Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM79. Sambel asem


__ADS_3

"Tidak mendapat keadilan ya rupanya Bu Dinda ini?" Pertanyaan tersebut bercampur dengan gelak tawa.


"Tak mendapat keadilan, lahiran sampai setahun tiga bayi," sindir Ghava mengundang tawa kembali pecah.


"Ya sekarang sih udah dibuat adil aja lah, Pak," sahut Adinda mentertawakan dirinya sendiri. Bagaimana tidak lucu, jika akhirnya ia berbahagia dengan suaminya.


"Begitu ya, Dek Ai? Tolong dihubungi keluarganya, biar Dek Ai tak seorang diri menjalani beberapa sidang di sini." Kepala desa mengembalikan bolpoin pada Adi.


"Bukunya silahkan dibawa saja, Keuchik." Adi menolak ketika buku tersebut akan dikembalikan.


"Oh, ya. Terima kasih." Kepala desa sudah berdiri. "Saya pamit dulu ya semuanya. Langsung telepon aja nanti, Teungku. Ini nomor telepon Saya. Agak sulit memang kalau lewat staf." Pertukaran nomor telepon terjadi, sampai akhirnya kepala desa tersebut pamit pergi.


"Mari semuanya, assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Adi dan Adinda mengantarkan mereka sampai ke halaman rumah.


"Sabar ya?" Givan mencium pipi istrinya, kemudian ia membawa istrinya dalam dekapannya.


"Sabar kenapa, Mas?" Canda pasrah masuk dalam dekapan suaminya.


Givan yakin, bahwa istrinya tidak mengerti apapun di sini. Jelas keputusannya itu, mungkin dianggap Canda hanya sebatas hukuman karena kelakuannya saja.


"Tak apa." Givan tanpa sungkan bermesraan dengan Canda di depan Ai. Pikir Ai di sini, Givan memanas-manasi dirinya saja.


Ai memikirkan beberapa kontak keluarganya, yang ia hide semua sosial medianya. Ia tidak mau seorang diri menjalani proses tersebut, tapi ia pun tak ingin keluarganya tahu.


Ia merasa, ia benar-benar kurang matang untuk merencanakan semuanya. Sampai-sampai, kini ia yang malah dihukum. Jika pergi secara tiba-tiba, ia yakin kehamilannya akan sia-sia. Namun, jika bertahan dan melanjutkan proses. Ia yakin, bukan pernikahan juga yang akhirnya dipilih Givan untuk bertanggung jawab padanya. Ada restitusi, yang mungkin akan Givan sanggupi untuknya.


"Mana kontak keluarga kau, Ai?" Adinda kembali setelah mengantar tamunya di halaman rumah.


Ai mendongak melihat Adinda. "Bu.... Buat apa, Mah?" Ai terbata-bata untuk menjawabnya.


"Buat dihubungi, biar kau tak sendirian." Adinda duduk di bangku sofa dekat Ai.


"Biar nanti aku hubungi dulu biar bisa diusahakan untuk ke sini, Mah." Ai begitu pandai menarik alasan.


"Oh begitu? Ditunggu ya kesediaannya?" Adinda adalah tipe orang yang bisa dipercaya ucapannya. Ia pun menganggap, bahwa Ai pun bisa dipercaya seperti dirinya.

__ADS_1


"Iya, Mah." Ai manggut-manggut dan tertunduk kembali.


"Ya udah kau istirahat, pikirkan keadaan bayi kau. Jangan terlalu mikirin hukuman, hukuman bisa dijalani setelah kau melahirkan nanti."


"Ya, Mah." Ai bangkit dan berjalan menunduk menuju ke kamarnya.


"Mah, aku pengen rujak asem gitu. Gula merah sama asam jawa, kasih cabai. Terus sama kerupuk sama daun ubi yang direbus." Salivanya sudah memenuhi mulut Canda.


"Hmm!" Givan menepuk jidat istrinya. "Kok nyuruh Mamah?!" Ia menarik hidung Canda.


"Tak nyuruh, orderin gitu." Sorot mata Canda sudah penuh harap.


"Ya sama aja!" Terpaan suara ngotot Givan sampai menerpa wajah Canda.


Canda terkekeh geli. "Ya tak apa." Ia memeluk tubuh suaminya dan menggosokkan wajahnya ke dada suaminya. "Abis makan kerupuk sambel asem, terus kelonan. Eummm.... Nikmat mana yang kau dustakan?" Canda menarik-narik rambut dagu suaminya.


Adinda memperhatikan kemesraan anak dan menantunya yang tidak tahu tempat tersebut. Anaknya sudah benar-benar mampu memperlakukan Canda dengan baik, tidak seperti saat baru pertama menikah. Namun, ia malah begitu prihatin dengan badai orang di masa lalu seperti ini. Sasaran utamanya adalah anaknya, ia kadang meragu dengan Givan yang apa bisa menolak orang ketiga yang pernah ia cintai tersebut.


"Ayo, Bang. Sini aku bantuin nyusun bukti-buktinya." Ghava nampak bosan melihat kemesraan itu.


Namun, kakinya malah dicekal oleh Canda.


"Apa, Cendol?" Givan menoleh ke arah istrinya dengan menggosok hidungnya yang gatal.


"Mau ke mana? Orang disuruh belikan sambel asem." Bibirnya manyun sepuluh senti.


"Sama Mamah katanya, Cendol?! Katanya Mamah suruh order?" Adinda berpindah duduk di sebelah menantunya. Ia seperti membujuk anak kecil, untuk tidak ikut bekerja dengan ayahnya.


Makanan yang Canda maksud, tidak dijual di daerah ini. Cemilan seperti itu, banyak dijual di Cirebon. Jadi, di mana mereka bisa membelinya jika kota ini?


"Mas aja." Canda merengek dengan menarik-narik ujung kemeja suaminya.


"Ya ampun." Givan melepaskan ujung kemejanya yang ditarik-tarik istrinya, kemudian ia duduk kembali di tempatnya.


"Nanti aku ke studio kau, Va. Anak rewel, sulit mau urus yang lain."


Canda segera mencubit perut suaminya, dengan Givan yang langsung terkekeh dengan merangkul istrinya. Jika istrinya bukan Canda, ia malas sekali untuk mengikuti rengekan manja tersebut. Pikiran rasionalnya pasti berpikir, bahwa istrinya sudah besar dan bisa membeli kebutuhannya sendiri. Namun, ia paham jika istrinya Canda yang memakai sandal juga masih sering tertukar sebelah. Ia tidak bisa menganggap bahwa istrinya seperti manusia dewasa pada umumnya.

__ADS_1


"Oh, ya udah. Aku stay di sana kok." Ghava mengerti dengan alasan kakaknya itu.


"Iyalah, kan pengangguran," celetukan Canda membuat Ghava geram.


Adinda malah tertawa lepas, melihat Canda yang sering sekali mencari keributan dengan Ghava yang memiliki sifat tempramen dan tukang pukul tersebut.Canda tidak sampai membangkitkan sisi gelap Ghava, tapi malah menjadi humornya sendiri karena aduan mulut antara Canda dan Ghava tersebut.


"Suami kau juga pengangguran, Bodoh!" Ghava mulai mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


"Kakak Ipar, Va!" Adinda memberitahu dengan tawa ringan.


"Suami aku pengangguran juga, aku banyak uang." Canda menantang susunan kalimat Ghava.


"Awas ya kau! Tak kutungguin anak kau pas kau jemur, biar aja dimakan kucing atau kering nanti." Ghava menjadi anak kecil kembali untuk meladeni Canda.


"Biarin! Nanti aku gantungin dia, terus dijepit pakai jepitan jemuran, biar tak terbang atau dimakan kucing."


"Udah sana tuh!!!" bentak Adi, menyuruh anaknya pergi.


Adi masuk dan membawa Ghava keluar dari rumah. Kepalanya berdenyut, jika Canda sudah mulai beradu mulut dengan para bestienya.


"Ayo, mau buat apa beli?" Givan bertekad untuk membuat istrinya anteng dan terkondisikan dulu, barulah ia akan meninggalkan Canda dengan kesibukannya menyusun bukti-bukti.


"Tak ada yang jual, Van," terang Adinda, dengan terus mencari makanan yang menantunya inginkan dalam aplikasi yang mencangkul makanan yang bisa diorder sekitar sini.


"Ya udah, ayo buat." Givan bangkit dan berjalan lebih dulu ke arah dapur rumah ibunya tersebut.


"Tuh, suami kau tuh. Sana bantuin." Adinda menepuk bahu Canda dan setelah itu menunjuk pada putranya yang sudah masuk ke dalam dapurnya.


"Mamah dong buatkan." Canda adalah jenis manusia yang malas bergerak.


"Duh, ya ampun." Adinda bangkit dengan memegangi lututnya. Kemudian ia berjalan ke arah dapur meninggalkan Canda.


"Ya Allah, laparnya." Ai mengusap-usap perutnya sendiri. Sejak tadi ia tidak bisa terlelap karena perutnya yang terus berbunyi.


Ia melangkah keluar kamar dan melihat Canda tengah rebahan di sofa panjang dengan bermain ponsel. Senyum miringnya terukir, ia teringat bahwa menantu tertua itu mudah memiliki beban pikiran bahkan sampai shock.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2