Retak Mimpi

Retak Mimpi
RM69. Kabar gembira dari Canda


__ADS_3

Di dalam mobil, Ai memperhatikan Canda yang terlihat begitu akur bersama saudara iparnya. Ia langsung berpikir bahwa Canda tidak hanya sekedar dekat, lantaran Canda masih bersandar ke lengan Ghava.


Namun, kini ia tidak mau terlalu stress. Ada janin di dalam kandungannya, yang harus ia selamatkan nyawanya. Ia harus pandai memanage pikirannya sendiri, agar keadaannya tidak drop kembali.


Sayangnya, keadaan kerumunan Canda dan para saudara ipar Canda malah membuat Ai teringat kembali tentang musyawarah di balai desa. Ia takut, dirinya kembali disidang oleh kepala desa. Ia takut, dirinya diminta untuk mengaku tentang kebohongannya.


Keringat dinginnya mulai keluar lagi, dengan perasaan cemas yang menguar. Ai trauma, melihat pemandangan keluarga Adi's Bird berkerumun seperti itu.


"Hei! Bantuin dong!!!" seru Gavin mengagetkan Ai yang masih berada di dalam mobil.


Ghavi dan Ghifar mulai berjalan mendekat ke arah mobil yang sudah berhenti di depan rumah tersebut. Sedangkan Ghava, masih menjadi sandaran Canda untuk mengumpulkan rasa kantuknya. Matanya sudah amat pedas, dengan ia menguap beberapa kali.


Adi dan Adinda yang keluar dari dalam mobil, mereka memperhatikan menantunya dengan wajah letih dan lesu tersebut. Pikir mereka, Canda tengah ribut lagi dengan anaknya dan menangis sepanjang malam.


"Mamah itu, Cendol! Gih!" Ghava menggoyangkan lengannya.


Uapan Canda seperti mulut kuda nil. Tetapi, Ghava langsung memasang jilid yang belum rapi tersebut di depan mulut Canda.


"Kerasukan kau nanti," ujar Ghava kemudian.


Canda turun dari bangku panjang, ia mengusap wajahnya sendiri. "Ngantuk betul aku." Canda berjalan lunglai ke arah kedua mertuanya.


Canda tidak terpikir, bahwa di dalam mobil ada Ai yang tengah berkeringat dingin. Ia hanya ingin menyapa kedua mertuanya, yang sudah dua hari satu malam tak dilihatnya.


"Sehat, Mah?" Canda mencium tangan Adinda, kemudian mencium pipi kanan Adinda.


"Sehat, Pah?" Ia melakukan hal yang sama pada Adi tanpa sungkan. Sedekat itu ia dengan ayah mertuanya, sampai tidak ada jarak sedikitpun.


"Kau yang tak sehat rupanya." Adi cukup peka dengan semburat layu di wajah menantunya.


"Ngidamnya parah kah? Muntah, lemes juga kah? Atau dimarahin Givan?" Adinda mengusap pipi menantunya tersebut.


Canda memamerkan senyumnya, untuk membuktikan bahwa ia tengah baik-baik saja. "Aku tak apa kok, Mah. Cuma lagi ngantuk aja, mau tidur tanggung Ashar." Canda bergelayut pada lengan ibu mertuanya.


Ia teringat akan kabar baik, yang disampaikan oleh dokter kandungan siang tadi.

__ADS_1


"Oh, iya." Canda menegakkan punggungnya dan mengusap perutnya.


"Tadi jam sepuluhan aku cek kandungan." Canda melirik kedua mertuanya bergantian.


"Terus?" Adi langsung mengkhawatirkan bahwa kandungan menantunya tersebut bermasalah juga seperti wanita yang berada di dalam mobil.


"Bayi aku ada dua, Pah, Mah." Canda mengatakannya dengan begitu bersemangat dan bergembira.


Kekhawatiran di wajah dua orang yang sudah lansia tersebut langsung berganti dengan kebahagiaan. "Wah, yang betul???" Adi dan Adinda langsung memeluk menantunya tersebut.


"Iya, Mah, Pah. Pulangnya aku sampai bagi-bagi bakso dua pentol besar, saking senengnya kami."


Kabar bahagia tersebut, nyatanya tidak selaras dengan seorang wanita yang berada di dalam mobil. Ia iri, mendengar dua bayi kembar yang dikandung Canda. Sedangkan, dirinya hanya mengandung bayi tunggal. Yang berarti, kedudukan Canda lebih kuat dibandingkan dirinya. Karena Canda akan memberikan dua bayi sekaligus, sedangkan dirinya hanya akan memberikan satu bayi.


Ditambah lagi, keadaan bayinya yang membutuhkan perhatian lebih. Ia pun mendapat pantangan dan diberi wejangan, untuk dilarang stress agar bayinya bisa bertahan sampai lahir ke dunia.


Ia kini malah memikirkan, bagaimana caranya agar Canda gagal melahirkan dua bayi tersebut agar dirinya lebih berkuasa.


"Papah kok tak dikasih, Dek?" Adi mengambil daun kering yang jatuh di atas kepala Canda.


"Ya belikan gih, tarik suamimu. Mandi, sholat, jalan-jalan beli jajanan terus pulangnya belikan Mamah sama Papah bakso." Adinda melirik suaminya, ia mentransfer komunikasi dari matanya.


Ada Ai yang terperangkap di dalam mobil mereka. Mereka tidak mau Canda memikirkan hal buruk, dengan pulangnya Ai ke rumah megah tersebut.


Adi memahami kode tersebut. "Saos sambalnya pisah aja, Dek. Kau punya tak uangnya? Nih, Papah kasih. Hitung-hitung jajanin cucu yang di dalam perut Biyung nih." Adi merogoh kantongnya dan memberikan seluruh uang cash yang tidak muat ke dalam dompetnya tersebut pada Canda.


"Banyak betul, Pah." Canda memperkirakan uang tersebut kurang lebih berjumlah dua juta.


"Bagi-bagi aja, terserah kau. Biar kau dan anak-anak kau selamat terus." Bukan karena ia ingin mengusir lembut Canda. Namun, ia benar-benar ingin berbagi kebahagiaan karena mendengar kabar baik tersebut.


"Oke, Papah. Aku pulang dulu." Canda berdadah ria seperti anak kecil, kemudian ia berbalik badan dan melangkah meninggalkan halaman rumah tersebut.


Ia datang ke suaminya dengan senyum manisnya. Ia bercerita tentang uang yang ia beri dan amanat dua bakso besar yang harus mereka beli. Givan mengangguk menyanggupi, kemudian mengajak istrinya untuk menunaikan ibadah sholat Ashar dulu.


"Mampu tak keluarnya?" tanya Adi, pada orang asing yang mereka temani di rumah sakit tersebut.

__ADS_1


Ai mengangguk, kemudian ia keluar dari dalam mobil. Wajah pucatnya masih kentara sekali, tubuh yang lemah terlihat begitu dari gerakannya.


"Biar pulangnya ke sini dulu." Adinda membantu Ai masuk ke dalam rumah. Ia malah teringat dengan mantan menantu sirinya, yang begitu lemah pasca operasi. Meskipun ia memarahi dan memaki Nadya dulu, ia tetap berbuat baik dan mengurus Nadya ketika ia tengah tak berdaya.


"Makasih, Mah," ucap Ai, saat ia dibantu berbaring ke tempat tidur kamar tamu.


"Hmm." Adinda lekas beranjak kembali kemudian keluar dari kamar tersebut.


Ia meninggalkan Ai dan pemikiran Ai yang merumit kembali. Pertanyaan bagaimana, banyak bermunculan di pikirannya.


Ia amat tidak setuju, jika kasus ini dibawa ke jalur hukum. Karena jelas, ia tidak bisa mendapatkan Givan jika seperti itu. Ia pun tidak ingin kasus fitnah itu kembali naik ke meja kepala desa, karena ia tidak mau dipermalukan karena sudah ketahuan memfitnah keluarga Adi's Bird ini.


Tok, tok, tok....


Gavin mengetuk pintu kamar yang Ai tempati. "Kak Ai?" panggilannya kemudian.


Ai melirik ke arah pintu yang setengah tertutup itu. "Iya, ada apa?" Kakinya turun satu persatu dari ranjang.


"Aku mau sampaikan sesuatu." Salah satu sifat asli Gavin keluar di sini.


Ai sudah sampai di daun pintu tersebut, ia menarik gagang pintunya untuk terbuka lebih lebar. wajah tegas Adi begitu dicopy paste oleh Gavin, mulut pedasnya pun ia dapatkan dari warisan ibunya.


"Ya, gimana?" Ai tidak mempersilahkan salah satu anggota keluarga tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya.


Gavin merogoh saku kemejanya. Sebuah slip pembayaran rumah sakit yang dilipat rapi, dibuka perlahan kembali oleh Gavin.


"Ini...." Gavin memberikan selembar kertas tersebut pada Ai.


"Apa ini?" Aku membaca isi kertas tersebut.


Ia langsung membaca jumlah total dari pembayaran tersebut. "Aku larang mamah dan papah aku, untuk bayarin biaya rumah sakit Kakak. Aku minta ke bang Givan pun, dia tak kasih, begitupun kak Candanya juga. Karena Kakak orang lain, bukan kerabat aku juga. Aku minta Kakak untuk ganti jumlah yang tertera, aku keberatan untuk pembayaran ini." Sifat perhitungan dari ayahnya, ditiru Gavin tanpa permintaan izin lebih dulu.


Mata Ai melebar sempurna.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2