Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM143. Rencana diskusi


__ADS_3

"Umhhhhh...." Givan menahan benda lunak yang memberikan gangguan di wajahnya.


"Bangun, Mas." Canda kembali berusaha untuk menciumi suaminya.


"Bentar, Canda. Aku tidur jam tiga pagi sama Chandra." Givan mengubah posisinya menjadi miring ke kiri.


Canda langsung manyun, melihat suaminya yang langsung tertidur lagi. Suaminya lupa dengan kebiasaan rutin mereka di Minggu pagi, yaitu berjalan-jalan sekeluarga dengan anak-anak mereka ke car free day. Hal sederhana itu, sudah seperti jalan-jalan wajib untuk mereka. Bukan untuk olahraga, melainkan berburu jajanan menarik dan juga menikmati waktu bersama dengan anak-anak mereka.


"Aku pergi sama Ghifar ya?" Canda hendak menurunkan satu persatu kakinya ke lantai kamar mereka.


Namun, Givan langsung berbalik badan menghadap ke samping kanan kembali. Kemudian, tangannya menahan perut Canda agar tidak pergi dari ranjang mereka.


"Mas.... Aku udah cantik." Canda berusaha melepaskan pelukan suaminya di pinggangnya.


"Jalan-jalannya ke pasar malam aja, nanti malam kita pergi." Givan mencoba membawa Canda dalam pelukan hangatnya.


Tubuh Canda kalah, meski Givan tidak menggunakan kekuatan penuh. Postur tubuh mereka saja terlihat begitu beda, meski Givan dikatakan ideal dan Canda terlihat berisi. Namun, tinggi badan mereka begitu berbeda.


"Jangan raba-raba!" Canda menahan tangan suaminya yang meraba part depannya yang terlapisi pakaian.


"Garuk-garuk aja." Givan terkekeh dengan melakukan gerakan kecil di sana.


"Udah tuh, Mas! Katanya Mas mau lanjut tidur, ya udah aku tak ganggu nih." Canda baru menyadari, ternyata sekarang masih gelap.


Waktu baru menunjukkan pukul lima lebih lima belas pagi, udara di sana masih menusuk tulang dengan kabut putih yang menyelimuti permukiman warga. Ia terbiasa membangunkan Givan dengan waktu yang sama, meski tak jarang malah kebalikannya.


"Gituan dulu sih, Canda. Nanti aku tidur." Givan berbisik di telinga istrinya.

__ADS_1


"Tuh, kan?! Kalau udah dikasih tuh, Mas sih malah ketagihan. Semalam kan udah, masa pagi minta lagi?" Meski jarang, tapi Canda menyadari sesekali suaminya pasti seperti ini ketika dibangunkan pagi.


"Ya tak apa, gratis ini. Kek bayar aja, sampai tak boleh nambah." Givan meraup wajah istrinya yang terkekeh kecil.


"Tapi aku udah cantik nih, udah pakai skincare, udah tancap make up tipis. Luntur nanti, mana harus mandi lagi nanti." Canda berusaha menggeliatkan tubuhnya, agar terlepas dari pelukan suaminya.


"Gampang pakai lagi. Katanya mau car free day kan? Lepas ini aku mandi deh, kita siap-siap car free day." Givan memonyongkan bibirnya, kemudian mencium pipi kiri Canda.


Canda terkekeh geli, karena tidak biasanya Givan bertingkah lucu seperti itu.


"Tapi aku tak mau gerak, Mas." Canda mencoba membuat suaminya mundur di awal.


Tetapi, Givan tetap bersikeras. "Aku mampu gerak kok. Mau ya?" Givan sudah bangkit dan mengungkung tubuh istrinya.


"Tuh...," rengek Canda yang merasa gagal membuat suaminya mundur.


"Aku sikat gigi dulu ya? Nanti dibilang aku bau mulut, bisa langsung bad mood aku." Dengan raut wajah mengantuk yang tidak bisa ditutupi. Givan bergegas melarikan diri ke kamar mandi, ia khawatir istrinya berubah pikiran.


"Ouchhh, Mas Givan." Suara Canda mulai lepas seiring dengan hentakan khas yang Givan berikan.


Meski awalnya tidak ingin dan tidak berminat, akhirnya Canda melenguh juga. Canda tak kuasa menahan pemberian suaminya, Canda tak kuasa menahan rasa hangat yang tersalurkan.


"Aku yang gerak, kau yang berkeringat." Givan terkekeh, dengan membenahi letak lutut istrinya.


"Jangan cepat-cepat, Mas." Cabda mengganjal pinggangnya agar nyaman.


"Oh, yang lama gitu? Oke siap, Istriku." Senyumnya begitu lebar, dengan memamerkan beberapa giginya yang digantikan dengan crown gigi. Giginya tidak kuat di mengikuti usia Givan yang semakin tua dan matang.

__ADS_1


Canda memukul dada suaminya. "Bukan!"


Givan terkekeh lepas melihat rengekan istrinya.


"Terus apa?" Givan menggiring gerakan yang halus dan teratur.


"Ya geraknya jangan terlalu laju." Canda membelai pelipis suaminya yang berada di atasnya.


"Oke siap, asal ngomong." Senyum kepuasan dan kemenangannya begitu kentara jelas.


Pembahasan demi pembahasan, Adi dan Adinda bicarakan setelah mereka menunaikan ibadah sholat Subuh. Mereka menyimpulkan, jika Awang memang cukup bijak menyikapi masalah. Sayangnya, kemalangan Ai memberi kesan ibu pada siapapun yang mendengarnya. Adinda khawatir, jika Awang lebih percaya dengan cerita dari adiknya.


Beberapa copyan bukti milik Givan, mereka telah miliki. Namun, mereka berpikir ulang untuk menyeret Canda dan Givan dalam penjelasan bukti tersebut.


Givan seperti memiliki dendam pribadi pada kakak Ai tersebut. Adi dan Adinda pun menyadari hal itu, mereka mengerti tentang bahasa tubuh anaknya.


Setelah pemakaman jenazah bayi Ai, mereka berencana untuk mengajak Awang dan Nafisah ke rumah untuk membicarakan tentang kronologis kejadian Ai dan Givan melalui bukti yang mereka miliki. Mereka ingin tidak mengudang Givan dan Canda, karena mereka tahu suasana pasti akan kurang kondusif. Namun, mereka juga mengerti bahwa anaknya perlu tahu tentang hal ini.


Jika keadaan Ai sudah pulih pun, mereka ingin menarik Ai juga. Agar kakak kandung Ai dan kakak ipar Ai bisa mengerti. Tapi sifat Ai yang mereka ketahui, membuat mereka berpikir ulang untuk hal itu. Cerita pasti berbanding, jika Ai yang diminta menjelaskannya.


"Kita obrolkan delapan mata aja lah, Bang. Aku, Abang, Nafisah dan Awang. Terus kita sampaikan ke Givan tentang hasil obrolan kami. Nah, kalau Ai pulih barulah kita ajak Givan bicara bersama. Udah tak ada lagi nih tuntutan Ai, harusnya kan? Nah, baiknya gimana gitu jalan keluar terbaiknya. Untuk kedamaian Givan dan juga keadilan untuk Ai. Gimana menurut Abang?" Adinda mengutarakan rencana dan pendapatnya untuk musyawarah siang nanti.


"Ya begitu pun tak apa. Biar kita bisa kasih paham Givan dulu kan, biar dia tak langsung berubah jadi monster aja tiap kali lihat Awang. Pembawaannya bijak dan keknya orangnya bener loh, Dek." Meski baru sebentar Adi berinteraksi. Tetapi, ia bisa menyimpulkan hal ini.


"Bener memang orangnya, ya tak tau juga di belakang kita dan aslinya. Tapi, pas aku ceritakan bagaimana Ai di telpon waktu itu. Ya dia kek berpikir dewasa dan tak membela adiknya gitu loh, Bang. Jadi dia ini kek nyadar dan ngerti juga, bahwa awalnya pun adiknya tak betul di sini. Tak betul dalam pemahaman profesi Ai dan juga Ai jual diri ke Givan, tapi dimakan lima orang ini. Jadi, dia paham bahwa ada kesalahan Ai di sini. Ya mungkin karena dirinya supir kan, jadi dia paham bagaimana perempuan nakal dan aturan main kehidupan mereka." Adinda cukup senang, ketika diajak berbicara dan lawan bicaranya mampu mengimbangi pendapatnya.


"Ya udah, Abang ke luar dulu ya? Abang mau cari tukang gali kubur dulu. Adek ke Givan aja gih, sampaikan dulu rencana kita biar dia bisa mengkondisikan dirinya sendiri nantinya." Adi bangkit dan berjalan mencari sarungnya.

__ADS_1


Ciri khasnya dari muda hingga sekarang, style yang begitu sederhana tapi begitu berwibawa.


...****************...


__ADS_2