Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM277. Jalan keluar untuk Ghavi


__ADS_3

"Bang, peluk." Ghavi bangun kemudian langsung merentangkan kedua tangannya ke arah kakaknya.


"Ish!" Givan memeluk dirinya sendiri, dengan memandang Ghavi aneh.


Tidak disangka, Ghavi malah berpindah duduk dan memeluk lengan kakaknya. Givan mengerutkan keningnya, ia kira adiknya tengah bercanda.


"Kemarin mamah ngomong, katanya apa kau ini kemarin kena istidraj ya. Kau dikasih dunia, kemewahan, kesuksesan, tapi semakin terhanyut. Makin jauh dari Tuhan kau setelah dikasih kemewahan, bersyukur kau masih diberi umur panjang." Givan memilih melepaskan tangannya yang dipeluk adiknya, kemudian ia merangkul adiknya yang kini memeluk dadanya.


"Udah disadarkan, nyata kan bangkitnya susah? Bukannya Abang capek support kau, tapi gimana nih celanya biar kau cepat naik lagi?" Givan mengusap-usap punggung adiknya mencoba menenangkan.


"Maaf, Bang. Aku belum bisa bayar hutang awal itu." Ghavi merasa malu, karena sudah sekian tahun ia terus mengulur hutangnya pada kakaknya.


"Tak usah kau pikirkan, hutang kau lunas." Givan tidak hanya memberikan kalimat penenang. Ia benar-benar tidak menghitung hutang adiknya.


"Tak, Bang. Aku ijabnya hutang. Kata papah, hutang ya hutang. Aku minta waktu tenggang lagi, Bang. Aku belum bisa bayar, apalagi lunasin. Kalau ditotal jumlahnya, udah tujuh ratus jutaan. Aku baru bisa ganti sepuluh jutaan waktu itu, aku masih belum bisa bayar sisanya atau nyicil, Bang." Ghavi mencoba menegarkan matanya agar tidak menangis.


"Iya berapapun jumlahnya, sebenarnya Abang tak berniat hutangin. Udah kau pakai aja, asal niatnya untuk keluarga kecil kau." Givan tidak ingin memperberat beban adiknya.


"Aku sampai malu ketemu Abang, aku hindari Abang aja. Karena aku merasa punya hutang dan udah lewat dari pelunasan yang aku bilang kan Abang." Ghavi melepaskan pelukannya pada tubuh kakaknya.


Givan manggut-manggut. "Tak perlu sampai kek gitu, Vi! Kau perlu malu, kalau kau sukses tapi kau terus lupa sama Tuhan kau."

__ADS_1


Ghavi mengangguk. Ia merasa, bahwa dirinya benar-benar harus memperbaiki ibadahnya.


"Sekarang usaha kau apa?" tanya Givan kemudian.


"Entah, Bang. Padam semua, usaha aku cuma kek bakaran daun kelapa kering aja. Sekali besar, tak lama langsung padam." Ghavi tertunduk memperhatikan kakinya yang menapak di lantai.


"Kau mampu kembangkan di bidang apa?" Givan memperhatikan adiknya yang terlihat putus asa.


"Aku mampu di apa aja, Bang. Tapi, aku condong ke distribusi," aku Ghavi dengan menyandarkan punggungnya.


"Kau mau pegang usaha Abang?" Givan pun bingung ingin mengusulkan usaha apa, karena adiknya butuh hasil yang instan.


"Apa aja, Bang." Ghavi terlihat begitu pasrah.


"Boleh, Bang. Apa aja, yang penting tiap bulan aku ada untuk kebutuhan anak-anak dulu. Tapi boleh kah aku minta, untuk orang Abang yang di sekitar sini aja? Biarpun di rumah ada satu pengasuh, tapi aku tak tega lihat Tika keteteran urusnya." Ghavi terlihat begitu excited.


Givan mengangguk. "Abang udah lama butuh orang untuk gudang kayu dan rumah furniture. Jam kerjanya banyaknya malam, karena kayu datang itu malam. Kau cuma perlu cek, kayu itu sesuai pesanan Abang tak. Tenang kok, nanti Abang ajarkan di awal dan Abang cek setiap minggunya. Bukan apa-apa, Abang udah tak kuat melek malam. Ditambah, ada anak bayi yang mulai ngerti sama ayahnya. Terus, kau perlu cek orderan masuk untuk proses dan cek orderan yang mau dikirim. Banyak lagi tugas kau, intinya jam kerja kau bebas, kau tak perlu berangkat pagi, tapi kau harus selalu bisa datang masanya kayu datang di gudang. Untuk bayarannya, gaji pertama kau Abang bayar di awal dan hari ini juga. Untuk gaji selanjutnya, nanti otomatis masuk dari Bank. Nanti Abang urus ke Bank untuk itu." Givan yakin adiknya tidak memiliki pegangan uang sekarang, maka dari itu ia memberikan gaji adiknya di awal, agar bisa digunakan untuk kebutuhan dapur keluarga kecil adiknya.


"Tak apa, Bang. Gaji aku bayar umum aja, masa belum kerja aku udah digaji?" Ghavi merasa bertambah tidak enak hati pada kakaknya.


"Tak apa, sebagai sogokan kalau kau tak berkhianat dan tak bocorkan rahasia pabrik. Nanti Abang buat surat tertulisnya." Givan melakukan ini hanya formalitas, ia percaya penuh pada adiknya.

__ADS_1


"Abang takut ya aku licikin masa kek bang Ghifar dulu? Tapi waktu kopi itu kan, bang Ghifar jual mentah aja, aku yang olah balik dengan tambahkan rasa itu." Ghavi menyadari bahwa dirinya pernah melakukan hal yang kurang berkenan pada keluarganya sendiri.


"Tak, formalitas aja. Nando yang jadi sopir kadang-kadang aja, ada surat perjanjiannya. Dia bisa bocorkan segala rahasia orang ke kita, katakanlah dia telinga kita. Tapi, dia tak bisa bocorkan semua rahasia keluarga kita, ataupun usaha Abang, karena ada perjanjian tertulisnya, Nando bisa dituntut dan dipenjara kalau ngelanggar. Satu hal lagi, jadi orang Abang tak bisa kau keluar dari pekerjaan Abang. Kecuali, Abang udah tak butuh kau." Givan hanya memberitahukan poin yang harus diketahui adiknya.


"Memang Abang tak rugi?" Ghavi memperhatikan kakaknya dengan seksama.


"Tak lah, kalau kebanyakan ganti-ganti orang, malah rahasia perusahaan tak aman." Itulah alasannya sampai ia melakukan perjanjian tertulis dengan materai.


"Ya oke, Bang. Aku ikut aturan Abang, yang penting dapur ngebul terus untuk sekarang." Ghavi menghindari pulang ke rumah, karena ia merasa bersalah pada Tika. Ia pun memikirkan, tentang dapur Tika pagi ini.


"Sekarang tak ngebul berarti? Coba cari di dapur, ambil dan bawa pulang. Nih, Abang transfer sekarang gaji kau. Kau ambil di dapur, untuk makan sarapan serumah aja. Entah telor sekilo atau nugget satu pack besar. Beras tak ada, ya ambil dulu. Siang kau ajak Tika jalan-jalan, belanja, pakai uang gaji kau. Anak-anak bisa kau titipkan sama pengasuh di sini juga. Siapa nama anak-anak kau? Yang perempuan, Abang panggilannya adek-adek aja. Sama yang laki-laki, Abang panggilnya abang-abang aja." Givan meraih ponselnya yang berada di atas meja.


"Yang besar, Aksa. Kembar, Ghofar Ghafur. Yang perempuan, Aruna, Athaya. Yang paling kecil, Cahaya Kanaya." Ghavi pun teringat susu anak bungsunya sudah habis.


"Iya, bisa di kesinikan dulu. Kasian, barangkali Tika pengen refreshing. Gaji kau umur kek orang kepercayaan Abang yang lain, bisa dibilang besar, karena tanggung jawabnya besar. Malam nanti Abang ajarkan, karena kayu datang nanti. Siang ini, kau free dulu, ajak Tika jalan-jalan aja dulu." Givan fokus mengetikan nilai di ponselnya.


"Siap, Bang. Makasih, Bang." Ghavi mencium pipi kakaknya seperti ia adalah seorang adik kecil yang mencium pipi kakaknya.


Givan sering bercanda seperti ini dengan Ghifar. Tentu dengan adiknya yang lain, ia merasa sedikit aneh karena tidak biasa bercanda.


Ia mengusap bekas ciuman adiknya, dengan melirik adiknya sinis. "Sialan kau!" makinya kemudian.

__ADS_1


Ghavi langsung tertawa lepas, kemudian merangkul kakaknya hangat.


__ADS_2