
Givan mengerutkan keningnya di Jum'at pagi ini. Ia penasaran, kenapa pelataran masjid begitu ramai pagi ini. Rasa penasarannya, membawanya untuk datang ke masjid tersebut. Ia enggan bertanya, pada orang-orang yang terlihat begitu sibuk tersebut. Ia berniat akan bertanya, pada seseorang yang ia kenal.
Hingga tidak disangka, ayahnya keluar dari dalam masjid. Givan jadi teringat tentang hukum cambuk yang pernah memberatkannya, karena kondisi masjid yang begitu ramai dengan dibangunnya sebuah panggung mirip untuk eksekusi hukuman cambuk.
"Pah.... Ada apa itu?" Givan berjalan mendekati ayahnya, yang mengobrol dengan seseorang.
Adi menoleh, ia menyudahi percakapannya dengan orang lain itu. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah anaknya, kemudian ia memperhatikan penampilan Givan yang tidak terlihat rapi sedikitpun.
Anaknya hanya mengenakan celana joger, dengan kaos polos saja. Givan memang tidak niat untuk pergi, atau berkunjung. Ia hanya ingin datang dan melihat keadaan ibunya saja, karena Kamis kemarin ia merasa tidak bertemu ibunya selama seharian.
"Mau ke mana kau? Tumben, kalau rapi sama sopir pribadi." Adi menilai penampilan Givan begitu intens.
Givan memandang dirinya dari pantulan jendela masjid. Ia terkekeh kecil, merasa geli dengan penampilan yang seadanya.
"Maklum, Pah. Bapack-bapack rumah tangga, jadi seadanya aja. Aku abis nyuci, jemur baju. Canda belum terbiasa lima hari ini dengan dua anak, tak kepegang sama sekali tugas hariannya. Masa bu Muna semua? Kan kasian dia. Udah nyapu ngepel di rumah, di rumah anak-anak yang kosong juga. Harus masak juga untuk anak-anak, cuci baju anak-anak juga. Mending kalau anak aku satu atau dua, nah yang di sini aja ada lima. Chandra, Zio, Jasmine, Cani, Bunga." Givan menghitung dengan jemarinya.
"Suruh nyuci sendiri anak-anak kau yang udah besar nih." Adi merangkul anaknya, ia mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian.
"Kalau hari Minggu aja, Pah. Mereka ini doyan salin, kalau ditumpuk ya habis nanti baju mereka. Kalau hari Minggu pun, mereka ada cuci tiga sepatu, sama baju yang dipakainya di hari Sabtu." Givan pun menerapkan kedisiplinan pada anaknya.
__ADS_1
Namun, ia pun mengerti jika kewajiban anak-anaknya adalah menuntut ilmu. Jadi, Givan tidak begitu memberatkan agar anak-anaknya mau mencuci baju sendiri.
"Ya kek kau dulu, kan kau bisa nyuci pulang sekolah." Adi ingat, jika anak-anaknya pun mandiri sejak duduk di bangku sekolah.
"Tak lah, kasian. Biarin mereka istirahat pulang sekolah, soalnya sama aku pun mereka harus hafalan juga. Jadi di waktu senggang mereka, ya mereka hafalan dulu." Givan dan ayah sambungnya duduk di teras masjid yang berundak-undak.
"Ada apa ini, Pah?" Givan tahu, ini seperti akan ada eksekusi untuk hukum cambuk. Namun, ia tidak tahu pasti siapa yang akan dihukum.
"Ai sih, digelar hari ini. Tadi Papah ke dalam masjid, itu lagi musyawarah ngomongin tentang jumlah hukuman yang harus Ai jalani. Udah kepotong masa hukum kurung, yang ternyata ditambahkan. Dikurangi juga karena denda. Jadi, tinggal enam puluh berapa gitu. Masa kurungnya itu nambah, harusnya dia udah bebas dari awal bulan kemarin. Ya itung-itung buat pelajaran untuk dia, biar mulutnya tak sembarangan nyebar fitnah lagi. Tak kita aja kan yang jadi korban dari mulutnya, tapi dia pun dapat pembelajaran atas apa yang ia lakukan." Adi menoleh sekilas, ke arah pintu di mana ia keluar tadi.
Givan menoleh ke arah pandang ayah sambungnya. "Kok sepi? Katanya abis musyawarah?" Dari kaca jendela masjid yang cukup banyak, memang terlihat di dalam masjid tersebut terlihat begitu sepi.
"Jum'at, mereka pulang jam tigaan. Chandra juga bilang ada main dulu ke Izza, nanti jam empatan pulang katanya." Givan sedikit bingung untuk mengatasi anaknya yang tengah mabuk cinta tersebut.
Meski ia tahu anaknya tidak terikat status berpacaran, tapi ia sedikit khawatir anaknya melakukan apa yang dulu ia lakukan pada wanita. Ia khawatir, anaknya menjadi pengrusak wanita seperti dirinya.
"Izza terus, masih SMP padahal. Nanti gimana pas SMA?" Adi geleng-geleng memikirkan.
"SMA nanti aku lempar ke pondok pesantren Chandranya. Aku mau tau juga, gimana tentang Izza. Kalau dia tak datang atau nanya kabar Chandra ke sini, ya berarti kan dia benar-benar lepasin Chandra. Bukan niat memisahkan juga, tapi orang mereka ini masih anak-anak. Harusnya fokus menuntut ilmu, apalagi ini Izza berprestasi. Lomba pidato, puisi dan lomba sastra lainnya dia menang terus. Dibuat oleng dia karena perhatian anaknya Cendol ini. Dinasehati, bilangnya gimana ayah waktu dulu aja, biarpun aku tak tau, ya mungkin ayah kek aku katanya. Dia pun kek Zio, Pah. Dia tak mau dengar apapun keburukan orang tuanya. Kalau Zio, dia memang tak mau tau dan tak mau dengar karena itu urusan orang tua katanya. Kalau Chandra, dia bilang tak ada untungnya untuk tau dan dengar tentang kejelekan orang tuanya, karena jelas tak patut dicontoh. Dia bilang juga, mau contoh yang baik-baiknya aja biar bisa sukses atau lebih maju, karena dia sadar kalau dia ini pewaris yang akan lebih banyak dapat jatah." Adi tertawa geli, mendengar kalimat akhir dari anak tirinya.
__ADS_1
"Katanya, kan jangan sampai usaha pas dipegang ayah itu stabil. Eh, giliran aku yang pegang malah bangkrut. Jadi dia mau contoh yang baik-baiknya aja, biar usaha yang dia pegang ini nantinya makin maju. Udah otak bisnis anak ini, udah ada gambarannya untuk pegang usaha bagian dari orang tuanya. Ya semoga terarahkan ke hal yang positif, biar tak gila warisan nantinya." Givan tidak mau ada anaknya yang malah serakah harta warisan.
"Jadi, nanti ke notaris mau apa? Mau buat surat ahli waris sementara kah?" Adi mendengar tentang kabar itu dari istrinya.
"Iya, sama buat akte kelahiran Cali, kan dia tak punya keterangan surat lahir. Tapi Gavin masih kek ragu aja, dia ini pengen diakui anaknya meski dalam dokumen. Jadi, agak bingung aku ambil tindakan. Maksud aku sih, lebih cepat lebih baik. Tapi rupanya sulit, untuk Gavin ambil keputusan." Givan selalu bergerak cepat, karena ia berpikir agar cepat terselesaikan.
"Biar tunggu satu atau dua tahun, mana tau nanti dia minta nikah." Adi sejak beberapa hari yang lalu pun, memikirkan perihal dokumen cucunya.
"Kan tak ada keterangan nikah sirinya, tak punya surat lahir di bidan atau rumah sakit juga. Bingung loh buatnya, Pah." Givan tidak tahu start-nya dari mana.
Karena adiknya meminta bantuan padanya, ia jadi ingin terus mengulurkan bantuan untuk adiknya.
"Iya sih. Bingung juga Papah ini, dari rumah sakit pun Cala lahir keterangan bayi tunggal." Adi cukup mengerti, tentang persyaratan dokumen pembuatan akte kelahiran.
"Nah itu. Kalau ada bekas nikah sirinya kan, bisa jadi senjata nanti buat urus akte kelahiran juga." Givan bertopang dagu memikirkan tentang bagaimana jalan keluarnya.
"Teungku haji Adi......"
Adi menoleh ke sumber suara, karena merasa namanya disebut.
__ADS_1
...****************...