk perempuan dijadwal boleh sampai jam empat sore aja." Pembawaan nada bicara Givan, menggiring mereka untuk berghibah dengan serius malam ini.
"Oh, iya-iya. Giska tuh cerita, kan ditanya sama iparnya Giska si Faiza ini. Dia malah sewot jawabnya. Katanya, ya mau jadi kupu-kupu malam, atau kupu-kupu siang kek, terserah dia katanya. Gitu tau, Mas." Canda menurunkan nada bicaranya.
"Oh ya? Terus? Terus?" Givan meladeni cerita istrinya dengan terus menikmati makanan buatan istrinya.
...****************...
__ADS_1