Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM272. Tukang pukul?


__ADS_3

"Canda...." Kenandra menahan Canda, yang berniat masuk ke dalam rumah ibu mertuanya.


"Bentar, Bang. Aku panik, suami aku katanya muntah-muntah." Canda sampai lupa melepas salah satu sandalnya. Hingga akhirnya ia menendang asal, agar sandalnya terlepas cepat karena ia sudah menginjak teras rumah.


"Itu sih pas baru sampai rumah. Sekarang tidur, udah makan udah minum obat." Kenandra begitu yakin memberitahukan, karena ia sendiri yang memberikan resep obat untuk adik angkatnya.


"Tapi aku mau lihat dulu, Bang." Canda tetap melanjutkan langkahnya untuk menilik keadaan suaminya.


Benar ya dikatakan Kenandra, Canda mendapati suaminya mendengkur di atas karpet ruang keluarga. Bahkan, ayah mertuanya memintanya untuk pergi karena khawatir menggangu istirahat putra tirinya.


"Pah, suami aku kenapa-kenapa tak?" Canda mendekati ayah mertuanya yang baru keluar dari dapur, ia berbisik dengan nada amat rendah.


"Mabuk pesawat, kelamaan di perjalanan. Meski transit juga, tapi dia udah lelah gitu. Udah minum obat magh-nya, udah minum multivitamin juga. Kurang istirahat juga, jet lag lah bahasa kerennya." Adi merangkul suaminya, kemudian menggiring menantunya untuk keluar dari area ruang keluarga.


"Duh, mana besok mau ke Lhokseumawe." Canda terlihat gelisah, mendengar keadaan suaminya yang tidak dalam kondisi baik-baik saja.


"Ya makanya, biarin dia istirahat dulu. Sampai dengkur begitu, lelah betul itu keknya." Adi membawa menantunya keluar kembali dari rumah.


Ia duduk di teras bersama Kenandra yang tengah menunggu kabar dari seseorang, tentang titik keakuratan yang ia minta. Adi menaruh gelas berisi teh manisnya, kemudian ia menepuk lantai di sebelahnya, agar menantunya mau duduk.


"Pengen cium baunya mas Givan, Pah." Canda akhirnya menapakkan alas duduknya di lantai.


"Ya ampun, Canda! Kasian loh suami kau, capek dia itu. Nanti aja coba kalau dia bangun!" Adi hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Papah kenapa tak kasih tau aku ke sana kalau mas Givan pulang? Mas Givannya lagi, pulang tuh ke mamah dulu, bukan ke istrinya dulu," gerutu Canda kemudian.


"Memang, kau bisa ngurus?" Adi menyenggol lengan menantunya dengan sikunya, ia pun melirik ke arah Canda.


Canda menoleh ke arah ayah mertuanya, sorot matanya bertabrakan dengan sorot mata ayah mertuanya. "Ih, Papah! Bisa lah! Aku istrinya." Canda merengut sebal.


"Masa? Tapi banyakan dia ngurus kau, bukan kau ngurus dia. Sakit apa, tetap ibunya yang dicari. Sekalipun Ghifar begitu. Enak-enak dia sama istrinya, sakit pasti pulang ke mamah, padahal dekat aja." Adi tidak mengerti dengan konsep anak-anaknya yang seperti itu.


"Tak paham aku, Pah. Kalau aku mampu sembuhkan pakai tangan aku sendiri sih, udah aku gosok-gosok badannya yang sakit. Aku aja tak tau, kalau mas Givan udah sampai." Canda merasa sedikit kecewa, karena suaminya pulang langsung ke ibunya, bukan padanya. Ia berpikir, bahwa dirinya tidak becus mengurus Givan. Sampai, suaminya pun lebih mempercayakan dirinya pada orang tuanya.


"Udahlah! Tak usah dipermasalahkan. Dia pulang ke sini itu, Canda. Karena sekalian turun sama adiknya, oleh-oleh dan barang-barang mereka diturunkan di sini. Di rumah kau banyak anak juga, ada bayi, jadi rumah ramai, sedangkan dia butuh istirahat." Kenandra mencoba menenangkan Canda yang terlanjur kecewa.


"Di sini pun ada aja cucu-cucu yang datang," timpal Adi dengan menoleh ke arah Kenandra.


"Ehh...." Adi terkekeh kecil.


"Papah tuh!" Canda melirik ayah mertuanya lagi.


"Ya udah deh, Papah kabur aja." Adi bermaksud tidak bertanggung jawab, jika sampai Canda menangis.


"Huh...." Canda bersedekap tangan dan memperhatikan ayah mertuanya yang masuk kembali ke dalam rumah dengan membawa secangkir teh manisnya.


"Canda.... Lama ya tak lihat Ria." Kenandra langsung berbasa-basi.

__ADS_1


Tiba-tiba, Canda langsung teringat cerita suaminya yang menceritakan adiknya dan bang Ken. Ia kembali teringat kebenciannya terhadap pemilik nama itu, karena sudah memperdaya adiknya.


"Tak tau!" Canda menjawab ketus.


"Masa iya kau tak tau? Tak mungkin deh, Canda." Kenandra memperhatikan bahasa tubuh Canda.


"Tau, tapi tak berniat bagi tau." Canda memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Aku tau, kau pasti udah dengar ceritanya. Kalau kau pandang dari sudut pandang mereka pun, memang kalian pasti berpikir kalau aku ini salah. Tapi coba pikir lagi, Canda. Aku ini mau nikahin, tapi dihalangi. Aku punya keinginan baik, tapi dihalangi. Suami kau itu sombong, segitu adik iparnya cinta juga, tapi tega betul ambil keputusan untuk misahin. Kau tak pernah berpikir rasanya jadi aku? Jadi Ria? Aku tak akan malu, ngakuin kalau aku sama Ria sama-sama cinta. Untuk apa suami kau nentang dan mempersulit restunya untuk kami? Dia ngerasa sombong, karena punya Ria yang gadis? Atau, dia merasa kalau Ria tak pantas dapat duda?" Kenandra mulai mengungkapkan hal yang mengganjal di hatinya.


"Kenapa Abang rendahin?" Canda langsung mengatakan satu permasalahan yang membuatnya pun ikut membenci Kenandra.


"Karena suami kau sombong! Dia larang kami nikah, dengan alasan yang tak jelas." Menurut Kenandra tak jelas, karena ia tidak tahu bahwa ia dipandang sebagai seseorang yang kasar oleh Givan. "Dia harus sadar, Ria pun cinta sama aku. Dia datang ke aku, dia bujuk aku, ini itu. Dia harus tau itu, maaf kalau penyampaiannya memang agak kasar. Terus juga, udah begini keadaannya, yang rugi itu adik iparnya sendiri kalau tak jadi nikah sama aku. Salah kah aku bilang begitu? Tak menurut aku sih," lanjut Kenandra berapi-api.


"Jadi, maksudnya Abang ini tak tau alasannya kenapa mas Givan larang Abang untuk nikah sama Ria?" Givan merasa ada kekeliruan. Ia berpikir, ia pun akan marah jika dilarang tanpa alasan yang jelas. Ia menarik contoh jelasnya, ia dilarang makan pedas, karena khawatir lambungnya tak kuat.


Ia paham, Kenandra pasti bertanya-tanya kenapa dirinya dilarang dengan Dia, padahal mereka berdua saling mencintai.


"Tak, dia langsung larang-larang aja." Kenandra meluruskan pandangannya ke arah lain.


Tentu ia tidak merasa, jika dirinya kasar untuk orang lain. Ia tidak merasa, karena menurutnya apa yang ia lakukan tidak menyakiti orang lain.


"Abang itu kasar, tukang pukul kan? Nanti Abang KDRT, kek abi Haris dan Kin. Kami tentu tak mau lah, kalau sampai adik kami bonyok-bonyok karena suaminya sendiri. Belum lagi, nanti setiap begituan, Ria pasti ngerasain diper****. Abang kan tak bisa lembut di ranjang, pastinya lebih menyeramkan dari cerita pemerk****n aku oleh mas Givan. Dulu aku berdarah-darah, karena aku ngelawan dan terpentok ini itu. Bisa jadi kalau sama Abang, dia bonyok-bonyok karena dipukuli Abang dulu. Keluarga mana yang tak melarang, kalau tau calon suaminya adalah orang yang kasar, suka KDRT?" Canda membuat Kenandra melongo tak berkedip.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2