
"Pengen ciuman yang tak belepotan, Mas." Canda naik ke atas pangkuan Givan.
"Lagi di rumah mamah tuh, aneh-aneh aja." Givan memegangi pinggang istrinya, agar tidak terhuyung ke belakang.
"Pengen ciuman, dikit aja. Aku tadi nonton film, ada adegan ciuman, jadi pengen nyicip." Canda terkekeh dengan memegangi rahang suaminya.
"Film apa kau tonton? Kok bisa ada adegan ciumannya?" Givan mendongak mengikuti tangan istrinya yang membawanya untuk senantiasa mengunci pandangannya.
"Friend With Benefit. Film lama, aku liat di aplikasi." Canda sudah menempelkan bibirnya ke bibir suaminya.
"Jangan berantakan, Mas. Bisa tak?" Ia memundurkan kembali kepalanya, karena tidak merasa mampu untuk melakukannya.
"Hmmmm...." Givan menurunkan tangan Canda dari rahangnya, kemudian giliran dirinya yang membingkai wajah istrinya.
Givan melakukan dengan benar, seperti yang Canda inginkan. Begitu rapi, tanpa jejak saliva yang mengganggu.
"Ihh, hebat." Canda melepaskan kegiatan suaminya, kemudian ia menunjukkan dua ibu jarinya.
"Pakai bibir aja, Canda. Kalau tak mau berantakan." Givan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Terlihat Canda begitu kokoh duduk di atas pangkuannya.
"Lagi, Mas." Canda memegangi kedua pipinya, dengan raut wajah dibuat seimut mungkin.
"Sok." Givan tersenyum mesum pada istrinya.
Ia menginginkan Canda untuk bergerak sendiri. Ia ingin Canda sedikit agresif padanya.
Tawa Canda lepas begitu malu-malu. Kemudian, ia menempatkan kedua sikunya di samping kanan dan kiri kepala suaminya. Jemarinya menahan kencing Givan untuk tetap pada posisi yang ia inginkan.
Givan geli sendiri, karena posisinya seperti anak kecil yang akan dipaksa untuk meminum obat. Ia tertawa geli terus menerus, ketika Canda mulai bergerak untuk mengatur gerakan bibirnya.
"Kau ngapain, Cendol?" Givan terus tertawa, dengan posisi pasrahnya.
Canda ikut tertawa saja, hal itu seperti gurauan untuknya sendiri. Bukannya bisa, malah mereka terus dibuat saling tertawa.
"Ayo sih, Mas." Canda terlihat tidak sabar, untuk mempraktekkannya lagi pada suaminya.
"Iya sok, Canda." Givan memandang wajah istrinya begitu intens. Namun, malah membuat Canda malah salah tingkah sendiri.
Ia menutupi wajahnya malu. "Mas jangan gitu matanya." Givan memukul pelan dada istrinya.
Givan terkekeh kecil dan menarik kedua tangan istrinya yang menutupi wajahnya. "Lagi pengen kah?" Givan mencoba memahami hormon kehamilan Canda.
__ADS_1
"Tak, aku pengen bisa ciuman tak belepotan aja." Canda mengalungkan tangannya pada leher suaminya.
"Ohh...." Givan mencoba merantai hawa inginnya, karena kegiatan dewasa ini.
"Boleh tak?" Canda bersembunyi pada ceruk leher suaminya.
Givan meremang, karena merasa ada rangsangan ringan yang Canda berikan. Ia tidak mungkin bisa menahannya lebih lama, jika Canda tetap berada di ceruk lehernya.
"Di kamar aja yuk? Di kamar kita yang di sini." Givan bersiap bangun dengan menggendong istrinya dalam posisi kaki Canda terbuka.
"Pengen di sini aja, aku udah nyaman posisi kek gini." Canda kembali menegakkan punggungnya, kemudian mengincar bibir suaminya.
"Hhhhhmmmm....." Givan bergumam merasakan sensasi sentuhan istrinya.
"Subri jangan suruh berdiri, Mas." Canda merasakan pergerakan tumbuhan di tengah-tengah tubuh suaminya.
Ia benar-benar duduk di atas tengah-tengah nyawa Givan.
"Normal, Canda. Makanya ayo ke kamar. Kita jarang betul berhubungan, aku udah tak bisa diajak kompromi lagi."
Canda memahami mata yang berkabut tersebut. Tatapannya begitu dalam, seolah menyiratkan sesuatu.
"Tapi apa, Canda? Pengen mobil yang lain kah? Mobil satu itu pun, kau tak pernah bawa sendiri. Tetap aku yang pakai." Givan mengerti bahwa hal rutin ini, sekarang memang benar-benar bersyarat.
"Tapi di sini aja. Mamah sama papah pun lagi istirahat itu tuh, mereka tidur." Canda merasa bahwa situasi dan kondisi di ruang tamu mertuanya ini begitu memungkinkan.
"Kita pernah ke-gap mamah, betulkah mau ketahuan lagi?" Givan berbicara lirih, bermaksud agar orang tuanya tidak sampai mendengar.
"Tapi pengen." Canda merengek dengan menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Alas duduknya pun tidak mau diam, mengakibatkan Givan mendapati rasa nyeri di bagian tengah-tengah tubuhnya.
"Nanti kalau rumah sepi ya?" Givan menegakkan punggungnya, kemudian mengunci pergerakan pinggul istrinya.
Ia memberikan ciuman ringan yang Canda inginkan sejak tadi. Rupanya, hal itu adalah hal yang menarik untuk Canda. Canda terus meladeni permainan bibir suaminya tersebut.
Tangan lebar itu, perlahan masuk ke dalam daster modern milik istrinya. Kemudian, ia mengusap bagian lutut Canda yang terlihat begitu sempurna warnanya.
"Ayolah, Canda." Givan sudah amat tidak tahan.
"Tapi.... Aku tau beres ya? Aku malas gerak." Canda memeluk tubuh suaminya.
"Ya ampun, Canda." Givan menghela napasnya.
__ADS_1
"Pengen juga diservis nih, tau beres terus." Givan mengiba, mencoba meminta belas kasih istrinya. Agar mau turun tangan, untuk memenuhi rasa inginnya yang tidak hanya satu macam tersebut.
"Tak mau udah, aku tak maksa Mas untuk mau." Canda berlagak sombong.
"Ya masalahnya, aku yang mau. Aku yang pengen, aku yang ingin." Givan begitu memelas.
Canda terkekeh geli, kemudian hendak turun dari pangkuan suaminya. Namun, Givan menahannya.
Canda melihat ada kendaraan yang masuk ke halaman rumah dari jendela yang terdapat di belakang sofa tersebut. Mobil milik suaminya, yang akan berhenti di depan teras rumah megah tersebut.
"Ada orang, Mas." Canda memberitahu suaminya, dengan menepuk pundak suaminya.
"Ya udah sok turun, pelan-pelan." Givan membantu istrinya turun dari pangkuannya dengan penuh kasih.
Mereka berdua, beriringan menuju ke teras. Terlihat Kenandra membukakan pintu mobil tersebut, dengan sosok Ai yang duduk lemas di kursi mobil.
"Biar aku bantu." Muncul Gavin, yang berjalan memutar untuk sampai di tempat Ai dan Kenandra berdiri.
Rupanya, Kenandra membawa Ai ke pelayanan kesehatan dengan bantuan Gavin juga.
"Cuci dalam mobil, Van. Ada noda darah di bangku kau," ujar Kenandra dengan membantu Ai yang tengah keluar dari dalam mobil.
"Iya, Bang." Givan hanya diam, tidak sedikitpun ia tergerak untuk membantu Ai.
Canda pun hanya menonton, dengan menggenggam lengan atas suaminya. Ia senantiasa berpegangan pada suaminya di mana dirinya berada, ia sudah terbiasa seperti itu.
"Kau tak apa, Ai?" Barulah Canda menanyakan keadaan Ai, setelah terlihat wajah pucat dari Ai.
"Panggil Nando, Van. Minta dia urus kepesertaan BPJS mandiri untuk Ai." Kenandra langsung menarik Nando, karena tahu bahwa Givan tidak akan pernah mau untuk turun tangan sendiri.
"Kenapa memang pakai BPJS? Asuransi tak mau cover kah?" Canda ikut masuk ke dalam rumah kembali, saat ketiga orang tersebut masuk dalam rumah.
"Ai bukan keluarga kita, dia tak terdaftar asuransi. Dia bakal disesar, kan biayanya tak sedikit juga." Gavin berkata dengan membukakan pintu kamar Ai.
Ai dipersilahkan untuk beristirahat.
"Memang dia kenapa? Bayinya besar kah? Ada riwayat sesar kah?" Canda mengaca dari dirinya sendiri.
"Bukan, dia.......
...****************...
__ADS_1