
"Kau nih nyerotol aja ya ampun, Canda." Givan begitu pasrah, saat istrinya menciuminya bertubi-tubi.
"Aku cinta betul sama Mas." Canda mengadu hidung mereka.
"Iya, Canda. Aku tau itu, aku kan hargai cinta kau juga." Givan mengadu bibir mereka dengan perlahan.
"Mas!" Canda mendorong dada bidang suaminya.
"Udah mau Maghrib, masa nanti harus mandi lagi?" Canda menolak, enggan meladeni permainan bibir suaminya.
"Katanya cinta, ladenin dong suaminya." Givan membujuk dengan nada lembutnya.
Bukannya lembut menghanyutkan. Tapi, suara Givan terdengar seperti tengah membujuk kekasihnya agar mau menuntaskan n**** b*****nya.
"Dasar, Buaya!" Canda menepuk jidat suaminya.
Givan tertawa geli, kemudian ia memeluk mesra istrinya dan mendorongnya sampai ke tembok. "Sebuaya-buayanya aku, Chandra lahir tak kuucapkan 'selamat datang buaya kecilku'. Aku orangnya tak begitu, Canda."
Canda malah tertawa terbahak-bahak. "Iya sih, betul. Sebejat-bejatnya manusia. Anaknya lahir, ya ngucapinnya 'selamat datang malaikat kecilku '. Kan begitu ya, Mas?"
Giliran Givan yang terbahak-bahak mendengar ucapan istrinya. "Tumben sih nyambung gurauannya. Sering makan ikan sih ya soalnya?" Givan mengetahui, jika ikan mengandung banyak vitamin untuk kecerdasan otak.
"Tak juga, baru sekali aku makan ikan." Canda tetap tertawa dalam dekapan suaminya.
"Cium lagi dong, Sayang." Givan menarik dagu istrinya, sengaja membuat kepala istrinya mendongak.
"Udah tuh, Mas. Nantinya n****." Canda sedikit mengerti, jika suaminya pasti merindukan kehangatan mereka bersama.
"Kan nanti gampang mandi." Givan tetap mengunci istrinya di tembok ruang tamu rumahnya.
"Tak mau, Mas. Dingin aku, tak mau keramas." Canda menolak dengan rengekan.
Givan terbawa suasana. Yang menurut Canda hanya gurauan, rupanya memberikan efek besar untuk seorang Givan. Ia sudah siap bertempur, dengan sorot dalam penuh makna.
"Ayo, mau beli apa nantinya dibelikan." Givan membujuk dengan jurus andalannya seperti biasa.
"Tak mau apa-apa, Mas. Aku udah kecukupan."
Givan menghela napasnya. Istrinya yang mengajaknya berciuman, tapi ia sudah siap tempur seperti ini, giliran istrinya yang tidak ingin melanjutkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan, selain kembali bersabar.
__ADS_1
"Eh, Canda. Sini duduk dulu, aku mau ngobrol." Givan memilih untuk membicarakan informasi yang ia dapat dari rumah ibunya.
Awalnya, ia ingin membicarakan hal itu sebelum tidur. Namun, akhirnya ia memutuskan membicarakan sekarang saja untuk mengalihkan ketegangan dalam dirinya.
"Ngobrol tentang apa, Mas?" Canda mengikuti tarikan tangan suaminya, yang membawanya untuk duduk di sofa tamu.
"Tak ada angin, tak ada ujian, Zio ada yang nengokin." Givan seperti tengah menceritakan kisah horor.
"Siapa itu?" Canda terbawa nada bicara suaminya.
"Nadya." Givan menghela napasnya berbarengan dengan secarik nama yang keluar dari mulutnya.
"Hah? Serius?" Canda memasang ekspresi kaget, seperti ketika mendengar bahan ghibah yang tidak ia sangka.
"Iya, serius." Givan pun berekspresi sama seperti sumber informasi ghibah yang tengah menebar kabar burung.
"Ish, kok bisa sih? Curiga novel ini mau tamat ya, Mas?" Canda mengetuk-ngetuk dagunya.
"Memang, katanya mau tamat akhir bulan atau awal bulan nanti. Katanya sih, mau bawa cerita Chandra di novel baru. Doain ya, semoga rencananya lancar dan dapat sambutan yang bagus?" Givan memegangi kedua tangan istrinya.
"Aamiin, aku pasti doakan. Doa aku kan mustajab, Mas. Soalnya istri yang tersakiti sih." Canda menaikturunkan alisnya.
Canda terkekeh dan menarik tangan suaminya yang menutupi wajah suaminya. "Terus gimana lagi Nadyanya? Malah kita ngelawak terus dari tadi."
"Mau nengok Zio, pas kebetulan Zio main ke mamah. Zio tak kenal siapa dia, padahal jelas kan kita pernah kasih tunjuk salah foto Nadya yang pakai kerudung itu kan?" Ghifar condong ke arah istrinya dengan menetralkan suaranya.
"Ya, memang. Apa sekarang Nadya datang tak pakai kerudung?" Menurut Canda, wajar Zio pangling jika keadaan Nadya tidak berkerudung.
"Ini Aceh, Canda. Tak mungkin tak bertudung datang ke sini. Kau kan tau vlogger perempuan asal Medan yang non muslim itu? Dia datang ke wisata kopi, pakai tudung." Givan membuat Canda berpikir.
"Oh iya-iya, yang waktu itu aku minta foto sama dia itu kan?" Canda ingat tentang orang yang dimaksud.
"Nah, ya itu. Terus timingnya pas kita di rumah sakit kemarin, jadi mamah tuh tak berani kenalkan Zio ke Nadya. Mamah khawatir kita belum sampaikan ke Zio, kalau Zio ini bukan anak kau." Givan menginformasikan kembali, informasi yang ia dapat dari ibunya.
"Nah, Zio kan tau dia bukan anak aku nih. Terus, pas dia nanya kenapa ayah bisa hamili Nadya gimana coba?"
Givan mengerutkan keningnya. "Keknya, pertanyaannya tak bakal kek gitu. Mungkin, maksud kau begini kah? Kenapa dia dan saudaranya yang lain beda ibu? Sedangkan, jelas-jelas ibunya dia ini kau. Yang dia tau kan kau, yang ada di akte kelahirannya. Meski aslinya itu bukan anak kau pun, dia udah tau."
Canda memasang tangannya di depan tubuhnya. "Udah, Mas. Aku rumit, tak bisa mikir. Coba Mas langsung terjun ke lapangan aja, coba ajak Zio ngobrol." Canda memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Hm, hm, hm. Dasar, Cendol." Givan kadang melupakan jika istrinya sering tidak mengerti kalimat yang begitu jelas keluar dari mulutnya.
"Iya udah, Mas aja yang ke sana. Aku tak mikirin tentang Nadya datang ke sini, tapi aku takut tak bisa jawab pertanyaan Zio kalau aku ikut Mas jelasin ke Zio." Canda menggoyangkan lengan suaminya.
"Hmm, ya udah nanti abis ngajarin ngaji anak-anak." Givan melirik jam tangannya yang selalu terpasang, jam tangan tersebut terlepas hanya ketika Givan beristirahat.
"Boleh kali berbuka bersama sembari menunggu waktu Maghrib." Ia mencolek dada istrinya yang begitu mangkal.
Canda memeluk dadanya sendiri. "Bukan bulan puasa kok."
"Maksudnya gini loh." Givan melepaskan kaos yang ia kenakan.
"Buka baju?" Dahi Canda berkerut.
"Iya! Buka baju bersama." Jemari Givan begitu gemas, serasa ingin mencakar sesuatu jika memberi kode pada istrinya.
"Lah, biar apa? Ngapain buka baju bersama?" Canda tidak mengerti arah pembicaraan suaminya.
"Ya Allah, Canda....." Givan berakting menangis meraung.
Awalnya ia begitu ingin melakukan kemesraan ranjang mereka. Tapi, mendapat respon istrinya yang seperti itu membuatnya hilang minat begitu saja. Kini, hanya kesal yang ia terima dan harus mencoba melerai kekesalan yang ada dalam dirinya.
"Apa sih?" Canda malah terkekeh dengan memukul pelan reaksi suaminya yang menurutnya aneh.
"Kok apa sih? Masa iya tak ngerti? Buka bersama loh. Kita telan**** bareng gitu loh, kita berhubungan se*s gitu. Aku kangen, aku pengen, aku butuh, Canda." Givan menjelaskannya dengan detail, sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan menangis palsu.
"Ohh...." Canda tertawa geli, ia baru memahami kode suaminya yang membingungkan tersebut.
"Iya, iya, iya. Nanti malam ya, Mas," lanjut Canda kemudian.
Givan berhenti seketika yang sebelumnya tengah cosplay menjadi anak rewel. "Yang bener?" Matanya berbinar-binar seperti mendengar bahwa keinginannya akan terwujud.
Canda mengangguk beberapa kali, dengan tersenyum lebar.
Givan langsung kegirangan. "Uhh, makin sayang aku sama kau." Kadar cintanya seolah selalu bertambah ketika istrinya menurutinya.
Ia menarik leher istrinya, kemudian menciumi pipi istrinya yang terlihat sedikit kempot tersebut.
...****************...
__ADS_1