
"Kenapa nih, Keuchik? Kok bisa gitu, kasus Saya kok tak naik hari ini?" Givan bertanya dengan bercampur senyum agar tidak canggung.
"Oh, iya. Maaf sebelumnya, karena tak ada pemberitahuan. Saya lagi ulas balik dengan orang hukum yang Saya percayakan kemarin, bang Ramli itu. Dia lagi memahami ulang, biar dia bisa langsung ajukan permohonan maaf dari Bang Givan." Ia menyatukan telapak tangannya dan membalas senyum Givan.
"Loh, diberi hukuman yang sepadan aja belum. Kok, langsung mikirin ajuan permohonan maaf?" Givan merasa bingung sendiri di sini. Padahal dirinya yang nanti akan dihukum, tapi orang lain sudah memikirkan hukuman dan hal-hal yang mengurangi hukuman untuknya.
"Kasusnya kompleks, Bang. Meski mungkin dapat hukumannya sedikit-sedikit, tapi kalau disatukan ya berat juga itu. Saya masih berharap kasus Bang Givan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Saya tak tega sama Bang Givan, sama anak-anak Bang Givan terutama. Saya merasakan sendiri banyak anak, dengan istri sedang mengandung. Waktu itu Saya kena tilang, dalam posisi istri mengandung. Hanya begitupun, Saya sampai stress karena mikirin istri di rumah sendirian dan banyak anak-anak, sedangkan Saya repot urus STNK di kepolisian sampai seharian. Masalah kecil memang, tapi hal kecil itupun bisa jadi pelajaran untuk Saya." Kepala desa bercerita dengan nada ramahnya.
Pembicaraan ini, belum mengarah ke hal-hal yang serius.
"Saya tak apa, Keuchik. Saya cuma minta, kurungan penjara dihilangkan dan diberatkan ke cambuk dan denda emas saja. Saya bawa kasus ke syariat di sini, ya biar Saya tetap bisa ngurusin istri sama anak." Givan memberikan keyakinan dari garis bibirnya yang tertarik tinggi.
"Waduh." Kepala desa memijat pelipisnya dan menggelengkan kepalanya. "Kata bang Ramli, maksimal cambuk untuk bang Givan ini bisa seratus lebih. Apalagi jika dikurangi untuk masa hukum kurung, bisa lebih dari tebakan kita. Tapi itu pun, belum ditilik dari benar tidaknya Bang Givan melakukan hal-hal di luar batasan. Kek membeli, tapi tidak memakai. Ini, pasti dapat keringan. Tapi, dalam masalah sengaja masuk ke ruangan bersama dek Ai ini yang pastinya dapat masalah. Terus, khamar ini Bang Givan pasti kena. Kira-kira empat puluh kali cambuk, empat ratus gram emas murni dan masa kurung empat puluh Minggu."
Canda merasa ada kekeliruan di sini. "Setau Saya, hukuman denda dan hukuman kurung itu kalau yang mengulangi pasal sebelumnya. Saya ingat ini, karena pemuda kampung pernah dieksekusi di Masjid Al-Mudawamah dan Saya menontonnya." Canda berani mengeluarkan suaranya kali ini.
"Menurut Papah sih, Givan bukan sekali minum pas itu. Maksudnya, dalam waktu yang berbeda." Adi menyoroti anak sulungnya itu. Sedikit banyaknya, ia paham bagaimana anaknya itu.
"Dalam kadar di luar ketentuan, aku baru pas itu aja. Sebelumnya memang ada minum, tapi kadarnya sekitar 0,5 persen aja." Secara tidak langsung, Givan membenarkan ucapan ayah sambungnya.
"Aduh." Kepala desa garuk-garuk kepala. "Yang begini-begini, mending tak usah diungkap deh, Bang. Takut memberatkan nantinya, jadi mending yang udah mau dinaikkan ini aja, yang kita bahas nanti. Biar yang sudah-sudah, tak usah dibahas gitu."
__ADS_1
Givan melongo saja, baru kali ini kepala desa menyarankan untuk sedikit menutupi fakta yang ada.
"Atau, Saya sarankan pindah alamat KTP saja. Bang Givan masih boleh tetap tinggal di sini, tapi alamatnya di luar provinsi kita. Dengan kejadian tersebut tidak terjadi di sini, Bang Givan pun bukan warga sini, Bang Givan bisa bebas dari hukuman yang ada."
Bertambah saja keheranan Givan pada kepala desa tersebut. "Keuchik kenapa sebenarnya?" Pertanyaannya sontak mengundang tawa geli dari orang tuanya.
"Keuchik terlalu sayang Bang Givan nih rupanya," tandas ketua RT yang masih berada di antara mereka.
Givan menoleh ke arah ketua RT. "Saya bingung sendiri, karena Keuchik yang panik di sini," akunya dengan menunjuk kepala desa dengan ibu jarinya.
Tawa mulai mereda, dengan ekspresi wajah kepala desa yang berubah serius. "Jujur aja, Bang. Selain Saya kasian anak dan istri Bang Givan, karena bukan cuma dipisahkan sementara sama figur ayah dan suami. Tapi, mereka pun pasti kelak terbawa sejarah bahwa ayah dan suami mereka pernah terkena hukuman syariat di sini. Malunya ini, bukan cuma ditanggung Bang Givan aja. Belum lagi, sematan anak teungku haji berbuat hal tidak baik malah jadi mencoreng nama baik keluarga. Kalau diselesaikan secara kekeluargaan kan, ya hanya pihak keluarga Bang Givan dan keluarga dek Ai aja yang tau." Kepala desa memikirkan resiko hukuman Givan untuk jangka panjangnya.
Kepala desa mulai memikirkan permohonan Givan. Hal tersebut, biasanya jarang terjadi. Karena sudah menjadi aturan dan ketetapan, untuk bisa dilangsungkan di setiap desa.
"Itu sulit, Bang Givan. Lebih baik ikut beberapa saran Saya itu. Bang Givan jangan menguak kasus yang tidak masuk daftar, kekeluargaan, atau mau pindah alamat KTP saja?" tawaran itu, yang kini harus dipikirkan Givan.
"Saya butuh tindakan jera untuk diri Saya sendiri juga, Keuchik." Senyum meyakinkannya kini dipamerkan kembali.
Kepala desa memandang Adi, besar harapannya agar Adi mau membujuk anaknya yang keras kepala itu. Namun, Adi memilih untuk mengedikan bahunya.
"Kita turuti aja, Keuchik," ujar Adinda pasrah.
__ADS_1
Tidak ada jalan keluar lagi menurutnya, selain menuruti kemauan anaknya sendiri. Givan tidak bisa dicegah, apalagi niatnya untuk membuat jera dirinya sendiri.
"Bukan hanya Bang Givan yang menanggung malu, keluarga juga pasti merasakan." Satu persediaan kalimat untuk membujuk Givan, akhirnya keluar juga dari mulut kepala desa.
"Saya yakin keluarga Saya bijak, lebih tangguh dan pandai untuk menyikapi masalah ini. Saya yakin, mereka tidak mungkin jadi malu untuk bersosialisasi hanya karena Saya." Givan menyentuh dadanya sendiri.
"Berarti, keputusan Bang Givan tidak akan berubah ya?" Kepala desa kembali memastikan.
Givan mengangguk mantap. "Saya minta prosesnya disegerakan, agar nanti istri Saya mengadakan syukuran empat bulanan atau tujuh bulanan, Saya sudah ada di sampingnya. Terutama, kelak dia disesar kembali. Saya ingin, Saya sudah terbebas dari masalah apapun. Saya ingin fokus pada istri Saya dan dua bayi kembar Saya nanti, Keuchik. Jadi total, Saya mengurus tiga bayi."
"Wow, punya bayi kembar kali ini?" Rasa terkejutnya tidak bisa disembunyikan.
"Iya, Keuchik. Belum Canda yang selalu mewek, kalau baru sekali bersalin. Saya harus benar-benar fokus, biar ketiganya tidak merasa dianaktirikan." Givan menggenggam kembali punggung tangan istrinya, kemudian mengusap-usap punggung tangan istrinya dengan ibu jarinya.
Lirikannya begitu mematikan, membuat Canda selalu mendamba rupawan dan wibawa suaminya.
"Oke, baik kalau gitu. Jum'at depan, Saya pastikan kasus Bang Givan benar-benar naik untuk diselesaikan. Semoga Bang Givan siap lahir batin ya?" Kepala desa mengajak Givan berjabat tangan.
Givan segera menerima jabatan tangan tersebut. "Aamiin, aamiin, Saya usahakan selalu siap," sahutnya dengan penuh kemantapan.
...****************...
__ADS_1