Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM204. Dicek oleh dokter


__ADS_3

"Bolehkah lama di ruangan begini?" tanyaku, ketika bayiku digendong oleh Ghifar dengan selimut yang cukup tebal.


"Boleh, orang udah ditempatkan di ruangan bayi biasa. Udah tak di inkubator lagi. Mau diambil tuh, aku tak bisa ngurusnya. Aku panik kalau dia nangis, sedangkan Mamah repot urus bang Givan." Ghifar menimang anakku yang sudah dikenakan topi bayi.


Ia harus selalu hangat, karena berat badannya di bawah 2500gr. Fakta ini ada di buku KIA milikku, makanya aku tahu.


"Panggilin dokter dulu sih, Far. Suruh cek Canda dulu." Mamah duduk kembali di dekat anaknya.


"Ya, Mah." Ghifar berjalan keluar dari ruang inap setara hotel ini, sembari menggendong bayiku.


Aku harus cepat sehat, agar bayiku ada yang mengurus. Aku harus cepat sehat, agar bisa mengatur pola makan mas Givan lagi. Aku harus lekas sehat, untuk keluargaku.


Kasih sayang mamah Dinda terlihat sekali. Beliau mengusapi keringat suamiku, kemudian beliau membisikan sesuatu. Mamah Dinda pasti begitu khawatir sekarang, karena mas Givan memang tak pernah sakit separah ini.


Pintu kamar terbuka, dengan Ghifar dan bayiku yang masuk lebih dulu. Kemudian, disusul oleh seorang dokter dan du perawat.


Aku diberi beberapa pertanyaan, kemudian dicek semua pergerakan tubuhku. Aku memang sudah bisa menggeser kakiku, menekuk dan meluruskannya kembali pun bisa. Sakit di luka bekas operasi pun, tidak begitu kentara.


Dokter mengatakan, satu jam mendatang aku boleh makan. Lalu, beberapa jam lagi aku akan diajarkan untuk berjalan. Sekarang, di selang infusku disuntikkan sesuatu yang tidak aku mengerti kegunaannya.


"Dok, cek keadaan suami Saya sekalian." Aku menoleh ke arah suamiku.


"Beda dokter, Canda. Dia kan dokter yang menangani masalah perrahiman." Karena mamah menjawab dengan nada sewot, dokter dan suster malah menahan tawanya.


"Tak apa, nanti kami panggilkan. Kami permisi dulu," ujar dokter tersebut.


Tak lama setelah mereka pergi, memang mas Givan langsung kedatangan dokter yang memeriksanya. Bahkan, kantong infusnya diganti dengan kantong infus yang berukuran cukup besar dan berwarna putih susu airnya. Tak sampai di situ saja, mas Givan pun diberikan obat suntikkan dari selang infusnya sepertiku.


"Tensinya udah normal, Dok?" Mamah Dinda selalu memperhatikan gerakan dokter tersebut.


"Naik, seratus empat puluh per delapan puluh," jawab dokter tersebut


Lah, bukannya mas Givan katanya kurang darah?


"Bukannya pas awal tensinya turun?" Mamah Dinda terlihat heran dari raut wajahnya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Belum stabil." Dokter tersebut membenahi alat-alatnya.


"Saya permisi dulu, Bu." Dokter tersebut langsung pamit pergi.


Pasti mas Givan bermimpi bertarung dengan seseorang, makanya darahnya bisa naik. Ia tengah emosi dalam mimpinya sendiri. Ya semoga pertarungannya menang, kemudian mas Givan kembali sadar.


"Far, mau lihat bayi aku." Aku sudah duduk bersandar pada brankar yang ditekuk ke atas posisi kepalanya.


"Nih." Ghifar beranjak dan mendekatiku.


Masya Allah, benar-benar mirip mas Givan meski ia perempuan. Ya aku tahu bayiku perempuan, sejak di USG berkala ketika masih hamil.


Mata bayiku sudah terbuka, tapi sepertinya ia belum bisa melihat dengan jelas. Matanya pun mirip ayahnya, semuanya mirip ayahnya. Bahkan, daun telinganya pun seperti model daun telinga ayahnya.


Ketika ia dipindahkan ke dekapanku, tangan dan kakinya langsung bergerak menendang. Ia benar-benar aktif bergerak dan tidak mau diam. Padahal ia tidak menangis, tapi tubuhnya bergerak sangat lincah seolah tengah memberontak.


"Awas loncat loh, Canda." Ghifar membantu tanganku untuk menahan bayiku.


"Ngapain dia begitu?" Aku bingung melihat reaksi bayiku.


Pasti Ghifar selalu mengurus anakku, ya hanya sebatas menggendongkan dan menjaganya saja. Karena aku yakin, mas Givan fokus padaku.


"Namanya siapa, Far? Tali pusarnya udah lepas belum?" Aku menepuk-nepuk part belakang anakku pelan.


"Udah, aku pulang bawa kista itu sekalian nguburin ari-ari dan tali pusar. Udah sawer juga di sana, akte lahir udah lagi diurus. Namanya Calandra Sheeva Luna, artinya unik dan mempesona. Dipanggil Cala, awalan huruf C, bukan huruf K. Cala, bukan Kala." Ghifar duduk di tepian brankarku.


"Bagus, siapa yang ngasih nama?" Aku ikut memperhatikan pusat perhatian Ghifar.


"Aku lah, siapa lagi memang? Aku tanya suami kau, dia bilang, kau yang biasanya urus, kau pamannya. Frustasi betul suami kau, Canda. Stress dia tuh, makanya lambungnya sampai begitu. Adzan ya, aku yang adzanin. Ngisi formulir dan cek stok susunya, ya aku juga. Informasi dari kamar bayi pun, tembusnya ke aku. Ini anak Papa lagi nih, kek kak Ra ya?" Berakhir Ghifar mengajak berbicara anakku.


Ia tidak bersuara, tapi gerakannya seperti ikan lele di darat. Ia merespon suara Ghifar dengan gerakan tubuhnya.


"Anak Biyung sama ayah ya, Nak? Kak Ra juga anak Biyung sama ayah kok." Aku mencolek-colek pipi anakku.


Ia langsung membuka mulutnya, dengan gerakan yang lebih aktif dari sebelumnya.

__ADS_1


"Anak kita."


Aku meluruskan pandanganku pada Ghifar. Terlihat, Ghifar tersenyum manis dengan mata yang membuatku haru.


Anak kita, kata-kata keramat yang merasa bahwa aku terlalu banyak membuatnya terluka.


"Kau jangan buat aku sedih!" Aku meninju dadanya pelan.


"Lebay!" Hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Aku memperhatikan tubuh anakku lebih jauh, menyilak dan membenahi kembali pakaian hangatnya. Ia belum memakai perhiasan sedikitpun, termasuk di daun telinganya juga.


Alhamdulillah, bayiku normal dengan tubuh yang lengkap. Aku cukup bersyukur karena ini, karena aku tahu di dalam rahimku ia berebut nutrisi yang dibutuhkan untuk kebutuhan pertumbuhannya sendiri.


"Cala, anak sehat, anak sholehah. Nanti belajar kerudungan kek kak Cani ya? Biar terbiasa punya malu, biar kau bisa jaga marwah kau." Aku berbicara pada anakku lagi.


"Meutuah dara itu, Canda. Anak perempuan yang beruntung," timpal Ghifar kemudian.


"Kau betul, Far. Saudara kembarnya tak seberuntung dirinya." Kistaku adalah anak kembarku yang tumbuh tidak normal.


"Iya, drama aja kalau kau hamil tuh. Ada aja ceritanya. Bayi besar, pinggul kecil lah. Plasenta previa lah, harus sesar lah. Abis sesar selalu kolaps, dengan dugaan dari obat biusnya. Keknya kau alergi obat bius, Canda. Jadi baiknya kau kalau persalinan sesar lagi, langsung bedah aja tanpa dibius," ungkap Ghifar dengan cepat.


"Memang ipar kau kodok, Far?" Pertanyaan mamah membuatku dan Ghifar tertawa geli.


"Canda, Canda. Mulut tuh susah betul manggil kakak ipar!" tambah mamah kemudian.


"Eh, iya." Ghifar menutupi wajahnya malu.


Memang adik-adik iparku tak ada yang benar dalam cara memanggilku. Hanya dua adik laki-laki yang masih bujang dan Giska itu, yang selalu memanggilku kakak ipar, meski saat aku tidak menjadi istri kakaknya lagi.


Ghifar, Ghava, Ghavi, selalu memanggilku dengan nama ledekanku dari mas Givan. Yaitu, Cendol. Kadang kala, mereka hanya memanggilku namaku saja.


"Uhuk, uhuk....."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2