Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM239. Titik lemah Gavin


__ADS_3

"Apa katanya? Kok ngelamun aja?" Givan duduk di tepian brankar adiknya. Ia mengusap-usap punggung adiknya, ia mencoba menghantarkan semangat pada adiknya.


"Katanya, suruh datang lagi nanti. Cuma ngobrol aja, aku dengerin sarannya. Tapi makin dibicarakan tuh, aku makin ingat. Aku tak bisa jawab sendiri, kenapa Cali diletakkan di teras. Aku bisa sambut Cali dengan lapang dada, aku tak terima Cali ditaruh di teras. Itu sore hari, tak ada matahari, bukan waktunya untuk jemur bayi. Jadi, tak bisa dijadikan alasan Cali lagi dijemur. Kesalahan aku talak dia? Harusnya, dia marah dan tak izinkan aku untuk tau anak kita. Itu lebih rasional, tak yang kek dia lakukan." Gavin tertunduk, ia memandang kosong selimut yang menghangatkan tubuhnya.


"Ambil paham sendiri, Vin. Kau harus ngerti posisi Ajeng, dia mikirin anak kalian perempuan dan dia butuh wali. Anak perempuan itu rawan, kalau hidup bareng ayah sambung. Memang, aman aja. Tapi, banyak cerita yang tak amannya. Ajeng takut anaknya tak punya ayah, dia tak mau anak kalian benci ayahnya karena menalak ibunya yang lagi ngandung dirinya. Dia takut lisannya menyakiti kau, kalau dia banyak bicara sama kau. Dia tak mau, anaknya jadi anak yang durhaka ke ayahnya, kalau tau gimana cerita tentang sikap ayahnya selama ibunya ngandung dirinya. Karena ditahan-tahan, disembunyikan bagaimana kuatnya, mulut perempuan tetap akan buka di waktu yang tepat, kalau dia merasa tersakiti. Dia pun khawatir, Cali tak suka sama ayahnya, karena cerita masa lalu ibunya yang diperlakukan dengan kurang baik sama kau. Kita memang tak tau, apa di balik alasan Ajeng ini. Tapi, kau coba ambil paham terbaik tentang Ajeng." Adinda menarik dagu anaknya, untuk menatap mata anak itu.


Gavin terisak, ia merasa begitu payah dengan masalahnya sendiri.


"Apa aku jahat, Mah?" Lontaran kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar begitu miris.


Adi menjauhkan Cani dari obrolan dewasa tersebut. Ia memilih untuk duduk di sofa, dengan mencoba menidurkan cucunya.


"Kenapa kau berpikir kau jahat?" Adinda menghapus linangan air mata anaknya.


Ia tidak mengerti, kenapa keturunannya dari Adi lebih suka cenderung menangis. Anak-anak mereka, begitu mudah menangis meski laki-laki. Tapi Givan, ia hanya melihat begitu payah menangis ketika ada kejadian buruk yang berhubungan dengan Canda.


"Aku sirikan dia. Dia nuntut resmi, tapi aku terlalu banyak alasan. Lepas itu, dia tak pernah minta untuk diresmikan lagi. Mah, aku tak mau nyakitin hati Mamah. Aku sulit ngakuin ke Mamah, karena aku tau Mamah lagi banyak beban pikiran." Gavin menatap mata ibunya sekilas, kemudian ia berusaha menunduk lagi dengan melepaskan jemari ibunya dari dagunya.


"Kenapa kau ambil siri, kalau kau sulit ngakuin ke Mamah?" tanya Adinda perlahan.


"Aku takut tak kuasa nahan n**** aku, Mah. Aku tak mau zina, aku takut dosa zina. Sedangkan, aku sadar usia aku masih terlalu kecil untuk berumah tangga. Aku tak mau dinilai tak berbakti pada orang tua, karena masih support orang tua, tapi berani nikah dini," akunya, dengan menoleh sekilas pada kakaknya yang duduk di sampingnya.


Kemudian, ia tertunduk lagi. Ia malu berkontak pandang dengan keluarganya, di mana keadaan matanya basah.


"Kau cuma perlu bilang, Vin. Gibran pun Mamah tawarkan dia untuk nikah dini, tapi dia tak mau ambil opsi itu. Hal itu bisa jadi pertimbangan Mamah, kalau kau terus terang tak bisa nahan n**** kau." Adinda memperhatikan anaknya dengan intens, ia menyadari anaknya sulit mengerti dirinya sendiri dan keadaan yang terjadi.


"Pah, minta uang."

__ADS_1


Adinda langsung merapatkan bibirnya, kemudian menoleh ke arah sumber suara. Mereka tengah serius, tapi Gibran begitu santai mengatakan hal itu.


"Mau beli apa? Minta Mamah kau, Bran. Kau apa-apa tak berani minta ke Mamah, harus aja lewat tangan Papah." Adi berkata demikian, karena ia pun tak menggenggam uang.


"Jajan, Pah. Nanti ditanya-tanya jajan apa, beli di apa, beli di mana, Mamah nitip akhirnya begitu." Gibran mendekati ayahnya, kemudian menggosok wajahnya yang basah di lengan baju anaknya.


Adi terkekeh geli, tapi ia pun merasa kesal karena bajunya dibuat basah karena anaknya. "Sana kau tuh! Itu Mamah lihatin terus." Adi menunjuk istrinya dengan dagunya.


"Eh, ada Mamah di sini rupanya." Gibran tertawa malu, dengan memamerkan giginya.


"Masa kau tak mau dititipin makanan sama Mamah, Bran?" Adinda merogoh sakunya.


"Ya soalnya Mamah gitu sih. Aku bilang mau beli kopi, malah miripnya bakso. Kan jauh lagi aku pergi jadinya," terangnya membuat Adinda dan Adi terkekeh.


"Aku berpikir, gitu juga tuh kalau ada istri. Aku izin mau beli kopi sebentar, nanti aku dititipkan nasi goreng spesial sama dia. Itu kan bukan nitip, tapi nyuruh."


"Lumrah, Bran. Abang pun bukan jadi tukang ojek, pesuruh, tukang bersih-bersih WC dan tukang hamilin. Semua ada bayarannya kok," timpal Givan dengan menaikturunkan alisnya.


Gibran tergelak lepas, dengan Adinda yang memberikan tatapan sengit pada anak sulungnya.


"Namanya juga perempuan, Bran. Istri perempuan, istri kita pun bos kita, ditambah dia juga anak perempuan dari keluarganya. Ya sudah, terima kenyataan," tukas Adi dengan mengusap-usap punggung anaknya.


"Nih, uang nih. Belikan untuk Mamah, Papah, sama saudara-saudara kau juga." Adinda mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sakunya.


"Masa beli perempuan untuk ramai-ramai." Gibran hanya bercanda dalam ucapannya.


Namun, pelototan ibunya membuat riuh gelak tawa untuknya.

__ADS_1


"Nikah kau!" ujar Givan dengan melihat adiknya melenggang keluar ruangan.


"Ya nanti, tunggu Cani besar ya, Dek?" Gibran menoleh ke arah keponakannya yang berada di dekapan ayahnya, ia pun hanya bercanda dalam ucapannya.


"Mending Key tuh, tiga tahun lagi, udah Abang izinkan nikah. Yang penting, lulus SMA aja dulu. Ada lamaran, Abang pertimbangkan." Givan menanggapi santai tapi merasa diseriuskan.


"Key lagi, kecil kita diangon bareng. Gede malah dijadikan istri." Gibran geleng-geleng kepala dengan melanjutkan langkahnya.


"Aku aja yang sama Key, Bang." Gavin menimpali gurauan kakaknya.


"Huuu! Ria aja tuh, tak apa lebih tua dia juga." Givan memberikan opsi lain.


"Ck, aku udah tau. Tak mau aku, Bang. Kalaupun memang ada suka aku sama perempuan lain, aku tak mau saudara atau kerabat sendiri. Lebih baik orang lainnya aja." Gavin menyugar rambutnya dan menatanya.


"Zarin, gimana?" Adinda menyebutkan nama keponakannya.


Zarin adalah anak bungsu dari adik bungsu suaminya. Usainya, tidak beda jauh dengan Gibran.


"Tak mau aku, Mah. Mending orang jauh aja." Gavin menggeleng berulang.


"Orang jauh, tak tau pasti kek gimana dia. Nanti kejadian lagi, gimana? Papah sih kapok orangnya, Vin." Adi mengingat permasalahan yang ada ada diri Gavin lagi.


Anak itu langsung murung kembali. Ia begitu sensitif dan sangat rapuh sekarang. Adinda menyadari bahwa anaknya tidak memiliki semangat hidup, mungkin pilihan Gavin benar dengan mengambil keputusan untuk mencari jalan keluar bersama psikolog.


"Gimana psikolog kau sekarang?" Adinda mengusap pundak anaknya.


Gavin meluruskan pandangannya pada ibunya. "Aku.....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2