
"Coretan dinding?" Givan memicingkan matanya, setelah ia turun dari motornya.
Gibran mengangguk lemah, ia tertunduk gelisah. Ia pun tidak tahu usaha di bidang apa, jika ia suka berekspresi dengan coretan dinding.
"Bentar deh, Abang ke Awang dulu." Givan menjeda sebentar, untuk membahasnya setelah ia menyelesaikan tiket penerbangan untuk mereka berlima.
"Ya, Bang." Gibran pun mengikuti langkah kakaknya, ia lebih memilih duduk di teras dengan mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. Ia menyibukkan dirinya dengan ponselnya.
"Assalamualaikum...." Givan mengetuk pintu kamar Awang.
"Wa'alaikum salam." Istri dari Awang yang menyahuti.
Pintu terbuka, dengan dihadapkan dengan seorang Nafisah.
"Mana Awang?" tanya Givan kemudian.
"Ada, sebentar ya?" Nafisah memanggilkan suaminya yang tengah berada di kamar mandi. Ia hanya memberitahu, agar Awang bergegas di kamar mandi.
Givan memilih duduk di samping adiknya, sampai akhirnya Awang menghampirinya.
"Gimana, Van?" Awang duduk di dekat Givan.
"Pinjam data diri kau, Naf, sama Ai. Aku lagi pesan tiket pesawat. Nanti kalian rombongan pulang sama mamah dan bang Ken." Givan menjelaskan langsung tentang rencana orang tuanya yang disampaikan padanya itu.
"Tak usah repot-repot gitu sih, Van. Sampai-sampai, bang Ken dan mamah Dinda ikut antar." Awang berpikir, bahwa Kenandra dan Adinda ingin mengantarkan mereka pulang.
"Mereka ada tujuan lain di Cirebon, Wang. Nanti, dari turun pesawat langsung cari stasiun ya? Nanti kalian naik kereta api rombongan, terus turun bareng-bareng di stasiun Cirebon. Kau dari Cirebon naik taksi atau apa, nanti bang Ken arahkan dan bayarin. Karena nanti mamah sama bang Ken cuma sampai Cirebon aja, tak sampai tempat kalian." Givan memahami jika Awang memiliki keterbatasan ongkos.
__ADS_1
"Iya, Van. Nanti, aku ambil dulu identitas aku." Awang beranjak masuk kembali ke kamarnya, kemudian ia bergerak ke kamar sebelah untuk mengambil data diri milik adiknya.
Sayangnya, saat keluar mereka berdua. Ai mengikuti kakaknya yang menghampiri Givan, membuat Givan langsung merasa tak nyaman berada di sini. Belum lagi, ia khawatir ada yang melapor dan membuat istrinya menangis.
"Ini, Van. Katanya, Ai waktu ambil penerbangan pakai ini." Awang memberikan sim kendaraan milik Ai.
"Hmm...." Givan hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bisa kan?" tanya Ai kemudian.
"Bisa," jawab Givan singkat.
"Iyalah bisa, aku aja bisa sampai sini," tambah Ai yang menurut Givan tidak penting.
"Terus yang kapok, Ai. Buat apa jauh-jauh ke sini?" Awang mengeluarkan logat aslinya saat berbicara dengan adiknya.
"Ya niatnya sih biar hidup enak ya, Ai?" Givan terkekeh sumbang.
"Sekalipun Canda tak hamil, aku tak akan mau nikahi kau. Orang aku tak merasa, jelas itu bukan anak aku." Givan yakin atas kesadarannya yang tersisa masa itu.
"Ck, Aa selalu nepis. Kita sama-sama tau, lain kondisi kalau Aa ngomong pas tak ada orang," tegas Ai begitu percaya diri.
Gibran langsung menepuk-nepuk pundak kakaknya. Ia tidak berbicara apapun, tapi ia yakin jika kakaknya langsung naik pitam. Ia ingin kakaknya tidak meladeni ucapan Ai, agar celotehan Ai tak berbuntut panjang.
"Hmmm...." Givan hanya menghela napasnya, ia mencoba tidak terpancing dengan perkataan Ai.
"Lagian kamu gak akan siap jadi ibu sambung dari anak-anaknya Givan, Ai. Sekalipun duda, Givan duda beranak banyak," timpal Nafisah yang Givan merasanya bahwa Nafisah memperkeruh suasana.
__ADS_1
"Istrinya aja tak urus anak-anaknya pakai tangannya sendiri, masa giliran aku suruh ngurus semua anaknya?" Ai melirik kakak iparnya yang baru keluar dengan membawa tiga gelas kopi.
"Ya tak apa, biar berbakti, biar dapat hatinya anak-anak. Beresin juga delapan rumah anak-anak, plus rumah tinggal Bang Givan juga." Gibran terkekeh geli dan membuat Givan ingin menganiaya adiknya itu.
"Ah, Canda aja tak begitu. Yang dia tau cuma nangisin lakinya." Ai melirik Givan yang mencoba fokus pada ponselnya.
"Lain kak Canda, lain Kak Ai. Urusin rumah anak-anaknya, rumah tinggal kalian, rumah mertua juga. Biar hidup itu ada gunanya, selain ngacauin rumah tangga orang. Kalau mati dalam keadaan kelelahan untuk mengurus hunian suami kan, mana tau jaminan surga tuh. Ya kan? Daripada mati malu, karena dicambuk berkali-kali. Belum lagi malunya hukum usir, sampai foto penandatanganan bukti angkat kakinya terpajang di mading balai desa."
Givan menoleh ke arah adiknya. Ia tidak menyangka, adiknya mengeluarkan kata menohok seperti itu.
"Duh, sayang kakak ipar aku bukan Kak Ai. Kalau orangnya Kak Ai, aku setor baju kotor tiap hari. Piring kotor pun aku kumpulkan, biar pas tiap Kak Ai datang ke rumah mamah untuk beresin rumah, Kak Ai punya pekerjaan yang nambah lelah. Tak apa, Kak. Biasanya, Bang Givan royal kok ke istri. Jadi, capek-capek begitu tuh langsung ilang ditukar uang merah." Gibran terkekeh garing.
"Iya, fisik dia kan kuat." Givan memuji Ai, dengan menyambungi tawa adiknya yang tidak ramah.
"Iya! Kuat! Tak kaya istri Aa di rumah! Apa-apa, dia cuma bisa ngerengek dan nangis! Udah kaya bayi!" Ai penuh emosi dalam membalikkan pujian Givan.
Givan tidak terima dengan pujian itu. Namun, saat mulutnya sudah terbuka bersiap untuk berbicara. Gibran malah mendahului kakaknya untuk menimpali ucapan Ai.
"Iya, kalau fisiknya kuat itu jangan ngelawan yang lemah. Lebih baik ambil opsi tugas terbanyak dan memakan banyak tenaga di bumi, yaitu ibu-ibu rumah tangga. Istrinya Bang Givan sih, dia ratunya Bang Givan. Jangankan untuk dibiasakan lelah, dia turun ke dapur aja Bang Givan panik. Bang Givan tak mau ada accident kecil, tergores sedikit, atau buat istrinya jadi bau keringat. Bang Givan ini benar-benar memanjakan istrinya." Gibran menepuk-nepuk pundak kakaknya yang tersenyum samar dengan fokus pada ponselnya.
"Daripada ambil pekerjaan jadi pelakor kemarin, lebih baik ambil pekerjaan jadi asisten rumah tangganya Bang Givan aja. Tetap bisa hidup serumah, tetap diberi uang Bang Givan, tetap bisa mandang Bang Givan, bahkan bisa liat shownya kegiatan dewasa bang Givan dan kak Canda. Mana tau, Kak Ai pun bakal diangkat jadi kameramen." Gibran membungkus sindiran tajam dengan sebuah gurauan.
Givan tertawa geli, dengan menepuk mulut adiknya pelan. "Sejauh ini belum ada yang mau jadi kameramen pribadi. Selalu pakai tripod." Givan menimpali gurauan adiknya sebisa mungkin.
Givan baru tau, ternyata mulut si bungsu tidak kalah tajamnya. Bahkan, berhasil membungkus ketajaman pisau tersebut dengan bubble wrap dan selotip dengan rapi.
"Nah, tuh. Mending jadi tripod, saksi bisu sejarah hidup penaburan benih di rahim kak Canda. Pasti digaji besar tuh, Kak Ai. Tapi tentu berat syaratnya. Boleh nonton, tak boleh nimbrung."
__ADS_1
Tawa Givan lepas, dengan menepuk lengan adiknya. Nada bicara Gibran yang seolah friendly, membuat sindiran tajam itu tersampaikan tanpa membuat kakaknya naik pitam.
...****************...