Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM108. Mencoba menemui Jasmine


__ADS_3

"Kalau kau mau ngeledek, mending tak tau aja, Put. Daripada nanti anak kau, aku masak di sini, karena kesal sama kau." Givan melirik Putri tajam. Ia hanya menggertak saja, tidak benar-benar mengancam.


"Kok ngomongnya gitu sih, Van?" Putri sedikit gentar, karena baru tahu jika Jasmine benar tinggal dalam asuhan Givan. Ia kira, Jasmine diasuh oleh mangge Yusuf saja. Karena setahunya juga, mangge Yusuf adalah orang tua dalam dokumen Jasmine.


Putri tidak ingin bermain-main, jika sudah menyangkut anaknya. Setengah mati, ia berusaha agar anaknya mendapat jatah dari Nalendra. Sebisa mungkin, ia memenuhi kebutuhan Jasmine.


"Trauma aku sama kau." Givan khawatir Putri menambah daftar permasalahan hidupnya.


"Trauma juga aku sama kau." Putri membalas perkataan Givan dengan hal yang sama.


"Kalau berulah lagi, tinggal Jasmine jangan kasih jajan aja, Bang," timpal Giska dengan terkekeh.


"Heh, jangan lah! Gaji aku cuma lima juta lima ratus ribu sebulan, untuk perut aku aja tak cukup." Putri melamun begitu memelas.


"Makanya, aku bilang perbaiki diri. Biar kedepannya enak. Hidup lurus, biar tak tersandung masalah lagi." Givan bertekad untuk dirinya sendiri, di samping ia menasehati Putri.


"Aku udah coba begitu, Givan! Kau tengok aja buktinya kalau tak percaya." Putri bersedekap tangan dengan memalingkan wajahnya mengarah pada anaknya.


"Betul aku sih, kalau kau kumat, jaminannya Jasmine." Givan mencoba mengancam Putri.


"Iya, oke!" Putri sepakat untuk itu.


"Aku minta waktu dan tempat yang private sama Jasmine, Van."


Givan segera menoleh, mendengar kalimat lanjutan dari Putri. Itu adalah hal yang mudah, tapi memiliki banyak kesempatan untuk Putri bisa membawa kabur Jasmine.


"Tak. Kau mau ngobrol, tinggal ngobrol aja." Givan tidak ingin kecolongan.


"Van, aku minder. Tolonglah paham." Putri berbicara lirih penuh penekanan.


"Kok minder? Kenapa?" Givan merasa heran.


"Aku bawa baju satu," lirih Putri.


Givan memerhatikan wajah anak asuhnya. Anak itu tengah bersenda gurau dengan para saudaranya, barang yang diperebutkan sudah raib.


"Minder kenapa? Anak aku tak haus barang. Cuma memang dihidangkan, ya berebut. Silahkan aja kalau kau mau kasih barang ke Jasmine, jangan minder." Givan banyak mengajarkan anak-anaknya.


"Hmm.... Kalau begitu, lewat kau aja ya? Aku balik aja kalau begitu." Putri masih tidak percaya diri.


"Ya tak mau aku. Ngapain kau ke sini, kalau ngasihnya lewat aku juga? Tau begitu, kasihkan pas Jum'at kemarin aja." Hari yang dimaksud Givan, adalah saat dirinya dihukum. Saat itu juga, Putri bertemu dengan Givan.

__ADS_1


"Ya tolong, kasih aku waktu dan tempat yang private." Putri memohon dengan amat sangat.


"Hmm.... Ya udah, ke teras rumah Jasmine aja. Tapi aku ikut." Givan berdiri dan berjalan ke arah kumpulan anak-anaknya.


"Ayo jajanannya dimakan, masuk rumah masing-masing. Istirahat dulu satu jam, baru boleh mainan lagi." Givan mencoba mengalihkan perhatian anak-anaknya, dengan menepuk tangan beberapa kali.


"Tuh, sana! Barang-barangnya di bawa." Fira sudah bersiap, ia ingin rebahan di dalam rumah anaknya.


"Ayo, jajanannya dibawa. Istirahat dulu, minum air putih yang banyak." Givan membantu anaknya membawa barang-barang mereka masing-masing.


Ia mengitari rumah-rumah tersebut, dengan menutup pintu satu persatu. Namun, ia malah kebingungan sendiri.


"Jasmine mana?" tanyanya pada Putri. Karena Putri duduk seorang diri, Giska pun sudah pergi dari tempatnya.


"Lari sama adiknya, sama dua anak laki-laki juga." Putri menunjuk pintu samping tempat sebelah kiri. Itu adalah pintu penghubung untuk ke rumah Giska, Jasmine dan Ceysa.


Givan kira, Jasmine aman pergi ke rumahnya mengajak ibunya. Ternyata, Jasmine lari sendiri bersama adiknya. Ia menoleh dulu, memastikan anak-anaknya terkendali di dalam rumah mereka masing-masing dengan para pengasuhnya. Sebelum, ia berjalan lebih dulu mengajak Putri untuk ke rumah milik Jasmine.


Putri bergegas, ia dengan semangat mengikuti arah langkah kaki Givan. Ia tahu, Givan mengajaknya ke tempat anaknya berada. Karena anaknya pun pergi melewati pintu samping kiri ini, seperti dirinya dan Givan.


"Tuh, yang paling depan." Givan menunjuk rumah yang paling dekat dengan pagar.


"Ada di dalam. Kalau aku suruh masuk, pasti pada masuk. Ya udah sini! Ayo di antar." Givan tadi ingin melihat dari jauh saja. Tetapi, nyatanya Putri tidak memiliki keberanian untuk datang ke anaknya sendiri.


"Kak, Kak Jasmine...." Givan mengetuk pelan pintu rumah tersebut.


"Bentar, Bang Givan. Jasmine lagi di kamar mandi," seruan itu, bertepatan dengan terbukanya pintu dan menampilkan wajah Hala.


Givan menunjuk Putri dengan ibu jarinya. "Ini, ada ibu kandungnya Jasmine. Suruh Jasmine ke luar, ngobrol sama ibunya."


Hala mengangguk. "Ya, Bang Givan."


Hala pun hampir menginjak kepala tiga, tapi ia tidak kunjung menikah. Givan pernah mempersilahkan Hala untuk menikah, tapi perempuan tersebut berkata bahwa tidak ada yang berencana menikahinya. Givan mengerti, dalam ucapan Hala, perempuan tersebut ingin dijodohkan oleh laki-laki pilihannya secara tidak langsung.


"Duduk aja dulu, Put." Givan menunjuk teras yang paling dekat dengan tiang penyangga.


Putri mengangguk, kemudian langsung duduk di tempat yang Givan maksudkan.


Lalu, Givan bergerak mendekati pintu rumah Ceysa. Pintu tersebut tidak tertutup sempurna, dengan Shauwi yang tengah menyapu halaman rumah. Berarti, Ceysa di dalam rumah sendirian.


"Assalamualaikum.... Ceysa Cantik." Givan mendorong pintu rumah Ceysa perlahan. Ia bermaksud mengganggu Ceysa, agar sekalian dirinya mengawasi Jasmine dan ibunya.

__ADS_1


Ceysa tersenyum lebar melihat ayah sambungnya masuk ke dalam rumahnya, dengan seorang anak laki-laki yang fokus menonton film kartun pada televisi yang menggantung.


"Ini nih, Adek Ceysa. Smurfs ini, mirip adek bayi Hadi yang di dalam perut ma. Difoto loh, Hadi lihat. Nanti Hadi tunjukkan."


Givan memperhatikan dalam diam, keponakannya yang tengah berceloteh tersebut. Anak SD tingkatan satu tersebut, belum mengerti konsep bayi yang sebenarnya.


Ceysa memerhatikan tokoh kartun berwarna biru tersebut. Ia tidak memerhatikan ayahnya, yang tengah memperhatikan mereka berdua itu.


Anak-anak tersebut, dengan santainya memakan dadar gulung dari satu wadah yang sama. Ceysa membagi jatah jajanannya dengan Hadi, karena Hadi tidak mengambil sendiri jajanan yang digelar di depan teras rumah Key tadi. Ia paham tabiat anak Giska, yang tidak berani mengambil jika tidak diberi.


"Memang Adek bayinya dari dalam perut udah pakai handuk putih kepalanya? Kek biyung kalau abis mandi." Ceysa tertawa, berbaur dengan tawa Hadi.


Anak misterius itu terlihat seperti anak umum, jika berada di dekat Hadi. Ceysa mau mengobrol dan tertawa. Memang sebelumnya anak itu sering berbaur dengan para saudaranya. Namun, saat saudara-saudaranya berlarian. Ceysa malah sibuk sendiri menyusun sandal-sandal milik saudaranya agar terlihat rapi dan bisa langsung dipakai.


"Adek Ceysa tak pernah lihat adek Gwen dijemur kah? Dia pakai topi, kacamata hitam, pakai popok aja." Hadi bercerita sembari menunjuk ke arah rumah kakak dari ibunya berada.


"Pernah, merah betul ya? Adek Gwen kek kepiting yang di rumah makan seafood."


Givan mengukir senyum gelinya, mendengar percakapan anak sambungnya dan keponakannya itu.


"Iya. Kita tak boleh angkat-angkat loh, tulangnya rapuh. Kata abu, tulang bayi kek ujung pensil lima ribu tiga." Hadi mengisyaratkan ujung jarinya, ketika mengibaratkan sebuah mata pensil.


"Pakai yang hijau aja pensilnya. Aku aja pakai yang hijau, Hadi."


Givan bertambah geli saja, ketika obrolan tentang bayi berbelok ke arah pensil.


"Aku pakai yang lima ribu tiga, sekali jatuh, aku keruk lagi putar-putar." Hadi memutar tangannya. Setiap anak itu bertutur, Hadi selalu menggunakan isyarat meski anak itu normal, tidak memiliki keterbatasan fisik.


"Aku dikasih satu pack sama biyung, yang warna hijau itu. Aku bagi ke Hadi ya? Hadi jangan kasih orang pinjam, itu kan dari aku." Ceysa langsung bergerak cepat mengambil pensil yang ia maksud di rak penyimpanan alat tulis miliknya.


Hadi langsung menerima dengan girang, pensil berwarna hijau yang diberikan oleh Ceysa.


"Makasih ya, Adek Ceysa?" Hadi memutar-mutar pensil tersebut.


Terkadang, Givan berpikir apakah anak sambungnya memiliki keterbatasan mental yang tidak ia ketahui. Namun, jika melihat interaksinya dengan Hadi. Ceysa seperti anak normal dan tidak memiliki kekurangan apapun.


"Mau ngobrol apa?"


Givan memundurkan tubuhnya. Ia merasa penasaran dengan anak asuhnya, yang rupanya sudah berada di teras rumah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2